
Ella sedari tadi mencoba menghubungi Vano. Tapi tetap saja tidak di angkat. "Kemana Vano." gumam Ella melihat ke arah jam dinding yang kini sudah berada di angka 10 lebih. Menandakan sudah malam.
Entah kenapa Ella merasa gusar dan cemas. Pandangannya teralih pada makanan yang telah ia siapkan di atas meja makan. "Van, maaf. Jika makanannya nanti dingin saat kamu datang." gumam Ella.
Ella tidak tahu lagi harus menelpon siapa. Reza, orang yang selalu di samping Vano saat ini berada di luar kota. Mustahil bagi Reza tahu keberadaan Vano sekarang.
"Kemana kamu Van." Ella sangat takut. Apalagi undangan sudah di sebar. "Nggak, nggak mungkin Vano ninggalin gue." Ella menggigit kuku jari tangannya. Pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari.
Pandangannya menatap sebuah foto yang terpasang di dinding. Di mana Vano tampak tampan dengan kemeja putih, dengan kancing dua di atas terbuka. Dipadukan dengan celana pendek hitam. Dangan tangan kanan memegang kacamata. Sementara tangan kiri di masukkan ke dalam saku celana.
"Jika kamu berani mempermainkan aku. Gue bersumpah, akan membuat seorang Vano menyesal seumur hidup." batinnya.
Padahal jauh di lubuk hati Ella, dirinya merasa was-was jika sampai Vano mengacaukan rencana pernikahan mereka. Dirinya takut jika kebaikan Vano hanya ingin membuatnya sakit hati.
Ella berbaring di atas sofa ruang tamu. Menunggu ke datangan Vano. Hingga dia tidak sadar, sudah masuk ke dalam dunia mimpi.
Sementara dua insan manusia tidur di atas ranjang apartemen Ella karena rasa lelah. Akibat pertempuran yang menguras tenaga. Dengan posisi sang perempuan terlentang. Sementara Vano memeluknya dari samping.
Dering ponsel di dalam saku jas Vano yang tergeletak di lantai seolah tidak bisa membangunkan mereka.
"Iissshhhh...." desis sang perempuan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Merasakan tulangnya seakan remuk semua. Apalagi di bagian bawah. Area intimnya terasa ngilu dan perih. Sepertinya ini pertama kali terjadi pada dirinya.
Gerakan tubuhnya, mengusik tidur Vano. "Ell, ini masih terlalu pagi sayang." Vano mencoba untuk memeluk perempuan yang di yakini sebagai calon istrinya.
Hikksss,,,,,, Vano kembali terusik saat mendengar suara tangisan. "Ella, kenapa kamu menangis." Vano duduk, dan memeluk tubuh perempuan itu dari belakang.
Degggg,,,,, "Bau ini. Bukan wangi bau Ella." batin Vano.
Dengan segera Vano bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu.
Seorang perempuan duduk dengan menyatukan kakinya sebagai tumpuan kepala. Dengan tangan melingkar memegang erat kaki.
"Kamu." ucap Vano lirih. "Di mana Ella!!!" serunya menggoyang badan Hana.
Iya,,, perempuan yang semalam Vano paksa untuk memuaskan hasratnya adalah Hana. Sahabat sekaligus asisten Ella. Dan Vano yang dalam keadaan terpengaruh obat, tidak bisa membedakannya.
Hana hanya diam sambil menangis tersedu-sedu. Kaki Vano mundur beberapa langkah. Kedua tangannya memegang kepala. Seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Pakaiannya dan pakaian Hana yang berserakan di lantai.
Bagian tubuh Hana yang sudah seperti macan tutul. Karena Vano meninggalkan jejak di seluruh tubuh Hana. Mata Vano melihat bercak merah di seprei, yang menandakan ini pertama kalinya bagi Hana melakukan perbuatan tersebut.
Tubuh Vano luruh ke lantai. "Brengsek. Kalian akan membayar apa yang sudah kalian lakukan." Vano menjambak kasar rambutnya.
__ADS_1
"Akan aku buat hidup kalian hancur, sehancur hancurnya. Sampai kalian hidup pun tidak ingin. Tapi kematian terlalu mudah untuk kalian." ancam Vano pada seseorang yang di yakini Vano adalah orang yang telah mencampurkan obat pada minuman Vano.
Hana masih menangis. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Ini adalah malapetaka bagi dirinya. Kehilangan keperawanannya. Dengan cara yang sangat menyedihkan.
Vano segera memakai ****** ***** dan celananya. "Han." panggilnya lirih saat dirinya sudah duduk di samping Hana.
Vano mengambil selimut dan menutupi tubuh Hana. "Jangan sampai Ella tahu." ucap Vano.
Tangisan Hana semakin menjadi mendengar Vano menyebut nama Ella. Bagaimana tidak, sebentar lagi sahabatnya akan menikah dengan lelaki yang selama ini di cintanya. Dan juga lelaki yang bau saja merampas kehormatannya, meskipun Vano melakukannya secara tidak sadar.
"Lagi pula, aku yakin kamu nggak akan hamil hanya karena melakukan hubungan sekali dengan ku." ucap Vano menambah luka di hati Hana.
Vano melihat ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan jam tiga dini hari. "Lagi pula kenapa kamu bisa berada di sini." ucap Vano melirik ke arah Hana yang masih menangis. Bahkan sepatah katapun tidak keluar sari mulut Hana.
"Jika sampai Ella mengetahuinya. Pasti dia akan membatalkan pernikahan kita. Dia pasti akan marah dan kecewa dengan kita. Apa kamu tidak kasihan, jika Ella tidak jadi menikah denganku. Kami saling mencintai Han."
Vano mengambil kemejanya yang berserakan di lantai, dan mulai memakainya. "Anggap saja, malam ini tidak pernah terjadi apapun di antara kita."
"Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Kamu pasti mengerti kenapa aku mengatakan semua ini." Vano mengambil jasnya dan bergegas pergi dari apartemen Ella.
Tanpa Vano sadari, keamanan yang sedang bertugas malam ini melihat Vano keluar dari apartemen Ella. "Itukan Tuan Vano. Tumben keluar jam segini. Biasanya juga pagi." gumamnya sambil meneruskan jalannya.
Tangis Hana semakin menjadi setelah kepergian Vano. Dipukul-pukul sendiri badannya. Segera dia berlari ke kamar mandi dengan jalan tertatih karena masih merasakan sakit di ***********.
Di nyalakan kran, berdiri di bawah guyuran air. Dengan tangan menggosok-gosok seluruh tubuhnya. Merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Seakan banyak sekali kotoran yang menempel di tubuhnya.
"Ellaaaa,,,,, hikkkkkssss." Badan Hana luruh ke lantai, dengan air masih tetap mengguyur badannya dari atas.
"Denissss....." tangis Hana semakin menjadi kala dirinya mengingat Denis.
Bagaimana ke depannya seorang Hana akan bisa menatap wajah kedua orang yang di sayangnya.
"Apa yang harus aku lakukan." Hana terdiam. Teringat perkataan yang di ucapkan Vano sebelum meninggalkan dirinya.
Hana mengambil Handuk dan mengeringkan badannya. ANGGAP SAJA, MALAM INI TIDAK PERNAH TERJADI APAPUN DI ANTARA KITA
Hana memunguti pakaiannya di lantai. Dilihatnya pakaiannya yang robek karena ulah Vano semalam.
Ha ha ha,,,,,, Hana tertawa terbahak-bahak melihat pakaiannya tersebut. "Puas kamu..!! Puassss..!!!!" teriak Hana.
Entah, Hana berbicara pada siapa. Atau lebih tepatnya, siapa yang dia salahkan atas semua kejadian yang menimpa dirinya.
__ADS_1
Hiksss hikss hikssss,,,, tangis Hana kembali pecah. "Apa yang harus gue lakukan. Apaaaaaa!!!!!" teriaknya.
"Katakan... katakannnn!!!!" tangan Hana memukul-mukul lantai. Melampiaskan amarahnya.
"Maafkan gue Ell,, seandainya gue nggak ketiduran di apartemen elo. Pasti semua ini nggak akan terjadi. Maaf Ell....""
"Denisss,,, apa yang akan kamu lakukan. Jika kamu tahu, sekarang perempuan yang sedang kamu sayangi sudah kotor."
"Katakan,,, bagaimana caranya aku harus menghadapi kalian semua. Bagaimana?"
Hana benar-benar tidak menyangka semua ini menimpa dirinya. Bahkan sedari dulu Hana selalu menjaga kehormatannya. Dia berjanji pada diri sendiri, akan memberikan satu-satunya yang berharga pada suaminya kelak.
Tapi sekarang, sesuatu yang di jaganya selama bertahun-tahun hilang dan tidak mungkin kembali. Lenyap hanya dalam waktu semalam. Itupun dengan cara yang sangat menyakitkan.
Hana seakan menyalahkan dirinya sendiri. Berdiri dan kembali meringkuk di atas ranjang Ella. Sampai matanya kembali terpejam karena lelah menangis terus-menerus.
Bahkan, saat tidur pun Hana masih mengeluarkan air mata. Seakan semua yang baru saja menimpanya terbawa sampai alam mimpi.
*****
Hana,,,,, kasihan sekali kamu. Othor jadi nggak tega buat nulis kelanjutannya. Dada othor serasa sesak.
Apalagi pasti rasanya sakit sekali.
Sakit hati maksud othorr kakkk...
Kemungkinan, apa yang akan Hana lakukan. Apa dia akan berpura-pura tidak terjadi apapun. Dan menjalani hidup seperti biasa. Seperti yang Vano katakan padanya.
Atau malah meminta pertanggung jawaban dari Vano. Karena dirinya berpikir, setelah ini pasti tidak akan ada lelaki yang mau menikah dengan dirinya. Karena Hana sudah tidak perawan lagi.
Semoga semuanya baik-baik saja.
*****
Terimakasih kakaaaa.... selalu mendukung othor.
Jangan lupa mawarnya... Biar othor tambah semangat.
Secangkir kopi juga tak masalah, bisa menemani othor begadang.
Terimakasih.... 🙏🙏😘😘
__ADS_1