DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 184


__ADS_3

"Ehh,,," Ella sedikit terkejut saat sebuah jas menutupi kedua pundaknya.


"Van. Sayang. Maaf lama." ucap Ella. Segera memasukkan tangannya ke siku Vano, dan memegang lengan sang suami.


"Permisi." pamit Ella pada beberapa perempuan yang sempat berbincang dengannya.


Vano menatap Ella dengan tatapan yang tidak dapat di tebak. Namun Ella mengerti apa yang ada dalam benak suaminya sekarang. Jika Vano, tidak menyukai dirinya memakai gaun pemberian Tante Dewi.


Ella merapatkan badannya ke tubuh Vano. "Mau pulang?" tanya Ella lirih, dengan tangan mengelus lengan kokoh sang suami. Tapi Vano hanya diam dan membuang muka.


Ella mengeratkan jas yang tersampir di kedua pundaknya. Vano menghembuskan nafasnya kasar. Mengajak Ella untuk duduk di meja lain.


"Kenapa kamu melepas jasmu?" tanya Ella dengan bodoh. Padahal dirinya tahu alasan kenapa suaminya melepas jas yang melekat di tubuh kekarnya.


"Pertanyaan macam apa itu." sarkas Vano. Keduanya berbicara dengan nada lirih. Meski di setiap perkataan ada penekanan.


"Mau pamer badan ke semua perempuan." celetuk Ella tanpa memandang ke arah Vano, dengan bibir cemberut.


Vano mengusap wajahnya kasar. Jika saja mereka tidak berada di keramaian, pasti Vano akan meletakkan tubuh Ella di bawah kungkungan badan kekarnya. Membungkam bibir dan membuat badan seksinya lemah tak berdaya.


"Kenapa kamu memakai baju itu?" tanya Vano frustasi.


Ella memutar bola matanya jengah. Berdebat tentang baju yang dia pakai dengan Vano. Pasti akan menjadi masalah.


"Bajuku kan basah. Ini juga gaun pemberian tante Dewi. Apa pantas aku menolaknya."


"Kenapa kamu sulit sekali di beritahu." geram Vano, menggulung lengan bajunya ke atas.


"Maksud kamu apa sih." ucap Ella jengkel.


"Tuan Vano." sapa seorang lelaki pada Vano. Membuat keduanya menghentikan perdebatan mereka.


Segera Vano berdiri dan menyambutnya. Dia adalah rekan kerja Vano yang berada di luar negeri. Sementara Ella, dirinya tetap duduk dengan raut wajah kesal.


Bertepatan dia berada di sini, karena itulah dirinya memenuhi undangan Tuan Boran. Keduanya berbincang ringan mengenai bisnis.


"Apa Tuan datang seorang diri?" tanya Vano.


"Tentu saja tidak, kebetulan saya dengan keluarga saya sedang berlibur."


"Pasti menyenangkan."


"Bagaimana jika saya kenalkan anda dengan keluarga saya, pasti mereka akan sangat senang."

__ADS_1


"Boleh. Mari." keduanya berbicara dengan bahasa Inggris. Hingga akhirnya mereka meninggalkan Ella di meja itu sendirian.


"Nanti di sana jangan pernah melepas tanganku." ucap Ella menirukan perkataan Vano saat mereka masih berada di dalam mobil.


"Cihh... Nyatanya dirinya yang pergi." ucap Ella kesal.


Ella sedikitpun tidak menikmati acara malam ini. Duduk di meja sendirian. Berada di pojok ruangan. Matanya mengedar, mencari keberadaan Viki. Tapi Ella tidak menemukannya.


"Manusia jadi-jadian, kemana perginya." gerutu Ella karena tidak melihat Viki.


Sementara Vano, nampak berbicara senang dengan keluarga rekan kerjanya tersebut. Terlihat senyum merekah di bibirnya. "Tumben Vano bisa tersenyum. Sialan." umpat Ella.


Sesekali Vano menoleh ke meja, tempat Ella duduk. Mungkin memastikan jika istrinya masih berada di meja atau tidak.


Beberapa kali pandangan mereka bertemu. Tapi Ella segera memutusnya dengan memandang arah lain.


"Mungkin karena di sana ada perempuan cantik dan seksi." gumam Ella sebal. Melihat Vano masih terlihat betah duduk di meja tersebut.


Sepertinya rekan kerja Vano membawa serta keluarganya. Apalagi Ella melihat ada dua perempuan seusia dirinya yang duduk di sana.


Ponsel Ella berbunyi. Ada sebuah pesan tertulis di layar ponselnya.


AKU MENEMUKANNYA. Ella menghapus pesan tersebut. Tersenyum misterius.


Entah apa yang Ella lakukan pada ponselnya. Dia seperti sedang mengeluarkan sesuatu pada ponsel miliknya. Meletakkan benda kecil tersebut di atas meja.


"Saatnya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda." batin Ella, berjalan meninggalkan ruangan tempat acara di selenggarakan. Menghubungi seseorang di ujung ponselnya.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Ella. Seorang berpakaian misterius memberikan sebuah paper bag pada Ella. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat tersebut.


Mereka menghentikan mobilnya di tengah hutan. Dua orang keluar dari dalam mobil. Sementara nampak Ella tetap berada di dalam mobil.


Membuat mobil bergoyang, karena dirinya sedang berganti pakaian. Setelahnya, Ella keluar dari dalam mobil. Menggunakan pakaian yang sama dengan dua orang yang lebih dulu keluar dari dalam mobil.


"Kita beraksi. Sebelum mereka menyadarinya." ucap Ella membungkus kepalanya menggunakan penutup kepala. Hanya menyisakan mata yang terlihat.


Dua orang datang dengan mengendarai motor. Kini Ella bersama dengan keempat bawahannya sedang melakukan sesuatu untuk meregangkan otot mereka.


"Mengandalkan papa. Masalah tidak akan pernah selesai." ucap Ella dengan memakai sarung tangan.


"Bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Ella.


"Kami masih mencarinya. Sejak malam itu, dia seperti hilang di telan bumi."

__ADS_1


"Ckk,,, Kenapa papa jadi sangat lembut. Membiarkan Jo hidup dengan tenang dan nyaman di rumah besar itu." ucap Ella berdecak kesal.


Bawahan Ella memberitahu jika Tuan Haris menyekap Jo di dalam rumah. Tidak seperti tawanan seperti umumnya. Jo di tempatkan oleh Tuan Haris di rumah besar dan megah. Dengan penjagaan ketat di sekitar rumah.


"Pasti sekarang Jo sedang menikmati fasilitas itu. Tapi sayang. Keberuntunganmu berakhir malam ini." seringai Ella.


"Nona, sepertinya Jo mempunyai sesuatu. Sehingga Tuan Besar memperlakukan dirinya seperti itu."


"Apapun alasannya. Tawanan tetap tawanan. Jika menginginkan dia berbicara, jangan pernah memberi mereka apa yang didinginkan."


Apa kalian sudah menyelidiki, kenapa papa melakukan hal seperti itu?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa kalian tidak tahu, kemana perginya perempuan di sini?" tanya Vano pada seorang pelayan.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu." ucapnya, dan segera meninggalkan Vano bersama dengan beberapa orang di meja tersebut.


"Mungkin istri anda sedang pergi ke toilet." ucap rekan kerja Vano.


"Sebaiknya anda tunggu sebentar lagi. Mungkin istri anda akan kembali. Atau, coba anda menghubunginya." saran putri dari rekan kerja Vano.


Tangan Vano menggenggam erat benda kecil yang sempat Vano temukan tergeletak di atas meja. Dan Vano tahu betul, benda apa itu.


Chip, sebuah alat kecil yang Vano letakkan di dalam ponsel milik Ella. Mata Vano melihat ke bawah meja. Di mana ada paper bag di sana.


"Kemana kamu Ella." gumam Vano menggenggam erat telapak tangannya.


Vano meninggalkan tempat acara tanpa berpamitan pada Tuan Boran. Segera Vano menghubungi Reza. Menyuruhnya untuk mencari keberadaan Ella.


"CCTV. ****, kenapa gue nggak kepikiran sampai sana." Vano memutar kembali arah mobilnya, melesatkan kendaraannya menuju ke gedung acara.


"Silahkan Tuan." ucap seseorang yang bertugas untuk menjaga ruang CCTV.


Dirinya tahu betul siapa Vano. Dari pada mencari masalah dengannya, lebih baik membiarkan Vano untuk masuk dan melakukan apa yang diinginkannya.


Dengan tenang Vano duduk di depan layar ruang kontrol CCTV. Tangannya bergerak dengan lincah.


"Ella." gumam Vano, melihat Ella masih duduk di meja dengan tatapan mengarah pada ponsel yang dia pegang.


Tidak lama dia segera berdiri. Meninggalkan ruang acara. Di depan ada mobil yang menjemputnya. Vano memperbesar layar CCTVnya. Guna mendapatkan plat nopol kendaraan tersebut.


Vano mengeluarkan ponsel. Menghubungi seseorang. "Aku akan mengirimkan nopol kendaraan. Segera kamu temukan keberadaannya. Sekarang." ucap Vano.

__ADS_1


Tanpa berbicara ataupun berterimakasih, Vano meninggalkan ruangan tersebut.


"Menjadi orang kaya memang mudah. Tapi juga harus berkuasa. Dan mempunyai kekuatan." ucap petugas tersebut setelah Vano sudah tidak terlihat oleh pandangan matanya.


__ADS_2