
"Sebaiknya kamu mandi dulu. Bersihkan badan kamu." ucap Vano dengan duduk berjongkok di depan Ella. Sementara sang istri tengah duduk di tepi ranjang tempat tidur.
"Kamu dulu saja." ucap Ella dengan wajah malas. Terlihat jika dirinya masih mengantuk.
"Baiklah." Vano mencium pelan punggung telapak tangan Ella yang terluka.
"Apa perlu, aku bantu kamu mandi?" tanya Vano, langsung di jawab gelengan kepala oleh sang istri.
Vano mencium singkat pipi Ella, dan berlalu ke dalam kamar mandi. Melihat sang suami sudah masuk ke dalam kamar mandi Ella malah merebahkan badannya di ranjang super besar tersebut.
Mata Ella terjaga saat terdengar suara ketukan pintu berkali-kali. "Sebentar." ucap Ella menaikkan nada bicaranya.
"Nyonya, ini makanan yang di pesan Tuan tadi." ucap Bibik. Dan ada beberapa pembantu di belakang bibik.
"Taruh di meja." pinta Ella.
"Besok pagi saja kalian bereskan." imbuh Ella, menandakan mereka tidak perlu menunggu panggilan dari majikannya kembali. Yang berarti mereka bisa beristirahat.
"Terimakasih Nyonya."
"Apa kamarku sudah di bersihkan?" tanya Ella.
"Sedang dilakukan Nyonya."
"Tidak usah terburu. Malam ini aku dan Vano akan tidur di sini." jelas Ella.
"Baik Nyonya." ucap mereka, meninggalkan kamar tersebut. Menutup pintu dengan pelan.
Ella meraih sebuah remote di sampingnya. Memencet salah satu tombolnya, pintu otomatis terkunci dari dalam.
"Kelihatannya Nyonya dan Tuan sudah baikan." ucap salah satu pembantu dari Ella.
"Kelihatannya."
"Kalian ini, bisa diam." tegur bibik mengingatkan. Jika sebagai pekerja di rumah tersebut, dilarang membicarakan majikannya. Entah hal baik, atau buruk.
Ella mengambil ponselnya saat ponsel tersebut berbunyi. "Mama." gumam Ella saat Nyonya Ane ingin melakukan panggilan video dengannya.
"Ada apa ma." tanya Ella dengan malas.
"Kamu kenapa sayang?" bukannya menjawab, sang mama malah bertanya balik melihat wajah Ella nampak lesu.
"Ella baru bangun tidur. Ada apa?"
"Astaga, jam berapa kamu tidur. Jam segini baru bangun." omel sanga mama dari rumahnya.
"Vano mana?" tanya sang mama menanyakan menantunya.
Bukannya menjawab, Ella malah mengalihkan kamera di ponselnya menghadap ke arah Vano. Yang kebetulan sang suami baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan handuk melilit di perutnya dan rambut basah.
"Ella,,,, tidak sopan!!" teriak sang mama. Ella tersenyum, dan segera mengubah kamera di ponselnya kembali untuk menghadap ke wajahnya.
"Habis, mamakan tanya." ucap Ella cuek.
"Ell,, sayang. Cepat mandi. Nanti makanannya keburu dingin." tegur Vano yang memang tidak mengetahui jika istrinya sedang melakukan panggilan video bersama mamanya.
"Iya, sebentar." Ella memonyongkan bibirnya, seperti isyarat mencium. Lalu mematikan panggilan video dari sang mama.
"Bagaimana ma?" tanya Tuan Haris setelah melihat istrinya meletakkan ponsel di atas nakas.
"Tadi di suruh telepon nggak mau. Sekarang sok-sokan tanya." omel Nyonya Ane sebal.
"Ya kan sama saja. Mama yang telepon atau papa." ucap Tuan Haris mencari pembelaan.
"Kelihatannya memang Ella baik-baik saja. Vano juga, bahkan Vano habis mandi." ucap Nyonya Ane santai.
Tuan Haris mengangkat sebelah alisnya mendengar jika istrinya berkata menantunya baru saja mandi. "Mama lihat Vano mandi?" tanya Tuan Haris menatap tajam ke arah istrinya.
Tapi sayangnya, Nyonya Ane tidak sadar jika suaminya sedang menatapnya dengan tatapan aneh. Karena beliau sibuk membenahi selimut yang akan dia pakai.
"Vano bertelanjang dada, hanya melilitkan handuk di perut. Rambutnya juga basah. Pasti habis mandilah." jawab Nyonya Ane dengan enteng, tanpa beban.
"Seperti ini." ujar Tuan Haris. Membuat sang istri menengokkan kepala.
"Papa..!!" seru Nyonya Ane melihat sang suami bertelanjang. Hanya menggunakan ****** *****.
"Apa mama lebih senang melihat menantu mama." rajuk Tuan Haris.
"Apaan sih. Mama masih waras." ucap Nyonya Ane dengan wajah tidak suka.
Meskipun sudah berumur, tapi badan Tuan Haris masih terlihat bagus. Tidak terdapat lemak di tubuhnya. Mungkin karena beliau selalu rajin berolah raga.
"Buat adik untuk Ella yuk ma. Sudah lama kita tidak main kuda-kudaan." Tuan Haris memeluk tubuh sang istri dari samping.
"Lama apaan. Baru juga tiga hari yang lalu." ucap sang istri tersenyum malu.
Sungguh pasangan pengantin lama yang lucu. Terjadilah malam untuk kedua orang tua Ella membuatkan adik untuk Ella. Tapi sayangnya, Ella tidak akan pernah mendapatkan adik lagi dari mereka.
Ella keluar dai kamar mandi memakai handuk kimono di badannya. Dengan handuk kecil di atas kepalanya.
Ella mengambil pakaian yang sudah dia bawa dari kamarnya tadi, dan berganti di ruang ganti. Sementara Vano sedang fokus di depan laptop. Memeriksa laporan yang dikirimkan oleh Reza melalui email.
"Makan dulu." tegur Ella yang sudah duduk di depan meja. Dengan wajah tampak lebih segar.
__ADS_1
"Sebentar, aku harus memeriksa pekerjaan yang di kirim oleh Reza." ucap Vano.
"Reza masih kerja sama kamu?"
"Masih." Vano menutup laptopnya, duduk di sebelah Ella.
"Tadi namanya Rio. Sepertinya Reza sedikit kececeran dengan pekerjaan yang aku berikan padanya. Makanya aku panggil Rio." jelas Vano.
"Yang bekerja di perusahaan kamu, di luar negeri?" tanya Ella memastikan, sembari tangannya mengambilkan makanan untuk sang suami.
"Terimakasih." ucap Vano menerima piring berisi makanan dari Ella.
"Ssssshhhttyy." Ella mendesis saat luka di tangannya terkena sambal.
"Cuci dulu." ajak Vano.
"Nggak usah." Ella meniup-niup tangannya.
"Aaa... buka mulut kamu. Biar aku suapi." Vano mengarahkan sendok berisi makanan ke mulut Ella.
"Nggak." Ella menggeleng.
"Aku nggak mau pakai sayur itu. Aku mau pakai ikan bakar sama sambel." ucap Ella kembali mengambil piringnya yang berisi makanan.
"Biar aku yang melakukannya." Vano mengambil piring Ella dan menyuapi sang istri dengan telaten.
"Enak?" tanya Vano, di jawab anggukan oleh Ella. Lantaran mulutnya penuh dengan nasi dan lauk.
Setelan menyuapi Ella, Vano kembali makan dari piring miliknya. Bukannya Vano tidak mau makan satu piring dengan Ella. Hanya saja, Vano lebih suka makanan yang berkuah.
Vano terus melakukannya, sampai makanan di kedua piring tersebut habis tak tersisa.
"Kenyang." ucap Ella mengelap bibirnya, setelah menenguk air putih.
"Jangan Van. Biarkan mereka istirahat. Besok saja di bersihkan." ucap Ella saat Vano hendak menelpon pembantu mereka melalui telepon di kamar.
"Nanti ada semut." kilah Vano.
"Nggak akan ada. Percaya." ucap Ella.
"Jangan terlalu bersikap baik dengan mereka. Aku nggak suka." ujar Vano.
Karena menurut Vano, mereka sudah di bayar mahal untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Dan juga melakukan apapun perkataan majikan mereka.
"Iya tahu, lagi pula ini sudah malam. Aku cuma tidak ingin di ganggu. Hanya itu saja." ucap Ella mencari alasan.
Padahal sudah jelas, alasan Ella adalah memang dia kasihan jika harus membangunkan mereka di malam hari. Sementara, sehari penuh mereka sudah bekerja.
"Mengeringkan rambut." ucap Ella, karena tadi Ella terlalu lapar. Menunda untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Sudah, kamu disini saja. Biar aku yang mengambilkan." ujar Vano segera mengambil alat untuk memiringkan rambut sang istri.
"Hadap sana." suruh Vano pada Ella dengan nada lembut. Dengan telaten, Vano mengeringkan rambut sang istri yang masih setengah basah.
"Siapa?" tanya Vano saat ponsel Ella berbunyi. Menandakan ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Vano mematikan hair dryer yang di pakainya. Karena memang rambut Ella sudah kering. "Mungkin Viki, Denis, atau Hana. Atau beberapa media yang sedari tadi mencoba menghubungi aku."
"Maaf." Vano menarik tubuh Ella yang hendak berdiri mengambil ponselnya. Menjadikan tubuh Ella jatuh ke pangkuannya.
"Kamu tahukan, aku tidak pernah melakukan apa yang mereka tuduhkan." Vano meletakkan kepalanya di pundak Ella. Sedikit memiringkan kepala, sehingga dia dapat melihat wajah cantik sang istri.
"Ini kenapa?" tanya Vano dengan hati-hati memegang tangan Ella.
"Aku emosi. Melihat berita tersebut." ucap Ella lirih.
Vano mencium pipi Ella. "Lain kali jangan melakukan hal yang membahayakan seperti ini. Lihat, kamu sampai terluka." ucap Vano lembut.
"Biar aku obati dulu."
"Sudah tadi, sehabis mandi." ucap Ella.
"Sakit?"
"Nggak. Sedikit perih. Besok juga sudah sembuh." ucap Ella memandang ke arah tangannya.
Vano mengangkat Ella dan mendudukkannya di sampingnya. Melihat ke arah lengan dan juga rahang.
"Maaf, aku kasar semalam." ucap Vano mengecup pelan dahi Ella, dan mengusap lembut rahang sang istri.
"Iya." ucap Ella tersenyum.
"Aku juga minta maaf. Pergi begitu saja tanpa pamit." ujar Ella. Karena dirinya juga merasa bersalah pada Vano.
"Jangan pernah mengulangi. Kamu tahukan, aku tidak suka dengan perempuan yang membangkang." ucap Vano.
Ella sedikit mengubah posisi duduknya. "Aku pergi juga karena kamu." ucap Ella dengan bibir mengerucut.
"Kamu meninggalkan aku sendiri. Malah asik berbincang dengan mereka. Sementara aku sendirian. Padahal kamu yang mengajak aku untuk pergi." ucap Ella dengan ekspresi datar.
"Iya maaf, aku emosi. Huhh,,, kamu memakai baju yang seksi. Maaf." ucap Vano. Teringat gaun yang di berikan tante Dewi pada istrinya.
"Lain kali, jangan memakai baju seperti itu, apapun alasannya." ucap Vano, dan Ella hanya mengangguk patuh.
__ADS_1
Lagi-lagi ponsel Ella berbunyi. "Siapa?" tanya Vano. Ella hanya mengangkat bahunya. Karena memang ponsel Ella berada di atas ranjang tempat tidur. Sementara dia dan Vano berada di kursi empuk yang besar dan panjang.
Ella berdiri dan melihat ke ponselnya. Kiranya siapa yang sudah mengirimkan pesan padanya. "Mama." ucap Ella.
"Mama Risma." ucap Ella menatap Vano, memberitahu suaminya.
"Oma sudah di perbolehkan pulang. Mungkin sekarang sedang dalam perjalanan." ucap Ella setelah membaca pesan dari mertuanya.
"Kenapa?" tanya Ella, karena Vano menunjukkan raut wajah aneh.
"Kenapa mama malah memberitahu kamu. Sementara tidak denganku." rajuk Vano, Ella tertawa melihat ekspresi dari suaminya.
"Mana aku tahu. Kamu tanya mama sendiri." Ella naik ke atas ranjang, bersiap untuk tidur.
"Sebenarnya di sini, siapa anak kandungnya. Siapa menantunya." omel Vano menyusul Ella naik me atas ranjang.
"Besok kita ke rumah mama." ajak Ella.
"Ke rumah Oma." ucap Vano membenarkan ucapan sang istri. Lantaran yang sakit adalah Oma, bukan sang mama.
"Iya tahu, Oma yanga sakit. Tapi kata mama, sementara Oma akan tinggal di rumah mama sama papa." ucap Ella kembali membaca pesan dari mertuanya.
Ternyata Ella dan Nyonya Risma saling membalas pesan lewat aplikasi berwarna hijau.
"Iya." ucap Vano singkat. "Ada apa?" tanya Vano saat Ella tersenyum-senyum sendiri sambil melihat layar ponsel dan mengetik sesuatu.
"Rahasia." jawab Ella singkat. Padahal menantu dan mertua tersebut sedang membahas tentang Lena.
Nyonya Risma tidak sedikitpun menanyakan tentang berita Vano. Karena Tuan Danto sudah mewanti-wanti sang istri untuk tidak mengungkit masalah itu.
Vano tahu jika sang istri sedang berbalas pesan dengan mamanya. Karena Vano bisa melihat nama yang tertulis di layar ponsel paling atas milik Ella.
MAMA RISMA
Vano merasa senang, karena kedua orang tuanya sangat menyayangi istrinya. Juga demikian Ella. Dia selalu perhatian kepada kedua orang tua Vano.
Saat memejamkan mata, Vano teringat saat Ella meninggalkan pesta begitu saja. "Ell.." panggil Vano pelan.
"Hemmm.." jawab Ella dengan mata masih fokus ke layar ponsel miliknya.
"Ada yang ingin aku tanyakan." Ella meletakkan ponsel miliknya di atas meja di samping ranjang tempat tidurnya, mendengar Vano berbicara dengan nada serius.
"Apa?" tanya Ella.
"Kamu meninggalkan pesta begitu saja. Apa ada yang ingin kamu jelaskan." tanya Vano.
Ella terdiam beberapa saat. "Aku menculik Jo."
"Menculik Jo. Bukankah Jo sudah ada di tangan papa Haris?" tanya Vano, merasa bingung dengan perkataan sang istri.
Lantaran dirinya tidak lagi mengikuti perkembangan Jo. Karena Jo sudah berada di tangan mertuanya. Vano hanya tidak mau di anggap lancang, atau tidak menghormati keputusan dari papa Haris.
"Papa terlalu lembek. Dia menyediakan fasilitas mewah untuk Jo."
"Dari mana kamu tahu?" tanya Vano sedikit terkejut dengan perkataan Ella.
"Bawahanku." ucap Ella.
Karena selama ini, Ella tidak akan pernah melakukan hal setengah-setengah. Meskipun tawanan sudah berpindah tangan pada orang lain, Ella tetap terus mengawasinya. Dia tidak ingin kecolongan.
"Mungkin papa melakukannya karena ada sebabnya."
"Iya, dan aku tidak suka melihat papa memperlakukan Jo seperti seorang raja. Apapun alasannya. Tidak di benarkan."
"Apa papa tahu?" tanya Vano.
"Aku menculiknya. Bukan meminta." tegas Ella.
"Ell, serahkan semua padaku. Aku yang akan melanjutkannya." Vano menatap pada Ella dengan penuh harapan.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, sayang. Percayalah." ucap Vano menyakinkan sang istri.
"Terimakasih." Vano memeluk Ella, saat istrinya mengangguk tanda setuju.
"Tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui." Ella mengurai pelukan dari Vano.
"Orang-orang misterius itu." tebak Vano, tentang bawahan Ella yang berpakaian misterius.
Ella mengangguk kembali. "Mereka tidak akan pernah mengikutimu." ucap Ella.
"Mereka hanya bersumpah dan berjanji padaku. Untuk setia pada setiap perintah dan perkataanku. Dan aku tidak bisa membongkar jati diri mereka padamu. Selain mereka yang menginginkan sendiri." jelas Ella.
"Aku tidak ingin menjadi pengkhianat." ucap Ella dengan penekanan.
"Iya, aku mengerti. Untuk itu, aku tidak akan memaksa. Aku juga mempunyai bawahan yang mumpuni. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Vano.
Padahal dirinya sangat penasaran dengan mereka. Bagaimana Ella bisa mengenal mereka. Dan alasan mereka sangat setia pada Ella.
Apalagi kemampuan mereka benar-benar di atas rata-rata.
Tapi Vano tidak akan menanyakannya. Apalagi Ella jelas sudah mengatakan hal tersebut.
AKU TIDAK INGIN MENJADI PENGKHIANAT.
__ADS_1