
Di tempat parkir, manik mata Vano menyapu seluruh penjuru.
"Maaf Tuan, sepertinya Nona Ella sudah pergi." Reza mencoba membuka suaranya.
"Kamu pikir aku sedang mencarinya." ucap Vano dengan suara berat, menahan amarah.
"Lalu, Tuan sedang mencari siapa?" tanya Reza.
Vano menoleh ke arah Reza. "Maaf." Reza sedikit menundukkan kepala.
"Reza, sebaiknya kamu jaga mulut brengsekmu." batin Reza mengutuk dirinya sendiri.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Vano masuk ke dalam mobil. Di susul Reza duduk di balik kemudi.
"Itu, Nona Ella dan Tuan Egi." ucap Reza ketika mobil mereka melewati warung makan pinggir jalan.
Vano langsung menoleh mencari keberadaan mereka, saat mendengar Reza menyebut nama Ella.
"Mau saja di ajak makan di tempat seperti itu. Miskin." cibir Vano.
Reza mengendarai mobil dengan pelan. "Kenapa kau menjalankan mobil seperti siput!" bentak Vano.
"Apa Tuan ingin saya menghentikan mobilnya?"
"Kamu. Berhenti." seru Vano dengan mata memerah.
Dengan segera, Reza menghentikan laju mobil. Dia segera keluar dan membukakan pintu untuk Vano. Setelah Vano keluar, Reza kembali menutup kembali pintu mobilnya.
"Tuan." Reza bingung, Vano masuk kembali masuk ke dalam mobil.
"Tuan." seru Reza saat Vano menjalankan mobilnya dan meninggalkan Reza sendirian di jalan.
"Sial. Gue pikir dia mau nyamperin mereka di warung. Malah ninggalin gue. Rezaaaa,,,, kenapa kamu bodoh sekali. Bukankah sudah gue beritahu. Jaga mulutmu brengsek." Reza menendang angin di sekitarnya. Melampiaskan rasa kesal karena di tinggalkan begitu saja oleh Vano.
Reza berjongkok dan memegang kepalanya. "Mereka masih di sana. Apa sebaiknya gue ke sana saja." Reza melihat ke arah warung. Masih terlihat mobil Egi di depan warung.
*
*
"Bagaimana?" Egi bertanya melihat Ella dengan nikmat memakan sepiring nasi dengan lauk lele di depannya. Atau biasa di sebut lalapan lele.
"Hemm.." ucap Ella menghiraukan pertanyaan Egi. Dia masih fokus dengan lele goreng di depannya.
"Apa bisa nambah lelenya saja. Tanpa nasi." Ella memandang ke arah Egi.
Egi berdiri dan meminta lele goreng lagi pada penjual.
"Ini." Egi menaruh beberapa lele goreng di depan Ella.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Egi karena Ella masih memandangnya.
"Kenapa kamu yang ke sana?"
"Supaya lebih cepat. Kamu lihat, mereka sibuk." ucap Egi memandang ke arah penjual yang sedang melayani beberapa pembeli.
"Emm,, tapi ini terlalu banyak. Aku harus segera pulang. Hana. Aku memikirkannya." ucap Ella sendu.
"Segera. Ayo cepat makan." ujar Egi.
Egi selalu memandangi Ella saat Ella dengan lahap menyantap makanan di depannya. "Apa perutmu akan terasa kenyang hanya dengan melihatku." ucap Ella.
Egi tersenyum canggung dan mengikuti Ella untuk makan.
Reza tetap berdiri di tempatnya dengan mata menatap warung di mana Ella dan Egi berada sekarang. Ada perasaan ragu untuk melangkahkan kakinya ke sana.
"Lebih baik gue pesan taksi saja. Reza. Elo harus jaga jarak dari Ella. Jangan terlalu banyak interaksi dengannya. Dia milik Tuan elo." gumam Reza dengan jari sudah berada di layar ponsel untuk memesan taksi.
Meski begitu, pandangan mata Reza tidak bisa berpaling dari warung dan mobil Egi. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya. Hanya dia sendiri yang tahu.
Author saja nggak tahu, apa yang di pikirkan Reza. Katanya cinta, tapi nggak mau ngomong. Mungkin karena Reza berhutang nyawa sama Vano. Atau,, dia minder. Karena Ella seperti bulan. Susah di gapai. Mungkin. Nggak tahu lah. 🙄🙄
Di warung, Egi selalu mencuri pandang ke arah Ella. "Eg, ayo. Aku ingin menemui Hana." ajak Ella.
"Aku bayar dulu." Egi berdiri dan membayar makanan yang sudah mereka makan dan pesan tadi.
"Ini hukuman untukmu Tuan. Beraninya menurunkan asisten terbaikmu di jalanan." gumam Reza memandangi ponselnya yang sudah tidak aktif lagi.
Reza yakin, jika sebentar lagi Vano pasti akan menghubunginya. Dan memberikan pekerjaan untuknya. Dan itu bukan pekerjaan kantor. Tapi pekerjaan yang bersifat pribadi.
Tidak lama setelah Reza pergi dari tempat tersebut dengan taksi yang di pesannya, Vano datang.
"Kemana perginya asisten brengsek itu." gumam Vano merasa kesal karena tidak bisa menemukan dan menghubungi Reza.
Vano menatap ke arah warung, dia tidak menemukan mobil milik Egi. "Mereka sudah pergi." ucapnya.
"Reza. Lihat saja besok." ujar Vano geram.
Rasa kesal Vano kini bertambah. Ella lebih memilih pergi bersama Egi. Dan sekarang, Reza mematikan ponsel miliknya.
"Aaaaa....brengsek kalian." Vano beberapa kali memukul kemudi mobil.
*
*
Setiba di rumah, Ella membuka pintu dengan kasar dan berteriak memanggil Nyonya Ane.
"Ma, mama....!"
__ADS_1
Egi menyipitkan sebelah mata dan tersenyum mendengar suara Ella yang menggelegar.
Tampak Nyonya Ane menuruni tangga dengan anggun sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya. "Ella,, ini bukan hutan sayang." ucapnya dengan penekanan.
"Hana bagaimana?" Ella mendekat ke arah mamanya.
"Han... Astaga." Nyonya Ane memejamkan mata saat Ella berlalu meninggalkan dirinya tanpa menunggu jawaban dari dirinya terlebih dahulu.
Egi dan Nyonya Ane saling pandang dan tersenyum. Keduanya lantas mengalihkan pandangan mereka ke tangga bagian atas. Di mana Ella berada di sana.
"Jika di rumah, dia memang seperti itu." jelas Nyonya Ane.
"Tapi Egi suka." dengan spontan Egi mengeluarkan perkataan yang membuat Nyonya Ane terdiam dan memandang ke arahnya.
"Maksudnya..." Egi mencoba mencari alasan karena mulutnya tanpa sadar mengeluarkan pernyataan suka pada Ella.
Sebelum Egi menjelaskan perkataannya, Nyonya Ane menyela terlebih dahulu. "Kamu siapa?" tanya Nyonya Ane dengan tersenyum.
Egi melangkah ke depan, dan mengulurkan tangannya. "Egi tante. Teman Ella." ucapnya.
"Saya mamanya Ella." ucap Nyonya Ane menyambut uluran tangan Egi.
"Kelihatannya dia tertarik dengan my princess." baton Nyonya Ane.
"Kita sebaiknya menyusul Ella. Mari." ajak Nyonya Ane.
Egi mengangguk dan mengekor di belakang Nyonya Ane.
*
*
Begitu masuk ke kamar di mana Hana Ella langsung menghampiri asistennya tersebut. "Astaga, gue pikir elo." ucap Ella dengan tangan berada di depan lehernya dengan gaya seperti menggorok leher.
Hana memandang tajam Ella. "Sumpah. Elo." Hana yang kesal dengan ucapan Ella mengambil bantal di sampingnya dan hendak memukulkannya pada Ella. Tapi...
"Aww,,, iissss..." Hana mendesis saat merasakan sakit di bagian bahunya.
Dimas segera mendorong Ella dan mendekat ke arah Hana. "Mana yang sakit?" tanya Dimas khawatir.
Hana terdiam dan melongo melihat Dimas sudah berada di depannya. "Jantung gue, nafas gue. Kenapa ini." batin Hana dengan pipi sudah memerah.
"Nggak ada." Hana segera memalingkan wajahnya dan menetralkan detak jantung dan sesak nafasnya.
Rasa sakit di bahunya seakan menghilang karena rasa aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Ella mendekat dan membisikkan sesuatu pada Dimas. "Nggak." seru Dimas setelah mendengar bisikan dari Ella.
Ella menyingkirkan tubuh Dimas dan mengerlingkan sebelah matanya pada Dimas. "Cepat sembuh sayang. Miss you." Ella memeluk tubuh Hana pelan.
__ADS_1