DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 101


__ADS_3

Mereka berkumpul di studio kecil milik Denis. Dan ternyata, Hana juga berada di sana.


"Kecil sekali. Terasa sesak hanya untuk sekedar bernafas." cibir Vano dengan pandangan mata memindai studio foto milik Denis.


"Kenapa tidak membawa tabung oksigen saja." ucap Denis kesal.


"Jika tahu dari awal, bukan hanya tabung oksigen yang aku bawa. Sekalian aku membawa kendaraan untuk menghancurkan bangunan ini. Pasti akan lebih bebas bernafas. Jika bangunan sempit ini tidak ada." ejek Vano.


"Kalian ini apa-apaan sih." seru Ella kesal dengan keduanya.


Sedangkan Hana, dirinya hanya duduk diam. Dan menyimak obrolan mereka.


"Jo adalah orang di balik penyerangan gue dan beberapa kejadian lainnya." ucap Ella langsung pada intinya.


"Apa!!?"


"Kamu serius Ell...??!"


Tanya Denis dan Hana bersamaan. Ella memandang ke arah Denis. Dan sepertinya Denis tahu apa yang ada di dalam pikiran Ella.


Denis dan Ella beralih memandang ke arah Hana. "Kenapa kalian?" tanya Hana menyadari jika dirinya di perhatikan oleh Ella dan Denis.


Ella memandang ke arah Denis. Denis hanya mengangguk pelan memberi isyarat pada Ella. Melihat ketenangan seorang Vano, Denis berspekulasi jika Vano pastinya sudah tahu masalah ini. Tentang kelainan yang di derita Viki.


Mana mungkin seorang Vano tidak tahu. Karena jika Vano mengetahui tentang Jo, pastinya dia juga menyelidiki segalanya yang berkaitan tentang dia.


"Han, ada yang ingin kami bicarakan." ucap Ella serius.


Hana merasa, kali ini Ella benar-benar ingin berbicara sesuatu yang penting. Bisa terlihat dari raut wajah Ella. "Ada apa Ell, jangan buat gue takut." ucap Hana.


"Elo kenal Viki kan?" tanya Ella, dijawab anggukan oleh Hana.


"Sebenarnya dia sakit." kata Ella membuat Hana merasa bingung. Kenapa Viki yang sakit, Hana di beritahu oleh Ella. Padahal dirinya menjalin hubungan dengan Denis. Bukan Viki.


"Dia sakit **** menyimpang." ucap Ella lirih.


"**** menyimpang?" Hana kembali mengucapkan perkataan yang di ucapkan oleh Ella.


Hana terdiam. Memandang ke arah Denis dan Ella bergantian. Seperti sedang memikirkan sesuatu. "Haaaaaaaaa." Hana segera menutup mulutnya yang menganga lebar.


Antara terkejut dan juga syok. Dirinya tidak menyangka. Viki, lelaki yang sama tampannya dengan sang kekasih dan juga terlihat macho. Ternyata penyuka sesama.


Hana segera mengambil botol air mineral di depannya. Meminum airnya beberapa teguk. Menepuk-nepuk kedua pipinya. "Ellll...." ucap Hana meminta Ella menyakinkan dirinya. Ella hanya mengangguk pelan.


"Hanya kita di sini yang mengetahuinya. Dan gue harap tidak ada yang akan mengetahuinya lagi." ujar Denis.


Hana segera mengangguk dengan antusias. Dirinya masih tidak bisa percaya jika sahabat dari kekasihnya ternyata mempunyai penyakit yang sulit di sembuhkan.

__ADS_1


"Ada lagi orang yang mengetahuinya. Jo." ucap Ella.


"Ini akan rumit." ucap Denis lirih, masih terdengar oleh semuanya.


"Apa Viki akan meninggalkan Jo, jika dia tahu bahwa Jo yang selama ini mencoba mencelakai kamu Ell?" tanya Hana.


"Tidak. Viki akan tetap bertahan. Meski Jo yang telah mencelakai Ella." timpal Vano.


"Tapi mereka sudah bersahabat lama." ungkap Hana.


"Akan sangat sulit memilih antara cinta dan sahabat. Tapi aku yakin, jika hanya karena Jo ingin mencelakai Ella. Viko tidak akan meninggalkan Jo dengan mudah." ucap Vano.


"Viki pasti akan menyakinkan kita, jika dirinya dapat merubah Jo karena cinta." kata Denis tersenyum miring.


"Kenapa kalian terlalu repot. Aku punya rencana. Dan pastinya akan membuka mata Viki." Ella tersenyum menakutkan.


Vano memandang ke arah Ella. Sepertinya Vano tahu apa yang direncana oleh kekasihnya tersebut. Karena dia mengingat, bagaimana raut wajah Jo setelah melihat Ella hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh seksinya.


"Jangan macam-macam Ell. Jika kamu berani melakukannya, sekalian aku habisi Viki." ancam Vano dengan tatapan mata menyalang.


Perkataan Vano sontak membuat Denis marah. "Berani menyentuh Viki, aku yang akan menghabisi mu terlebih dulu." geram Denis.


Vano sepertinya tidak mengindahkan perkataan Denis. Dia tetap menatap tajam ke arah Ella. "Hanya itu satu-satunya cara sayang.'' ucap Ella manja dengan raut wajah di buat seimut mungkin.


"Apa kamu gila!!!" teriak Vano sambil berdiri, membuat kursi yang di dudukinya terjatuh ke belakang.


"Tunggu, apa maksud kalian?" tanya Denis yang tidak mengetahui jika Jo sebenarnya tidak sama seperti Viki. Dia lelaki normal.


Ella kemudian menceritakan semua yang terjadi di apartemen. Dan kecurigaan Ella pada Jo.


"Brengsek. Dia pasti memanfaatkan Viki untuk mencari informasi mengenai kalian. Bajingan." Denis meninju tembok di sampingnya.


Hana segera berdiri dan menghampiri Denis. "Sudah, tahan emosi kamu. Jika kamu menyelesaikannya dengan amarah, semua akan kacau." ucap Hana sambil mengelus pundak Denis yang terlihat naik turun karena menahan rasa kesal.


"Kali ini aku setuju dengan Vano. Jangan pernah melakukan rencana gila kamu." ucap Denis.


"Kita akan mencari cara lain." imbuhnya.


"Apa?" tanya Ella dengan duduk tenang.


"Kalian akan mencari cara bagaimana. Menculiknya, menyuruh Jo membuka mulutnya di depan Viki. Tidak akan terjadi. Sampai kiamat pun, dia tidak akan membuka mulut." ucap Ella.


"Kita bunuh Jo." kata Denis.


"Tanpa sepengetahuan Viki." imbuh Hana.


Ella menyandarkan badan di kursi. "Jika Viki tahu, apa yang akan terjadi?" tanya Ella.

__ADS_1


"Kita bisa menjelaskannya pada Viki, Ell." kata Hana.


"Apa kamu pikir Viki akan percaya. Apa kalian pikir kita bersahabat sudah lama, semua yang terucap dari mulut, akan mudah di terima. Kalian tidak tahu, Viki sangat mencintai Jo." jelas Ella menggebu-gebu.


Ella menghela nafas panjang. "Cinta itu rumit. Bodoh. Buta. Seberapa besar kesalahan pasangan, pasti akan kita maafkan." Ella memandang lurus ke depan.


Vano yang berdiri membelakangi Ella sontak membalikkan badan mendengar perkataan Ella yang terdengar parau. Vano sepertinya tahu apa maksud perkataan dari sang kekasih.


"Tapi, cinta bisa menjadi pisau bermata dua. Tumpul di atas. Tajam di bawah. Dia yang tersakiti, pasti akan merasakan sakit. Lebih besar dari rasa cintanya. Cinta yang akan membuat seseorang berubah." imbuh Ella menyeringai.


"Dan aku akan membuat Viki merasakan rasa sakit itu." ucap Ella.


"Jika Viki tahu. Jo membohonginya, memanfaatkannya, berpura-pura, apa yang akan di lakukan oleh Viki?" ucap Ella tersenyum miring.


"Bagaimana jika Viki memaafkan Jo."


"Tidak akan aku biarkan. Api yang sudah membara, akan semakin membara jika kita siram bensin. Bukan begitu." ucap Ella dengan nada pasti.


Denis dan Hana saling memandang mendengar perkataan Ella. "Jika Ella sudah merencanakan sesuatu. Pasti akan di selesaikan dengan hasil seperti yang di inginkan." bisik Hana pada Denis.


Denis juga sangat mengenal siapa sahabatnya tersebut. Dia tidak akan gegabah melakukan sesuatu sebelum berpikir dengan serius.


Vano berjongkok di depan Ella. Memegang telapak tangan Ella. "Tapi aku tidak rela, tubuhmu di jamah orang lain sayang. Aku tidak akan kuat." ucap Vano membuat Ella merubah rencananya.


Ella membelai rambut Vano. "Jika kamu punya rencana yang lebih baik. Kau akan terima. Tapi kita harus bergerak cepat Van." ucapnya.


"Haahhh,,,, kita habisi Jo. Kita bersihkan jejak kita. Viki tidak akan pernah tahu." Vano berdiri dan berkacak pinggang dengan mata merah menahan amarah.


Ella memeluk Vano dari belakang. "Angin pun bisa memberitahu semuanya pada Viki. Kita tidak tahu, siapa saja yang terlibat. Apa Jo bekerja sendiri. Atau memang ada orang lagi di belakang dia."


"Kita harus bergerak cepat Van. Jangan membuang-buang waktu. Kita tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut."


"Tunggu Ell.." ucap Denis membuat Ella melepas pelukannya pada Vano.


"Jika Jo lelaki normal, bagaimana dia berhubungan dengan Viki." ucap Denis merasa penasaran.


Ella memandang sambil tersenyum aneh pada Denis. "Ell,,, jangan aneh-aneh." kata Denis sepertinya tahu maksud dari senyuman Ella.


"Vano saja. Jangan gue." imbuh Denis.


"Dia." Ella mengarahkan jarinya pada Vano. "Tidak akan bisa." imbuh Ella.


*****


Apa Vano akan mengizinkan Ella.


Bagaimana dengan rencana Ella.

__ADS_1


Apa berhasil, atau malah akan mendapat kendala.


__ADS_2