
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Viki memberi selamat pada Denis dan Hana.
Saat ini acara resepsi pernikahan Hana dan Denis di selenggarakan. Cukup mewah dan ramai. Tidak dapat di pungkiri, tamu undangan yang hadir bukan hanya dari kalangan bisnis.
Melainkan juga dari kalangan artis. Karena memang dunia bisnis yang di geluti oleh Denis maupun Tuan Bara berkecimpung dalam lingkaran infotainment. Terlebih Hana, dia juga terkenal sebagai seorang make-up artis.
Denis dan Hana malah terdiam dan tidak segera menyahuti ucapan selamat yang di berikan Viki. Pandangan keduanya malah fokus pada sosok gadis cantik yang berdiri di samping Viki, dengan melingkarkan tangan di lengan Viki.
Viki tersenyum melihat pasangan pengantin tersebut. "Kenalkan, dia Nara." ucap Viki, membuka suara. Bermaksud pamer pada sahabatnya.
Denis dan Hana beralih menatap Viki, seolah kalimat yang di ucapkan oleh Viki sama sekali belum bisa menghilangkan sesuatu yang berputar di benak mereka. "Nara, calon istri gue." lanjut Viki dengan santai, tersenyum bangga.
Denis dan Hana saling pandang. Keduanya malah tertawa mendengar perkataan yang keluar dari mulut sahabatnya tersebut.
Nara juga tersenyum melihat sikap dan tingkah pasangan suami istri yang baru sah tadi pagi. Nara sama sekali tidak tersinggung. Lantaran Nara tahu, kenapa keduanya tertawa.
"Kenapa kalian malah tertawa." geram Viki, merasa pasangan pengantin tersebut sedang tertawa mengejek pada dirinya. Atau keduanya tidak percaya akan perkataan yang baru saja mereka dengar.
Denis kembali memandangi Nara dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Jaga mata elo." seru Viki dengan nada tertahan.
Meski Denis menatap Nara bukan dengan tatapan mesum, melainkan tatapan curiga bercampur rasa ingin tahu. Namun Viki tetap tidak suka jika ada lelaki yang memandang Nara dengan tatapan seperti itu.
Berbeda dengan Viki, Nara tampak tidak tersinggung dama sekali. Meski pandangan Denis seakan sedang menilai dirinya. "Sayang, kamu di bayar berapa sama Viki?" tanya Hana dengan lembut, mengusap lengan Nara.
Sontak saja, pertanyaan dari Hana membuat Nara tersenyum manis. Berbeda dengan Viki. Dia melotot tidak percaya. "Gratis kakak." papar Nara.
"Gratis." kata Denis dan Hana bersamaan. Keduanya memasang ekspresi rumit, memandang ke arah Viki.
"Ckk,,, kalian tidak percaya. Dia, Nara. Calon istri gue." tekan Viki, mencium pipi Nara.
Denis dan Hana melongo melihat apa yang di lakukan oleh Viki. "Gue sudah sembuh." ucap Viki lirih. Namun pasangan pengantin di depannya masih tidak percaya.
Viki menepuk pundak Denis. "Oke, gue mau ketemu om sama tante dulu. Ayo sayang." Viki mengajak Nara meninggalkan Denis dan Hana yang masih terlihat syok.
Viki dengan posesif melingkarkan tangannya fi pinggang kecil milik Nara. "Viki sedang ngeprank kita sayang?" tanya Denis. Nara hanya menggeleng pelan. Pandangan keduanya tak lepas dari Viki dan Nara yang sedang berjalan ke arah lain.
"Denis Hana, ngapain kalian di situ." tegur Nyonya Monic, mengalihkan pandangan keduanya.
"Ma..." ucap Hana dan Denis bersamaan. Nyonya Monic mengajak sepasang pengantin tersebut menemui seseorang. Mereka adalah saudara dari Nyonya Monic.
"Sayang, kenalkan. Mereka semua adalah saudara Denis dari mama." jelas Nyonya Monic pada Hana.
Dengan sipan, Hana bersalaman dengan mereka satu-persatu. "Cantiknya.." puji salah satu dari mereka.
__ADS_1
Hana tersenyum dan mengangguk pelan. "Ya iya dong. Denis mana mau kalau tidak cantik." celetuk Nyonya Monic tersenyum memandang Hana.
Mereka berbincang-bincang dengan santai. Hingga ada seseorang yang mengeluarkan pertanyaan. Membuat semuanya terdiam. "Tapi masih perawankan?" tanyanya dengan nada bergurau.
Hana tersenyum kecil. Ada rasa nyeri di hatinya manakala ada pertanyaan semacam itu tertuju pada dirinya. "Ya pastilah. Mana mungkin putraku mau sama barang bekas." ujar Nyonya Monic.
"Iihhj mbak Monic. Kenapa di jawab. Pengantinnya dong yang jawab." timpal yang lainnya.
Hana hanya diam tertunduk. Denis mengecup pelan rambut Hana. "Jangan begitu tante, lihat. Istriku jadi malukan." papar Denis.
"Malu. Berarti masih perawan dong. Jangan kasar-kasar loh Den..." ucap yang lain.
Denis segera mengajak Hana untuk pergi meninggalkan kerumunan tersebut. Menyapa tamu lain yang belum di sapa. "Senyum dong." bisik Denis.
"Bagaimana kalau mama kamu..." ucap Hana lirih, menggantung kalimatnya.
"Ckk,,, jangan pernah mengatakan lagi. Dan jangan pernah mengingat atau mengungkit lagi." Denis dengan mesra membawa Hana untuk naik ke atas panggung.
Di dampingi oleh kedua orang tua Denis. Tuan Bara dan Nyonya Monic. Sementara dari pihak Hana. Ada Bu Ningsih dan sang putra. Adik dari Hana. Arik.
"Terimakasih untuk kehadiran semuanya. Kami...." ucap Denis dengan tangan memegang mikrofon. Namun perkataannya terhenti.
Manakala kedua matanya menatap seseorang yang sangat di rindukannya. Demikian juga dengan Hana.
Suara high hell beradu dengan keramik. Terdengar sangat nyaring di telinga. Karena keadaan sedang sunyi. Di karenakan semuanya fokus ke panggung, untuk mendengarkan ucapan dari sang pengantin.
Sosok perempuan cantik dan seksi. Dengan gaun kemben berwarna merah. Memperlihatkan tulang selangka yang tampak sempurna. Melekat sempurna di tubuh sang pemakai.
Di tambah belahan samping hingga menampilkan paha mulus dan jenjangnya. Membuat semua orang menatap kagum padanya.
"Ella...." gumam semuanya. Sementara sang empunya berjalan bagai dewi kecantikan. Tampak sempurna dengan senyum di bibir.
Tidak menunggu lagi. Denis menjatuhkan mikrofon yang di pegangnya. Berlari ke arah Ella. Tak ketinggalan, Hana juga mengangkat gaunnya ke atas. Berlari menyusul sang suami untuk menemui sahabat mereka.
Dan Viki yang belum melihat kehadiran Ella, masih diam dan melihat ke arah Denis dan Hana yang meninggalkan panggung mereka. "Kenapa mereka malah turun?" tanya Viki bermonolog.
"Bang...." Nara menepuk lengan Viki, kedua matanya berbinar menangkap sosok Ella. "Bang...!!!" seru Nara tertahan, karena Viki masih meminum minuman di gelasnya.
"Ada apa?" tanya Viki setengah jengkel.
"Lihat, di sana." jari telunjuk Nara menunjukkan ke arah di mana Denis dan Hana memeluk seseorang.
Viki mengikuti arah jari telunjuk Nara. Dan.... Tar.....
__ADS_1
Gelas yang di pegang Viki meluncur ke bawah dengan sempurna. Pecah.
"Ella,,,,,,!!!" seru Viki berlari ke tempat Ella berada. Meninggalkan Nara sendiri.
"Elo di tinggal jugakan. Asal elo tahu, elo nggak sepenting yang elo kita." ejek Melva. Perempuan yang menyukai Viki.
Nara mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Melva. "Ckk,,, nggak penting." Nara berjalan menuju ke arah Viki dan yang lainnya.
Viki menarik baju Denis dari belakang. Membuat Denis hampir terjungkal. "Ell..." dengan segera Viki memeluk erat sahabatnya tersebut.
"Hikks,,, hikss,,,," tampak Hana berada di samping Ella menangis terisak.
"Ada apa sih." Ella mengurai pelukan dari Viki. "Kenapa kalian menangis. Nggak senang gue datang." lanjut Ella.
Hana kembali memeluk Ella dnegan erat. "Ella, gue kangen banget. Elo jangan pergi lagi." ucap Hana sesegukan.
"Hay... Make-up elo ntar luntur." ucap Ella, memegang pundak Hana.
"Nggak. Make-up gue mahal." sahut Hana, membuat Ella tersenyum.
Kembali, Denis dan Viki bergantian memeluk Ella. "Selamat ya." ucap Ella.
"Gue yang menikah, kenapa elo juga ngucapin selamat ke Viki." gerutu Denis tidak terima.
Belum sempat Ella menjawab, Nara sudah mendekat dan memanggil nama Ella. "Kak Ell..." panggil Nara menangis seperti bocah kecil.
Denis membalikkan badan. Dia heran, bagaimana bisa Nara kenal dengan Ella. Begitu juga Hana.
Ella merentangkan kedua tangannya. Nara berjalan cepat dan langsung memeluk tubuh Ella. Dengan mudah Ella mencium pucuk kepala Nara. Karena perbedaan tinggi keduanya.
"Nara kangen." cicit Nara sambil menangis.
"Kalian saling kenal?" tanya Denis.
"Kalau nggak kenal, nggak mungkin calon istri gue manggil Nara. Baru menikah saja, kepintaran elo sudah berkurang." celetuk Viki.
"Sialan." gerutu Denis..
Pesta kembali berjalan seperti semula. Dan Ella, kini sedang berbincang bersama kedua orang tuanya. Dan juga mertuanya.
Semua terlihat indah dan bersemangat. Denis yang akhirnya menikah dengan Hana. Sebentar lagi Viki juga akan menikahi gadis manis bernama Nara.
Dan Ella, dia kembali untuk menuntaskan semuanya yang belum selesai. Setelah menangkan diri selama berbulan-bulan. Ella memutuskan untuk kembali lagi, meneruskan kisah hidupnya yang baru.
__ADS_1
......SELESAI.........