DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 49


__ADS_3

Ponsel Ella terus berbunyi di dalam tasnya. Tepatnya di ruang tamu apartemen milik Vano. Sementara, di dalam kamar, Ella berusaha menahan suara yang akan keluar dari dalam mulutnya.


"Baiklah." Vano melepaskan pangutan bibirnya dan melihat ke arah wajah Ella.


Bibir basah Vano kini bermain di buah ceri yang berada di bukit kembar Ella.


Plup,, plup,,


Tangan kiri Vano membuka resleting celana Ella dan memasukkan tangannya ke dalam.


"Vano, kamu sudah gila. Ini namanya pelecehan." ucap Ella yang sudah ngos-ngosan seperti baru saja olah raga berat.


Vano menghiraukan ocehan dari Ella. Tangannya terus memanjakan setiap bagian sensitif dari tubuh Ella. Dengan bibir mengaksen setiap kulit mulus dari Ella.


"Ahhh.."


Vano tersenyum. Akhirnya suara yang sedari tadi di tunggu terdengar juga di indra pendengarannya.


Ella memejamkan matanya. Dia tidak ingin melihat ke arah Vano. Antara malu karena tidak bisa menahan suaranya laknat tersebut, atau malu karena dia harus mengakui permainan Vano yang hebat.


Dengan segera Vano menyisihkan celana di tubuh Ella. Kedua tangan dan kaki Ella kini sudah tidak terikat lagi. Meski begitu, Ella tidak bisa melakukan apa-apa. Permainan jari-jemari Vano di setiap lekuk tubuhnya mampu membuat Ella menjadi lemas.


Tanpa berpikir lama, Vano memasukkan pusakanya ke dalam gowa milik Ella. Hentakan dari pinggul Vano mampu membuat Ella lupa segalanya.


Kini hanya terdengar suara penuh kenikmataaan yang menggaung di dalam kamar Vano. Hingga keduanya bermandikan keringat.


Vano terkulai lemas di atas tubuh Ella saat cairan putih keluar dari dalam pusakanya dan meluncur sempurna ke dalam gowa milik Ella.


"Olah raga sore yang menyenangkan." Vano mencium setiap bagian di wajah Ella.


Karena rasa lelah yang di deranya, Ella memejamkan mata hingga tertidur. Sementara Vano memeluknya dari depan. Meletakkan kepalanya tepat di depan dua bukit kembar milik Ella.


Bahkan kini mulut Vano melahap sempurna salah satu buah ceri yang berada di bukit kembar Ella. Persisi seperti bayi yang sedang menyusu. Vano sedikit mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Ella.


Vano tersenyum dan melanjutkan aktifitasnya. Sedangkan Ella. Jangan tanyakan lagi. Seolah dia tidak terganggu sama sekali dengan tindakan yang Vano lakukan terhadap dirinya.


Vano semakin mengeratkan pelukannya. Dan membenamkan kepalanya di kedua bukit kembar milik Ella.


*


*


"Kemana sih ini anak. Di telpon nggak di angkat-angkat." omel Nyonya Ane yang sedari tadi mencoba menghubungi Ella tetapi tidak ada jawaban dari sang pemilik nomor.


"Bagaimana tante?" tanya Viki.


"Kamu tahu di mana Ella?" tanya Nyonya Ane.


Sontak pertanyaan Nyonya Ane membuat Denis dan Viki saling pandang dan saling membuang nafas.


"Astaga, kenapa tante malah bertanya sama kalian. Mana tahu kalian." ujar Nyonya Ane.


"Apa perlu kita cari tan?" tanya Viki.


"Tidak perlu, mungkin sekarang Ella sedang sibuk..Dan tidak pegang ponsel." kata Tuan Haris yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.


"Papa yakin?" tanya Nyonya Ane.


Tuan Haris merangkul istrinya sambil mengangguk dan mendaratkan ciuman di kening Nyonya Ane.


Seseorang dengan menenteng tas di tangannya berjalan ke arah mereka. "Kalau begitu, saya pamit dulu." ujarnya.

__ADS_1


Beliau adalah dokter keluarga Tuan Haris. Dan beliau berada di sini karena ingin melihat kondisi dari Hana. Sekaligus mengganti perban di pundak Hana.


"Terimakasih." kata Tuan Haris.


"Em,, kalau begitu, saya mau menemui Hana dulu om, tante." izin Denis.


"Silahkan." kata Tuan Haris.


"Gue ikut." seru Viki sambil berjalan cepat untuk mengikuti Denis.


"Pa, Ella." kata Nyonya Ane dengan memandang sendu ke arah suaminya.


"Mama tenang saja. Tadi Ella pergi dengan Vano." jelas Tuan Haris.


Semenjak kejadian hilangnya Ella dan Hana di hutan, Tuan Haris tidak ingin kecolongan. Beliau memerintahkan seseorang untuk memantau Ella dan memberi kabar pada dirinya tentang keberadaan putrinya tersebut. Meski sempat kecolongan sewaktu di tempat karaoke.


"Papa yakin. Mereka sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja pa. Papa tahukan." ucap Nyonya Ane gelisah.


Tuan Haris terdiam sesaat. Dia hanya mendapat laporan dari orang suruhannya bahwa Ella pergi ke apartemen Vano bersama pemiliknya. Yaitu Vano.


"Jika sampai malam tidak ada kabar dari Ella, papa sendiri yang akan ke sana."


*


*


Bunyi ponsel Vano, membuat penghuni kamar merasa terganggu. Vano berdiri dengan tubuh tanpa sehelai benangpun.


Reza calling....


Ada apa?


Kapan?


^^^Mereka ingin bertemu sekarang.^^^


Besok saja.


^^^Tapi Tuan, besok mereka sudah^^^


^^^^^^pulang ke negaranya.^^^^^^


Lalu.


^^^^^^Mereka tidak keberatan menunggu^^^^^^


^^^^^^sampai Tuan datang.^^^^^^


Baiklah.


………


Vano mematikan panggilan teleponnya. Dan menaruh ponselnya di meja dekat tempat tidur. Pandangan matanya mengarah pada Ella yang sedang tenang dalam tidurnya.


"Selamanya kamu akan jadi milikku." gumam Vano mencium singkat pundak Ella.


Vano segera beranjak ke kamar mandi dan membersihkan badan. Setelah selesai dengan ritualnya di dalam kamar mandi, ia segera berganti pakaian.


Selama memakai pakaian, pandangan matanya tidak lepas dari ranjang tempat tidurnya. Dimana Ella sedang terlelap tidur. Sudut bibir Vano terangkat sempurna. Di dekatinya Ella. "Sebentar lagi, kamu pasti akan jadi Nyonya Vano Reyandli." Vano menatap ke perut Ella dan mencium pipi Ella.


Vano keluar dari kamarnya, di lihatnya ruang tamu apartemennya penuh dengan barang Ella yang berserakan. Vano memegang dagunya dan tersenyum.

__ADS_1


"Gue benar-benar gila." gumamnya kembali mengingat tindakannya tadi. Atau lebih tepatnya, cara dia membuat Ella masuk ke dalam kamarnya.


Ini pertama kali Vano melakukan hal seperti itu pada kaum hawa. Karena biasanya mereka dengan senang hati naik dan merangkak sendiri di atas ranjang miliknya.


Termasuk Ella. Tapi itu Ella lakukan sebelum dia mengetahui bahwa Vano gemar bermain dengan perempuan lain selain dirinya. Setelah Ella mengetahuinya, dia mencoba menjauh dari Vano.


Vano tersenyum dan melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen. Langkah kakinya terhenti saat teringat sesuatu. Dia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


Tidak lama kemudian, bel apartemen Vano berbunyi. Seseorang mengantar makanan. Seperti yang Vano pesan tadi.


Vano membawanya ke dapur dan menyiapkannya di atas piring. Di bawanya makanan tersebut ke dalam kamarnya. Di letakkan nampan berisi makanan di meja samping ranjang tempat tidurnya beserta segelas air putih.


Dalam perjalanannya menuju tempat janjian dengan klien, Vano selalu tersenyum. Bahkan setelah sampai di tempat tujuan, Vano juga sangat ramah dan murah senyum. Hal tersebut membuat Reza merasa heran.


"Apa yang terjadi?" batin Reza.


"Kenalkan Tuan, ini putri saya." ucapnya.


"Clara." ucap seorang gadis menyebutkan namanya.


Mereka membicarakan proyek yang akan di kerjakan bersama dengan makan malam. Pandangan mata Clara selalu berpusat pada Vano.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit Vano setelah dirasa pembicaraan mereka selesai.


"Maaf, boleh minta nomor ponsel anda?" tanya Clara.


"Maaf, saya tidak membawa ponsel. Kebetulan ponsel saya tertinggal di apartemen kekasih saya. Permisi." ujar Vano meninggalkan tempat tersebut diikuti Reza di belakangnya.


"Masih banyak kesempatan." ucap sang papa menenangkan hati Clara.


"Mampus. Kenapa Tuan Vano jadi aneh seperti ini?" batin Reza menatap Vano dari belakang.


"Aaaww." seru Reza saat badannya terbentur badan Vano yang berhenti mendadak di depannya.


Reza mundur dua langkah ke belakang. Vano, dia langsung membalikkan badan dan menatap aneh ke arah asistennya tersebut.


*****


Vano... Kenapa author nggak percaya sepenuhnya sama ni orang.


Benar-benar insyaf,,, atau,,, sesaat doang. 🤔


Huh,, kita berdo'a bersama-sama ya kawan, semoga Vano benar-benar berubah. 🤲


****


Dan untuk teman-teman semuanyaaa....


Author mau ngucapin.


TERIMAKASIH.


Terimakasih karena sudah baca karya author.


Terimakasih karena sdah ninggalin jejak setelah baca.


Terimakasih atas dukungannya.


Pokoknya. Terimakasih. Terimakasih. Dan,,,,,


Terimakasiiiihhh.... 😘😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2