DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 59


__ADS_3

Tuan Haris dan Nyonya Ane hanya ingin mendengar cerita dari Hana. Apakah sama dengan laporan yang di berikan oleh orang suruhan Tuan Haris untuk memantau dan menyelidiki Vano.


Dan ternyata...


Semua yang di ceritakan Hana, sama persis dengan laporan yang di berikan oleh orang suruhan Tuan Haris.


Melihat reaksi dari kedua orang tua Ella, Hana memandang aneh dan heran pada mereka. "Kenapa mereka tidak kaget atau lebih tepatnya, marah pada Vano." batin Hana.


"Sebenarnya ada apa ini. Kenapa. Apa jangan-jangan,,, sebenarnya, mereka sudah tahu." batin Hana.


"Han, bisa kami minta tolong." pinta Tuan Haris.


"Iya pa."


"Kami berharap, kamu selalu berada di samping Ella. Jaga dia saat kami tidak bisa di dekatnya."


"Baik pa. Pasti." ucap Hana dengan mantap.


"Iya Han. Dari pada kami, kamu kan lebih sering bersama dengan Ella. Kami titip Ella." pinta Nyonya Ane.


"Jika terjadi sesuatu, kamu secepatnya hubungi kami." ujar Tuan Haris.


"Iya pa."


"Ya sudah. Kamu istirahat. Supaya lekas sembuh."


"Oh iya ma, Ella belum pulang?" tanya Hana.


"Tadi mama sempat menghubunginya. Dia bilang sedang di rumah teman. Menunggu hujan reda, baru bisa pulang. Kata pak satpam tadi Ella pergi bawa motor." jelas Nyonya Ane.


"Rumah teman. Siapa?" gumam Hana pada dirinya sendiri.


Tuan Haris dan Nyonya Ane saling pandang. Sejurus kemudian, Tuan Haris mengangguk pelan. Nyonya Ane tersenyum. Keduanya seolah bisa berbicara telepati satu sama lain. Mau dong... Telepati.. 🤭


"Han, bisa kamu telepon Ella. Tanya dia di mana? Kamu perkeras suaranya ya. Biar papa sama mama bisa dengar sekalian." pinta Nyonya Ane.


Hana mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya. Dan mulai mencari nomor kontak Ella pada barang berbentuk kotak pipih tersebut.


"Halo, ada apa Han?" tanya Ella lirih, begitu dia menjawab panggilan telepon dari Hana.


"Elo di mana?" tanya Hana.


"Ntar gue cerita sama elo. Udah ya." Ella berbicara dengan Hana melalui ponsel miliknya dengan berbisik.


"Elo baik-baik saja kan? Kenapa suara elo aneh?" tanya Hana khawatir.


"Gue baik, gue sekarang sedang sembunyi."


"Sembunyi. Kenapa elo bersembunyi?" tanya Hana semakin khawatir mendengar kata sembunyi.


"Kalau gue ketahuan bisa bahaya. Gue bisa di suruh nikah. Sudah dulu, ntar sampai rumah gue cerita sama elo." Ella langsung memutuskan sepihak panggilan dari Hana.


Hana, Tuan Haris, dan Nyonya Ane saling pandang. Mereka seakan menebak-nebak sendiri di dalam angan mereka. Ada apa dengan Ella. Di mana sekarang Ella berada. Sembunyi. Menikah.


Tapi Ella bilang dirinya baik-baik saja. Tapi kenapa mesti sembunyi jika baik-baik saja.


*


*

__ADS_1


Egi segera kembali menemui Ella setelah tahu siapa orang yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya.


Ella melihat ke arah Egi yamg terlihat cemas. "Kenapa?" tanya Ella.


Egi menarik nafas pelan dan mulai berbicara. "Mama ada di depan." ucap Egi.


"Bagus dong. Lantas kenapa tidak kamu buka?" tanya Ella.


Egi duduk di samping Ella. "Ell, aku bisa minta tolong." ucap Egi penuh harap.


Egi menyatukan kedua telapak tangannya di depan. "Kamu sembunyi dulu." ujarnya.


Wlekkkk.......


Ella bingung dengan perkataan Egi. Sembunyi. Kenapa.


Egi mengerti, saat melihat raut wajah bingung dari Ella. "Mama pernah bilang, jika suatu saat beliau melihat aku berduaan dengan perempuan di dalam kamar. Mama akan langsung menikahkan aku dengannya. Dengan wanita itu maksud ku." jelas Egi.


"Kita tidak sedang di kamar Egi. Lihat, kita di ruang tengah. Depan televisi. Aman." ucap Ella tenang.


"Ini malah berbahaya Ell. Kita cuma berdua. Di dalam apartemen. Kamu mengerti kan maksudku."


Ella tampak berpikir. Menikah, dengan Egi. Wahhh,,, perang besar coyyy.... Vano apa kabar.


Sebenarnya bisa saja Egi menggunakan kesempatan ini untuk menjebak Ella, menggunakan sang mama. Tapi dirinya terlalu takut. Atau bisa di bilang pengecut. Dan Egi tidak peduli akan hal tersebut. Penakut ataupun pengecut.


Egi malah lebih takut jika Ella akan menjauh darinya. Bahkan membenci dirinya karena hal tersebut.


Bisa saja Egi menggunakan kesempatan ini, menjadikan Ella istrinya. Seseorang yang sepenuhnya menjadi miliknya. Tapi Egi tidak mau hanya memiliki tubuh atau raga Ella saja. Dia juga membutuhkan hati atau perasaan Ella sepenuhnya untuk dirinya.


Egi sangat berharap Ella menolak untuk sembunyi dan lebih memilih menemui mamanya.


Egi tersenyum kecut. Kenyataan tak seindah impian dan angannya.


"Dimana?" tanya Ella.


Egi memegang lengan Ella. Membawa Ella ke dalam kamarnya. "Tas gue." ucap Ella.


"Astaga." Egi berlari ke ruang tengah. Mengambil tas Ella dan segera kembali ke kamarnya.


"Di sini."


"Yakin?" tanya Ella karena Egi membuka sebuah almari yang penuh dengan pakaian yang tergantung. Dan pastinya semua pakaian itu milik Egi.


"Ya sudah." tanpa berpikir panjang, Ella masuk ke dalam almari.


Tangan Ella menata pakaian Egi supaya benar-benar aman. Takut seandainya mama Egi membuka almari tersebut. Bisa jadikan.


"Ponsel." Ella segera mengeluarkan ponselnya. Membuatnya dari dering menjadi hening.


"Baru kali ini gue merasa seperti maling." gumam Ella.


Ella mendekatkan wajahnya ke arah pintu almari. Mencuri dengar apa yang terjadi di luar. Menajamkan kedua indra pendengaran.


Di depan pintu, Egi tersenyum lebar begitu pintu telah dia buka. Berbeda dengan Nyonya Tiwi. Sangat nampak raut wajah kesalnya.


Nyonya Tiwi masuk ke dalam dengan menabrakkan pundaknya pada tubuh Egi. Membuat Egi melangkahkan kakinya ke samping.


Egi memegang pundaknya sambil meringis dan mengelusnya.

__ADS_1


Nyonya Tiwi duduk dengan anggun, pandangan matanya mengitari seluruh ruangan yang nampak seperti tempat penampungan barang rongsokan.


Kemudian netranya beralih menatap horor ke arah sang putra. "Ada apa? Kenapa kamu lama sekali membuka pintu? Dan ini? Astaga. Apa yang kamu sembunyikan dari mama!" tanya Nyonya Tiwi dengan nada membentak.


Egi menyusul Nyonya Tiwi duduk di kursi empuk tersebut. "Hanya pelampiasan emosi." jawabnya enteng.


"Hanya. Hanya kamu bilang. Jika seperti ini kamu bilang hanya. Lalu kamu ingin melakukan hal yang lebih dan lebih lagi." seru Nyonya Tiwi.


Nyonya Tiwi berdiri. "Mama tidak pernah mengajari kamu seperti ini. Jika ada masalah, kamu bisa menenangkan diri dengan hal yang bermanfaat."


"Mana ada. Orang sudah emosi. Mana sempat berpikir sampai ke situ."


"Kami itu, selalu membantah perkataan mama." ujar Nyonya Tiwi kesal.


Egi berdiri dan segera memeluk tubuh sang mama. Karena dirinya sudah melihat mata sang mama sudah mengembun. "Maaf. Egi salah." ucap Egi.


Nyonya Tiwi membalas pelukan dari putra semata wayangnya. Di tepuk pelan bahu milik Egi. "Kamu satu-satunya harta berharga milik mama."


"He-em."


"Pasti asisten gue yang memberitahu mama. Tambah masalah saja." batin Egi.


Dan Ella, jangan tanyakan lagi. Karena rasa penasarannya, dia memutuskan keluar dari dalam almari. Membuka sedikit pintu kamar Egi. Mendengarkan pembicaraan antara Egi dan sang mama.


Meski Ella tidak dapat melihat keduanya, tapi telinganya bisa mendengar percakapan keduanya.


"Kamar kamu?" tanya Nyonya Tiwi melepas pelukannya.


Egi tersenyum kaku. "Besok akan ada yang membersihkan." ucapnya.


"Mama mau ke mana?" tanya Egi menghentikan Nyonya Tiwi yang ingin melihat kamar Egi.


Ella yang tidak mendengar percakapan keduanya, memilih kembali ke dalam almari. Dia tidak ingin Egi mendapati dirinya sedang menguping.


Segera Egi menyusul mamanya. "Semoga Ella aman." batinnya.


"Astaga Egi." Nyonya Tiwi hanya berdiri di ambang pintu, memastikan kondisi kamar putranya tersebut.


Egi menarik Nyonya Tiwi menjauh dari kamar. "Tenang saja ma, besok semua sudah beres."


Tanpa menaruh curiga sedikitpun pada putranya, Nyonya Tiwi meninggalkan apartemen Egi. Karena selama ini Egi memang tidak pernah membawa siapapun ke apartemennya.


Egi segera membuka pintu almari setelah mamanya meninggalkan apartemen. "Keluar Ell, aman."


Ella menarik nafasnya. "Sepertinya aku harus pulang."


"Baiklah."


"Biar aku antar." tawar Egi


"Tidak perlu. Aku bawa motor."


*****


Teman-teman kasih author wanginya bunga mawar dong... 🌹🌹🌹🌹🌹


Kalau ada yang mau ngasih author segelas kopi, author nggak akan nolak... ☕☕☕☕


Dan untuk Nyonya Tiwi... maaf.

__ADS_1


Author sempat marah, karena mengganggu Egi dan Ella. Maaf Nyonya. 🙏🙏


__ADS_2