DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 136


__ADS_3

"Elll..." panggil Vano mencari keberadaan istri di dalam kamar hotel.


"Apa." ketus Ella.


"Ada apa." tanya Vano. Akhirnya Vano meredam rasa kesal terhadap istrinya tersebut.


"Lihat." Ella memperlihatkan layar ponselnya. Di mana ada berita Denis dan perempuan lain, bukan Hana.


"Ada apa?" tanya Vano belum paham.


"Aissshhh." Ella mendaratkan pantatnya di kursi empuk dekatnya. "Denis. Dia pergi ke sebuah acara bersama perempuan lain."


"Terus." tanya Vano. Karena Vano merasa tidak ada salahnya jika Denis pergi bersama perempuan lain.


"Kenapa bukan Hana."


"Mungkin Hana repot, atau ada keperluan lain."


"Repot apaan. Keperluan lain apa. Aku di sini. Dia nggak repot. Keperluan lain apa, kok nggak bilang sama aku." cerocos Ella menggebu.


"Sini." Vano membawa tubuh Ella untuk lebih dekat dengannya. "Semua orang butuh privasi. Termasuk juga Hana. Bukankah kamu juga punya privasi." Vano merangkul pundak Ella dan menaruh dagunya di pundak Ella yang satunya.


"Tapi Denis pergi dengan perempuan lain." ucap Ella lirih. "Aku nggak mau sampai Hana merasakan sakit hati." imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.


Ella memeluk erat tubuh Vano. "Sejak dulu Hana selalu bekerja untuk keluarganya. Dia perempuan baik. Aku sudah menganggapnya seperti saudara." cicit Ella.


"Saudara. Menganggapnya seperti saudara." batin Vano mengingat jika dirinya dan Hana pernah saru ranjang, meski karena sebuah kecelakaan.


Ponsel Ella berdering. Segera Ella mengangkatnya begitu tahu siapa yang menelpon dirinya.


@@@@@@@


Halo Den


^^^Sorry, gue tadi sibuk.^^^


^^^^^^Soalnya nggak pegang ponsel.^^^^^^


^^^Ada apa?^^^


Apa elo dan Hana putus


(tanya Ella langsung)


^^^Nggak lah.^^^


^^^Gue ketemu tu perempuan di depan gedung.^^^


^^^Media saja yang ngadi-ngadi.^^^


Syukur deh.


@@@@@@@@


Ella meletakkan ponselnya saat obrolannya dengan Denis selesai.


"Sayang, nanti malam jadi?" tanya Ella mengingatkan kembali tentang Ditya.


"Nanti malam?"


"Iya. Bukankah kita mendapat undangan pesta."

__ADS_1


"Kami mau pergi?" Vano malah balik tanya pada Ella.


"Kenapa?"


Bukannya menjawab pertanyaan Ella, Vano berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki ke tempat tidur.


"Kenapa sih?" Ella merasa Vano sedikit aneh sejak tadi.


Disusulnya Vano, dan Ella duduk di tepi ranjang. Sementara Vano tidur dengan posisi tengkurap. "Kalau ada apa-apa ngomong. Memang aku bisa baca pikiran kamu." ujar Ella. Tapi Vano masih diam dan tidak bergerak.


"Van,,," Ella mengguncang pelan tubuh sang suami.


"Ya sudahlah." Ella beranjak dari duduknya.


"Mau kemana." suara bariton Vano menghentikan langkah Ella.


"Keluar. Di sini gerah. Pulang sekalian kalau perlu."


Vano bangun dan duduk bersila dengan menatap tajam ke arah Ella. "Mau bertemu Ditya." ucapnya datar, tanpa ekspresi.


Ella terdiam. "Ditya." batin Ella. "Kenapa malah Ditya." batinnya.


Seketika tawa Ella pecah. Menyadari jika suaminya sedang cemburu. Vano memicingkan mata melihat Ella tertawa.


"Kamu cemburu." tuding Ella.


"Cemburu. Dengan laki-laki seperti dia. Nggak level." sinis Vano.


Alis Ella terangkat dan tersenyum samar. "Benar, tidak cemburu." goda Ella, Vano memalingkan wajahnya dengan mimik muka menahan kesal.


"Nanti malam pakai baju gimana ya." Ella mengetuk-ngetuk pelan keningnya sendiri. Sedikit mencuri pandang ke arah Vano yang sedang menatapnya dengan tajam.


Tapi Ella belum puas untuk mengerjai suaminya yang sedang kesal karena cemburu. "Dit-tya. Kelihatannya dia pengusaha yang sukses juga. Seperti kamukan." Ella memandang Vano.


Vano semakin mengeraskan rahangnya mendengar istrinya memuji laki-laki lain. Tepat di hadapannya. "Baiklah. Lebih baik sekarang aku pergi beki gaun malam yang indah dan seksi." ucap Ella dengan mengibaskan rambut panjangnya.


"Elllll...." seru Vano geram.


"Kenapa. Katanya tidak cemburu." goda Ella.


"Terserah. Pergi sana kalau mau pergi." Vano berdiri dan hendak meninggalkan kamar hotel.


"Eh, eh, eh. Mau ke mana Tuan pencemburu." Ella segera memeluk Vano dari belakang.


"Cemburu kan. Ayo ngaku." Ella semakin mengeratkan pelukannya saat Vano ingin melepas tangan Ella dari perutnya.


Ella terkekeh pelan, melihat tingkah Vano yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Vano menarik lengan Ella. Menjadikan Ella sekarang berada di depannya.


Vano memandang tajam ke arah Ella. Sementara Ella malah senyum-senyum tak jelas.


"Elll... aku serius. Akan ku patahkan kakimu jika pergi ke sana."


"Iiiihhh takut." ucap Ella dengan mimik muka yang lucu.


"I love you." Ella menangkup kedua pipi Vano. "Kamu semakin menggemaskan kalau sedang cemburu." ucap Ella sembari terkekeh.


"Sayang kuhhhh...." Ella memeluk tubuh Vano dan menggoyang-goyangkannya.


"Kami sengaja."


Ella sedikit mendongakkan kepala, melihat ke wajah tampan sang suami. Dan mengangguk pelan. Vano mengusap pelan rambut Ella.

__ADS_1


"Jangan tersenyum pada sembarang lelaki Ell."


Ella melepaskan pelukannya. Berdiri tegap dengan mengangkat tangannya seperti sedang memberi hormat kepada komandannya. "Siap." ucapnya tegas.


"Kamu tuh." Vano menarik kembali tubuh Ella kedalam dekapannya.


Malam hari di sebuah rumah mewah dan megah. Seorang lelaki berkali-kali memandang ke arah pintu. "Ada apa Dit. Aku lihat dari tadi kamu memandang ke arah pintu." ucap sahabatnya dengan memegang segelas win di tangannya.


"Sedang menunggu siapa? Teman-teman yang kamu undang bukannya sudah datang semua."


Ditya tersenyum hambar. "Oke. Kita kesana." ucap Ditya merangkul sahabatnya ke tengah-tengah pesta.


Tapi pikiran Ditya tetap tidak fokus. Dirinya berharap kehadiran Vano dan Ella. Lebih tepatnya kedatangan Ella, tanpa Vano.


"Kamu kenapa?" tanya Egi yang ternyata juga ada di pesta tersebut.


Ditya dan Egi. Keduanya berkenalan saat mereka sama-sama menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di negara ini. Sejak saat itu, keduanya menjadi sahabat.


"Elo nungguin siapa sih?" tanya Egi yang tahu bagaimana temannya tersebut.


Ditya menyandarkan badannya ke kursi. "Tadi siang gue ketemu sama perempuan. Dan gue tertarik sama dia."


"Elo undang dia kesini?"


"Ya, tapi kelihatannya dia nggak datang."


"Ckkk, kenapa elo nggak minta nomor ponselnya."


"Jika dia sendiri, gue pasti akan minta nomor ponselnya. Tapi..."


"Tapi apa?" tanya Egi merasa perubahan raut wajah Ditya sedikit aneh.


"Dia sama suaminya." ucap Ditya lirih.


"Gila elo. Waahhh,, nggak bener nih otak elo. Masa elo suka sama istri orang. Bener-bener. Stres elo."


"Sumpah,,, wajahnya. Senyumnya. Gue selalu kepikiran. Apalagi syuhhhhh..... huuuuhhh. Bodinya. Bikin junior gue langsung menegak." Ditya tersenyum membayangkan wajah cantik dan badan seksi milik Ella.


"Nggak waras elo. Lebih baik elo ke psikiater."


"Gue normal. Gue masih suka lawan jenis. Gue akan ke psikiater kalau gue nggak normal. Kalau junior gue nggak on lihat perempuan seksi."


"Ckkk,,, kebiasaan. Elo tu cuma nafsu." ucap Egi. Karena dirinya sangat tahu betul bagaimana sahabatnya tersebut.


Ditya, seorang casanova. Bahkan lebih parah dari Vano. Setiap malam bahkan dia bisa berganti perempuan. Dan rata-rata perempuan yang memuaskan dirinya adalah perempuan dari kalangan atas. Sama seperti dirinya.


"Nggak. Kali ini gue memang menyukainya. Gue nggak pakai nafsu brow."


"Ckkk,,, gue nggak percaya. Setelah elo pake beberapa kali, pasti elo buang. Nggak yakin gue sama elo."


"Tapi bener. Dia berbeda dengan perempuan yang pernah gue ajak ke atas ranjang gue."


"Memang benar dia berbeda. Dia istri orang. Sementara yang lain. Bebas. Belum punya pasangan."


"Bukan itu, gue yakin. Jika elo lihat dia. Apalagi senyumnya, pasti elo juga bakal suka."


"Nggak akan. Gue masih normal. Dia sudah bersuami. Elo jangan macam-macam. Bisa-bisa elo di bunuh sama suaminya."


"Bener kata elo. Apalagi suaminya orang berpengaruh di negara kelahiran kita." ucap Ditya, Egi seketika menoleh ke arah sahabatnya tersebut.


"Berpengaruh. Di negara kita." ucap Egi menirukan perkataan Ditya.

__ADS_1


"Ya." Ditya mengangguk kecil.


__ADS_2