DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 42


__ADS_3

Beberapa orang masuk ke dalam ruang dimana di dalamnya Ella beserta yang lain sedang asyik menggerakkan badan dan bersenandung.


"Heee ada apa ini?" teriak Dimas saat mereka masuk dan mengobrak abrik ruang karaoke.


"Aaa,,,," Hana berteriak kaget saat tubuhnya terkena serpihan asbak yang di lempar oleh seseorang di lantai.


"Hey." Dimas mencengkeram kerah salah satu dari mereka.


"Berhenti. Lepaskan Dim, kita harus tahu situasi terlebih dulu." kata Egi lirih.


Dimas melepaskan cengkramannya dan mendorong dengan kasar.


Sementara Ella masih diam. Tangannya memegang lengan Hana dan mendekatkan pada dirinya. "Jangan menjauh dari gue." bisik Ella. Hana memegang erat lengan Ella dengan kedua tangannya.


Ella merogoh ponsel yang berada di saku baju yang ia kenakan. Ella melakukan panggilan telepon pada paman Haki tanpa bersuara. Ella yakin, beliau akan mendengar percakapan mereka.


Dan Ella percaya, paman Haki akan mencari keberadaannya.


Manik mata Ella memindai setiap orang yang ada di sana. "Siapa mereka." batin Ella.


Dimas, Egi, dan Viki berada di sekitar Ella dan Hana. Mereka bersiap jika orang-orang tersebut menyerang.


"Siapa kalian?" tanya Egi dengan tangan kanan berada di dalam jas yang ia kenakan.


Egi maju beberapa langkah dan mengeluarkan pistolnya dari dalam jas yang ia kenakan. Di todongkan pistol tersebut ke salah satu dari mereka.


Secara bersama mereka mengeluarkan senjata api dari dalam pakaian mereka. Dan mengarahkan pistol ke arah Ella dan yang lain.


"Ternyata Tuan Egi bernyali juga." ucapnya dengan tangan terulur mengambil pistol milik Egi yang sedang di pegang Egi.


Mau tidak mau Egi merelakan pistolnya lepas dari tangannya. "Siapa mereka. Kenapa mengenaliku." batin Egi.


Ya iyalah, mereka mengenali dirimu Tuan Egi. Kamu kan pengusaha sekelas Tuan Vano. Siapa yang tidak tahu tentang kalian. 🙄🙄


Ella melepaskan tangan Hana dari lengannya. Dia maju beberapa langkah di samping Egi. "Apa mau kalian?" tanya Ella dengan tenang.


"Nona Mellanie Putri Subagyo. Anda memang anak Tuan Haris Subagyo. Tidak salah lagi." ucapnya sembari menelisik Ella.


Dengan santai, Ella mengambil kursi yang terjungkal di lantai. Kemudian dia duduk di kursi tersebut dengan kaki menyilang satu di atas. Pandangan mata nya meneliti satu persatu dari mereka yang sedang menodongkan pistol.


"Apa tangan kalian tidak capek." Ella mengangkat tangannya. Memperagakan seperti ia sedang mengangkat pistol.


"Siapa yang menyuruh kalian." Viki kini membuka suaranya.


"Baiklah." ucapnya dengan tangan terangkat ke atas. Menyuruh teman-temannya menurunkan pistol mereka.


"Kalian semua boleh keluar dari sini. Biarkan Nona Mellanie tetap bersama kami. Di sini." ucapnya.


"Ternyata." batin Ella.


Ella berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah salah satu dari mereka. Ella menebak, dia adalah ketua atau tepatnya pemimpin dari mereka.


"Jadi, Tuan mu menginginkan aku." ucap Ella tepat di depannya dengan raut wajah dingin.


Orang tersebut mundur satu langkah ke belakang. Tapi tubuhnya terhenti saat ujung pistol sudah berada di pinggangnya. "Jangan mundur terlalu jauh." ucap Egi.

__ADS_1


"Bukankah pistolnya sudah gue ambil." batinnya.


Dia tidak menyangkan jika Egi masih memiliki pistol lain di dalam pakaiannya yang dia sembunyikan.


Sontak semuanya mengeluarkan pistol mereka yang sudah mereka masukkan tadi. Begitu juga dengan Ella. Dia sudah menodongkan pistol ke arah lelaki di depannya.


"Kalian." ucapnya, saat Ella menodongkan pistol dari depan dan Egi menodongkan pistol dari belakang.


Dimas segera menarik Hana untuk lebih mendekat ke badannya. "Jangan menjauh dariku. Ella tidak bisa melindungi mu." ucapnya lirih.


Hana memegang ujung baju Dimas bagian belakang. "Kenapa pistol lagi Tuhan." gumam Hana. Dirinya masih trauma dengan aksi Ella saat mereka berada di hutan.


"Lepaskan. Atau kalian akan mati semua." gertak salah satu dari mereka saat Ella dan Egi menyandera pimpinan mereka.


Ella memandang ke arah Egi. Egi hanya mengangguk. Sepertinya Egi paham akan tatapan dari Ella.


Egi mengalihkan pistolnya ke arah kepalanya bagian belakang. Dan Ella, dia menurunkan senjata dan memainkannya.


"Mati. Semua. Yakin." Ella meletakkan ujung pistol tepat di keningnya. Egi tersenyum melihat permainan yang di lakukan Ella.


"Gue harus mengulur waktu sampai bantuan datang. Jangan sampai mereka melepaskan peluru. Kita kalah jumlah dan senjata." batin Ella.


"Ell..." Hana hendak mendekat ke arah Ella. Tapi di tahan oleh Dimas.


"Lepas." Hana berontak ketika tangannya di cekal oleh Dimas.


Dimas langsung memeluk tubuh Hana dari belakang. "Jangan bodoh. Lebih baik kamu jangan ikut campur." bisik Dimas.


"Perempuan bodoh." ucap Viki melihat Hana.


Dimas menatap Viki dengan horor ketika indra pendengarannya mendengar kata bodoh dari dalam mulut Viki.


Hana pun diam dan mencoba untuk tenang. Tapi tatapan matanya tetap mengarah pada Hana. Perasaan takut dan khawatir menyelimuti dirinya.


"Dia bukan wanita lemah. Percayakan semua padanya." bisik Dimas.


"Iya." jawab Hana lirih dengan suara parau.


"Lindungi Ella." pinta Hana mendongakkan kepala menatap ke arah Dimas dengan mata berkaca-kaca.


"Pasti." Dimas mengacak pelan rambut Hana.


Viki menatap jengah kedua manusia di sampingnya yang masih dalam kondisi Dimas memeluk Hana dari belakang. Dan Hana mendongak memandang ke arah Dimas.


"Hentikan adegan romantis kalian. Kita sedang menghadapi maut." celetuk Viki.


Perkataan Viki sontak membuat Dimas melepaskan tangganya yang melingkar di perut Hana. Dan Hana, sedikit menjauh dari Dimas. "Jangan jauh-jauh." ucap Dimas.


Hana tersenyum dan mengangguk. "Astaga, sudahi drama kalian." ujar Viki kesal.


Ella menurunkan pistol dari keningnya. Dia mundur beberapa langkah hingga mendekat ke tempat Dimas dan Viki. "Elo jaga Hana." ucap Ella.


"Dia urusan gue. Elo fokus saja." ujar Dimas.


"Gercep banget bang." celetuk Viki.

__ADS_1


"Apa rencana elo?" tanya Viki.


"Ulur waktu sebisa mungkin. Kita kalah dalam segala hal. Sampai bantuan datang." ucap Ella lirih.


"Kalian turunkan senjata, atau dia mati." Egi kembali mengeratkan cekalannya pada tangan orang yang berada dalam sanderanya.


"Kalian pikir semudah itu." ucapnya percaya diri.


Ella segera mengambil pisau lipat dan memegangnya di balik telapak tangan. Ella melihat sorot mata lelaki yang berada di tangan Egi menatap ke arah temannya. Seperti mengisyaratkan sesuatu.


Dengan gesit Ella melemparkan pisaunya saat seorang dari mereka mengambil sesuatu dari balik baju.


"Aaaa..." teriaknya saat pisau Ella bersarang tepat di lehernya. Darah mengalir dari leher. Dan seketika lelaki tersebut tumbang ke lantai.


Salah satu dari mereka memeriksa denyut nadinya. Dan menggeleng.


Seketika semua menodongkan pistol ke arah Ella. Dimas dan Viki pun tak mau kalah. Mereka ternyata juga sudah siap dengan pistol di tangan masing-masing.


"Bukankan sudah ku bilang. Jangan banyak tingkah." ucap Ella.


Egi membawa sandera mendekat ke arah Ella. "Kalian lepaskan tembakan. Dia akan berhenti bernafas." gertak Egi.


Doorrr....


Seseorang tiba-tiba tergeletak saat satu tembakan bersarang di badannya dari arah samping. Sontak semuanya menoleh ke arah datangnya tembakan. Ella dan yang lain tidak menyia-nyiakan kesempatan.


"Cari tempat. Bantuan datang." seru Ella.


Segera mereka berlindung di balik kursi yang berada di dalam ruangan.


Doorrr,,,doorrr,,,doorrr....


Terdengar bunyi tembakan sahut menyahut. Ella mendekat ke arah Egi. Sementara tangan Egi masih memegang orang yang mereka sandera.


Dimas dan Viki tidak tinggal diam. Mereka juga melancarkan tembakan ke arah lawan. Dan Hana duduk dengan menutup kedua telinganya di samping Dimas.


Ella tersenyum smirk pada tawanannya. "Tenang saja. Kamu tidak akan mati sekarang." ucap Ella dengan tatapan mata yang menakutkan.


Ella menatap ke arah Egi. "Jangan sampai lepas." pinta Ella.


"Percayakan padaku." ucap Egi.


Ella sedikit mengintip ke arah musuh berada. Tapi fokusnya buyar saat Hana berteriak.


"Aaa,,," Hana memegang bahunya.


Doorrr.....Ella menembak seseorang yang berdiri di samping mereka.


"Han.." Ella segera memeluk Hana.


Dimas mendekat ke arah Hana dan Ella. "Darah Ell. Elo tahan. Oke." ucap Dimas.


Hana menatap ke arah Ella. "Gue tertembak Ell. Gue nggak mau mati Ell." ucap Hana dengan kondisi lemas.


"Kenapa kita tidak tahu ada musuh di belakang. Elo tekan lukanya." Ella memberikan Hana pada Dimas.

__ADS_1


"Bagaimana teman elo?" tanya Viki.


"Kita harus segera membawanya keluar dari sini. Jika terlambat, dia bisa kehilangan banyak darah." ujar Ella.


__ADS_2