DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 118


__ADS_3

Vano melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya. "Sial. Semoga Hana tidak membuka mulut." Vano memukul stir beberapa kali.


"Kamu bodoh sekali Van, kenapa tidak bertanya dulu pada Ella. Di apartemen mana dia berada." Waktu menunjukkan hampir subuh. Membuat jalanan tampak sepi. Membuat Vano dengan kecepatan penuh melajukan mobilnya.


Lagi pula mana sempat Vano berpikir untuk menelpon Ella terlebih dulu. Dan menanyakan keberadaan Ella. Karena keadaan Vano saja sudah seperti orang yang sedang kehilangan akal dan pikiran karena pengaruh obat.


Segera Vano masuk ke dalam apartemen miliknya dengan hati-hati. Dilihatnya sosok perempuan yang tertidur meringkuk tanpa bantal dan selimut di sofa.


Vano berjongkok di samping Ella. "Pasti dia sedang menungguku. Maaf sayang." Vano mencium kening Ella.


Membuat sang kekasih terbangun, merasakan benda kenyal yang mendarat di keningnya. "Van.." ucapnya dengan suara malas.


"Maaf, membangunkanmu." senyum Vano merekah melihat Ella segera terbangun dan duduk saat melihat kedatangannya.


"Kenapa?" tanya Vano saat Ella berhambur memeluk dirinya.


"Aku kira kamu ninggalin aku. Aku takut banget Van." Vano mengurai pelukannya. Memandang ke arah sang kekasih.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu. Rugi dong. Keenakan lelaki di luar sana. Pasi merasa senang, dan segera mengantri untuk mendapatkan kamu."


"Kamu pikir aku sembako. Pake antri segala."


Vano tertawa pelan. "Maaf, mungkin makanannya sudah dingin." ucap Ella.


"Kamu belum makan." Vano mengubah posisinya duduk di samping Ella.


Ella menyandarkan badannya ke badan kekar milik Vano. "Belum. Aku tadi nunggu kamu."


"Ya sudah, kalau begitu kita segera makan." ajak Vano.


Ella menggelengkan kepala. "Aku sudah nggak laper. Ngantuk." Ella semakin memperlihatkan sikap manjanya pada Vano. Membuat Vano tersenyum senang.


"Van, kamu dari mana?" pertanyaan Ella sukses membuat Vano bingung untuk menjawabnya.


Ella merasa aneh, dia mencium bau atau wangi lain di tubuh Vano. Terutama di leher Vano."

__ADS_1


"****. Kenapa tadi gue nggak kepikiran untuk mandi terlebih dahulu." batinnya.


"Van,,," panggil Ella membuyarkan lamunan Vano.


"Iya Ell, aku tadi ketemu sama teman lama. Banyak sih. Cowok cewek campur. Mereka ngajak senang-senang sebentar. Mau nolak, tapi nggak enak. Sudah lama nggak ketemu." ucap Vano berbohong.


"Tapi sumpah, aku nggak minum. Cuma minum air mineral. Tapi maaf,, ada perempuan yang bergelayut di badan aku. Tapi segera aku singkirkan." Vano mulai mengarang cerita. Sudah seperti othor saja. 🤭🤭


"Aku percaya." Ella semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf Ell, aku berbohong. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Semoga saja Hana tidak membuka mulutnya." batin Vano.


Karena masih sangat mengantuk, Ella kembali tertidur di pelukan Vano. Ella, segitu nyamannya badan Vano, sehingga membuat kamu kembali terlelap.


Vano yang menyadarinya, dengan hati-hati menggendong tubuh Ella ke dalam kamar. Vano tersenyum saat melihat Ella sama sekali tidak terganggu dengan gerakan kecil tersebut. Hingga Vano menurunkan tubuh Ella di atas ranjang.


Vano menyingkirkan rambut Ella yang menutupi wajahnya. "Aku tidak akan melepaskan mu. Selamanya kamu akan menjadi istri dari seorang Vano Reyandli." Vano mencium pelan pipi Ella karena tidak ingin membangunkannya.


Dengan pelan, Vano berjalan menuju meja makan. Dimana sudah tertata rapi beberapa jenis makanan di atasnya. "Maaf sayang." Vano mengambil piring dan memakan sebagian makanan yang di sajikan oleh Ella.


Segera Vano membersihkan badan. Dirinya tidak ingin Ella mencium wangi perempuan lain di tubuhnya. Setelah selesai mandi, Vano menyusul Ella di bawah selimut dengan hanya menggunakan boxer yang tertempel di badannya.


Di apartemen Ella, Hana terbangun. Merasakan pusing di kepalanya. Mungkin karena efek dari tangisannya yang tak junjung reda.


Dirinya menghembuskan nafas kasar. "Ternyata bukan mimpi." gumamnya saat melihat dirinya masih menggunakan handuk saat bangun dari tidurnya.


"Hana, benar kata Vano. Tidak ada yang boleh tahu tentang kejadian malam tadi." ucapnya.


Hana bukan perempuan bodoh, dia mengetahui jika Vano dalam pengaruh obat. Karena Vano terus menerus mengucapkan nama Ella. Vano seperti orang yang sedang meracau. Dan nafas Vano tidak berbau alkohol. Yang menandakan Vano tidak dalam pengaruh minuman keras.


Hana memikirkan semuanya. Jika sampai semua orang tahu, kejadian yang menimpanya tadi malam. Meskipun kejadian itu tidak di sengaja. Dan Vano dalam pengaruh obat.


Ibunya dan adiknya. Pasti mereka juga akan terseret dalam masalah ini. Pasti mereka juga akan ikut merasa bersalah pada keluarga Ella. Terutama pada Ella.


Tuan Haris dan Nyonya Ane. Mereka sudah seperti kedua orang tua bagi Hana. Bahkan mereka juga sangat menyayangi Hana. Tidak terbayangkan bagaimana rasa kecewa keduanya saat mengetahui semua ini. Dan mana mungkin mereka akan menerima Hana kembali.

__ADS_1


Tuan Danto dan Nyonya Risma. Apakah mereka akan dengan senang hati menerima dirinya, saat Hana masuk ke dalam kehidupan Vano. Karena selama ini, yang Hana tahu mereka sangat menyayangi Ella. Apakah mereka juga akan memperlakukannya sama seperti mereka memperlakukan Ella.


Denis. Lelaki yang beberapa bulan terakhir menghiasi hari-hari Hana. Lelaki yang memberi warna lain dalam hidup Hana. Lelaki lembut dan penyayang. Setelah mengetahui semuanya, masihkan Denis akan menerima Hana seperti sebelumnya. Atau malah meninggalkannya.


Ella. Perempuan yang menjadi atasannya. Tapi dia sama sekali tidak memperlakukan Hana seperti asistennya. Dia memperlakukan Hana seperti seorang saudara. Hana tidak bisa membayangkan, saat Ella mengetahui kebenarannya. Hana tidak sanggup melihat air mata jatuh di pipi Ella.


Karena Hana sendiri juga tahu, bagaimana perjuangan Ella untuk tetap berada di samping Vano. Hana tidak ingin Ella melepaskan Vano. Hana tidak ingin Ella merasakan sakit hati. Apalagi itu karena dirinya.


Vano. Hana tidak bisa membayangkan. Hidup bersama dengan Vano karena sebuah kesalahan. Pasti hidupnya akan seperti di neraka. Apalagi Hana tahu betul, bagaimana perangai dari kekasih sahabatnya tersebut.


Dan yang lebih Hana takutkan adalah media. Ella adalah model terkenal. Vano, pengusaha muda kaya yang tampan dengan berjuta karisma. Pasti semua kehidupan mereka selalu tersorot kamera.


Hana tidak ingin publik menggiring opini sendiri. Jika tiba-tiba dirinya yang akan menikah dengan Vano. Kekasih dari modelnya. Hana sangat tahu kejamnya netijen saat mereka sudah mulai memainkan jari.


"Gue harus memendam ini sendirian. Gue nggak mau semua orang tahu. Keadaan akan menjadi kacau jika mereka tahu." ucap Hana memutuskan.


Mata Hana beralih menuju perutnya, dengan tangan membelai perutnya. "Semoga, tidak akan ada yang hidup di dalam sini." ujar Hana berharap dirinya tidak akan hamil.


Karena semalam Hana sadar jika Vano tidak memakai pengaman. Dan meskipun Hana sudah lemas, Hana juga sadar jika Vano melakukan padanya lebih dari satu kali.


Hana meraih kalender kecil di atas meja samping tempat tidur Ella. "Jangan sampai." Hana melihat jika tanggal ini dirinya masuk dalam masa subur untuk seorang perempuan dewasa yang masih mengalami menstruasi normal.


Hana segera bangun. Mencari kantong kresek. Dia memasukkan bajunya kedalam dan juga seprei yang terkena noda darahnya. Dirinya tidak ingin meninggalkan jejak, yang akan membuat Ella curiga. Hana mengembalikan semua benda seperti sebelumnya.


Untuk baju, Hana memakai pakaian miliknya yang memang dia tinggalkan di apartemen Ella. Karena dirinya dan Ella sering tidur di apartemen ini.


Hana duduk di depan cermin. Menyamarkan semua kulitnya yang sudah seperti macan tutul. Sebenarnya ada rasa jijik di hati Hana saat melihat bekas mulut Vano di kulitnya.


Bahkan mata Hana sudah memerah. Menahan air mata yang hendak jatuh. "Oke Hana, tenang. Jangan memikirkan apapun." ucap Hana mencoba menenangkan dirinya.


Hana segera berlari ke dapur. Mengambil air minum dan meminumnya. Setelah Hana merasa lebih tenang, Hana kembali ke dalam kamar. Mulai menyapukan make-up di kulitnya.


Setelah selesai, Hana juga memakai riasan di wajahnya. Menyamarkan matanya yang sembab, seperti tersengat lebah. Tapi sayangnya, riasan tersebut tidak bisa menutupi secara alami matanya. Alhasil Hana memakai kacamata untuk menutupi kedua matanya.


Dengan langkah sedikit gontai, Hana meninggalkan apartemen Ella dengan membawa kantong plastik berwarna hitam di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2