DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 205


__ADS_3

"Tolong, panggilkan Rio." ucap Ella pada salah satu pembantu di rumahnya.


"Baik Nyonya." ucapnya, setelah menurunkan beberapa makanan ringan dan juga jus buah di meja samping Ella duduk.


Saat ini Ella berada di taman belakang rumahnya. Memandang berbagai macam bunga yang bermekaran. Tertata dengan indah.


Terlihat tukang kebun yang bekerja di rumah Ella benar-benar ahli dalam bidangnya. Tentu saja, dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Jika tidak, pasti dia akan di pecat. Apalagi dia juga dibayar dengan nilai tinggi.


"Nyonya." ucap Rio berdiri di samping Ella.


"Bagaimana dengan Lena?" tanya Ella langsung dengan tatapan masih mengarah ke depan.


"Kami masih memantaunya." ucap Rio, sedikit terkejut. Bagaimana Ella bisa langsung menanyakan Lena. Padahal dirinya belum memberitahukan pada Tuannya, Vano.


Ella mengambil segelas jus, dan menyeruputnya melalui sedotan. "Bawa ke markasku. Sekarang. Jangan sampai dia terluka." perintah Ella tersenyum sinis. Entah apa yang sedang Ella rencanakan untuk Lena.


"Baik." ucap Rio. Segera Rio pamit dan memberitahu pada anak buahnya. Tugas yang di berikan padanya dari Nyonya mereka.


Ponsel Ella berbunyi. "Pasti Rio yang sudah memberitahunya. Benar-benar setia." ucap Ella lirih, saat tahu siapa yang menelpon dirinya.


"Halo sayang." ucap Ella setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Menandakan dia menerima panggilan dari Vano, suaminya.


"Biar bawahanku yang mengerjakannya." ucap Vano di ujung telepon.


"Aku bosan di rumah. Ruangannya masih di bersihkan dan dirapikan. Boleh ya." rayu Ella.


"Lagu pula dia tidak sekuat itu." imbuh Ella. Mengatakan jika Lena bukan tandingannya.


"Bersama Rio." pasrah Vano. Karena percuma Vano menghalangi atau melarang Ella.


Dari pada Ella melakukan sesuatu tanpa memberitahunya. Bukankah itu malah akan membahayakan dirinya dan janin di dalam kandungannya.


Lagi pula, Vano yakin jika Lena masih berada di bawah Ella. Jauh di bawah Ella. Jadi dia tidak perlu merasa khawatir. Apalagi dia sudah menyuruh Rio untuk tetap di sisi Ella.


"Siap." ucap Ella dengan nada senang. Setidaknya dia kan mempunyai kegiatan untuk mengusir rasa bosannya, sebelum ruangan uang akan di gunakan selesai.


"Sudah ya sayang, semangat bekerja. Cari uang yang banyak." ucap Ella.


"Pasti." di tempat lain, Vano tersenyum senang.


Vano menggelengkan kepala setelah Ella mematikan sambungan telepon mereka. "Ada-ada saja. Memang uangku kurang banyak." ucap Vano terkekeh.


Sekitar lima belas menit, Rio datang dan memberitahu jika Lena sudah berada di markas. "Kita kesana." ucap Ella.


Ella benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Lena lagi-lagi membuat masalah dengannya. Padahal dia selalu melepaskan Lena setiap dia membuat masalah.


Tidak untuk kali ini. Ella akan memberikan hadiah untuk Lena. Sebagai kenang-kenangan. Segera Ella dan Rio mendatangi markas.


"Selamat datang Nyonya." ucap beberapa bawahan Ella, menyambut kedatangan atasan mereka.


Ella tampak acuh dan terus melangkahkan kakinya. Menuju tempat di mana Lena berada. Dengan Rio berjalan mengekor di belakang Ella.


Ella menghentikan langkah kakinya melihat Lena duduk di kursi dengan tangan terikat dan mulut tertutup kain.


Rio tampak berdiri dengan tenang di belakang istri dari Tuannya. Dia sangat ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Ella.


Mode terkenal. Dan juga dikenal sebagai perempuan cantik, dengan penampilan anggun yang baik hati dan lemah lembut. Dan tentunya murah senyum.


"Ella..." batin Lena dengan mata membulat sempurna melihat siapa yang tengah berdiri di depannya.


"Kalian. Mengapa kalian memperlakukan asisten Oma Yeti seperti ini." ucap Ella menatap ke arah Lena.


Seorang bawahan Ella mendekat ke arah Lena. Melepaskan tali yang mengikat tangannya, dan juga kain yang menutupi mulutnya.


Segera Lena berdiri dan menjauh dari bawahan Ella. Berlari mendekat ke arah Ella. "Ell, tolongin gue." ucapnya dengan nada bergetar. Ini pengalaman pertama Lena diperlakukan seperti ini.


"Bagaimana, apa kamu menikmatinya?" tanya Ella tersenyum menyeringai menatap ke arah Lena.


"Kamm--kamu..." Lena memundurkan langkahnya. Terlihat jelas raut ketakutan di wajah Lena.


Dia menggelengkan kepala. Seperti sedang menyadarkan diri. Apakah yang dilihat dan di dengarnya adalah kebenaran.


Ella melepaskan brezer dengan lengan panjang yang melekat di badannya. Menyisakan kaos berlengan pendek melekat pada tumbuh seksinya.


Karena usia kandungan Ella masih lima minggu. Dan perutnya belum membuncit. Membuat perut Ella masih nampak rata. Tidak lupa Ella mencepol rambutnya yang sebelumnya tergerai indah secara asal.


"Apa yang akan di lakukannya." batin Rio.


Seorang bawahan Ella segera berlari mendekat ke arah Ella. Mengambil brezer milik Ella dan memegangnya.


"Bukankah sudah aku bilang. Jangan pernah mengusik hidupku." ucap Ella dengan nada rendah, memandang tajam ke arah Lena. Seperti sebuah pisau yang telah diasah.

__ADS_1


Lena yang sebelumnya merasa ketakutan, entah dari mana asalnya. Sekarang dirinya tidak memiliki rasa takut itu. Lena malah tersenyum penuh arti kepada arah Ella.


"Huhh,,, kamu pikir aku takut. Aku akan memberitahu keluarga Vano tentang apa yang telah kamu lakukan." ancam Lena.


"Pasti Vano akan segera meninggalkan kamu. Dan Nyonya Risma, juga Tuan Haris akan menyuruh Vano meninggalkan perempuan seperti kamu." ucap Lena kasar dengan jari menunjuk ke arah wajah Ella.


Ella tersenyum samar. Sekarang dia tahu, kenapa Lena tidak merasakan ketakutan lagi. "Silahkan." ucap Ella tenang.


"Aku takut." ucap Ella dengan wajah dibuat-buat. Sehingga sangat terlihat, jika Ella sedang mengejek Lena.


"Jika kamu bisa keluar dari sini dengan selamat." imbuh Ella dengan mata menyalang.


"Perempuan seperti kamu, apa yang bisa kamu lakukan. Perempuan manja." ejek Lena.


"Huffttt. Baiklah, saatnya memberikan sedikit terapi saraf padamu." ucap Ella.


"Bawa dia kesini." perintah Ella pada bawahannya. Seorang bawahan Ella menyeret seorang lelaki dan melemparkannya di depan Ella.


Dia adalah salah satu pengkhianat yang sedang di siksa. Menanggung kesalahan atas apa yang sudah diperbuatnya.


"Mau apa kalian. Lepas." Lena memberontak saat bawahan Ella mengikat tubuh Lena di kursi. Tanpa menutup mulutnya menggunakan kain.


"Nona, maafkan aku. Lepaskan aku. Aku berjanji, tidak akan melakukannya lagi." ucap lelaki tersebut, bersujud di depan Ella.


"Benarkan?" tanya Ella bertanya pada lelaki tersebut, tapi pandangan mata mengarah pada Lena.


Ella mengangkat kepala lelaki tersebut menggunakan ujung telapak kakinya yang diletakkan di dagu lelaki tersebut.


"Aku akan memberikan nyawaku." ucap lelaki tersebut.


"Aaa..!!!" teriak lelaki tersebut terkapar dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah, setelah Ella menendangnya dengan keras.


"Sayang sekali. Aku tidak membutuhkan nyawamu." sarkas Ella.


Seketika jantung Lena berdetak cepat melihat apa yang terjadi pada lelaki tersebut. Rasa takut yang sempat hilang, muncul kembali. Bahkan, dengan rasa takut yang lebih besar.


"Nyonya, aku mempunyai informasi mengenai musuh. Jika Nyonya memaafkanku, aku akan memberitahu." ucapnya, mencoba membuat kesepakatan dengan Ella. Mengusap darah di bibir dan hidungnya.


Ella tertawa dengan nada menakutkan. Membuat semua orang bergidik ngeri. "Dia.." gumam Rio melihat wajah Ella.


"Bisa sekejam ini." imbuh Rio dalam hati, rasa penasarannya seketika terbayar sudah.


"Aaaa..!!!!" teriak lelaki tersebut saat Ella menjambak rambutnya, hingga menyeretnya beberapa langkah. Dengan mata Ella menatap ke arah Lena. Ella melepaskan lelaki tersebut tepat di depan Lena duduk.


Bughh,,,,, bughh,,,, Ella menendang perut lelaki tersebut berkali-kali. Hingga dia terlihat meringkuk kesakitan.


"Apa kamu barusan memberikan saya pilihan." ucap Ella dengan nada rendah, tapi begitu menakutkan.


"Baiklah. Cukup bermain-mainnya." Ella menjauh dari lelaki tersebut.


Bawahan Ella mendekat ke arah Ella, memberikan sebuah pistol pada Ella. Membuat Rio mengernyitkan dahinya.


"Apa dia bisa memainkan pistol." batin Rio penasaran, apa Ella hanya menakut-nakuti keduanya. Dengan cara memegang pistol.


Berbeda dengan Rio, Lena nampak lemas melihat semua yang terjadi di depannya. Mulutnya yang tidak tertutup apapun, sepertinya tidak bisa terbuka. Karena syok dan rasa takut yang berlebihan.


Ella mengambil pistolnya. Melihat ke arah Lena yang nampak syok.


Doorr....


"Aaaa...!!" teriak lelaki tersebut dan Lena bersamaan ketika Ella menarik pelatuknya, hingga mengenai paha lelaki tersebut. Rio tampak menggeleng pelan. Antara percaya dan tidak.


"Astaga." Ella seperti sedang mengingat sesuatu.


"Aku sedang hamil, mana boleh aku berbuat jahat." ucapnya polos, seolah sedang menyesal.


"Tapi tidak masalah. Anak kita pasti tahu, kenapa mamanya berbuat seperti ini." ucap Ella dengan wajah tenang.


"Ini, kamu lanjutkan. Aku sudah bosan melihat wajahnya." Ella memberikan pistolnya pada bawahnnya.


"Baik Nyonya." lelaki tersebut di seret ke tempat berbeda. Tidak lama, terdengar beberapa bunyi tembakan.


"Setelah ini, lepaskan dia." pinta Ella.


"Sekarang kamu tahu, apa yang bisa perempuan manja ini lakukan." ucap Ella lirih di samping telinga Lena.


"Sebelumnya. Perlihatkan sebuah video padanya." ucap Ella.


Menyuruh bawahannya, memperlihatkan video dimana anak buah Rio menghajar orang-orang suruhan Lena. Bahkan mereka juga menghadiahi mereka dengan satu tembakan di masing-masing kaki kiri mereka.


"Nyonya, apakah anda yakin melepaskannya." tanya bawahan Ella dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tentu." Ella menatap ke arah Lena dengan senyum sadisnya.


Ella yakin. Setelah ini, pasti Lena akan mengalami tekanan mental. Dan yang lebih parah, dia akan mengalami depresi.


"Ini adalah kesempatan terakhir. Jika masih ingin bernafas, gunakan otakmu dengan baik." ucap Ella.


Membalikkan badan, mengambil brezer dan memakainya. Meninggalkan Lena yang masih terdiam dengan pandangan kosong ke depan.


"Suruh seseorang mengawasinya setelah di lepaskan. Laporkan padaku setelahnya." ucap Ella.


"Baik Nyonya."


Sebelum pulang, Ella pergi dulu kesebuah ruangan. "Tunggu di sini." ucap Ella menyuruh Rio untuk menunggunya di depan ruangan.


Ella menutup pintu dari dalam. Matanya memandang ke penjuru arah. Kakinya melangkah ke meja, dengan tangan mengarah ke bawah meja. Seperti sedang mengambil sesuatu.


Ella mengambilnya. Dua pistol berukuran kecil. Yang memang di rancang khusus oleh seseorang atas permintaan Ella.


Dan tentunya dengan peluru yang sudah di buatkan sesuai ukuran pistolnya. Ella menaruh kedua pistol tersebut di balik kaosnya.


Setelahnya, tangan Ella meraba ke tembok. Entah apa yang terjadi, lantai di bawah kaki Ella terbuka pelan. Ella berlutut, memasukkan tangannya ke dalam.


Tangan Ella keluar dari dalam kotak tersebut dengan menggenggam sesuatu. Ella memasukkan tangannya yang menggenggam sesuatu ke dalam saku celananya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah meninggalkan taman, Hana bermaksud datang ke salon, di mana temannya bekerja di sana. Tapi tiba-tiba dia mendapat telepon jika ibunya terjatuh di depan rumah.


Beruntung luka Bu Ningsih tidak parah. Tapi tetap saja membuat kedua anak bu Ningsih, Hana dan Arik khawatir.


Apalagi bu Ningsih tidak mau di bawa ke rumah sakit. Alhasil, Hana hanya memanggil dokter yang tinggal di sekitar rumah mereka.


"Ibu juga bilang apa. Ibu nggak apa-apa." ucap Bu Ningsih tidak ingin membuat kedua anaknya khawatir.


"Bu, mulai sekarang ibu tidak perlu bekerja." ucap Hana.


"Iya, sekarang inikan sedang sakit. Nanti setelah sembuh, ibu akan bekerja lagi." ucap Bu Ningsih.


"Bukan begitu bu. Hana akan mencari pekerjaan." ucap Hana.


"Tunggu kak. Mencari pekerjaan. Bukankah kakak bekerja sebagai asisten kak Ella?" tanya Arik bingung.


"Ada apa Han?" tanya bu Ningsih khawatir.


Hana menepuk pelan dahinya. "Maaf, Hana lupa memberitahu." ucap Hana tersenyum. Bu Ningsih dan Arik memandang Hana dengan tatapan seolah meminta penjelasan.


"Ella hamil." ucap Hana. Sontak Arik dan Bu Ningsih saling pandang.


"Usia janjinya masih lima minggu." imbuh Hana.


"Serius?" tanya Arik.


"Han, kamu tidak bercandakan?" tanya Bu Ningsih.


Hana menggeleng. "Double rius." ucap Hana mengangkat kedua tangannya ke atas. Dengan memamerkan deretan gigi putihnya.


"Sayang, ibu senang." Bu Ningsih memeluk Hana, menangis bahagia.


"Kita harus mengunjungi Non Ella. Mengucapkan selamat atas kehamilannya." ucap Bu Ningsih antusias.


"Setelah ibu sembuh. Kita akan pergi ke sana bersama." ucap Hana.


"Iya kak." sahut Arik juga turut bahagia.


"Terus kenapa kamu mencari pekerjaan?" tanya Bu Ningsih.


"Ella akan menghentikan kegiatannya sebagai model selama mengandung." ucap Hana.


"Sebenarnya Ella bilang akan terus memberi uang bulanan kepada Hana. Tapi Hana meras tidak enak bu. Apalagi Hana tidak sedang bekerja." tutur Hana.


"Kak Ella memang baik." ucap Arik, mendapat anggukan dari ibunya dan juga kakaknya.


"Makanya Hana harus cepat mencari pekerjaan. Dengan begitu, Hana punya alasan jika Ella memberi Hana uang."


"Iya, ibu mengerti. Kita tidak boleh menggunakan kebaikan orang untuk kepentingan kita. Semoga, kamu cepat mendapatkan pekerjaan."


"Sebentar lagi Arik juga akan wisuda kak. Setelah itu Arik akan bekerja di perusahaan Tuan Haris." ucap Arik dengan senang.


"Arik, kamu harus ingat. Apapun pekerjaan dan posisi yang di berikan Tuan Haris pada kamu, kamu harus mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Meskipun sebagai OB." nasihat sang ibu.


"Pasti bu. Arik akan bekerja dengan sungguh-sungguh." ucap Arik.

__ADS_1


__ADS_2