DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 40


__ADS_3

Ketiganya melepas pelukan dan menatap ke arah Nyonya Ane.


"Nyonya Ane." panggil Nyonya Tiwi mengalihkan perhatian dan pandangan Nyonya Ane.


Nyonya Ane tersenyum simpul pada Nyonya Tiwi. Keduanya saling berpelukan.


"Ma, Pa." Ella mendekat ke arah Nyonya Ane dan Tuan Haris, lantas memeluk keduanya secara bergantian.


"Ell." Vano mendekat ke arah Ella dan menyerahkan buket bunga pada Ella.


"Terimakasih." dengan raut wajah datar, Ella mengambil buket bunga yang Vano berikan padanya dan langsung membalikkan badan, mencari keberadaan Hana. Menjadikan Vano gagal untuk memeluk dan mencium dirinya.


Vano sebisa mungkin tetap menampilkan senyum dan berusaha tenang, saat mendapat penolakan dari Ella. Hana segera mendekat ke arah Ella dan mengambil buket bunga dari tangan Ella.


Vano menatap tidak percaya melihat Ella menyerahkan buket bunga yang dia berikan pada Hana. Karena sebelumnya, Ella akan selalu memegang buket bunga dari dirinya. Bahkan sampai dia berada di dalam mobil.


"Kenapa kalian kembali ke sini?" tanya Nyonya Ane sinis dengan menatap tajam pada kedua lelaki yang sempat berpelukan dengan putrinya. Ella.


"Kami rindu tante sama om." ucap Dimas, sahabat Ella sewaktu SMA mendekat ke arah Nyonya Ane.


Dia bersalaman dengan Tuan Haris dan Nyonya Ane secara bergantian. "Lalu dia, kenapa bisa ada di sini." Nyonya Ane memandang ke arah Viki. Dia juga sama seperti Dimas. Teman Ella sewaktu SMA.


"Ayolah tante. Viki kecewa dengan penyambutan dari tante." Viki mendekat ke arah Nyonya Ane.


"Aw aw aw. Om help me." ucap Viki saat tangan Nyonya Ane mendarat di telinganya.


SIAPA MEREKA. KENAPA AKRAB SEKALI DENGAN ORANG TUA ELLA.


Itulah kalimat yang saat ini berada di dalam pikiran semua orang di sekitar mereka. Tidak terkecuali Hana.


Meskipun Hana notabennya adalah asisten Ella tapi dia tidak pernah melihat keduanya berada sedekat itu dengan Ella.


Ella sendiri juga tidak pernah menceritakan tentang mereka kepada siapapun, termasuk Vano.


Nyonya Ane lantas memeluk tubuh Viki. "Dasar, bocah nakal. Kenapa datang tidak bilang-bilang?" tanyanya.


"Ella saja tidak tahu jika dia di sini ma." sahut Ella memandang ke arah Viki.


"Viki baru dua hari di sini." ujar Viki membela diri.


Nyonya Ane melepaskan pelukannya dan memandang ke arah Dimas. Dimana sebagian dari mereka sudah mengenal Dimas sebagai fotographer.


"Ada pekerjaan yang harus Dimas selesaikan terlebih dulu tan." ujar Dimas.


"Awas saja jika kalian ngajak anak tante bertingkah aneh-aneh."


"Ya enggak lah tan, kami sekarang sudah dewasa. Kalau dulukan kita masih SMA. Lagian, kita cuma ngajakin anak tante bolos dan tawuran. Nggak lebih." ucap Viki membela diri.


"Kalau anak tante cowok, tante maklum. La ini, dia cewek." ujar Nyonya Ane.


"El juga mau tan." celetuk Viki.


"Eh,, gue mau karena bujukan dan bisikan setan dari kalian." kata Ella.

__ADS_1


"Setan. Elo pikir kita makhluk ghoib." ujar Dimas tidak terima.


Semua orang yang mendengarnya sedikit kaget. Bolos dan tawuran. Siapa yang akan menyangka, jika perempuan seperti Ella dulu sangat bandel. Dan bad girl.


"Pantas, dia pandai bela diri. Ternyata." batin Reza tersenyum samar.


Vano memandang Ella dengan tatapan yang tidak percaya. "Ternyata, aku tidak begitu mengenal kamu Ell." Vano merasa dirinya ternyata sama sekali tidak mengetahui tentang kehidupan Ella.


"Kalian ini, banyak alasan. Ingat. Tante nggak akan izinkan kalian nginep di rumah tante lagi." Nyonya Ane bersedekap dengan menunjukkan wajah kesal.


Tuan Haris hanya senyum mendengar perdebatan kecil mereka. Viki dengan gesit sudah menempel di tubuh Tuan Haris seperti lintah. "Om." ujar Viki bergelayut di lengan di lengan Tuan Haris.


"Heee...." teriak Nyonya Ane sembari mendorong tubuh Viki dari suaminya.


"Papa kok diam saja sih. Kamu juga." Nyonya Ane membersihkan lengan suaminya yang di sentuh oleh Viki.


"Ampun tan,,, segitunya. Emang Viki virus." celetuk Viki.


Ella dan Dimas tertawa melihat tingkah Nyonya Ane dan Viki.


"Kita pulang saja yuk pa. Mama ngantuk." ucap Nyonya Ane dengan manja.


"Aishhh." dengus Viki.


"Dan untuk kalian berdua. Besok wajib sarapan di rumah Nyonya Haris Subagyo. Tidak ada bantahan. Tidak ada alasan." tegas Nyonya Ane.


"Diktator." celetuk Viki.


"Kenapa. Tidak suka."


"Papa nggak cemburu." ucap Nyonya Ane memandang ke arah suaminya saat dirinya di peluk Viki.


"Hus, hus, sana." Tuan Haris melepaskan tangan Viki di tubuh istrinya.


"Terlambat." ujar Nyonya Ane.


"Ya ampun, pasangan absurd." ujar Viki.


Nyonya Tiwi melihat interaksi mereka dengan tersenyum. "Mereka hangat sekali. Seandainya.. Berpikir apa aku ini." batin Nyonya Tiwi.


Selama ini Nyonya Tiwi menyibukkan diri dengan pekerjaan di butik. Beliau tidak terlalu kerasan di rumah. Karena dia akan merasa kesepian. Apalagi Egi selalu sibuk dengan pekerjaannya meneruskan perusahaan yang di tinggalkan oleh almarhum papanya.


Setelah suaminya meninggal, Nyonya Tiwi tidak berkeinginan untuk menikah lagi. Padahal banyak kaum adam yang mendekati dirinya. Bahkan sampai sekarang. Tapi beliau tetap tidak ingin menikah lagi.


Rasa cinta pada almarhum suaminya telah menutup pintu hatinya untuk semua lelaki yang mendekati dirinya. Beliau mengubur rasa cinta yang di milikinya bersama jasad suaminya. Dan tidak akan pernah menggalinya lagi.


"Nyonya Tiwi. Kami permisi dulu." pamit Tuan Haris.


"Terimakasih. Hati-hati." ucap Nyonya Tiwi sambil memeluk Nyonya Ane.


"Sama-sama." kata Nyonya Ane.


"Kalian berdua. Awas kalau besok tidak datang. Tante kutuk kalian." ujar Nyonya Ane pada Dimas dan Viki.

__ADS_1


"Tan, jangan sarapan. Lunch saja." Dimas mencoba menegonya.


"Tidak ada tawar menawar." kekeh Nyonya Ane.


"Elll,,, terlalu pagi sayang. Besok gue free. Gue mau bobok sampai siang." ucap Dimas setelah kedua orang tua Ella meninggalkan tempat tersebut.


"Sumpah, dari dulu tante Ane diktator banget. Maunya harus di turutin." ujar Viki geleng-geleng.


Nyonya Tiwi selalu memandang ke arah pintu masuk. Beliau seperti sedang menantikan kehadiran seseorang. Egi. Siapa lagi kalau bukan putra tercintanya. "Kenapa dia belum datang-datang." batin Nyonya Tiwi.


"Sayang." Vano mendekat ke arah Ella.


"Maaf. Belum sempat mengenalkan mereka pada kalian semuanya." Ella berbicara, seolah dirinya menghiraukan panggilan dari Vano.


"Kenalkan semuanya. Dia Dimas, dan ini Viki. Mereka berdua teman Ella sewaktu SMA." ucap Ella.


"Terus ini Hana. Asisten gue yang paling cantik." Ella memeluk Hana dan mencium pipinya. Hana tersenyum dengan menatap Dimas dan Viki bergantian.


Ella mendekat ke arah Nyonya Tiwi.


"Beliau, tante Tiwi. Pemilik butik, sekaligus penyelenggara acara." ucapnya.


"Jika mereka berdua, pasti kalian sudah kenalkan." Ella tetap berada di samping Nyonya Tiwi dengan pandangan mata mengarah di mana Vano dan Reza berdiri.


Reza sedikit menunduk dan tersenyum. Sementara Vano menatap ke arah Ella dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Siapa yang tidak kenal dengan mereka berdua. Tuan Vano Reyandli. Pengusaha muda sukses, tampan, tajir. Tuan Reza, asisten dengan banyak kemampuan." Viki mendekat ke arah Vano dan memandangi Vano dengan intens.


"Awww." teriak Viki saat kepalanya terasa sakit saat telapak tangan Dimas yang terkepal mendarat di kepalanya.


Dimas memegang kerah belakang baju Viki dan menyeretnya ke belakang. Ella mendekat ke arah mereka dan meletakkan tangannya di pundak Viki. "Jangan ganjen." bisik Ella.


"Sumpah. Gebetan elo bikin gue ser ser." bisik Viki.


"Elo deketin kalau elo bisa." bisik Ella menantang Viki.


"Jangan macam-macam kalian berdua." ujar Dimas lirih tapi masih bisa di dengar oleh kedua temannya.


"Kalau elo bosan, gue juga mau." ucap Viki lirih.


"Ambil. Silahkan. Gue udah pernah ngrasain." balas Ella santai.


"Jangan bicara macam-macam. Di sini banyak telinga. Kalian mau mereka mendengarnya." ucap Dimas lirih.


Keduanya sontak menghentikan bisik-bisik mereka. Vano terus memperhatikan setiap tingkah Ella secara intens. Sebenarnya dia sangat tidak menyukai kedekatan kekasihnya dengan kedua lelaki yang notabennya adalah teman SMA Ella.


"Sayang, sini." seru Nyonya Tiwi.


*****


Tinggalkan jejak dong... 🥺🥺


Author sangat membutuhkan dukungan kalian.

__ADS_1


Seperti Ella yang membutuhkan dukungan kita untuk membuat Vano kalang kabut.


__ADS_2