
"Viki." gumam Jo saat melihat Viki tengah berdiri tepat di depannya.
"Om." sapa Denis pada Tuan Haris.
"Papa." sapa Hana pada Tuan Haris.
"Pa, Ella,,," ucap Hana.
"Dia baik-baik saja." ujar Tuan Haris tersenyum, seakan beliau bisa menebak apa yang akan di tanyakan Hana pada dirinya.
Kehadiran Viki membuat Jo merasakan sedikit kelegaan. Dia berharap Viki akan menolongnya. Dan percaya setiap kata yang keluar dari dalam mulutnya. "Sayang, tolong aku. Lihat, mereka memperlakukan aku seperti ini." ucapnya dengan ekspresi mengiba.
Tuan Haris yang tidak tahu menahu tentang penyakit yang di derita sahabat dari putrinya mengernyitkan dahi mendengar panggilan sayang Jo untuk Viki. "Sayang." batin Tuan Haris.
Tapi beliau tidak ingin memikirkannya lebih lanjut. Karena kedatangannya di apartemen Ella untuk bertemu dan membawa Jo.
Bawahan Tuan Haris tidak sengaja melihat Ella berada di dalam mobil bersama dengan Jo. Mempunyai firasat tidak baik, dia kemudian mengikuti ke mana Ella dan Jo pergi.
Saat mengetahui mereka menuju apartemen milik Ella, dia segera menghubungi Tuan Haris. Dan menceritakan semua yang di lihatnya.
Dan dari bawahannya lah, Tuan Haris mengetahuinya. Segera beliau menuju ke apartemen Ella. Dan kenapa Tuan Haris bisa membuka kunci apartemen Ella, karena beliau juga mengetahui nomor pin untuk membuka pintu apartemen Ella.
Selain Vano, kedua orang tua Ella dan Hana juga mengetahui nomor pin atau sandi pintu apartemen milik Ella.
Reza berjalan ke arah pintu. Memastikan di luar apartemen Ella tidak ada siapapun. Lalu menutup dan menguncinya.
"Vik." tegur Denis. Dia tidak ingin jika Viki sampai terpengaruh, bahkan memiliki rasa simpati pada Jo.
"Bisakah kalian lepaskan dia." pinta Viki dengan pandangan mata menatap kedua bawahan Tuan Haris yang memegang lengan Jo.
Kedua bawahan tersebut menatap ke arah Tuan Haris. Mendapat sebuah anggukan kecil dari Tuannya, mereka melepaskan tangan mereka dari lengan Jo.
"Vik." tegur Denis kembali. Tapi Viki seolah menulikan pendengarannya.
Reza tidak berbicara apapun. Apalagi yang menyuruh mereka melepaskan adalah Tuan Haris.
Jo segera menghampiri Viki dan memeluknya. "Jangan Denn." cegah Hana saat Denis ingin menarik tubuh Jo dari Viki.
Reza mendekati Denis. Membisikkan sesuatu pada Denis. "Biarkan. Lagi pula di sini ada Tuan Haris." bisik Reza.
Jo mengurai pelukannya pada Viki. "Mereka semua orang jahat. Orang yang selama ini kamu anggap baik dan selalu mendukungmu, mereka hanya berpura-pura." ucap Jo menghasut Viki.
"Jaga mulutmu. Anjing." teriak Denis dengan tangan terulur ingin memukul Jo. Tapi di cegah oleh Reza.
"Denn,,, sabar." Hana memegang pundak Denis.
Jo tersenyum miring dan melanjutkan perkataannya, bermaksud membuat Viki berada di pihaknya. "Kamu lihat. Betapa kasarnya dia." Jo memegang lengan Viki.
__ADS_1
Tapi Viki masih diam tanpa ekspresi. Entah apa yang ada di benaknya. "Elo, jika Ella tidak bisa membungkam mulut busuk elo karena Viki. Tidak dengan gue. Mau bukti." geram Denis.
"Sabar sayang." Hana kini memeluk Denis dan sedikit mendorong tubuh Denis menjauh dari Viki dan Jo.
Ella dan Vano keluar dari kamar. Dari dalam mereka mendengar suara gaduh yang membuat mereka penasaran. Apa yang sedang terjadi di luar.
"Viki. Selamat datang." sapa Ella dengan senyum manisnya.
"Ckk,,, sudah ku bilang. Jangan tersenyum seperti itu pada lelaki lain." tegur Vano.
"Tapi kan Viki..."
"Elll." ucap Vano.
Ella mencium singkat pipi Vano. "Oke." ucapnya dengan gaya centil.
Jo memandang Ella dengan tatapan yang di liputi amarah. "Hai Jo, apa wajahmu masih sakit?" tanya Ella dengan tenang. Seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.
Membuat semua orang di sana merasa bingung dengan sikap Ella. Termasuk Jo. Bahkan Tuan Haris dan Vano.
"Apa Ella amnesia." gumam Denis masih bisa di dengar Reza dan Hana yang berada di dekatnya.
"Pertunjukan seorang Mellanie, di mulai kembali." batin Hana yang tahu bagaimana Ella.
Ella melepaskan tangannya yang bergelayut di lengan Vano. Melangkahkan kakinya mendekati Jo yang sedang bersama Viki.
Tangan Ella terulur membelai sebentar pipi Jo yang terlihat lebam karena pukulan dari Vano. "Ckkk, kamu kan model. Pemotretan dengan tema apa yang cocok dengan keadaan wajahmu sekarang ini." ucap Ella tersenyum sinis.
Ella memutar tubuhnya. Berdiri di belakang Jo. Tangannya di letakkan di kedua pundak Jo. Dengan mata menatap ke arah Viki. "Gaya bercinta model apa yang kalian sukai, sayang." ucapnya lirih, hanya bisa didengar Jo dan Viki. Tidak lupa senyum menyeringai menghiasi bibirnya.
Ella tertawa terbahak-bahak. Berjalan ke arah papanya. Dan berdiri di samping Tuan Haris. "Vik, selesaikan urusanmu. Jika kamu tidak bisa mengerjakannya. Aku yang akan ambil alih." ucap Ella dengan penekanan.
"Apa maksud Ella." gumam Denis penasaran. Kenapa Ella lagi-lagi berkata atau melakukan sesuatu yang dirinya benar-benar tidak tahu arahnya.
"Kamu bisa menggunakan kamarku." ucap Ella.
Sedari tadi Viki hanya diam tanpa berkata sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dan sekarang dirinya dengan tiba-tiba menggandeng dan mengajak Jo masuk ke dalam kamar Ella.
"Elll,,, kenapa kamu membiarkan Viki berdua bersama dengan Jo." cetus Denis. Dia hanya takut jika Viki kembali luluh hatinya jika bersama dengan Jo.
Ella seakan tidak peduli dan acuh akan kerisauan yang di sampaikan Denis. "Pa, setelah ini Jo milik papa." ucap Ella pada sang papa.
Tuan Haris membelai rambut putrinya. "Percayakan pada papa. Akan papa bayar kesalahan papa yang dulu." ujar Tuan Haris.
"Elll..." panggil Denis dengan nada kesal karena di acuhkan oleh Ella.
"Ckkk,,, jika Viki tidak bisa menanganinya, gue yang akan menyelesaikannya. Elo tenang saja." ucap Ella yang malah semakin membuat Denis bingung.
__ADS_1
Di dalam kamar, Jo kembali merayu Viki kembali. "Sayang, apa kamu tidak sakit hati. Lihat, tanpa sebab mereka memperlakukan aku seperti ini." Jo memeluk Viki dari belakang.
Sementara Viki masih belum juga membuka mulutnya. "Aku sangat menyayangimu. Lebih baik tinggalkan kedua sahabatmu itu. Mereka seperti hama dalam hidupmu sayang." Jo menaruh kepalanya di pundak Jo.
Mata Viki melihat ke tempat tidur Ella. Teringat di mana Jo dan Ella duduk bersama. Dengan pandangan mata Jo menatap Ella penuh damba. Seketika tangan Viki terkepal kuat.
Viki mencoba meredam amarah. "Jo, mari kita lakukan sekarang." akhirnya Viki membuka mulutnya meski dengan wajah tanpa ekspresi.
Jo melepaskan pelukannya. Menatap Viki dengan rasa penasaran. "Lakukan sekarang. Apa?" tanya Jo bingung.
"Kamu bilang sayang sama aku kan. Buktikan." ucap Viki.
"Mampus. Gue berhubungan dengan dia. Yang benar saja. Mau di masukkan ke mana pusaka gue. Lubang saja dia tidak punya." batin Jo.
"Tapi tidak sekarang sayang. Lagi pula ini d tempat orang lain. Aku tidak enak hati. Sungkan." Jo mencari alasan untuk menolak.
"Kenapa, kamu tidak menyukaiku?" tanya Viki dengan tatapan tajam seperti hendak mencabik-cabik tubuh Jo.
"Kamu salah paham, kalau aku tidak menyukaimu. Mana mungkin kita bisa bertahan dalam hubungan ini, sejauh ini. Sampai sekarang." ucap Jo.
"Jangan banyak bicara. Aku ingin kamu membuktikannya. Lakukan Jo. Lakukan. Buat aku melayang." Viki mulai membuka celana yang di pakainya.
"Brengsek. Bagaimana aku melakukannya. Apa aku harus memasukkan barangnya ke dalam mulutku. Jijik sekali. Gila. Apa dia ingin masuk lewat lubang belakang. Tidak mungkin, pasti akan terasa sakit." batin Jo.
"Vik,,," Jo menahan tangan Viki yang hendak melepas celananya. "Jangan di sini. Kita cari tempat lain saja." ucap Jo mencoba merayu Viki kembali.
"Setelah pergi dari sini. Aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat dunia ini lagi." batin Jo dengan tersenyum palsu.
Viki kembali memakai dan membenarkan celananya. Jo yang melihatnya tersenyum senang. Dirinya berpikir, betapa mudah Viki di bohongi hanya menggunakan kata-kata.
Tapi ternyata, grepppp.... "Akhhhhhh,,, Vikk." Viki mencekik leher Jo menggunakan satu tangan.
"Vikkk..." Jo mencoba melepaskan tangan Viki di lengannya.
"Aaawww." Viki terhuyung ke belakang saat kaki Jo menendang perutnya.
"Uhuk uhuk." Jo terbatuk-batuk dan memegangi lehernya yang sakit. Dan Viki kembali berdiri tegap.
Viki keluar dari kamar begitu saja, meninggalkan Jo yang masih berada di dalam.
"Vik,,," ucap Denis.
"Sekarang dia milik elo Ell." ucap Viki melangkah pergi meninggalkan apartemen Ella.
*****
Othor greget deh sama Viki. Kenapa tidak menghajar Jo habis-habisan. Uhhh.... othor jadi emosikan.
__ADS_1
Padahal sudah jelas-jelas Viki tahu jika Jo membohonginya. Malah melepaskan Jo begitu saja.
Tapi tenang, kan masih ada Ella atau Tuan Haris. Pasti sekarang hidup Jo seperti hidup di neraka. Jo,,, itu bayaran kamu. Karena sidah mempermainkan hati Viki.