DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 82


__ADS_3

Ella dan Vano keluar dari tenda bersamaan. Keduanya langsung mencuri menjadi pusat perhatiaan.


Vano dengan setelan tuxedo, dan badannya yang proporsional membuat kaum hawa hanya bisa menelan ludah. Apalagi dadanya yang bidang dengan otot lengan yang meskipun sudah tertutup jas masih menampakkan betapa kekar tubuhnya, membuat mereka berimajinasi dengan pikiran liar masing-masing.


Ella pun dengan gaun pengantin berwarna putih, memperlihatkan kedua pundak dan sedikit belahan dadanya. Membuat kaum adam yang melihat pasti akan tergoda. Lehernya yang putih mulus membuat para lelaki ingin sekali menghisap dan menjilat nya.


Bahkan perempuan banyak yang dengan jelas sangat iri terhadap kecantikan yang di miliki sang model. Apalagi bukan hanya parasnya yang cantik. Tapi sebagai seorang model, Ella mempunyai bentuk tubuh yang hot.


Kedua payudara dengan besar dan bulat sempurna, pinggang ramping, ditambah lagi pantat yang semlohay. Membuat siapapun pasti ingin memilikinya.


"Kenapa?" tanya Ella saat Vano terus tersenyum menatapnya dengan jarak sangat dekat. Karena sekarang ini mereka sudah mulai melakukan pemotretan.


"Aku ingin segera menikahimu sayang." tanpa aba-aba, Vano langsung menempelkan bibirnya yang tebal dan basah pada bibir Ella. Membuat semua melongo di buatnya. Termasuk Ella, dirinya juga sangat kaget.


Tapi tidak dengan Denis. Sebagai fotographer profesional, dia tidak ingin membuang momen seperti ini. Dengan bidikan kamera yang tepat, membuat hasil jepretan Denis tampak sempurna.


Denis melihat hasil jepretannya dengan senyum lebar. "Sempurna." ucapnya. Denis yakin, jika ini dilakukan Vano secara spontan. Tanpa berunding dengan Ella.


Makanya Denis langsung saja membidikkan kameranya. Karena pasti tidak akan ada adegan seperti ini untuk yang kedua kali.


"Van." ucap Ella memukul dada bidang Vano karena merasa jengkel dengan kelakuan Vano.nBisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu. Di depan umum.


Vano menahan tangan Ella. Membawanya mendekat ke bibirnya dan mencium berkali-kali telapak tangan Ella.


"Love you honey." ucap Vano membuat Ella membeku seketika. Setelah sekian purnama. Ini pertama kalinya Vano mengucapkan kalimat tersebut. Di mana kalimat itu dulu hanya ada dalam angan-angan Ella.


Dan kini dengan sadar, Ella mendengar langsung Vano berkata cinta pada dirinya. Bahkan dengan suara yang lembut. Seolah memanjakan indra pendengaran Ella.


Tanpa harus mengarahkan, Denis langsung saja memotret setiap interaksi keduanya. Membuat hasil jepretannya tampak sangat romantis dan nyata.


Vano mendekatkan bibirnya pada wajah Ella, menempelkan bibirnya dengan lembut dan cukup lama pada kening Ella. Entah kenapa, Ella memejamkan mata dan menikmati kecupan Vano.


"Aku tidak akan melepaskan mu sayang." ucap Vano lirih terdengar oleh Ella. Membuat sang model tersenyum indah.


Semua kru merasa gemas sendiri dengan Ella dan Vano. Bahkan di antara mereka ada yang jingkrak-jingkrak seperti baru saja menang lotre. Ada yang senyum-senyum malu, dan ada yang menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.


"Sudah cukup. Di dunia bukan hanya ada kalian berdua." ketus Denis yang berhasil membuat wajah Ella merona karena malu.


Tapi tidak dengan Vano. Dia merasa kesal karena baginya, Denis adalah pengganggu untuknya. Dengan tatapan sinis Vano memandang ke arah Denis. Sang fotographer hanya acuh pada pandangan dari Vano.


"Arahkan." Denis menggerakkan tangan, menyuruh seorang kru mengarahkan bagaimana seharusnya Ella dan Vano berpose.


"Jangan terlalu dekat." ucapnya seseorang yang mengarahkan gaya pada Vano dan Ella.


"Maaf." imbuhnya sembari menunduk, merasa takut saat Vano menatapnya.


Vano malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Ella. Membuat Ella melepaskan tangan Vano yang tengah melingkar di pinggangnya.


"Jangan menyulitkannya." tegur Ella tidak suka dengan sikap Vano.

__ADS_1


"Maaf ya. Maklum, Vano bukan seorang model." imbuh Ella sembari tersenyum.


"Iya, saya mengerti" ujarnya.


Setelah mendapat teguran dari Ella, Vano selalu menuruti bagaimana dirinya harus bergaya bersama Ella untuk mendapatkan hasil jepretan sesuai keinginan Denis.


Meskipun Vano sedikit tidak suka dengan beberapa posenya bersama dengan Ella. Apalagi pose berjauhan. Vano menginginkan pose yang intim dengan Ella. Itu sih maunya Vano.


Tapi demi satu hari satu malam bersama Ella, Vano melakukannya.


"Akhirnya." desah Ella saat pemotretan berakhir.


"Sudah selesai?" tanya Vano membuat semua orang menatapnya heran.


"Kelihatannya kamu akan berganti profesi. Nyaman sekali dengan jepretan kamera. Nagih pak." ejek Ella.


"Sudah selesai Van." ujar Denis saat Vano menatap pada dirinya.


"Sebentar sekali." gumamnya masih bisa terdengar oleh beberapa orang di sekitar Vano. Termasuk Hana.


"Kelihatannya, dia sudah berubah. Mudah-mudahan dia benar-benar berubah. Dan Ella tidak lagi menderita." batin Hana memandang punggung Ella yang tengah berjalan menuju tenda.


Sebentar. Menurut Vano. Karena dia sangat menikmati momen berdua dengan Ella. Apalagi dia bisa dengan leluasa memeluk tubuh perempuan yang di cintanya. Karena jika sekarang, pasti Ella masih menolak untuk di sentuhnya.


"Kapan kamu punya waktu luang. Jangan lupa dengan perjanjian kita." ucap Vano mengingatkan Ella di sela-sela Ella sedang menghapus make-upnya di wajah.


"Tanya Hana."


"Ada apa?" tanya Hana.


"Perlihatkan padaku jadwal Ella." ucap Vano tanpa melihat ke arah Hana. Meskipun demikian, Hana tidak sakit hati. Karena dia tahu betul bagaimana sifat lelaki yang di cintai sahabatnya tersebut.


"Kasih tunjuk Han." Ella melihat Hana masih diam, seperti enggan melakukan apa yang di minta oleh Vano.


Hana menyerahkan tablet pada Vano. Di mana di sana sudah terinci dengan jelas semua kegiatan Ella.


"Besok lusa." ujar Vano, berdiri dan mendekat ke arah Ella.


Membungkukkan badan dan menyerahkan tablet pada Ella. Tapi terlihat Vano sengaja melakukannya dari belakang. Hingga nampak seperti Vano sedang memeluk Ella yang sedang duduk dari belakang.


"Besok lusa, sampai malam kita akan bersama. Aku jemput kamu di rumah." bisik Vano sembari mencium pipi Ella.


"Ada apa Ell?" tanya Hana setelah Vano meninggalkan tenda.


"Seperti biasa. Mana ada Vano mau melakukan sesuatu tanpa mendapat keuntungan."


"Maksud kamu?" Hana masih merasa bingung dengan jawaban yang di lontarkan Ella.


Ella pun menceritakan semua perjanjian mereka berdua pada Hana. Dari permintaan yang di ajukan Vano untuk dirinya menjadi model pengganti. Sampai permintaan Ella jika Vano menginginkan waktu sehari semalam bersama Ella.

__ADS_1


"Benar-benar. Licik sekali. Kenapa elo mau Elll?!" geram Hana.


"Kalau gue nolak, bagaimana dengan mereka. Gue sih nggak masalah nolak. Tapi mereka. Pasti akan dapat imbasnya." jelas Ella.


"Elo baik banget sih Ell. Masih begitu peduli pada orang lain." batin Hana langsung berhambur memeluk Ella.


"Apaan sih."


"Ella. I miss you." Hana mengendorkan pelukannya dan memasang wajah imut.


"Lepas. Ntar di kira kita... hiiihhhh. Minggir." seru Ella mendorong pelan tubuh Hana.


"Gue normal. Gue punya kekasih." sela Hana.


"Iya. Yang baru merasakan cinta. Nanti kalau bertengkar baru bilang, Elll begini rasanya sakit hati." ejek Ella.


"Amit-amit. Omongan elo Ell." Hana mengetok-ngetok pelan kepalanya sendiri, setelah itu membungkam mulut Ella.


Sampai di tempat parkir mobil.


"Han, elo yakin. Mau nungguin Denis?" tanya Ella.


"Masih lama low." imbuh Ella melihat Hana mengangguk.


"Nggak apa-apa. Kalian duluan saja." ucap Hana.


"Dasar bucin." ejek Ella.


"Astaga. Nggak sadar apa, jika dirinya lebih parah dari gue. Pake ngatain segala." gumam Hana.


Sementara Jo sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat pemotretan bersama asistennya. Dia berencana untuk langsung pergi ke rumah sakit.


"Kita cari makan dulu ya?" tanya Vano dengan lembut.


"Dekat-dekat sini saja Van, aku sudah lapar."


"Baik." sambil menyetir, mata Vano sembari melihat kanan kiri. Melihat jika ada tempat makan yang bisa mereka singgahi.


"Di sini saja ya Ella." Vano menghentikan mobilnya di depan warung makan sederhana.


"Kamu nggak apa-apa. Di sini?" tanya Ella, karena Ella melihat warung makan di depannya tampak sederhana. Sementara setahu Ella, Vano tidak pernah makan di tempat seperti ini. Melainkan restoran dengan berbagai hidangan mahal.


"Kamu nggak mau?" tanya Vano.


"Bukannya aku, tapi kamu?" Ella, meskipun dirinya seorang model terkenal dan seorang anak pengusaha kaya dengan banyak uang. Tapi tidak pernah mempermasalahkan di mana dirinya akan makan. Yang terpenting tempat tersebut bersih.


"Tidak apa-apa." ucap Vano.


Keduanya masuk ke dalam tempat makan. Dengan wajah tampan dan cantik. Penampilan yang sederhana tapi terlihat pas di badan mereka. Apalagi keduanya mempunyai postur tubuh ideal. Menjadikannya pusat perhatian bagi para pengunjung yang lain. Karena tempat makan tersebut lumayan ramai.

__ADS_1


Ella memilih meja yang dekat dengan jendela. Segera Ella membawa Vano duduk, karena takut jika mejanya akan di ambil oleh orang. Karena meja yang dekat dengan jendela hanya tertinggal satu yang kosong.


__ADS_2