DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 20


__ADS_3

Vano membawa Ella ke dalam kamarnya.


"Lepas, ada apa?" Ella melepas cekalan tangan Vano dan memandang Vano dengan tatapan datar.


"Luka kamu." Vano melihat ke arah pundak Ella.


"Luka yang mana?" tanya Ella sinis.


"Pundak kamu?"


"Ini luka kecil yang bisa hilang jika di obati. Anda tidak perlu khawatir." Ella membalikkan badan dan berniat keluar dari kamar Vano.


"Ell. Sayang." Vano memeluk tubuh Ella dari belakang.


"Ella, kuat Ella. Elo harus kuat. Jangan lemah. Jangan bodoh karena cinta Ella." batin Ella pada dirinya sendiri.


"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan." Vano menaruh kepalanya di pundak Ella yang tidak terluka.


"Apa kamu melihat jika aku dan Santi melakukan sesuatu. Hemm." jari jemari Vano mengelus pelan pipi Ella.


"Apa kamu perlu bukti." Vano mencium pipi Ella.


"Selamanya, kamu akan jadi milik ku Ella. Tidak akan pernah seorang Vano melepaskan sesuatu yang sudah ada di dalam genggamannya." batin Vano.


"Kamu mau apa. Apapun, kamu bilang. Supaya kamu percaya."


"Nikahi aku Vano." Ella berkata dengan tatapan datar dengan pandangan mata lurus menatap ke arah pintu.


"Ella, bodoh. Kenapa kamu malah minta di nikahi. Bukan itu yang ingin aku katakan, tapi kenapa malah kalimat itu yang meluncur dari mulut sialan ini." batin Ella sambil memejamkan mata.


Pikiran dan hati Ella sepertinya sedang berperang. Pikirannya ingin menjauh dari Vano. Setidaknya dia ingin memberikan sedikit pelajaran untuk laki-laki yang selama ini menjadi kekasihnya.


Tapi hati Ella menolak semuanya. Cinta. Rasa cinta di hati Ella untuk Vano terlalu besar. Dan tidak bisa di pungkiri, perasaan Ella pada Vano masih terlalu dalam dan besar.


"Bagaimana kalau kita bertunangan dulu."


"Bertunangan." gumam Ella.


"Iya, bagaimana?" Vano mengeratkan pelukannya pada Ella.


"Akan aku pikirkan dulu." Ella melepas tangan Vano yang melingkar di perutnya.


"Sabar Vano, dapatkan kembali kepercayaannya." batin Vano.


Ella melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vano. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Meski samar, itu benar-benar adalah sebuah senyuman. Hati Ella merasa senang mendengar Vano mengajaknya untuk bertunangan terlebih dahulu.


"Benar juga kata Vano. Gue kan nggak lihat jika dia dan Santi berbuat aneh-aneh. Tapi, mereka. Terus, tante Risma. Sudahlah dipikirkan nanti saja." Ella menuruni tangga.


Ella tersenyum pada semua yang berada di ruang tengah.


"Ini minum kamu." Hana menyerahkan segelas air minum pada Ella.


"Segarnya tenggorokanku." Ella meminum air di dalam gelas sampai tandas.


"Pulang yuk." Ella meletakkan kembali gelasnya di meja.


"Oma, Lena, Rez, kami pulang dulu." pamit Ella pada mereka.


"Iya Non." Reza tersenyum pada Ella.

__ADS_1


"Mari. Kami pamit dulu." ucap Hana.


Oma dan Lena hanya diam saja tanpa berkata apapun pada Ella maupun Hana.


"Permisi Oma, saya angkat telepon dulu." ucap Reza sedikit menjauh dari tempat duduknya.


Tuan Muda Vano calling.


Halo Tuan.


^^^Apa Ella sudah pulang?^^^


Sudah Tuan.


^^^Oma.^^^


Beliau masih berada di sini bersama dengan Lena.


^^^Suruh sopir mengantarkan mereka.^^^


Baik Tuan.


^^^Kamu segera ke kamarku.^^^


Baik Tuan.


"Kenapa Tuan Vano menyuruh gue ke kamarnya?" batin Reza setelah panggilan telepon dari Vano berakhir.


"Maaf Oma, Tuan Vano memberi pesan pada saya untuk menyampaikan pada Nyonya Besar. Nyonya Besar dan Nona Lena jika ingin pulang, lebih baik di antar oleh sopir."


"Vano ke mana?"


"Maaf Nyonya Besar, saya juga tidak tahu."


"Saya mendapat tugas dari Tuan Muda. Dan itu harus di lakukan sesegera mungkin."


"Katakan pada Risma dan Danto, jika aku pulang."


"Baik Oma, akan saya sampaikan jika bertemu beliau."


Oma Yeti dan Lena berdiri dari duduknya. Lena sempat melihat ke arah Reza dan tersenyum.


"Nggak dapat Vano, dia juga bisa. Pasti gajinya cukup besar juga. Lagi pula, wajahnya juga lumayan tampan." batin Lena memandang Reza dan tersenyum.


Reza bergidik ngeri saat Lena tersenyum padanya. Bahkan Reza langsung memalingkan pandangannya.


Reza melangkahkan kakinya ke dalam kamar Vano saat Oma Yeti dan Lena meninggalkan rumah Tuan Danto.


"Masuk." Vano membuka pintu kamarnya dan menyuruh Reza untuk masuk.


"Tuan." Reza sedikit menundukkan kepalanya saat Vano berdiri tepat di depannya.


"Luka di pundak Ella. Ada yang ingin kamu jelaskan."


"Maaf Tuan, maaf."


"Maaf. Akan berapa kali kau minta maaf. Bukankah di kantor kau sudah meminta maaf."


"Nona Ella dan tangan kanan Tuan Haris yang menyuruh saya untuk merahasiakan Tuan."

__ADS_1


"Siapa atasan kamu." Vano memegang dagu Reza dan mendongakkan ke atas.


"Kamu tahukan apa hukuman untuk pengkhianat." Vano melepaskan tangannya pada dagu Reza.


Tampak dagu Reza terdapat bekas beberapa tancapan dari kuku jari tangan Vano.


Vano duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Mata nya tajam memandang Reza. Terlihat raut wajah Vano tampak menahan amarah.


"Nona Ella melawan penjahat sendirian, sebelum saya datang. Dia menyuruh Hana untuk bersembunyi. Sementara dia melawan sendirian. Nona Ella menguasai bela diri. Meskipun hanya sedikit. Dan juga." Reza melihat ke arah Vano sebentar sebelum melanjutkan perkataannya.


"Nona Ella bisa menggunakan pistol dengan baik. Meskipun dia gemetar. Saya rasa Nona Ella pernah belajar menembak. Dan sudah lama tidak melakukannya." Reza menundukkan kepalanya. Dia tidak berani memandang ke arah Vano.


"Ini yang pertama dan terakhir kamu melakukan kesalahan. Jika terjadi lagi, kamu pasti sudah tahu akibatnya. Keluar."


Reza tanpa mengucapkan sesuatu dari dalam mulutnya langsung keluar dari kamar Vano.


"Isshh." di pagang dagunya tang terasa perih.


"Elo cari perkara Za." gumam Reza pada dirinya sendiri.


"Ella, kamu memang pantas berada disisi ku. Tapi tidak sekarang sayang." Vano membaringkan tubuhnya dan tersenyum mengingat kembali perkataan Reza.


"Bisa bela diri meskipun sedikit. Dan bisa memainkan senjata api. My baby. Benar-benar wanitaku." ucap Vano.


"Elo kenapa Ell, senyum terus dari tadi. Kesambet." celetuk Hana melihat Ella tersenyum sedari tadi.


"Vano ngajak gue tunangan."


"Apa!" Hana menghentikan mobilnya dengan mendadak.


"Hana, elo gila. Huftt, untuk gue nggak jantungan." Ella meletakkan telapak tangannya di depan dadanya.


"Tunangan. Gue nggak salah dengar." Hana menghadap ke arah Ella dengan pandangan tidak percaya. Ella hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Astaga princess Ella." Hana benar-benar tidak paham apa yang ada di dalam pikiran Ella.


Baru saja dia menangis karena dia bilang Vano berkhianat. Dan sekarang. Ella tersenyum senang karena Vano mengajaknya bertunangan.


"Apa yang sebenarnya terjadi." Hana bingung sendiri.


"Tapi gue belum ngasih jawaban sih."


"Gue masih bingung Ell. Sumpah. Tadi pagi elo masih nangis-nangis. Sekarang senyum. Dan itu karena orang yang sama. Vano Reyandli. Jelasin."


"Vano bilang, dia nggak ada hubungan apa-apa sama Santi. Dia bilang gue cuma salah paham. Emang gue nggak lihat mereka ngapa-ngapain sih. Dan,, pokoknya Vano bilang dia nggak ada hubungan dengan Santi."


"Elo percaya."


"Gue senang aja waktu Vano jelasin ke gue. Apalagi, waktu dia ngajakin gue tunangan. Jantung gue berasa mau loncat." Ella tersenyum dengan raut wajah bahagia.


"Gue tanya, elo percaya. Elo percaya apa nggak sama apa yang di ucapin Vano."


"Nggak tahu. Tapi yang pasti gue senang."


"Ella,, Ella,, susah memang kalau berhadapan dengan seseorang yang sudah bucin kayak elo gini."


"Gue mau cari Santi, dan tanya sama dia." Ella memandang ke arah Hana.


"Mungkin akan lebih baik seperti itu. Gue akan cari alamat rumahnya."

__ADS_1


"Thanks bestie." Ella memeluk tubuh Hana.


"Sip." Hana membalas pelukan Ella.


__ADS_2