
"Vano ada?" tanya Ella pada Imey. Sekertaris Vano yang sedang bekerja di meja yang terletak tepat di depan ruangan milik Vano.
"Ada." Imey menjawab dengan wajah datar. Mungkin dirinya masih kesal dengan Ella sejak pertemuan terakhir mereka.
Ella memilih acuh dengan sikap Imey. Dia bukan tipe perempuan yang senang mencari atau membesar-besarkan sesuatu.
"Oke." Ella tersenyum dan langsung membuka pintu. Menampakkan sosok tampan dengan wajah dingin sedang menunduk menghadap lembaran kertas.
"Apa kamu ingin kehilangan tangan." suara bariton Vano terdengar menakutkan. Dia belum menyadari jika yang membuka pintu tanpa izin adalah calon istrinya.
Imey hanya mendengar dari luar. Tidak ada niat dirinya untuk ikut campur dalam percakapan atasannya dan calon istrinya.
Karena sebenarnya, semua orang sudah tahu jika Vano akan segera melangsungkan pernikahan dengan Ella. Karena undangan sudah tersebar.
Bukannya marah, Ella malah tersenyum. Karena dirinya tahu jika Vano tidak tahu yang datang adalah dia. "Memang kamu mau punya istri yang tangannya patah." celetuk Ella yang masih berada di ambang pintu dengan tangan kanan menenteng rantang.
Mendengar suara Ella, membuat Vano mengangkat kepalanya. Terlihat Ella yang sedang merajuk dengan memajukan bibirnya yang seksi.
Segera Vano berdiri dan menghampiri calon permaisurinya. Membawa Ella masuk ke dalam. Dan menutup pintunya. "Kenapa kamu malah diam dan berdiri di sana. Ha.." Vano memeluk Ella dan mencium rambut bagian atas.
"Mendengar suara kamu saja membuatku takut." Ella mendongakkan kepala. Membuat matanya dan mata Vano bertatapan.
"Dasar... Love you sayang." Vano menangkup kedua pipi Ella dan menghujaninya dengan ciuman.
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu jika itu Tuan Putri." ujar Vano.
"Karena kamu terlalu fokus dengan lembaran kertas itu ."
"Aku harus menyelesaikannya sebelum kita menikah."
"Jangan-jangan kamu juga lupa. Hari ini kita mau mencoba baju pernikahan kita."
"Mana mungkin aku lupa. Bisa-bisa Tuan Puti akan marah. Makanya aku segera menyelesaikan pekerjaanku."
Mata Vano mengarah pada rantang yang di bawa oleh Ella. "Makan siang kita." ucap Ella.
"Kamu yang masak?" tanya Vano saat Ella membuka rantangnya.
"Maaf, aku belum bisa memasak." ucap Ella lirih tanpa memandang ke arah Vano.
"Ini mama sama mbok yang masak."
"Tidak masalah sayang. Kamu kan calon istri aku. Bukan tukang masak. Jadi kamu tidak perlu pintar memasak. Uangku tidak akan habis untuk membayar banyak orang yang akan bekerja di rumah kita." ucap Vano menenangkan Ella.
Ella mengambil beberapa makanan dan mulai menyuapi Vano. "Rumah kita." ucap Ella mengulang beberapa kata dari Vano.
"Nanti saja. Itu surprise untuk kamu. Sekalian hadiah ulang tahun."
"Van,,, aku mau lihat. Rumahnya bagaimana. Kamu,,, ngasih tahu setengah-setengah. Jadi kepo kan akunya." ucap Ella sambil kembali menyuapi Vano.
Keduanya berbincang sambil makan. Vano tinggal membuka mulut, makanan datang sendiri ke dalam mulutnya.
Ella juga makan. Bergantian dengan dirinya yang menyuapi Vano.
"Reza sudah tahu, kamu mau pergi." tanya Ella saat tangan Vano dengan cekatan merapikan berkas yang akan dia bawa.
__ADS_1
Karena setelah dari butik, Vano akan menemui rekan bisnisnya. Mereka akan membahas kerja sama yang akan mereka jalani setelah pernikahan Vano.
"Reza berada di luar kota. Aku menyuruhnya menggantikan ku." jelas Vano.
"Kamu nanti sendirian?" tanya Ella.
"Kamu mau ikut." tanya Vano mengajak Ella untuk ikut menemui rekan kerjanya.
"Malas. Aku tunggu di apartemen saja." ujar Ella.
Keduanya lantas bergerak menuju butik Nyonya Risma. Mulut Nyonya Risma tidak berhenti berbicara. Memberi wejangan pada kedua calon pengantin.
"Elll,, bujuk calon suamimu. Supaya tetap tinggal di rumah kami."
"Ella sih ngikut Vano saja ma." ucap Ella dengan bijak.
"Sayang." mama Vano memeluk Ella dengan erat. "Kamu lihat Van, dia benar-benar istri idaman. Kamu sungguh beruntung." Nyonya Risma mengurai pelukannya pada calon mantunya tersebut.
"Tapi, apa orang tua kamu mengizinkan." tanya Nyonya Risma. Karena beliau tahu jika Ella adalah satu-satunya putri mereka.
"Pasti mengizinkan tante."
"Mama. Panggil mama mulai sekarang." ucap Nyonya Risma membenarkan panggilan Ella terhadap dirinya.
"Iya ma." Nyonya Risma kembali memeluk Ella. "Senang sekali mama, akhirnya punya anak perempuan. Apalagi itu kamu sayang." ucapnya bahagia.
Vano hanya duduk dan melihat interaksi dua perempuan yang sangat di sayangnya.
"Mama sama papa pasti tidak akan keberatan jika Vano mengajak Ella tinggal di rumah kami sendiri setelah menikah."
"Biar aku antar." ujar Vano.
"Nggak usah Van. Arah kita berbeda. Kamu pasti nanti akan telat."
"Nggak apa-apa." ucap Vano enteng.
"Kasihan rekan kerja kamu. Aku nggak apa-apa kok sendirian. Kan naik taksi."
"Aku khawatir sayang."
"Iiihhh,,, kamu itu. Sudah sana. Aku tunggu di apartemen. Oke. Sampai ketemu nanti malam." Ella masuk ke dalam taksi yang sudah di pesannya. Membuka jendela taksi dan melambaikan tangan pada Vano.
Sampai di apartemen Vano, Ella merebahkan diri. Entah kenapa badannya terasa lemas dan letih. Mungkin karena beberapa hari belakang, dia menyelesaikan pekerjaannya.
Hingga Hana saja di buat kewalahan. Karena harus menjadwal ulang kegiatan Ella. Dan harus berkoordinasi lagi dengan pihak yang mengontrak Ella.
Beruntung mereka mau mengerti dan tidak mempermasalahkan jadwal yang di ubah menjadi maju. Mungkin saja mereka tahu siapa sang model. Selain dia calon istri Vano Reyandli, Ella juga putri Tuan Haris Subagyo.
Berurusan dengan mereka, sama saja menutup bisnis yang sedang mereka jalani. Atau lebih tepatnya, menutup jalan mereka untuk mencari uang.
"Maaf, saya terlambat." ucap Vano pada dua orang lelaki berbeda usia yang sudah duduk menunggunya.
"Tidak masalah. Silahkan duduk."
Vano bertemu dengan rekan kerjanya yang berumur sama dengan papanya. Dan juga seorang asisten yang seumuran dirinya.
__ADS_1
Keduanya berbincang mengenai kerja sama yang akan mereka lakukan. Hingga keduanya membubuhkan tanda tangan pada beberapa kertas sebagai tanda kesepakatan kerja sama.
"Kemana Reza. Tumben sekali anda sendirian?"
"Dia sedang ada kerjaan."
"Selamat ya pak Vano, atas pernikahan kalian. Semoga lancar sampai hari H."
"Terimakasih."
Mereka berjabat tangan dan mengakhiri pertemuan kerja sama ini.
Di apartemen Vano, Ella sudah memesan makanan dan berdandan cantik. Dilihatnya jam dinding menunjukkan jam 7 malam.
Sementara di dalam mobil, Vano merasa ada yang membuntuti dari belakang. "Siapa mereka."
Vano mempercepat laju kendaraannya. Dan ternyata benar dugaan Vano. Sebuah mobil kembali mengekor di belakanganya. "Mau adu ketangkasan rupanya." gumam Vano.
Vano mengendarai mobil seperti pembalap profesional. Berbelok ke kanan dan kiri di setiap tikungan, untuk mengecoh penguntit tersebut.
Setelah hampir satu jam, akhirnya Vano terbebas. Para menguntit tersebut kehilangan jejak Vano. Tapi Vano merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Tangan Vano melepas dasi yang tergantung rapi di lehernya. Membuka semua kancing jas yang masih menempel di tubuhnya. Membuka beberapa kancing atas kemejanya.
"Sial, kenapa dengan tubuh ku." Vano merasakan reaksi yang tidak biasa dalam tubuhnya. Panas. Dan sesuatu yang dasyat bergejolak dalam dirinya. Seperti ingin di puaskan.
"Brengsek. Beraninya mereka." Vano menduga rekan kerjanya yang baru saja dia temui yang telah melakukannya. Karena dia sangat getol mengenalkan anak perempuannya pada Vano.
Dan terlihat jelas, anaknya juga sangat tertarik pada Vano. Mana ada perempuan yang tidak tertarik pada pesona yang di miliki seorang Vano.
"Pantas saja mereka mengikutiku." geram Vano, menahan sesuatu di dalam tubuhnya.
Dengan cepat Vano melajukan mobilnya ke apartemen Ella. Dia ingin segera menyalurkan hasratnya yang sudah bergejolak karena obat sialan tersebut dengan satu-satunya perempuan yang dia cintai.
Apartemen Ella terlihat gelap. Seakan Vano hapal letak kamar Ella. Dia segera masuk dan langsung menuju kamar Ella.
Tangan Vano melepas semua pakaian yang dia kenakan. "Sayang." ucap Vano parau.
Dia sudah tidak sadar, yang dia inginkan hanyalah menuntaskan hasratnya.
"Heii,,, siapa kamu!!!" teriak seorang perempuan yang kini sudah di bawah kungkungan Vano.
Dengan tenaganya yang kuat, Vano terus menjamah bahkan merobek pakaian perempuan yang di yakini adalah Ella.
"Ella..." gumam Vano mencium seluruh badan seseorang di bawah kungkungannya.
"Vano,,,, hentikan. Sakit...!!" teriaknya. Tapi tetap tak di hiraukan oleh Vano.
Dia dengan sekuat tenaga melawan Vano, tapi mustahil. Tenaganya terlalu lemah. Apalagi sekarang Vano sudah memasukkan juniornya ke dalam gowanya. Membuat air matanya menetes di pipi.
"Dari dulu kamu sangat nikmat sayang." gumam Vano.
Dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat, Vano melakukannya berkali-kali dengan perempuan tersebut.
Bahkan saat ini sang perempuan sudah lemas tidak berdaya. Untuk bergerakpun rasanya tidak sanggup.
__ADS_1
Hingga keduanya tertidur dalam satu ranjang karena rasa lelah.