DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 122


__ADS_3

"Ini Nona." ucap seorang karyawan memberikan sepasang cincin pada Ella.


Ella mengambilnya dan mengamatinya. "Bagaimana sayang." ucap Ella memakai cincin di jarinya. Dan di tunjukkan pada Vano.


"Biasa." ucap Vano tanpa ekspresi. Membuat Ella memandangnya sinis.


Bagaimana bisa Vano berkata seperti itu. Pasalnya, Ella sendiri yang mendesain cincin tersebut.


Vano memegang tangan Ella. Dan membawanya mendekat di wajahnya. Membuat Ella sedikit memajukan tubuhnya. "Cincinnya minder, kalah cantik sama yang pakai." ucap Vano di balas pukulan kecil di pundaknya oleh Ella.


Ella menarik tangannya dan Vano tertawa. Membuat karyawan yang berada di sana menoleh, terpana dengan tawa dari Vano.


Apalagi yang mereka tahu. Seorang Vano Reyandli adalah sosok lelaki yang dingin. Wajahnya selalu tanpa ekspresi. Membuat kaum hawa semakin tertantang untuk mendekatinya.


Vano segera menghentikan tawanya dan mencium pipi Ella. "Astaga, malu Van.." geram Ella karena Vano main nyosor. Padahal di sini banyak orang. Vano malah memainkan cincinnya dan terlihat acuh.


Meski sekarang mereka berada di ruang exclusiv, tapi di ruangan itu juga terdapat beberapa karyawan perempuan.


"Ya sudah mbak, sekalian saya ambil. Dari pada nanti harus ke sini lagi." ujar Ella.


"Maaf Non, tapi pemilik toko sedang tidak berada di tempat. Apa tidak sebaiknya anda menunggu pemilik toko." tanya pelayan toko membuat Ella menaikkan alisnya karena bingung.


Pelayan toko sepertinya mengerti jika Ella bingung dengan perkataannya. Dan dia ingin menjelaskan. Tapi semua kata yang akan di keluarkan dari dalam mulutnya tertahan saat Vano lebih dulu berbicara.


"Toko inipun dapat saya beli sekarang juga." Vano memandang tajam ke arah karyawan.


"Maaf Tuan, atas kelancangan saya." ucapnya dengan menundukkan kepala.


Sekarang Ella baru mengerti kenapa pegawai tadi berkata demikian. "Sudahlah Van. Dia hanya menjalankan pekerjaannya." ucap Ella menenangkan Vano.


Ella mencium pipi Vano. "Tuh kan,,, nempel." ucap Ella mencairkan suasana dengan jari Ella berada di pipi Vano. Seolah-olah bekas lipstiknya menempel di pipi sang kekasih.


"Pasti lipstik murahan." ucap Vano tersenyum.


"Iiihhh,,, enak saja. Sok tahu. Memang situ pakai lipstik." ejek Ella.


"Memangnya kekasihmu lelaki jadi-jadian." ujar Vano.


"Seperti sahabatmu itu." bisik Vano, tangan Ella reflek menutup mulut Vano.


"Kenapa pakai tangan sih. Kenapa tidak pakai ini." Vano mencium singkat bibir Ella.


"Vano." pipi Ella merah seperti kepiting rebus. Ella sangat malu, karena di sana ada beberapa karyawan yang memandang mereka.


Bahkan mereka senyum-senyum melihat Ella yang di cium oleh Vano. Ella menutup wajahnya mengunakan kedua telapak tangannya.


"Ini mbak. Dia yang bayar." Ella berdiri dan meninggalkan Vano beserta cincinnya.


"Sayang." panggil Vano dengan lembut pada Ella saat sang kekasih meninggalkannya karena malu atas kelakuan kekasihnya.


"Kirimkan ke alamat ini." Vano meletakkan kartu namanya di meja dan segera bergegas mengejar Ella sambil tersenyum.

__ADS_1


"Maaf..." ucap Ella saat dirinya menabrak seseorang di depannya.


Ella mendongakkan kepalanya, merasa ada yang janggal. "Lena." gumam Ella. Dari jauh, Vano menghentikan langkahnya saat manik matanya melihat siapa yang ada di depan Ella.


"Kamu pikir hanya kamu yang bisa membeli perhiasan di sini." ucapnya sombong.


Ella tersenyum dan ingin berlalu meninggalkan Lena. Ella merasa hanya akan membuang waktu dan tenaganya menanggapi manusia seperti Lena.


Baru saja Ella melangkahkan kakinya satu langkah. Lena tiba-tiba menjerit dan sudah duduk di atas lantai. Dengan tangan memegang pergelangan kaki.


"Apa sih." ucap Ella heran.


"Lena...!!" teriak Oma Yeti dari arah lain.


Seseorang di samping Oma Yeti membantu Lena berdiri dan merangkulnya. "Kamu kenapa Len?" tanya Oma Yeti dengan lembut, tapi menatap tajam ke arah Ella.


"Haduhhh,,,.pasti drama lagi." batin Ella.


"Tidak apa-apa Oma, Ella tidak bersalah. Lena yang berjalan kurang hati-hati." ucap Lena dengan nada sedih. Seolah dirinya terjatuh karena bertabrakan dengan Ella. Dan Ella sengaja melakukannya.


"Kamu... lagi, kamu lagi!!! Dasar perempuan tidak punya etika." ucap Oma Yeti dengan mata melotot.


Ternyata dari arah lain juga nampak seorang lelaki yang juga menyaksikan semuanya. Dia adalah Marcell. Kebetulan Marcell berada di sini karena mamanya menyuruh Marcell mengambil perhiasan milik sang mama.


Marcell duduk dengan santai. Seolah menyaksikan drama yang sebentar lagi akan menghibur hatinya.


"Oma, di sini ramai. Lihat. Kita di lihat banyak orang lo." ucap Ella.


"Memang kenapa. Kamu takut. Ya benar, kamu seharusnya takut. Karena kamu bersalah." ucap Oma semakin lantang.


Sementara, kedua cucu lelakinya yang mendengar perkataan Ella hanya tersenyum.


"Kamu nyumpahin saya." ucap Oma Yeti dengan tangan berkacak pinggang.


"Bukan begitu Oma, Ella mengi-ngat-kan. Mengingatkan Oma, mengingatkan. Mana mungkin Ella menyumpahi Oma. Dosa." ucap Ella.


"Aauuu,,, aauuu." seru Lena mencari perhatian. Karena Oma Yeti malah berdebat hal yang tak penting bersama Ella.


"Sakit Oma." ucap Lena sambil meringis.


"Apakah parah?" tanya Oma Yeti khawatir.


Ella tersenyum aneh. Sepertinya Ella akan melakukan sesuatu yang aneh juga. "Astaga Lena...!!!" teriak Ella membuat semuanya tercengang.


"Lihat." jari telunjuk Ella menunjuk ke arah betis Lena. "Apakah ini bengkak. Maaf Lena. Semua karena aku tidak hati-hati berjalan." ucap Ella berpura-pura merasa bersalah.


"Oma, pasti kaki Lena patah. Bagaimana ini Oma..." ucap Ella terlihat panik. Membuat Oma Yeti juga ikut panik. Sementara Lena bengong. Dirinya seperti boneka yang akan di mainkan oleh Ella.


Vano menahan tawanya melihat tingkah konyol calon istrinya dari jauh. Dan Marcell, senyumnya selalu mengembang sejak awal kejadian.


"Oma...." ucap Lena.

__ADS_1


"Tenang Len, tenang." Ella menghentikan perkataan Lena. "Sebentar lagi ambulan akan datang." Ella mendekat ke arah Oma Yeti.


"Oma, Lena harus segera di operasi. Ella takut jika patah tulangnya semakin parah." ucap Ella semakin kacau.


"Oma....akkk.."


"Sudahlah Len,,,, kamu harus menghemat tenaga. Sebentar lagi kamu akan menjalani operasi." lagi-lagi Ella memotong perkataan Lena.


"Lena sayang, tahan ya.... Kita akan membawa kamu ke rumah sakit milik Oma. Tahan ya sayang." Oma Yeti menyentuh pundak Lena dengan mata berkaca-kaca.


"Astaga,,, lihat Oma. Baru saja Ella mendapat kabar. Jika teman Ella meninggal di meja operasi karena pura-pura sakit. Kasihan sekali." ucap Ella menatap Lena dengan ekspresi lucunya. Dan Lena menyadarinya.


Ella menaruh tangannya di leher. Dan menggerakkan tangannya seperti seseorang yang menggorok leher. Dan Lena melihatnya. Tapi Oma Yeti tidak melihat, karena dia sudah cemas dengan kondisi Lena.


"Oma, Lena baik-baik saja." Lena segera melepaskan rangkulan pelayan Oma dan berdiri sendiri dengan tegap.


"Lihat Oma. Oma tidak perlu membawa Lena ke rumah sakit untuk operasi." ucap Lena sambil berjingkrak-jingkrak di lantai. "Lena sudah sehat."


Lena berhenti dan tersenyum pada Oma Yeti. Tapi sayangnya, Oma Yeti bukan perempuan bodoh.


Plakkkk.... saru tamparan bersarang di pipi Lena. Membuat pipi Lena merah seketika.


"Oma." gumam Lena memegang pipi bekas tamparan Oma Yeti.


Beberapa orang yang melihatnya tersenyum sinis pada Lena. Dan mereka pergi meninggalkan tempat tersebut dengan berbagai kicauan.


"Ckkk,,, apa dia artis. Sok-sok berakting."


"Tidak tahu malu."


"Paling juga tidak pernah sekolah. Makanya kayak gitu."


Dan masih banyak lagi perkataan sinis yang ditujukan pada Lena.


Oma Yeti mengalihkan pandangan ke arah Ella dengan kesalnya. Dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Oma." Ella menghentikan langkah Lena. "Mau kemana?" Ella mencekal lengan Lena.


"Lepas." Lena mencoba berontak.


"Dengar. Manusia menjijikkan seperti kamu tidak pantas berada di keluarga terhormat. Dan aku pastikan. Jika kamu masih belum mengubah sifatmu. Akan ku buat hidupmu seperti di neraka."


"Aaaa...." Ella melintir tangan Lena dan menendang kaki Lena. Sehingga Lena terjerembab ke lantai.


"Itu baru namanya,, sa-kit." ucap Ella.


"Baru tahu kalau terjatuh itu sakit. Lain kali jangan sampai terjatuh." Ella menepuk-nepuk tangannya. Seolah-oleh dia baru saja memegang barang yang kotor.


"Sudah selesai." Vano tiba-tiba datang dan merangkul Ella dengan posesif.


"Vano, sejak kapan dia ada di sini." batin Lena dengan tangan masih memegang kakinya yang sakit karena tendangan dari Ella.

__ADS_1


"Ya iyalah Vano di sini. Calon istrinya ada di sini. Nyonya Vano Reyandli." ucap Ella seperti tahu apa yang di pikirkan Lena.


"Kalian.... lihat saja Ell. Akan aku balas." gumamnya setelah Ella dan Vano meninggalkannya sendiri.


__ADS_2