DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 51


__ADS_3

"Maaf Non, sudah ditunggu di bawah." ucap pembantu rumah tangga Ella mencoba membangunkan Ella yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Egghhhhhh." Ella masih berada di atas tempat tidurnya. Meregangkan otot.


"Papa belum berangkat bi?" tanya Ella sembari mengucek kedua matanya.


"Belum Non. Yang lain juga masih di bawah. Nunggu Non Ella turun."


Ella mengambil ponsel dan melihat jam.


"Tumben, papa belum berangkat." gumam Ella. Karena sekarang hampir jam setengah delapan pagi.


"Ya sudah, Ella turun dulu bi." tanpa mencuci muka, Ella turun menemui kedua orang tuanya.


"Non, nggak cuci muka dulu?" tanya sang pembantu sambil merapikan kamar Ella.


"Nanti saja bi. Ella temuin mama dulu. Terus naik lagi. Keburu gendang telinga Ella pecah." ucap Ella.


Sang pembantu hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya membersihkan kamar Ella.


Ella paling susah di bangunkan jika sudah tidur. Nyonya Ane bahkan sampai menyuruh pembantunya bolak balik ke kamar Ella hanya untuk membangunkannya.


Jika Ella masih tidak bangun, maka Nyonya Ane sendirilah yang naik ke atas dan membangunkan putrinya tersebut. Dan pastinya, Nyonya Ane membangunkan Ella dengan kicauan burung.


Yappp,,,, rentetan perkataan panjang kali lebar. Yang pastinya akan membuat Ella membuka kedua matanya, karena sudah pasti kedua indra pendengarannya tidak tahan mendengarkan.


Ella turun menapaki tangga dengan menggelung asal rambutnya ke atas. Setelan pakaian tidur berlengan pendek, dengan celana pendek melekat pada tubuhnya.


"Papa..." geram Nyonya Ane melihat putrinya turun dari anak tangga.


Tuan Haris pun mengikuti ke mana arah mata Nyonya Ane memandang. Tuan Haris hanya terdiam dan tersenyum pada semua tamunya.


Ella terdiam melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Dia kembali mengucek kedua matanya dan melihat ke arah sofa. Tepatnya di ruang tengah. Dimana sudah banyak orang di sana.


Ella bersedekap dan memandang ke sekelilingnya.


"Ini rumah gue kan." ucap Ella bingung.


"Perasaan tadi gue udah bangun. Apa gue masih dalam dunia mimpi." Ella menepuk-nepuk pelan kedua pipinya.


Egi tersenyum melihat pemandangan di depannya. Ella, tanpa riasan sedikitpun di wajahnya. Dengan pakaian tidur masih melekat di tubuhnya. Di tambah lagi raut wajah bantal milik Ella.


Vano pun melihat ke arah Egi. Ada rasa tidak rela di hati Vano saat melihat tatapan dari Egi untuk Ella.


"Maaf." Nyonya Ane segera berdiri dan menghampiri Ella.


"Aww,, mama." cuit Ella saat cubitan dari Nyonya Ane bersarang di lengannya.


"Kamu ini apa-apaan sih. Kenapa kamu....iihh." ucap Nyonya Ane lirih, merasa geram dengan tingkah Ella.


Sesekali beliau menoleh ke arah tamunya dan tersenyum kaku.


"Malu-maluin. Sana cepat. Ganti baju." dorong Nyonya Ane pada tubuh Ella.


"Salah mama lah. Masa salah Ella. Lagian kenapa mama nggak bilang kalau ada reunian."

__ADS_1


"Reunian apa!" bentak Nyonya Ane lirih.


"Itu. Ngapain semua kumpul di sini kalau nggak ada acara."


"Kamu itu. Naik lagi. Bersihkan badan. Cepat." perintah Nyonya Ane.


"Sayang, Ell." panggil Nyonya Risma.


Ella segera menghampiri beliau sebelum Nyonya Risma menghampirinya. "Maaf semuanya, Ella baru bangun." ucap Ella merasa tidak enak.


"Kamu tetap cantik sayang." ujar Nyonya Tiwi.


"Pasti kamu merasa bingung kan. Kenap kita semua berkumpul di sini?" tanya Nyonya Risma pada Ella.


Ella tersenyum dan mengangguk. "Gue pikir tadi elo mau lamaran El." celetuk Viki yang juga berada di rumah Ella juga.


"Lamaran. Lagian ngapain elo juga ada di sini." tanya Ella.


Viki meringis menampilkan deretan giginya yang putih sambil berdiri. "Sebaiknya kamu segera membersihkan badan. Sumpah, iler kamu Ell." Viki merangkul Ella dengan jari tangan kanan menjepit hidungnya.


"Sialan." gumam Ella.


Viki dan Ella berjalan menuju ke kamar Ella menaiki anak tangga. Tangan Viki masih setia berada di pundak Ella. Mereka berjalan beriringan. Dengan saling ejek.


Vano yang melihatnya hendak berdiri. Ada rasa tidak rela saat Viki menyentuh pundak Ella. Tapi tangannya terlebih dulu di pegang oleh Tuan Danto.


Pandangan tajam Tuan Danto membuat Vano kembali membenarkan posisi duduknya.


"Maaf ya jeng. Viki sama Denis itu teman Ella sedari SMA. Mereka sudah seperti saudara." jelas Nyonya Ane.


"Tidak masalah om. Tidak perlu minta maaf, lagi pula keluarga om tidak bersalah. Saya dan mama yang tiba-tiba bertamu sepagi ini." ujar Egi.


"Karena saya memaksa Egi, sekalian tadi lewat jalan ini. Jadi mampir." ujar Nyonya Tiwi mencari alasan.


"Tidak masalah. Semakin ramai semakin bagus bukan?" ucap Nyonya Ane.


Nyonya Risma memandang ke arah Vano dan suaminya bergantian. Mereka sekeluarga memang mempunyai tujuan untuk datang ke kediaman Tuan Haris.


Tetapi melihat situasi yang tidak mendukung, mereka sepertinya harus menunda untuk menyampaikan tujuan mereka datang ke rumah Tuan Haris.


Sementara ujung mata Vano selalu mengarah ke anak tangga. "Kenapa orang tua Ella memperbolehkan Viki mengikuti Ella." tangan Vano terkepal.


Di tekannya tempat yang sedang dia duduki menggunakan kepalan tangannya. Marah, kecewa, cemburu. Mungkin saja. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ingin sekali gue seret laki-laki itu. Kalau bisa gue patahkan sekalian sendi-sendi tulangnya." batin Vano.


Tidak berbeda jauh dari Vano, pandangan mata Egi juga selalu mengarah ke tangga. "Kenapa Viki nggak turun-turun?" batinnya.


"Jangan bilang dia masih berdua di kamar bersama Ella." batin Egi dengan pandangan menatap Vano dan kedua orang tua Ella bergantian.


*


*


Di dalam kamar, Ella bergegas untuk bersiap. "Yang penting rapi dan wangi."

__ADS_1


"Selesai." Ella menaruh lipstik nya kembali dan berjalan keluar kamar.


Dan ternyata,,,, Viki sekarang tengah berada di dalam kamar Hana bersama dengan Denis. Semenjak Hana di rawat di rumah Ella, dia menjadi akrab dan dekat dengan kedua teman Ella.


Meskipun Viki yang notabennya tidak menyukai lawan jenis, tapi dia dan juga Ella tidak mungkin berada di dalam kamar berduaan. Karena yang tahu kondisi Viki hanya Ella dan Denis. Tidak dengan yang lain.


"Itu mereka sudah datang." ucap Nyonya Ane melihat Ella bersama Viki, Denis, dan juga Hana menuruni tangga.


"Lho, Nona Hana ada di sini juga?" tanya Nyonya Tiwi.


"Hana tante." ucap Hana membenarkan panggilan Nyonya Tiwi.


"Kenapa turun, kan mama sudah bilang. Kamu sarapan di atas saja." ucap Nyonya Ane sembari melirik dengan tatapan sinis pada Denis.


Merasa di salahkan, Denis segera membuka suara. "Hana sendiri yang ngeyel tan." bela Denis.


"Sudah lebih baik. Hana bosan ma di kamar terus." ucap Hana.


"Hana sedang tidak enak badan jeng. Makanya saya suruh menginap di sini saja." jelas Nyonya Ane.


Ella berdiri tak jauh dari Hana, Egi sedikit meringsek mendekati Ella. "Cepat sekali mandinya." bisik Egi.


Ella menaikkan alisnya. "Tapi tetap cantik." timpal Ella.


"Bagaimana?" tanya Egi.


"Apa?"


"Tawaranku waktu itu."


Mereka berdua bicara dengan berbisik-bisik. Vano yang sedari tadi menahan rasa kesalnya, kini sudah tidak bisa menahannya lagi. Segera dia melangkahkan kaki mendekati Ella.


"Sayang." ucap Vano sedikit keras dan merangkul pundak Ella. Sedikit mendorong tubuh Egi untuk menjauh dari Ella. Ella memutar matanya jengah.


"Ya sudah, kita ke ruang makan saja. Cacing di perut sudah berdemo." canda Tuan Haris.


Nyonya Ane dan Tuan Haris menjamu tamunya dengan baik dan sopan.


"Silahkan, jangan sungkan-sungkan." Nyonya Ane mempersilahkan para tamu untuk mengambil makanan yang tersaji di meja makan.


Mereka semua makan tanpa bersuara sedikitpun. Hanya pandangan mata Egi dan Vano yang sesekali bertabrakan. Karena keduanya penasaran.


Apakah rival mereka juga memandang ke arah wanita yang mereka sukai.


*****


Pagi-pagi sudah bertamu. Untung saja nggak bertamu ke rumah author.


Kalau bertamu ke rumah author sepagi itu, author malah senang... 😁😁


Lumayan, tenaga gratis. Bisa bantu-bantu bersih rumah.


Canda tenaga gratis....🤭🤭


Tapi kalau ada yang mau, author nggak nolak.

__ADS_1


Teman-teman ada yang minat, bertamu ke rumah author sepagi itu. Silahkan... Pintu terbuka luebarrrr 😅


__ADS_2