
Vano berjongkok. "Jadi, jika aku melepaskanmu. Maka kamu berjanji untuk menyimpan foto-foto itu?" tanya Vano dengan lembut. Dan dengan bodohnya, orang tersebut mengangguk penuh keyakinan.
Dirinya sangat yakin, jika Vano akan melepaskannya. Karena rasa takut dari ancamannya. Vano, takut karena ancaman.
"Untuk siapa kamu bekerja?" tanya Vano. Berdiri dan duduk di kursi single yang empuk. Mengangkat salah satu kakinya, dan menaruhnya di atas kakinya yang lain.
"Ti-tidak ada." ucapnya.
Vano masih berada di markas. Menyelesaikan pekerjaan. "Saya akan menghubungi teman saya. Menyuruhnya untuk menghapus semua foto anda sekarang." ucapnya dengan yakin dapat bernegosiasi dengan Vano.
"Baiklah, setelah itu. Apa yang aku dapat?" tanya Vano memainkan pena di tangannya.
"Anda tidak perlu khawatir lagi." ucapnya tersenyum.
"Silahkan telepon teman kamu." suruh Vano tersenyum misterius.
"Halo." ucapnya saat panggilan teleponnya diangkat oleh temannya. Seketika matanya menatap ke arah Vano dengan perasaan takut. Hingga ponsel yang di pegangnya jatuh.
"Kamu." ucapnya dengan nada bergetar. Vano tersenyum licik.
Saat menelpon temannya. Dirinya mendengar jeritan penuh siksa dari temannya tersebut. Dan dia yakin, Vano yang melakukannya.
Matanya memandang ke ponselnya yang terjatuh. Berniat mengambilnya.
"Aaa..." teriaknya saat kaki Vano menginjak telapak tangannya yang hendak mengambil kembali ponsel miliknya di lantai.
"Tolong jangan kamu sentuh temanku. Dia tidak tahu apa-apa." ucapnya dengan menahan rasa sakit.
"Sayangnya aku bukan pria dermawan yang akan mengabulkan permintaanmu." sarkas Vano.
"Aaa..!!" teriaknya saat kaki Vano menendang tepat di dagunya. Membuatnya tersungkur ke lantai.
"Seharusnya kau tahu, konsekuensi apa yang akan kamu dapat. Berani mengusik kehidupanku." sarkas Vano.
"Aaaa...!!! dengan kakinya, Vano kembali menendang perutnya.
"Ampuni saya, saya hanya mencari makan." ucapnya memohon.
Vano tertawa, membuat semua orang di dalamnya merasakan rasa takut. "Mencari makan. Kamu tidak lebih dari anjing."
Tangan Vano mengangkat kerah bajunya. Memukulnya tepat di hidung. Membuat darah seketika mengucur dari dalam hidung.
"Katakan padaku, apa keinginanmu yang terakhir." geram Vano. Membuat bulu kuduk seketika meremang, merasakan rasa takut.
"Biarkan aku keluar dari sini Tuan. Ampuni aku." mohonnya, dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Keluar dari sini?" tanya Vano dengan nada lembut dan senyum baik. Dengan cepat Vano merubah ekspresi wajahnya.
"Iya." dengan segera dia menjawab.
Vano berdiri. Menatapnya dengan tatapan remeh. "Larilah." seru Vano.
"Larilah sekuat tenaga. Agar aku tidak bisa menemukanmu lagi." teriak Vano.
"Setelah ini, aku akan membalasnya." batinnya untuk membalas dendam. Meski bagaimanapun, dirinya tidak terima atas perlakuan Vano terhadapnya.
Dorr... dorr... Belum sempat langkahnya sampai di depan pintu, timah panas menembus kedua kakinya. Membuat badannya terjatuh.
"Sayang sekali. Padahal aku sudah memberimu satu kesempatan untukmu berlari keluar dari tempat ini. Tapi peluru di dalam pistolku terlalu cepat melesat." Vano meniup ujung pistol miliknya.
Vano berjongkok di depannya. Menodongkan pistolnya tepat di dahi orang tersebut. "Ckkk,,,ckk,,,ckk,,, dendam mu padaku tak akan pernah terlaksana." ucap Vano lirih, namun terdengar menakutkan.
Seakan Vano mengetahui apa yang ada di dalam otaknya. "Kalian, masukkan dia ke penjara. Biarkan dia mati perlahan karena kehabisan darah." Vano berdiri.
Doorr,, doorr,,
Sebelum meninggalkan tempat, Vano kembali menembakkan pistolnya. Kini kedua tangan orang tersebut yang menjadi sarang dari timah panas tersebut.
"Iblis." ucapnya merintih, menahan rasa sakit. Karena kedua kaki tan kedua tangannya terkena peluru.
Vano masuk ke dalam ruangannya. Menunggu seseorang di sana.
"Tuan, Rio ingin bertemu." ucap Reza. Yang menandakan jika asisten dari Tuannya sudah sampai di tempat ini.
"Cari untuk siapa dia bekerja." perintah Vano pada Reza.
"Baik."
Seseorang lelaki tampan, tak terlihat sedikitpun kebengisan dari wajahnya masuk ke dalam ruangan Vano.
Bahkan wajahnya terlihat seperti seorang lelaki pendiam yang manis. Tapi siapa sangka dia adalah salah satu asisten Vano. Selain Reza.
__ADS_1
Rio. Seorang lelaki yang sama kejamnya dengan Vano. Tapi tertutupi dengan wajahnya yang baby face.
"Tuan." sapanya pada atasannya tersebut, sedikit membungkukkan badan.
Vano menatap ke arah Rio dengan tatapan yang rumit. "Bekerjalah dengan baik. Jangan mengecewakan." ucap Vano dengan ujung mata melirik ke arah Reza yang tertunduk.
"Aku membayarmu dengan mahal." imbuhnya.
Reza sadar jika ucapan Vano ditujukan padanya. Karena akhir-akhir ini, Reza selalu tidak bisa menjalankan semua perintah Vano dengan baik.
"Fokuslah dengan apa yang aku perintahkan. Sementara, Rio yang akan bersama denganku." ujar Vano.
"Baik." ucap Reza.
Tampak Rio tersenyum miring menatap ke arah Reza. "Elo gagal." seperti itulah kiranya pandangan mata yang ditujukan pada Reza.
Reza menggenggam erat telapak tangannya. Meninggalkan ruangan Vano. Reza tidak akan menyalahkan atas sikap atau keputusan yang di ambil oleh Vano.
Bukan salah Vano memanggil Rio kembali. Dan menyerahkan perusahaannya di sana pada bawahannya yang lain.
Sekarang Reza akan lebih fokus pada perusahaan dan beberapa masalah di organisasi. Dan juga mencari dalang di balik tersebarnya foto Vano dan ****** di bar tersebut.
Dirinya berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tidak akan Reza biarkan Rio mengejeknya kembali. Apalagi tersenyum remeh pada dirinya.
Vano dan Rio berjalan ke ruangan dimana ada banyak layar seperti televisi dan juga keyboard. Sementara Reza segera kembali ke perusahaan. Menyelesaikan pekerjaan Vano yang terbengkalai.
Dengan segera Rio mencari keberadaan Nyonyanya. Jarinya dengan lincah bergerak di atas keyboard. Dan mata Vano, memandang ke arah layar besar di depannya.
"Berhenti." ucap Vano. Jari Vano menunjuk ke sebuah titik. Mengerti dengan kemauan sang atasan, Rio segera memusatkan pencarian di titik yang sudah Vano tunjukkan.
"Stop." pinta Vano.
"Daerah apa itu?" tanya Vano.
"Hutan." jawab Rio.
Entahlah, hanya Vano dan Rio yang tahu bagaimana cara mereka menemukan Ella. "Kelihatannya Nyonya pergi bersama temannya." ucap Rio.
Ponsel Vano berdering. "Bagaimana?" tanya Vano pada Reza lewat ponselnya.
Vano mematikan panggilan telepon dari Reza setelah sang asisten mengatakan keberadaan kedua sahabat Ella. Denis dan juga Vano. Tak lupa, Reza juga menyebut keberadaan Hana.
Ketiganya sedang tidak bersama dengan Ella. Malah ketiganya juga tidak tahu keberadaan sang model. Vano mencengkeram sandaran kursi di kursi, sampai terdengar suara seperti cakaran.
Mereka seperti berada di dalam sangkar hewan buas, yang sewaktu-waktu bisa memangsa mereka.
Segera Rio bangun dari duduknya. Berdiri di samping Vano. Tatapan Vano tetap mengarah pada layar di depannya.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Siapa yang menemanimu?" batin Vano.
Segera Vano meninggalkan ruangan tersebut. Vano seperti orang kesetanan mengemudikan mobil ke tempat yang sudah Rio katakan.
Vano benar-benar tidak bisa menahan emosinya yang bercampur penasaran. Diikuti oleh Rio dan beberapa bawahannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ella menghentikan langkahnya, melihat sesuatu yang menarik di matanya. Membuat Ditya juga berhenti. Mata Ditya mengikuti ke mana arah pandangan Ella.
Seekor elang yang sedang berkelahi dengan seekor ular. Inilah hukum alam. Yang lemah, pasti akan kalah dengan yang kuat. Siapa yang menang, pasti akan menjadi raja.
Ella terus memandang ke arah kedua binatang yang sedang berduel sengit. Seolah kedua binantang tersebut tidak terusik dengan kedatangan kedua anak manusia tersebut.
Melanjutkan pertarungannya. Seolah sama-sama ingin menjadi pemenang. Dan pastinya akan tetap bernafas.
Ella melepas ranselnya. Duduk santai menikmati perkelahian kedua binatang tersebut. Sama halnya dengan Ditya. Dia juga mengikuti Ella. Duduk di samping Ella.
Mata Ella tak lepas dari kedua binantang tersebut. Berbeda dengan Ditya, mata Ditya terkunci pada wajah cantik Ella. Bak patung dewi Yunani masa dulu. Wajah sempurna.
Ditya dengan teliti mengamati satu persatu wajah Ella. Dagu dengan rahang yang sempurna. Bibir sedikit tebal berwarna merah yang seksi. Hidung mancung menjulang melebihi bibir.
Mata dengan bola mata berwarna biru keabu-abuan. Serta bulu mata yang lentik, dan sangat indah di pandang saat bergerak mengikuti pergerakan mata sang empunya.
Apalagi rambut panjang Ella yang di kuncir ke atas menjadi satu. Membuat leher jenjang dan putih terpampang jelas di depan mata Ditya.
Ingin sekali bibir Ditya merasakan semuanya. Menggigit dagu Ella. Mencium dan ******* bibir seksi, memporak-porandakan rongga mulut Ella dengan lidahnya.
Menggesekkan hidungnya di hidung mancung milik Ella, mencium lembut kedua bola mata Ella. Dan tentunya, memainkan lidahnya di leher jenjang dan putih milik sang model.
"****." umpat Ditya dalam hati.
"Jaga pandanganmu Tuan, jika tidak ingin terkena bisa ular. Atau terpatuk paruh elang." ucap Ella dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Ditya tertawa pelan. Suara seksi milik Ella membangkitkan gairahnya.
"Kamu benar-benar sempurna sayang. Sumpah, sepertinya kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan. Dan itu semua adalah kebenaran." ucap Ditya, dengan tangan memainkan ujung rambut Ella.
"Singkirkan tanganmu, atau aku buat kamu menjadi lelaki tampan yang buntung." desis Ella.
Bukannya tersulut emosi, Ditya malah tersenyum. "Terimakasih, karena kamu mengakui aku tampan. Aku sangat tersanjung." ucap Ditya senang.
Perkelahian kedua hewan di menangkan oleh burung Elang. Sementara ular saat ini tengah berada di genggaman cakar sang elang. Di bawa terbang bebas.
Kepala Ella menengadah, melihat Elang terbang bebas di atas dengan ulat di kakinya. "Inilah hukum alam." ucap Ella.
Karena ular pasti akan menjadi makanan untuk sang pemenang. Elang.
Ingin sekali Ella menembak mati burung Elang, membalas kekalahan ular. Tapi niatnya terurungkan. Karena ada sosok Ditya di sampingnya. "Menyebalkan." dengus Ella dengan nada tidak senang.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan baby." ucap Ditya, seolah mengetahui apa yang sedang ada dalam pikiran Ella.
Ella memandang tajam ke arah Ditya. "Jaga lidahmu saat berucap. Tuan." sinis Ella. Sungguh, panggilan yang di berikan Ditya pada dirinya sangat mengganggu telinganya.
"Baiklah, jika kamu tidak senang dengan panggilan itu. Maka, katakan." Ditya melangkah satu langkah, lebih mendekat ke tubuh Ella.
Dan Ella, tetap diam dengan dagu terangkat. Menampakkan sikap angkuh dan sombong. Sayangnya, Ditya malah semakin menyukainya.
"Katakan, apa panggilan yang kamu inginkan." ucap Ditya lirih, tepat di depan wajah Ella. Bahkan, Ella dapat merasakan aroma mint dari mulut Ditya.
"Kita tidak sedekat itu." ucap Ella dengan tatapan tajam, menghunus ke arah Ditya.
"Tidak dekat." Ditya tersenyum miring.
"Apakah ini juga kurang dekat." Ditya dengan berani meraih pinggang Ella.
Tetapi dengan gesit, Ella mencekal lengan Ditya dan membalikkan badan Ditya. Mendorong dan menendang tubuh Ditya bagian belakang. Membuat tubuh Ditya terhuyung ke depan.
"Jaga batasanmu. Jangan lupa, siapa perempuan yang ada di depanmu Tuan." seru Ella.
Ditya menggerakkan lengannya yang terasa sakit karena Ella. "Kuat juga tenaganya." batin Ditya dengan menggerakkan lengannya memutar.
Ditya tertawa mengerikan. Tapi terlihat Ella sangat tenang menghadapi lelaki seperti Ditya. "Sumpah, aku semakin bersemangat membawamu ke ranjang. Membuatmu men-des-ah di bawah tubuhku." ucap Ditya menyeringai.
"Dalam mimipimu." ucap Ella tanpa rasa takut.
Sebelumnya, Egi sempat menghubungi Ella. Memberitahu Ella jika Ditya lelaki yang berbahaya. Dan sekarang, target Ditya adalah dirinya. Apalagi selama ini, belum pernah ada seorang perempuan yang berani menolak Ditya.
Ditya memejamkan matanya. Mencoba menguasai emosinya yang tidak stabil. Tidak ingin Ella semakin menjauh darinya.
"Kelihatannya matahari mulai mengurangi cahayanya. Apa kamu berniat untuk bermalam di sini?" tanya Ditya santai.
Seolah tidak terjadi sesuatu barusan di antara keduanya. "Dia benar-benar pandai mengendalikan emosi." batin Ella.
Ella mengakui kehebatan Ditya mengendalikan emosi. Dan Ella juga tahu, jangan pernah menganggap remeh seseorang yang dengan mudah dapat mengendalikan emosinya.
Kerena sungguh, dia orang yang sangat berbahaya.
"Aku akan menemanimu. Bagaimana?" tanya Ditya mengangkat kedua bahunya.
"Suamiku akan kedinginan malam ini. Jika selimutnya berada di sini." ucap Ella. Melangkah meninggalkan Ditya.
"Suami. Istri. Persetan dengan ikatan itu." geram Ditya. Segera berjalan mengikuti Ella.
"Lepas." Ella menghentakkan tangan Ditya yang mencekal lengannya.
"Oke" Ditya mengangkat kedua tangannya ke atas.
Ella dan Ditya sama-sama terdiam. Keduanya seolah mengetahui jika ada suar mobil yang mendekat.
Ditya tersenyum misterius pada Ella. "Aku pergi dulu. Sampai bertemu lain waktu baby." pamit Ditya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Menjijikkan." desis Ella.
Ella yakin, Ditya juga menyadari ada suara mobil yang semakin mendekat ke arah mereka. Dan dia tidak ingin satu orangpun mengetahui keberadaannya.
"Ckk.." lidah Ella berdecak. Menurunkan ranselnya, dan melepaskan jaket yang dia gunakan. Menjatuhkan jaketnya ke tanah dan menginjak-injaknya.
Menyamarkan wangi dari Ditya yang sempat menempel di tubuhnya. Lalu memasukkan jaketnya ke dalam ransel.
Karena dia yakin, Vano dan anak buahnya sedang menuju ke tempat ini. Ella memasangkan helm ke kepalanya. Dan menaiki motornya.
Melajukan motor untuk kembali ke rumah. Yang artinya, dia akan berpapasan dengan Vano.
Ditya yang bersembunyi di balik pohon tersenyum melihat tindakan Ella. "Benar-benar perempuan cerdik." gumam Ditya melihat Ella mengotori jaketnya, agar tidak tercium harum parfumnya.
__ADS_1
"Sangat indah." imbuh Ditya melihat Ella menaiki motornya tanpa menggunakan jaket.
Menampakkan lekuk tubuh Ella yang hanya memakai kaos berlengan pendek berwarna ungu