
Viki menatap ke arah pintu. Dimana Vano dan Reza baru saja masuk. "Ada apa ini sebenarnya." batin Viki.
Sementara Reza duduk di sebelah Denis. Bertanya, meski sekedar berbasa-basi. Tapi tidak dengan Vano. Dia bahkan tidak melihat ke arah Denis dan yang lain. Vano melenggang masuk ke dalam kamar dengan wajah datar.
"Non Ella berpesan, sebisa mungkin jangan sampai Tuan Vano bisa keluar dari apartemen ini. Atau rencana Non Ella semua akan berantakan." ucap Reza lirih setelah memastikan jika Vano sudah benar-benar masuk ke dalam kamar.
Sejak pagi Reza selalu mengikuti kemana Vano pergi. Sejak pagi juga Reza selalu menggagalkan niat Vano ingin bertemu dengan Ella.
Bahkan hari ini Reza berani tidak menjalankan perintah Vano. Dan pastinya membuat Vano marah. Tapi Reza tidak kehilangan akal. Dirinya selalu menggunakan nama Ella sebagai balasan dari setiap kemarahan Vano untuk dirinya.
Dan nama Ella sangat ampuh untuk meredam emosi Vano yang sedang membuncah.
Reza menyenderkan badannya ke kursi. "Hari ini pasti berat banget ya brow." ucap Denis seakan mengerti keadaan Reza.
"Elo pasti bisa menebaknya. Apalagi elo lihat sendiri raut wajah Tuan." ujar Reza dengan lemas.
Tiba-tiba layar di depan mereka menyala. Yang berarti Ella telah membawa Jo masuk ke dalam apartemennya.
Denis berjalan mendekat ke arah Viki. "Vik, elo lihat dengan benar apa yang ada di sana." Denis menunjukkan layar seperti televisi di depan mereka.
"Apa perlu memanggil Tuan Vano?" tanya Hana pada Reza.
"Tidak perlu." jawab Reza singkat.
Hana mengedikkan bahu dan berfokus untuk melihat apa yang ada di depannya. Reza berpikir, tidak baik untuk Vano terlalu lama melihat Ella bersama dengan Jo.
Pasti Vano tidak akan tahan. Dan akan menemui mereka di apartemen Ella. Sementara Ella sudah berpesan pada Reza untuk sebisa mungkin menahan Vano di sana.
Dan sekarang Reza tengah berpikir, bagaimana caranya. Dan menggunakan cara apa untuk menahan Tuannya.
"Itukan,,, Jo dan Ella. Jo bilang sedang sibuk. Makanya tidak bisa bertemu dengan gue. Tapi,,, kenapa,,,, dia bersama Ella. Di dalam apartemen Ella." batin Viki melihat video di depannya.
Ingin sekali Viki berteriak dan bertanya. Tapi apalah daya. Mulutnya masih tersumpal kain. Yang menjadikannya hanya bisa diam.
"Elo duduk dulu. Gue ambilin minum." ucap Ella pada Jo.
Ella kembali dengan dua kaleng minuman di tangannya. "Jo." seru Ella melempar satu kaleng minuman dingin pada Jo.
"Makasih cantik." ucap Jo dengan tangan menangkap kaleng minuman yang di lemparkan oleh Ella.
Ella meneguk minumannya dan menaruhnya di atas meja. "Viki tahu kan kalau elo di sini?" tanya Ella sambil menggelung asal rambutnya menjadi satu. Memperlihatkan leher jenjang dan mulus miliknya.
__ADS_1
"Tahulah. Gue udah bilang sama Viki, jika gue di sini." Jo meneguk minuman kaleng yang di berikan Ella sampai tandas. Dengan mata memandang ke arah leher Ella yang begitu menggoda dirinya.
"Ingin sekali bibir ini bermain di leher itu." batin Jo.
Membuat Viki yang sedang memperhatikan dari tempat lain mengerutkan dahi. Karena Jo sama sekali tidak mengatakan padanya jika dia sedang bersama dengan sahabatnya. Ella.
Ella mengibas-ngibaskan tangannya. "Panas banget sih. Padahal AC udah gue nyalain." ucap Ella.
"Gue ke dalam sebentar. Ganti baju. Sumpah gerah banget." ucap Ella.
"Oke."
Ella berjalan menuju kamar sambil tersenyum. Ella ingat perkataan Reza jika di dalam kamar Ella, Reza meletakkan beberapa CCTV tersembunyi. Hanya kamar mandi yang tidak ada.
Ella masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Tengtop dengan memperlihatkan pusarnya dan belahan dada yang sangat nyata. Dengan hotpen memperlihatkan paha mulusnya.
Ella berdiri di depan cermin. Membenahi rambutnya. Ella tersenyum saat melihat dirinya di cermin. "Astaga, gue sudah kayak pela**r saja." gumamnya.
"Gue udah kayak gini. Awas saja jika Viki masih mempertahankan dia." ucap Ella.
Di luar Jo nampak sangat gelisah. Berdiri duduk. Berdiri duduk, melakukannya berulang kali. Seperti ingin melakukan sesuatu, namun juga ada pikiran enggan untuk melakukannya. Entah, karena takut atau karena bingung.
"Ahhh,,,, masa bodo dengan semuanya. Kesempatan tidak datang dua kali." Jo melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Ella.
Bahkan Viki sudah menggenggam erat telapak tangannya yang terikat. Ingin sekali dia berteriak dan berontak.
Ella mengintip dari balik pintu kamar mandi. Senyum Ella mengembang saat dirinya melihat Jo berada di dalam kamarnya.
"Loh Jo,,, ada apa?" tanya Ella seolah-olah tidak tahu.
"Maaf, anu." Jo menjadi bingung dan kikuk.
"Santai saja. Biasanya Viki juga masuk ke sini kok." ucap Ella membuat Jo menjadi tenang..
Ella duduk di tepi ranjang, menaikkan kakinya dan memakaikan lotion di kakinya. Membuat kaki mulus milik Ella terekspos dan terlihat sempurna. Dan Jo menatap Ella seperti serigala yang menatap mangsanya.
Jo mendekat dan duduk di samping Ella. "Ell, ada yang ingin gue bilang." Jo mencoba menahan sesuatu yang menggebu-gebu di dalam tubuhnya.
Ella dengan santai meletakkan lotion di tangannya. "Apa?" tanya Ella menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Jo. Menaruh dagunya di pundak Jo.
Jo terdiam, memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam wangi tubuh Ella dan lotion yang di pakai Ella.
__ADS_1
"Jo...!!" seru Ella saat tubuhnya tiba-tiba di dorong oleh Jo. Dengan posisi Ella berada di bawah. Dan Jo di atas Ella.
"Jangan buat ge takut." Ella menyingkirkan tubuh Jo dan segera berdiri. Jo segera duduk dan memandang ke arah Ella.
"Ada apa Jo. Apa kamu punya masalah sama Viki?" tanya Ella dengan posisi berdiri dan bersedekap.
"Sumpah, ingin sekali gue patahkan lehernya." batin Ella tersenyum palsu pada Jo.
Ella mencoba memancing supaya Jo berkata sesuatu yang akan mengungkap semuanya. "Tenang saja Jo, gue akan berusaha supaya elo dan Viki bisa hidup bersama." ucap Ella berpura-pura memijat leher bagian belakangnya.
Ella memijat sambil berdiri dan mengeluarkan suara yang sedikit mendesah. Beberapa kali Ella sengaja menggerakkan kepala dengan gaya seksi disertai lenguhan.
Membuat Jo semakin terpancing untuk mengajak Ella ke atas ranjang dan bermain bersama dengan dirinya.
Di apartemen Vano, semua melihat dengan sedikit menahan nafas. Dan beruntung Vano belum keluar dari dalam kamar. Entah apa yang sedang Vano lakukan di dalam.
Dan Viki mengeraskan rahangnya melihat bagaimana Jo menatap Ella dengan penuh damba dan bernafsu.
Denis mendekat ke arah Viki. "Elo lihat. Ella melakukan semua ini demi elo." bisik Denis. Viki yang mendengarnya langsung menatap penuh tanya ke arah Denis. "Demi gue." batin Viki penasaran. Ada apa ini sebenarnya.
"Jo,,," panggil Ella dengan nada menggoda. Tapi Jo masih diam dan memandang ke arah Ella.
"Elo tenang saja. Di luar negeri sudah banyak negara yang menerima pernikahan sejenis. Untuk berita yang akan beredar di sini. Gue yang akan mengurusnya. Gampang." tukas Ella.
"Soal orang tua Viki. Biar gue yang berbicara. Gue akan mencoba berbicara dan memberi pengertian pada mereka. Tenang saja, mereka pasti akan mengerti."
Ella berjalan mendekat ke arah Jo. Sedikit menundukkan badan. Kedua tangannya memegang pundak Jo. "Tenang saja. Serahkan semua sama gue." ucap Ella.
Dengan susah payah Jo menelan ludahnya. Bagaimana tidak, sekarang di depannya. Bahkan sangat dekat dengan kedua matanya. Dua bukit kembar milik Ella seakan memanggilnya.
Bahkan jika tangan Jo menggapainya, pasti akan sampai. Pikiran-pikiran kotor bertebaran di pikiran Jo. Apalagi dengan pakaian yang melekat di tubuh Ella. Membuat nafas Jo semakin tidak karuan. Ditambah bau wangi yang ada di dalam kamar Ella.
"Elllllaaaaaa." teriak seseorang.
*****
Jo,,,, apa Jo akan membuka mulutnya.
Apa Ella akan berhasil menjalankan rencananya.
Eitssss.... Siapa yang berteriak memanggil nama Ella.
__ADS_1
Waduh,,, jangan-jangan.....🤔🤔