DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 216


__ADS_3

Apa maksud mama?" tanya Nyonya Risma pada sang mama saat Oma Yeti meminta Lena dirawat secara pribadi di rumah Nyonya Risma.


"Aku akan menyewa perawat. Untuk menjaga Lena dua puluh empat jam. Jadi kamu tidak perlu khawatir." ucap Oma Yeti.


"Tidak. Aku tidak akan pernah mengizinkan." kekeh Nyonya Risma.


"Lena itu gila ma. Aku tidak akan bisa tinggal dengan nyaman di rumahku sendiri, jika ada orang gila di dalamnya." imbuh Nyonya Risma.


"Jaga ucapanmu Risma. Dia tidak gila. Lena hanya tertekan." sarkas Oma Yeti dengan nada tidak terima.


Oma Yeti sudah membawa Lena untuk di rawat di rumah sakit miliknya. Dan ditangani oleh dokter yang ahli di bidangnya.


Dokter berkata jika Lena mengalami tekanan mental. Karena mengalami atau melihat sesuatu yang membuat jiwa dan mentalnya terguncang.


Sehingga membuat Lema merasa ketakutan luar biasa saat kejadian itu terlintas di kepalanya. Menyebabkan Lena berteriak histeris. Bahkan terkadang menangis dan tertawa bersamaan.


Dan dokter juga berkata jika membutuhkan waktu yang panjang untuk Lena dapat sembuh. Atau bisa berinteraksi seperti sedia kala. Asal mendapat perawatan yang baik dan tepat.


"Berikan semua harta mama. Pasti Lena akan segera sembuh." cibir Nyonya Risma.


"Risma!!" bentak Oma Yeti dengan kedua mata membulat sempurna.


Baginya, dengan keadaan Lena yang seperti ini malah menjadi kabar baik untuknya. Dengan begitu, Oma Yeti akan menjauh dari Lena. Tapi siapa sangka, semuanya tidak seperti dugaan Nyonya Risma.


Keadaan Lena malah memperparah keadaan. Jika sampai Oma Yeti menghabiskan seluruh kekayaannya untuk mengobati Lena, tidak menjadi masalah untuk Nyonya Risma.


Karena dirinya tidak akan pernah kekurangan uang. Seandainya sang mama ikut hidup bersamanya. Tapi semua itu mustahil, karena kekayaan Oma Yeti tak akan habis meski digunakan untuk biaya pengobatan Lena.


Yang menjadi masalahnya adalah, sang mama malah semakin memperhatikan Lena. Bahkan abai dengan kesehatannya sendiri. Seakan lupa jika kesehatannya juga perlu diperhatikan.


"Aku tidak perlu meminta izin padamu." sarkas Oma Yeti.


"Baiklah, rawat Lena. Risma tidak akan pernah melarang. Terserah, sekarang Risma tidak akan mencampuri semua urusan mama. Tapi jangan pernah membawa Lena untuk masuk ke dalam rumahku." tegas Nyonya Risma tak terbantahkan.


Sudah cukup kesabaran Nyonya Risma selama ini menghadapi sang mama yang kelewat keras kepala.


"Kamu mengusir mama!!??" tanya Oma Yeti dengan nada skeptis.


"Mama cukup pandai untuk mengerti dan menelaah perkataan Risma. Tanpa harus Risma jelaskan." ucap Nyonya Risma.


"Bukankan keluarga kita memang memiliki keturunan dengan kecerdasan yang tinggi. Setidaknya, kita dapat membedakan sesuatu." sindir Nyonya Risma, masih berdebat dengan Oma Yeti.


"Kita pergi dari sini. Kemasi semua pakaianku." perintahnya pada bawahannya. Oma Yeti memandang sinis kepada sang anak.


"Baik." ucapnya, segera melakukan perintah dari majikannya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Oma Yeti membalikkan badan. Meninggalkan rumah anaknya. Menunggu bawahannya yang mengambil pakaian miliknya di teras rumah.


"Jaga Oma. Jika terjadi sesuatu, cepat beritahu padaku." ucap Nyonya Risma saat bawahan Oma hendak meninggalkan rumahnya, membawa pakaian Oma Yeti.


"Baik Nyonya." ucapnya. Sebenarnya dirinya juga tidak suka dengan majikannya yang begitu peduli dengan Lena. Karena Lena perempuan angkuh dan sombong. Sikapnya semena-mena dan sangat tidak tahu sopan santun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Segera Ella pergi ke dalam kamar. Mengambil laptop yang dia sembunyikan. Ella duduk di atas tempat tidurnya dengan duduk bersila. Tangannya mulai menyalakan laptop.


"Sudah selesai. Saatnya melihat hasilnya." ucap Ella.


Mata Ella melihat layar laptop di depannya. Senyum di bibirnya langsung pudar. Nafasnya seketika memburu dengan rahang yang mengeras. Melihat semua yang ada di layar laptopnya.


Meski dalam keadaan gelap, sebagai orang dewasa Ella bisa menebak apa yang terjadi. "Kalian." ucap Ella memejamkan mata. Menahan amarah yang sudah membuncak.


Dadanya terasa begitu sakit dan sesak. Di khianati oleh dua orang yang di percaya. Dua orang yang selama ini berada dalam hidupnya.


Darahnya berdesir hebat. Tubuhnya seketika melemas dengan tangan terkepal sempurna. Ella memukul dadanya yang terasa sakit. Seakan nafasnya berhenti. Semakin keras dipukulnya, semakin hebat badannya bergetar.


Tidak ada air mata. Entah karena syok, atau memang air matanya mengering seketika. Melihat kejadian yang sangat membuat hatinya terpukul. Kejadian yang akan selamanya membekas dalam ingatan dan hatinya.


Ella menutup laptopnya. Menerawang jauh ke depan. Meski Ella tahu, jika keduanya melakukan hal tersebut karena terjadi sesuatu pada tubuh Vano.


Karena Ella dapat melihat, Vano masuk ke dalam apartemennya dengan keadaan tidak baik-baik saja. Atau lebih tepatnya seperti menahan sesuatu. Dan telinga Ella juga mendengar dengan jelas suara jeritan dari Hana, saat Vano memaksanya.

__ADS_1


Satu hal yang sangat membuat Ella merasa begitu terpukul. Kenapa mereka tidak berterus terang. Kenapa mereka malah menyembunyikan semuanya dari dirinya


Apalagi Ella melihat jika waktu kejadian, sebelum dirinya dan Vano melangsungkan pernikahan. Sekitar seminggu sebelum kalimat sakral dari Vano terlontar dari mulutnya. Menjadikan Ella sebagai orang yang sepenuhnya menjadi milik dari Vano.


Dengan ekspresi wajah datar, Ella menuruni ranjang dengan seluruh badan bergetar. Berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan perlahan. Serasa kakinya seperti jely, tidak punya kekuatan untuk menompang badannya.


Badan Ella ambruk di tengah perjalanan. Nafasnya masih tersengal. Antara ingin marah dan menangis. Tapi dia sendiri tidak tahu apa yang ingin dilakukan.


Bahkan setetes air matapun sedari tadi tidak keluar dari kedua bola matanya. Ingin berteriak, meluapkan emosi, tapi seakan suaranya tertelan hilang.


Dengan tertatih, Ella kembali berjalan menuju ke kamar mandi. Menyalakan shower dengan duduk tersungkur di atas keramik. Mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower, tanpa melepas pakaian yang melekat di badannya.


Hal yang sejak tadi dia lakukan, hanyalah ingin menangis. Ella berharap air mata yang akan keluar bisa meredam rasa sakit di hatinya. Meski hanya sedikit.


"Aaaaaa!!!!" teriak Ella sekuat tenaga, memukul keras tembok di depannya. Nafasnya memburu, manakala rasa sakit di hatinya tersalurkan.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan." gumamnya dengan lirih.


"Apa kurang selama ini aku berkorban. Apa lagi yang ingin Kau tunjukkan pada makhluk Mu ini." ucapnya.


"Jawab!!!!" air mata yang tak keluar sedari tadi, akhirnya menetes di pipi mulusnya.


Ella menyandarkan badannya di tembok kamar mandi, dengan tetap duduk dengan kaki berselonjor. Air matanya kali ini seakan keluar dengan deras tanpa henti dari kedua matanya.


"Apa bisa, aku berpura-pura tidak tahu. Apa bisa aku seperti kalian, berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Apa bisa aku menatap mata kalian berdua." ucapnya dalan isak tangis.


"Apa bisa aku melanjutkan hidup dengan perasaan seperti ini. Apa bisa..... hiks,, hiks,,"


"Tuhan. Apa yang harus aku lakukan."


Sekitar lebih dari satu jam Ella berada di dalam kamar mandi. "Aku tidak bisa seperti ini." ucap Ella berdiri dengan perlahan.


Mematikan kran showernya. "Hidup terus berjalan. Semua tidak akan baik-baik saja jika aku hanya diam."


Ella mengeringkan badannya. Segera ia mengganti pakaiannya. Pandangan matanya tak lepas dari laptop yang berada di atas ranjang tempat tidurnya.


Lantas berdiri di depan kaca. Melihat penampilannya dari pantulan kaca. Tatapan matanya jatuh ke arah perutnya.


"Bisa kita bertemu?" tanya Ella pada Hana lewat sambungan telepon.


……………


"Di cafe biasanya kita bertemu." ucap Ella. Segera mematikan sambungan teleponnya dengan Hana, tanpa menunggu Hana berbicara terlebih dahulu.


Ella tidak lupa menggunakan kacamata warna hitam saat bertemu dengan Hana. Sebelum bertemu dengan Hana, Ella mengirimkan video tersebut pada email Vano.


"Kita akan lihat. Apa yang akan kamu lakukan, setelah ini." ucap Ella dengan tangan memakai kacamata.


"Nyonya." ucap Rio, saat Ella sudah memegang kunci mobil sport miliknya.


"Nyonya, biar saya yang mengantar." Rio mengekor di belakang tubuh Ella.


Tapi Ella tidak peduli, dia hendak masuk ke dalam mobil sport miliknya. Tapi Rio mencekal lengannya.


"Aaaa...!!!" teriak Rio, saat Ella memelintir tangan Rio dan menendang tubuhnya, hingga tersungkur ke bawah.


Ella hanya menatap sekilas ke arah Rio, tanpa mengeluarkan suara. Dan langsung masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya ke cafe, tempat dirinya dan Hana akan bertemu.


"Anda, tidak apa-apa?" anak buah Vano yang bertugas menjaga keamanan di sana segera membantu Rio.


Rio berdiri dengan memegang lengannya. "Sialan." umpatnya.


Segera mengejar Ella. Tidak mungkin. Tangan Rio tidak akan bisa digunakan untuk menyetir. Terasa sangat sakit.


"Ini." ucap yang lain, menyodorkan minyak pada Rio.


"Biar aku saja." ucap yang lain, mulai mengoleskan pada tangan Rio.


"Aaa.." seru Rio tertahan, karena merasakan sakit.


"Jangan pernah mendekat, bahkan menyentuh Nyonya. Jika beliau sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja." ucapnya, dan Rio hanya mendengarkannya.

__ADS_1


"Dia tampak seperti ibu peri dari luar. Dan dia akan berlaku baik jika hatinya sedang dalam suasana baik. Tapi jangan harap dia akan tetap seperti itu, saat dalam keadaan kacau, dan juga perasaan yang buruk."


"Dia bisa berubah menjadi monster yang sangat mengerikan dan menakutkan sewaktu-waktu. Bahkan dia tidak akan pandang bulu, untuk membuat nyawa seseorang melayang. Seperti sampah yang tak berarti."


"Kekuatannya ternyata sangat besar." gumam Rio, melihat ke arah lengannya.


"Itu belum seberapa. Nyonya bisa melakukan lebih dari ini." ucapnya sambil tersenyum, karena memang dirinya pernah melihat secara langsung bagaimana saat Ella benar-benar sudah beraksi.


"Sempurna, tapi sangat berbahaya." gumam Rio. Sontak rekan kerja yang berada di dekatnya yang mendengar perkataan Rio, hanya bisa tertawa pelan.


Dengan kecepatan tinggi, Ella mengendarai mobilnya ke cafe tempat dirinya akan bertemu dengan Hana.


Dengan langkah pasti, Ella melangkahkan kedua kakinya untuk masuk ke dalam cafe. Hana sudah datang terlebih dahulu. Terlihat dari mobil milik Hana sudah berada di depan cafe. Terparkir dengan rapi.


Hana melambai saat melihat sosok Ella memasuki cafe. Senyum Hana melebar, menyambut kedatangan Ella.


"Ada apa bumil. Ngajak ketemuan kok mendadak." tanya Hana.


"Ini, gue tadi udah pesankan elo minuman. Tenang saja, aman untuk ibu hamil."


"Sorry, gue pesankan dulu. Soalnya gue dah haus duluan. Tenggorokan gue kering." oceh Hana.


Tapi Ella hanya diam. Sejak duduk di kursi yang berada di depan Hana, Ella tidak mengeluarkan suara sepatah katapun dari dalam mulutnya.


Dan Hana menyadari sikap aneh dari sahabatnya tersebut. Apalagi Ella juga memakai kacamata hitam bertengger di pangkal hidungnya. "Ell,, elo baik-baik sajakan?" tanya Hana, hendak memegang telapak tangan Ella.


Tapi Ella segera menggeser telapak tangannya sebelum tersentuh oleh Hana. Membuat Hana mengernyitkan dahinya. Antara bingung dan terkejut dengan sikap yang ditunjukkan Ella padanya. Karena selama ini, Ella tidak pernah bersikap seperti ini.


"Ell...." ucap Hana lirih. Dengan tatapan mata sedih dan bingung.


"Apa terjadi sesuatu, sebelum pernikahanku dengan Vano di selenggarakan?" tanya Ella dengan nada datar. Ella hanya ingin mencoba membuat Hana menceritakan kejadian waktu itu dengan mulutnya sendiri.


Degg,,, "Kenapa Ella bertanya seperti itu?" batin Hana. Seketika badannya membeku. "Tidak mungkin, jika Ella mengetahuinya. Tidak mungkin." batin Hana.


Hana mencoba menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Mencoba menguasai dirinya. Tidak ingin membuat Ella sampai menaruh curiga pada dirinya.


"Terjadi sesuatu. Terjadi sesuatu bagaimana maksud kamu?" tanya Hana mencoba untuk bersikap tenang. Meskipun hatinya sedang bergemuruh dengan hebat.


"Oh iya Ell, bagaimana keadaan calon ponakan aku. Baik-baik sajakan?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan.


Ting.... terdengar ponsel Hana berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Hana.


"Buka." pinta Ella dengan dingin, saat Hana menatap ke arah layar ponsel miliknya.


"Buka, Nona Hana." ucap Ella terdengar menahan amarah. Karena pesan tersebut, dikirim oleh Ella.


"Ell." ucap Hana lirih. Karena memang sedari tadi sikap Ella sangat aneh. Membuat Hana merasa takut dan tertekan.


Ella berada di depannya. Lantas kenapa Ella malah mengiriminya sebuah video ke dalam ponsel miliknya.


Dengan ragu, Hana membuka pesan yang dikirimkan oleh Ella. Sebuah pesan yang menampilkan cuplikan video.


Mulut Hana seketika terbuka, dengan tatapan mata terkejut dan perasaan takut. Segera Hana mematikan video tersebut. Menaruhnya di atas meja.


Tampak raut wajah Hana yang bercampur. Antara takut, terkejut, dan juga sedih.


"Elll." Hana menatap ke arah Ella, sembari menggelengkan kepala.


"Sumpah demi Tuhan. Aku dan Vano sama sekali tidak...." Hana tidak melanjutkan perkataannya. Ada sesak di dada Hana mengingat kejadian malam itu.


Tapi sekarang, rasa sesak karena trauma tersebut lenyap seketika. Tergantikan rasa takut dengan apa yang akan dilakukan Ella.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Ella datar.


"Ell.."


"Kenapa kamu malah menutupinya dariku. Seakan semuanya tidak pernah terjadi." ucap Ella.


Entah bagaimana sekarang ekspresi Ella saat ini. Tidak ada yang bisa menebaknya. Dikarenakan Ella menutupi kedua matanya menggunakan kacamata berwarna hitam.


Ella sebenarnya sangat paham. Di sini, tidak ada yang bersalah. Baik Vano maupun Hana, keduanya tidak sengaja melakukannya. Bahkan keduanya tidak pernah menginginkan kejadian tersebut.

__ADS_1


Tapi Ella hanya merasa kecewa. Kenapa mereka tidak mengatakan yang sejujurnya pada dirinya. Mungkin, jika Ella di beritahu sejak dulu. Dirinya tidak akan merasakan sakit hati seperti sekarang ini.


__ADS_2