DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 222


__ADS_3

Reza mengambil nafas panjang, setelah apa yang di dengarnya dari sang dokter.


Jika Oma Yeti dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tubuh beliau harus di topang menggunakan alat medis, supaya dapat bertahan hidup.


Oma Yeti seperti tidak mempunyai keinginan untuk kembali membuka mata. Mungkin karena sang cucu tercinta meninggalkan dirinya, selamanya. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu akan hidup dan mati makhluk-Nya.


"Kalian jaga di sini. Jika ada apa-apa, segera beritahu aku." pinta Reza.


"Baik boss." ucap mereka lirih. Seakan tidak mempunyai semangat lagi untuk bekerja.


Mereka juga merasa kehilangan sosok Vano. Meskipun Vano terkenal tegas dan kejam dalam kepemimpinannya, tapi dia tidak pernah menghukum anak buahnya yang tidak bersalah.


Apalagi selama ini, mereka menghidupi keluarga mereka dari uang gaji, yang di berikan oleh Vano. Bahkan Vano juga sering memberi mereka bonus di setiap pekerjaan mereka.


Jika mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan membuat Vano merasa senang.


Reza segera bergegas pergi ke kamar Ella. Dirinya ingin melihat bagaimana keadaan istri dari mendiang majikannya tersebut.


Sementara Hana sudah mulai tenang setelah menceritakan semuanya pada Nyonya Ane. "Ma, apa aku perlu bercerita pada kedua orang tua Vano?" tanya Hana lirih, meminta pendapat dari Nyonya Ane.


Nyonya Ane menggeleng pelan. "Tidak perlu sayang. Biarkan ini menjadi rahasia kita." ucap Nyonya Ane tersenyum hangat.


Nyonya Ane membawa Hana ke dalam pelukannya. "Ella juga pasti sependapat dengan kita." ucap Nyonya Ane.


Menurut Nyonya Ane, biarlah kedua orang tua Vano tidak mengetahui kejadian ini. Beliau tidak ingin menambah luka dan beban di hati mereka.


Cukup kepergian Vano saja yang membuat hati mereka terluka. Tidak perlu di tambahi oleh hal lain lagi. Lagi pula, tidak etis rasanya jika harus membicarakan aib seseorang yang sudah tiada.


"Tunggu, dari mana Ella mengetahuinya. Apa ada orang lain yang tahu, selain kamu dan Vano?" tanya Nyonya Ane penasaran dan juga takut.


Jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya. Apalagi jika mereka musuh dari keluarganya atau keluarga besannya. Pasti video tersebut akan di jadikan alat untuk menjatuhkan mereka.


"Tidak ada ma. Tiba-tiba Ella mengajak Hana bertemu. Dan memperlihatkan video tersebut."


"Video?" tanya Nyonya Ane memastikan, dan Hana menjawabnya dengan anggukan.


Mata Nyonya Ane memandang ke arah Ella yang sedang terbaring. "Sayang, maafkan mama. Semestinya mama berada di samping kamu saat itu. Maafkan mama." batin Nyonya Ane, tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada putrinya.


Beliau tidak bisa membayangkan betapa terpukulnya Ella saat itu. Ketika dengan mata kepalanya sendiri, melihat semuanya. Pasti dia sangat syok.


Di sini, Nyonya Ane tidak membela siapapun. Biar bagaimanapun, tidak ada yang benar dan bersalah dalam kejadian ini.


Di sisi lain. Hana dan Vano melakukan karena keadaan, karena Vano di jebak oleh musuhnya. Dan di sisi lain, Ella marah. Karena itu sudah hal yang wajar dan lumrah.


Perempuan mana yang tidak akan marah, saat mengetahui suaminya satu ranjang dengan perempuan lain. Perempuan yang sudah dianggap saudara sendiri. Apapun itu alasannya.


Dan Nyonya Ane tidak bisa menyalahkan Hana. Karena tidak memberitahu Ella terlebih dahulu. Mungkin Hana juga tidak ingin memberitahu, lantaran takut jika Ella akan marah dan kecewa padanya.


Apalagi saat itu semua persiapan untuk pernikahan Ella dan Vano sudah mendekati 100%. Dan pasti Hana tidak ingin jika pernikahan mereka gagal, karena dirinya.


Meski pada kenyataannya, seperti inilah yang terjadi. Saat Ella mengetahuinya. Nasi sudah menjadi bubur.


"Dari mana Ella mendapatkan video tersebut?" gumam Nyonya Ane.


"Hana juga tidak tahu ma."


"Video." batin Viki yang masih berada di balik tembok. Viki tersenyum samar.


"Ella, orang seperti dia tidak bisa di beri celah. Meski hanya setitik. Pasti dia mencari tahu sendiri. Saat dia merasa ada yang janggal." batin Viki.


"Astaga..!!!" seru Viki terkejut, saat dirinya menengok kesamping. Viki tidak menyadari jika ada Reza yang sudah berdiri di sampingnya.


"Elo mau bikin gue mati!!" imbuh Viki dengan nada sedikit tinggi, memegang dadanya. Dengan kedua bola mata melotot sempurna.


"Apa!!" seru Viki, saat Reza malah menatapnya dengan tatapan curiga.


"Viki...." panggil Nyonya Ane sedikit meninggikan suaranya.


"Ckkk.. elo. Pengganggu." Viki menatap Reza dengan tatapan tidak suka, dengan tangan kanan terkepal tepat di depan wajah Reza.


Reza hanya menggeleng pelan. "Penguping." gumam Reza masih terdengar Viki.


Seketika Viki langsung menghentikan langkahnya. Dan menatap ke arah Reza. Belum sempat Viki mengeluarkan perkataan pedasnya, Nyonya Ane sudah memanggil Reza.


"Loh,, Reza. Kamu disini? Dari kapan? Tante nggak tahu?" tanya Nyonya Ane beruntun.


"Sejak tadi tante. Sejak seseorang tengah asik menguping. Bahkan tidak sadar jika Reza datang dan masuk keruangan." sindir Reza.


"Sungguh, tingkat kewaspadaan yang sangat minim. Beruntung tidak ada musuh yang masuk menyelinap." imbuh Reza.

__ADS_1


"Elo...!" geram Viki.


"Ckk,,, sudah. Jangan ribut." ucap Nyonya Ane, menengahi pertengkaran kecil keduanya.


"Ella sudah melewati masa kritis. Pasti sebentar lagi dia akan membuka kedua matanya." ucap Nyonya Ane dengan penuh keyakinan, saat Reza memandang ke arah Ella.


"Kamu dari mana? Bagaimana Nyonya Risma?" tanya Nyonya Ane khawatir.


"Saya sedang menjaga Oma Yeti. Beliau anfal, begitu mendengar tentang Vano. Dan Nyonya Risma. Beliau sudah tidak ada di ruangannya." jelas Reza.


Karena Reza sempat melihat ke ruangan di mana Nyonya Risma di rawat sementara, sebelum datang ke ruangan Ella.


"Semoga Oma Yeti segera membaik." gumam Nyonya Ane.


"Nyonya Risma pulang, di antar Paman Haki." sahut Viki.


Ternyata Viki keluar karena ada pesan dari paman Haki, mengatakan jika beliau pulang mengantar Nyonya Risma. Untuk memastikannya, Viki menghubungi kembali paman Haki.


Viki menggaruk tengkuknya saat di pandang oleh Nyonya Ane, dengan tatapan tajam. "Maaf tante. Bukan maksud Viki menguping. Tapi Viki tidak sengaja mendengarnya. Viki lanjutkan saja." jelas Viki, seolah dia tidak bersalah.


Reza menatap ke arah Hana yang sedang duduk di kursi tak jauh dari mereka. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Reza setelah dia mendekat ke arah Hana.


"Lebih baik." ucapnya lirih, memandang ke arah Nyonya Ane.


"Kalian duduklah. Ada yang ingin tante bicarakan." ucap Nyonya Ane menyuruh Viki dan Reza duduk di kursi.


"Kamu Viki, Pasti sudah tahu." ucap Nyonya Ane, dijawab anggukan oleh Viki.


"Reza. Apa kamu juga sudah tahu. Tentang permasalahan ini. Ella, Vano, dan Hana?" tanya Nyonya Ane.


Reza tahu, kemana arah pembicaraan Nyonya Ane. "Awalnya saya tidak tahu Nyonya. Waktu itu, saya sedang berada di ruangan bersama Tuan. Tiba-tiba, Tuan Vano berlari keluar ruangan dengan tergesa-gesa, setelah memperhatikan laptopnya." ucap Reza.


"Karena rasa penasaran, saya memberanikan diri melihat ke arah layar laptop yang masih menyala. Meskipun sebenarnya itu tidak di perbolehkan. Karena menyalahi aturan." jelas Reza.


"Dari situlah saya tahu semuanya." imbuh Reza.


"Siapa yang mengirim video itu?" tanya Nyonya Ane.


"Ella." jawab Reza dan Viki bersamaan.


Semua menatap kaget ke arah Viki. Padahal tidak ada yang tahu siapa pengirimnya. Selain Vano dan Reza. Dan pastinya Ella sendiri.


"Siapa lagi yang bisa melakukan semua ini. Selain Ella." imbuh Viki, menatap ke arah Ella.


"Benar." ucap Reza, dengan mata memandang ke arah Ella.


"Tung-tunggu. Ella. Ella sendiri yang,,, yang mengirimkannya." tanya Hana, seakan tidak percaya.


"Iya." jawab Reza. Sementara Nyonya Ane hanya diam, dia sendiri tidak tahu harus berkata apa.


"Ella, apa jangan-jangan..." ucap Hana lirih, memandang ke arah Ella.


Semuanya sontak memandang ke arah Hana. "Ada apa?" tanya Viki.


Hana teringat saat dirinya dan Ella berada di taman. "Sebelum ini, aku dan Ella pernah bertemu. Dan Ella mengajakku pergi ke apartemen. Tapi aku tidak mau. Aku menolaknya. Karena masih tersisa rasa trauma saat aku mengingat apartemen tersebut. Apalagi masuk ke dalamnya." ucap Hana dengan tatapan menerawang jauh.


Hana memandang ke arah Viki. "Tapi aku tidak mengatakan apapun saat itu." ucap Hana.


Reza dan Viki saling berpandangan. "Ella bukan perempuan biasa. Dia dapat melihat sesuatu yang aneh menurutnya, hanya dari ekspresi dan gelagat seseorang." ucap Nyonya Ane membuka suara.


"Benar." kata Viki.


"Maaf." ucap Hana lirih.


"Tante minta pada kalian semua, untuk merahasiakan semua ini. Biar bagaimanapun, Vano tetaplah menantu saya. Dan yang paling penting. Saya tidak ingin besan saya merasa sedih mendengar semua ini." pinta Nyonya Ane.


"Baik Nyonya."


"Iya tante."


"Dan untuk videonya, tolong kalian urus sesegera mungkin. Saya tidak mau video itu jatuh ke tangan orang yang salah. Akan sangat berbahaya." pinta Nyonya Ane, melirik ke arah Hana.


"Baik." Reza dan Viki dapat mengerti kecemasan Nyonya Ane akan video tersebut.


"Akan segera saya urus. Han, boleh pinjam ponsel kamu." ucap Reza. Karena hanya tiga orang yang memiliki video tersebut. Ella, Vano, dan Hana.


Tanpa banyak bertanya Hana memberikan ponselnya pada Reza. Entah apa yang dilakukan Reza pada ponsel milik Hana.


"Terimakasih." Reza mengembalikan ponsel tersebut pada Hana.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, untuk video milik Nyonya Ella. Saya tidak berhak menghapusnya." ucap Reza.


"Iya, biar Ella sendiri nanti yang akan memutuskan." ucap Nyonya Ane.


"Reza. Apa kamu mau pulang. Mungkin sebentar lagi pemakaman Vano akan dilakukan." ujar Nyonya Ane, mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya Nyonya. Reza hanya mampir untuk melihat Nyonya Ella. Sebelum pergi ke rumah mendiang Tuan Vano."


"Jangan lupa memberitahu mereka, jika Ella sudah melewati masa kritis." pinta Nyonya Ane.


Mungkin, dengan sedikit kabar bahagia ini. Setidaknya hati semua orang sedikit merasa lega.


"Pergilah. Pastikan semua berjalan dengan lancar dan aman. Saya akan tetap di sini. Menjaga Ella." ucap Nyonya Ane.


"Jangan ceroboh saat berjaga. Jangan sampai Nyonya kenapa-napa." ucap Reza mengingatkan Viki.


"Iya." kata Viki singkat.


Tanpa mereka sadari, empat bawahan Ella yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata selalu menjaga Ella. Semenjak mereka mengetahui jika Ella berada di rumah sakit. Mereka tidak ingin kecolongan untuk yang kedua kalinya.


Segera Reza meninggalkan ruangan Ella. Dan bergegas pergi ke rumah duka.


Terdapat banyak karangan bunga di depan rumah Vano. Bahkan, mobil-mobil mewah sudah berjejer rapi. Menandakan sudah banyak pelayat yang masuk ke rumah duka.


Tak ketinggalan, awak media sudah datang ke kediaman Vano. Seakan mereka tak ingin ketinggalan berita.


Mobil Reza yang hendak masuk ke dalam pekarangan rumah duka, juga menjadi sasaran awak media untuk mendapatkan informasi.


Tapi dengan pengaman dari anak buah Reza, mobil yang di kendarai Reza dapat masuk ke dalam rumah duka. Meski dengan jalan seperti siput.


"Boss." ucap seorang anak buah Reza, saat Reza naru turun dari mobil


"Bagaimana?" tanya Reza setelah sampai di kediaman Vano.


"Sejauh ini aman. Meskipun ada beberapa saingan bisnis Tuan Vano yang datang." jelasnya.


"Jangan sampai keamanan kendor. Kita tidak boleh lengah." ucap Reza.


"Baik."


"Awasi juga mereka. Jangan sampai ada penyusup di antara mereka." ucap Reza memandang para pemburu berita di luar pagar rumah Vano.


"Pasti."


"Bagaimana di tempat pemakaman." tanya Reza.


"Di sana ada paman Haki dan juga Rio." ucapnya. Reza mengangguk pelan. Dan segera masuk ke dalam rumah duka.


Tampak Nyonya Risma berada di dekapan Tuan Danto. Dengan Tuan Haris duduk di samping Tuan Danto.


Mata Reza melihat satu persatu tamu undangan. Dirinya benar-benar tidak ingin kecolongan. Apalagi, ini adalah terakhir Reza akan melayani Tuannya. Sebelum Vano di masukkan ke liang lahat.


Semua saudara, dan juga kerabat datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Termasuk para pebisnis.


"Bagiamana?" tanya Denis, setelah berdekatan dengan Reza.


Reza sepertinya paham akan pertanyaan Denis mengarah pada siapa. Reza mengangguk. Membuat Denis bernafas lega.


Denis tidak bertanya langsung tentang keadaan Ella pada Reza. Karena mereka sedang berada di keramaian. Karena Denis tidak ingin ada orang luar yang mengetahui keadaan Ella.


"Denis, dimana Viki? Kenapa tidak terlihat?" tanya mama Viki. Mungkin sedari tadi kedua orang tua Viki tidak melihat keberadaan Viki.


"Emm,,, Viki sedang ada di pemakaman tante. Mengurus yang di sana. I-iya." ucap Denis beralasan.


"Lo,, tapikan..." ucap Mama Viki, tapi segera di potong oleh perkataan dari sang suami.


"Sudahlah ma, kita kesini untuk takziah. Bukan mencari Viki. Ayo." ucap papa Viki, tersenyum samar memandang ke arah Denis. Dan segera mengajak sang istri meninggalkan Denis.


Sepertinya papanya Viki tahu jika Denis berbohong. Pasti Viki tengah berada di tempat, yang orang lain tidak diperbolehkan untuk tahu.


Apalagi papa Viki tidak melihat Ella beserta Nyonya Ane. Membuat papa Viki menebak jika Viki tengah bersama kedua orang tersebut.


Jenazah Vano di berangkatkan ke makam. Di iringi dengan puluhan mobil di belakanganya. Sampai di makam, Nyonya Risma meminta untuk melihat wajah terakhir dari putra tunggalnya.


"Semoga kamu tenang di sana sayang." ucap Nyonya Risma saat tubuh Vano di masukkan ke dalam liang lahat.


Nyonya Risma membalikkan badan. Memeluk tubuh suaminya dan menangis terisak. Tuan Danto memeluk erat tubuh sang istri.


Beliau sama sekali tidak menyangka, jika putranya akan mendahuluinya, kembali kepada sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2