DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 10


__ADS_3

Prankkkk....


Lyra membanting ponselnya di atas lantai, membuatnya hancur berkeping-keping. "Bara... Ternyata diam-diam dia merestui hubungan putranya dengan Hana." geram Lyra, tidak terima.


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Tanpa restu Monica, aku masih bisa menikahi Denis. Tapi, jika sampai Bara tidak bisa menerimaku. Aaa.... Aku harus bergerak cepat." ucapnya dengan wajah kesal bercampur khawatir.


Karena sebagian besar aset kekayaan yang di kelola Denis adalah milik Tuan Bara. Papa dari Denis. Sementara, Nyonya Monica hanya memiliki dua puluh persen aset kekayaan dari milik Tuan Bara.


Sedangkan, kekayaan milik Denis sendiri hanya berkisar empat puluh persen dari total kekayaan masih dengan atas nama sang papa.


"Lyra... kamu bodoh." geramnya pada dirinya sendiri. Lyra memang tidak pernah menyukai Denis. Yang dia incar hanya harta milik keluarga Denis.


Lyra bisa hidup tanpa cinta. Tapi tidak dengan harta. Pikiran gila Lyra mulai merambat ke otaknya. "Kenapa dulu gue nggak mendekati papanya Denis saja. Tuan Bara. Astaga, Lyra bodoh." makinya pada diri sendiri merasa frustasi. Memukul pelan kepalanya sendiri.


Lyra duduk di kursi, memegang dan memberi pijitan kepalanya yang berdenyut serasa mau pecah. Karena pasti dirinya akan kehilangan ladang emas.


Dan yang lebih penting, perusahaan papanya pasti tidak bisa diselamatkan. Jika Lyra tidak menikah dengan Denis. "Kepalang tanggung. Bagaimanapun caranya, gue harus menikah dengan Denis. Apapun caranya." Lyra berdiri, mengambil kunci mobil di atas nakas.


"Bahkan, menghabisi nyawa orang pun, gue nggak peduli." ucapnya menyeringai licik.


Lyra menghidupkan mesin mobilnya. Entah saat ini Lyra hendak pergi ke mana. Karena saat ini, yang ada di otaknya hanya ada satu kalimat. Menyingkirkan Hana. Dengan kata lain, membunuh Hana.


Obsesi Lyra demi harta membuatnya menjadi perempuan yang tidak berotak dan juga tidak berhati. Tanpa Lyra sadari, saat ini dirinya tengah menuju jalan kehancuran untuk hidupnya sendiri. Dan pasti juga kehancuran untuk keluarganya.


Di tempat lain, seseorang sedang tertawa puas. "Akhirnya, Denis akan segera merasakannya." ucapnya dengan ekspresi wajah senang.


"Aku yakin. Lyra akan membuat Hana celaka. Dan Denis, akan menangis." ucapnya dengan raut wajah jahat.


"Ella, Viki, Denis. Kalian satu-persatu akan merasakan. Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kalian sayang." desisnya.

__ADS_1


"Ella pasti sekarang menyembunyikan diri karena terpuruk kehilangan Vano. Dan untuk Viki serta Denis. Sebentar lagi kalian akan merasakan hal yang sama seperti aku. Kehilangan orang yang paling aku sayang." ucapnya dengan wajah sendu, mengingat seseorang yang berharga dalam hidupnya. Yang sekarang sudah tiada.


Ya, dia menggunakan Lyra untuk melancarkan keinginannya. Dia tidak ingin turun tangan sendiri. Sama seperti saat dirinya membuat seseorang menghabisi nyawa Vano.


Dia menyalakan api terus menerus. Membuat kobaran yang pasti sulit di padamkan. "Monic. Dia tidak bisa diharapkan." gumamnya.


Sementara di kamar, Nyonya Monic tidak kalah kaget saat melihat apa yang berada di layar ponselnya. Suaminya duduk bersama dengan Hana. Dan terlihat keduanya seperti tersenyum.


"Papa, apa yang papa bicarakan dengannya. Apa yang papa lakukan." kesal Nyonya Monic.


"Pasti perempuan tidak tahu malu ini yang meminta bertemu dengan papa. Pasti dia merayu papa. Supaya papa merestui dia untuk menikah dengan Denis." ucap Nyonya Monic berspekulasi.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Mau di taruh di mana wajahku. Jika Denis sampai menikah dengan dia. Perempuan itu tidak sekelas dnegan Denis. Ya, Denis harus memiliki pendamping dari keluarga kaya dan terpandang." oceh Nyonya Monic.


"Aku harus segera bertemu dengan Hana. Harus. Sebelum dia besar kepala." kesal Nyonya Monic.


Beliau tidak habis pikir, kenapa sang suami malah bertemu dengan Hana. Dan terlihat jelas keduanya saling melempar senyum.


Sama seperti Lyra, Nyonya Monic segera bergegas pergi meninggalkan kediamannya. Dan tujuannya sudah bisa terbaca. Menemui Hana. Dan menyuruhnya untuk menjauh, bahkan meninggalkan sang putra. Denis.


Dengan senyum terukir di bibir, Hana mengendari mobilnya menuju ke tempat dia bekerja. Yakni di salon. "Papa." gumam Hana.


Teringat saat Tuan Bara memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan cara Denis memanggilnya. Papa.


Tiba-tiba Hana merubah jalur mobilnya. Perusahaan Denis. Itulah tujuannya. Tapi tidak lupa, dia mengatakan pada Nora. Sahabatnya sekaligus karyawan di salon. Jika dirinya akan telat datang. Lantaran ada sedikit kepentingan.


Hana sudah tidak sabar memberitahukan hal ini pada Denis. "Papa." gumam Hana tersenyum senang.


Hana segera menemui resepsionis, setelah sampai di perusahaan milik Denis. "Permisi, Tuan Denisnya ada?" tanya Hana dengan ramah dan sopan.

__ADS_1


Resepsionis mengenal Hana. Karena memang dulu, Hana sering datang bersama dengan Ella untuk mengunjungi Denis.


"Tuan Denis ada, sebentar. Saya akan menelpon beliau dulu. Silahkan tunggu sebentar." ucap sang resepsionis dengan sopan.


"Silahkan, Tuan Denis sudah menunggu anda di ruangannya." ucapnya mempersilahkan Hana.


Hana tersenyum sambil sedikit mengangguk pelan. Di dalam lift, Hana tersenyum. Mengingat perkataan sang resepsionis saat menelpon tadi.


Dia mengatakan jika kedatangan seseorang yang ingin bertemu dengan Denis. Dia mengatakan jika teman Ella, perempuan yang biasanya datang bersama Ella yang saat ini tengah berdiri di depannya.


Hana tersenyum. Karena mereka memang tidak mengetahui jika Hana adalah kekasih dari atasan mereka. "Tidak masalah. Dengan membawa nama Ella saja, mereka sudah memperlakukan aku dengan baik. Bagaimana jika nantinya mereka tahu. Jika aku adalah calon Nyonya Denis." gumam Hana tertawa pelan. Beruntung di dalam lift hanya ada Hana seorang.


Hana membuka pintu ruangan Denis dengan perlahan. Mata Hana langsung tertuju pada kursi single, dimana Denis biasanya duduk dengan gagahnya di balik meja tersebut.


Kedua mata Hana menyipit, saat dirinya tidak mendapati sang kekasih di kursi tersebut. "Kok nggak ada." gumamnya masih berada di ambang pintu.


Hana ragu. Antara ingin melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam, atau tidak. "Padahal tadi sudah di beritahu resepsionis. Apa Denis ada rapat mendadak." Hana memutuskan untuk masuk.


"Aaa....!!" jerit Hana, saat tiba-tiba wajah tampan sang kekasih berada tepat di depannya.


Tenyata Denis bersembunyi di balik pintu. Sehingga Hana tidak melihat sosoknya. "Denisssss....!!!" kesal Hana dengan kedua tangan memukul tubuh Denis secara acak dan membabi buta.


Denis hanya menangkis pukulan dari Hana sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kaget sang kekasih yang menurutnya lucu.


"Untung aku tidak jantungan. Puaassss!!" bentak Hana, berhenti memukul Denis. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan mata melotot kesal.


"Puas." ucap Denis membawa tubuh Hana dalam pelukannya.


Hana mencoba mendorong tubuh Denis. "Lepas. Nggak usah peluk-peluk." kesal Hana, tapi sayangnya pelukan Denis semakin erat.

__ADS_1


"Aaaawwww...!" seru Denis, meringis sambil memegang lengannya yang dicubit oleh Hana.


"Puas." kata Hana dengan pandangan mengejek, meninggalkan Denis yang masih berdiri mengelus lengannya dengan berjalan ke kursi empuk lalu mendaratkan pantatnya di kursi tersebut.


__ADS_2