
"Cari dia beserta keluarganya. Bawa mereka ke markas." perintah Vano pada Reza.
"Akan aku tunjukkan, jika kamu salah berurusan dengan orang seperti Vano." batin Vano.
Ingin sekali Reza membuka mulut dan bertanya pada Tuannya. Sebenarnya apa yang terjadi selama dirinya berada di luar kota.
Hingga dirinya harus segera kembali dan membuat satu keluarga untuk hidup menderita. Padahal, Reza masih satu hari berada di sana.
Mendapat pesan dari Tuannya saat subuh. Dan harus kembali ke kota sebelum siang. Membuat Reza jungkir balik menyelesaikan permasalahan proyek yang berada di luar kota.
Segera setelah pekerjaan selesai, Reza bergegas menuju ke kota tempat tinggalnya.
"Sebenarnya apa yang sudah di lakukan orang ini. Hingga membuat Tuan Vano murka." batin Reza mengamati foto yang di berikan Vano padanya.
"Bukankah dia rekan kerja Tuan Vano." gumam Reza seperti mengingat sesuatu.
Segera Reza mencari beberapa dokumen kerjasama antara dua perusahaan. "Bukankah kemarin seharusnya Tuan Vano bertemu dengannya." gumam Reza.
Reza segera pergi dari perusahaan dan menjalankan perintah dari Vano. Reza memulai penyelidikannya di restoran, tempat Tuannya bertemu dengan rekan kerjanya.
Entah kenapa Reza merasa ada yang janggal untuk tugas yang di berikan Vano kali ini pada dirinya. Dan anehnya, Reza tidak bisa menemukan bukti apapun di restoran tersebut.
Bahkan, semua rekaman CCTV pada waktu Vano bertemu dengan rekan kerjanya juga tidak ada. Dan yang lebih membuat Reza tercengang. Meskipun rekaman kehadiran mereka di restoran tidak ada, tapi tidak ada yang waktu yang hilang di CCTV. Sangat aneh bukan.
Tentu saja tidak. Jangan pernah lupa siapa Vano. Tangan dinginnya juga bisa berbuat demikian.
"Seharusnya gue melakukan yang Tuan perintahkan." Reza menggelengkan kepalanya pelan dan segera beranjak dari duduknya.
Dihubungi anak buahnya yang tengah berada di kediaman orang tersebut. "Teror mereka. Jangan lupa untuk menyebutkan nama Tuan." ujar Reza di ujung ponsel.
Sampai di rumah kediaman rekan kerja Vano, Reza sudah di tunggu kedatangannya oleh beberapa anak buahnya. "Dimana mereka?" tanya Reza.
"Semua anggota keluarga lengkap. Sekarang mereka berada di dalam." Reza segera ingin menemui mereka. Dirinya berpikir, mungkin ocehan mereka bisa Reza jadikan jawaban atas rasa ingin tahu darinya.
"Tuan Reza." seorang lelaki paruh baya memegang kaki Reza dan bersujud. "Lepaskan kami Tuan. Kami tidak pernah melakukan apapun." jelasnya.
Tapi Reza tersenyum sinis. Dia hapal betul bagaimana sikap orang yang bersalah atau tidak. Reza memberi isyarat pada anak buahnya. "Baik Bos." ucapnya seperti mengerti bahasa isyarat dari Reza.
Segera dia berjalan dan menyeret anak perempuan mereka. "Lepaskan anak saya." ucapnya beserta istrinya.
"Papaaaa." serunya meminta pertolongan pada sang papa.
Belum sempat Reza menjalankan rencananya, ponselnya berbunyi. Dan ternyata Vano lah yang menghubunginya. "Baik Tuan." ucap Reza menjawab perintah dari Tuannya di balik ponselnya.
"Kita tinggalkan rumah ini." ucap Reza.
"Tapi Bos,,,," Reza memandang tajam pada salah satu anak buahnya. "Baik." dilepaskannya anak perempuan dari rekan kerja Vano.
"Bawa mereka semua ke markas." ujar Reza.
__ADS_1
Sampai di markas, Vano menghubungi dan menyuruh Reza untuk meletakkan mereka di ruang bawah.
"Tuan." sapa mereka bersama saat Vano datang.
Vano melepaskan dasi dan jas yang ada di tubuhnya. Seorang bawahan Vano segera berdiri di samping Vano dan mengambil jas beserta dasi dari tangan Vano.
"Kamu kembali ke kantor, buat perusahaannya bangkrut. Dan sebarkan berita mereka sekeluarga pergi ke luar negeri." ucap Vano dengan tangan sibuk menggulung kemejanya sampai ke siku
"Baik Tuan." ucap Reza segera meninggalkan markas.
Reza semakin penasaran dengan semuanya. Sehari saja tidak berada di dekat Tuannya. Membuat dirinya tidak tahu apa-apa. Dan Vano juga tidak menceritakan apapun pada Reza.
Dengan santai, Vano berjalan ke tempat mereka di tahan. "Kenapa anda melakukan ini. Bukankah kita rekan kerja." seru seorang lelaki di balik jeruji besi.
"Keluarkan mereka." Vano dengan angkuhnya duduk di kursi, memandang tajam ke arah lelaki yang bisa merusak semua rencananya.
"Heee.." serunya keluar dari mulutnya saat anak buah Vano meletakkan kepalanya di atas meja. Dengan kedua tangan di pegang dari belakang.
Vano mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Beberapa kali dia menyesap dan memainkan asap rokok tersebut.
"Aaaaa,,,," teriaknya kesakitan, saat Vano menjadikan pipinya sebagai asbak. Tempat mematikan batang rokok yang masih menyala.
"Tuan,,,, jangan. Lepaskan suami saya!!!"
Sementara sang putri hanya bisa meneteskan air mata ketakutan. Tanpa berbicara sepatah katapun. Dirinya merasa bersalah. Dirinya yang sangat berambisi untuk bisa mendapatkan Vano.
Tanpa mengetahui jika semua akan menjadi seperti saat ini. Dan sekarang dia di hadapkan dengan kebengisan seorang Vano. "Hentikan..!!!" teriaknya.
Vano berjongkok di hadapannya. "Katakan sekarang. Sebelum aku membuat papa tercinta mu tidak bisa bernafas selamanya." ancam Vano.
Dirinya bercerita jika sang papa tidak mengetahui tentang rencananya untuk menjebak Vano. "Lepaskan kami, saya berjanji. Tidak akan mengulangi lagi." ucapnya memohon pada Vano.
Vano berdiri. "Baiklah, saya akan melepaskan mu." ucap Vano dengan senyum. Membuat perempuan tersebut merasa lega. Dia mengira Vano akan luluh hanya dengan air mata dan perkataannya.
Salah besar Nona.
"Bawa dia ke rumah singgah. Bilang padanya, jika perempuan ini tawananku. Dia harus menjaga perempuan ini dengan baik. Dan menghasilkan banyak uang."
"Paaaa,,, Ma,,,,,," seru perempuan tersebut dengan tubuh meronta ingin melepaskan diri saat mendengar Vano menyebut kata UANG.
"Sayang,,, lepaskan anak saya....!!!"
"Akan saya berikan apapun. Tapi tolong lepaskan putri saya." ucapnya memohon.
"Sepertinya belakangan ini aku terlalu berbaik hati. Hingga kalian para tikus menjadi seenaknya."
"Kalian jaga mereka dengan baik. Bahkan sangat baik. Karena sudah membesarkan seorang anak yang sangat baik hatinya. Jangan lupa, lakukan seperti yang saya perintahkan." Vano pergi meninggalkan ruang bawah tanah dan bergegas ke ruangan lainnya.
"Beruntung aku mengingatnya." Vano segera masuk ke dalam jaringan CCTV apartemen Ella.
__ADS_1
"Orang itu. Aku akan segera mengurusnya." Vano melihat seorang keamanan di apartemen Ella melihat dirinya saat meninggalkan apartemen Ella pukul tiga dini hari.
Vano menghapus semua rekaman CCTV di apartemen Ella yang memperlihatkan dirinya dan juga Hana. Bahkan Vano melakukannya seperti dia memanipulasi CCTV di restoran. Sehingga mustahil akan ada orang yang tahu dan menyadarinya. Bahkan Reza saja juga tidak tahu.
Vano segera menghubungi seseorang dari ponselnya. "Pindahkan tempatnya bekerja. Jangan tempatkan di kota ini lagi. Jika perlu tempatkan di pedalaman." ucapnya pada seseorang di ujung telepon.
Vano memindahkan pekerjaan seseorang yang sempat melihatnya keluar dari kamar apartemen Ella. Dia takut jika dia mulutnya akan berucap sesuatu saat bertemu dengan Ella. Yang pasti satu kata saja keluar dari mulutnya. Tamat sudah Vano.
Ternyata Vano tidak sekejam yang othor kira. Ternyata dia hanya memindahkan tempat kerja orang tersebut. Bukan menghabisi nyawanya.
"Sekarang tinggal Hana. Aku akan segera mengurusnya juga. Supaya dia tidak hamil." gumam Vano.
Hanya karena ketidak waspadaan dari Vano. Dan juga kesalahan seseorang. Kini Vano harus berjibaku menyelesaikan semuanya. "Semua harus selesai hari ini juga." batin Vano.
Vano tidak ingin Ella menemukan petunjuk sekecil apapun. Karena Ella sama seperti dirinya. Sekecil apapun petunjuk yang di dapat. Pasti akan menemukan akarnya.
Beberapa kali Vano menghubungi Hana. Dan akhirnya Hana mengangkat panggilan telepon darinya.
*****
Ibu Hana mendapati putrinya tertidur meringkuk di atas ranjang. Beliau merasa heran, karena sebelumnya Hana tidak pernah seperti ini.
Hana selalu bersemangat saat pagi. Mulutnya selalu menceritakan apa saja yang akan dan sudah di dilakukannya dengan Ella pada sang ibu saat mereka sarapan bersama.
Jika Hana tidak pulang, dia selalu mengirim kabar pada sang ibu. Tapi semalam dia tidak mengirim pesan pada bu Ningsih.
Dan yang lebih membuat bu Ningsih khawatir, Hana pulang pagi-pagi menggunakan kacamata. Peringai sang anak juga berbeda.
"Apa Hana bertengkar dengan Non Ella." batin Bu Ningsih menatap Hana yang tertidur pulas. Seakan semalaman dirinya bekerja keras. Sehingga menyebabkan dia tidak cukup istirahat.
Padahal biasanya Hana tidak pernah tidur pada jam segini. Bu Ningsih mendekat dan menatap wajah sang anak. "Sepertinya kamu baru saja menangis nak. Apa kamu sedang ada masalah." batin bu Ningsih memandang mata Hana yang terlihat sembab meski dalam keadaan kedua matanya terpejam.
Hana bukan perempuan yang mudah mengeluh. Bahkan jika dirinya sedang mengalami masalah, dia tidak pernah sekalipun bercerita pada ibunya. Hana merasa kasihan pada ibunya.
Sejak kecil sang ayah sudah meninggal karena kecelakaan. Dan ibunya seorang diri merawat dan mencari uang untuk kehidupan mereka bertiga.
Karena itulah, Hana tidak ingin membebani ibunya lagi. Karena Hana merasa, inilah saatnya Hana mengambil alih tugas sang ibu.
Bu Ningsih keluar dari kamar Hana. Beliau ingin menanyakan langsung pada Ella. Entah kenapa Bu Ningsih tidak tega melihat anaknya seperti itu.
******
Satu kesalahan yang tidak sengaja Vano lakukan membuatnya kalang kabut.
Vano memberi sebuah bingkisan untuk satu keluarga yang mengakibatkan dirinya melakukan kesalahan.
Memindahkan seorang penjaga keamanan yang melihat dirinya keluar dari apartemen Ella.
Lalu,,, apa yang akan Vano lakukan pada Hana ๐คจ๐คจ
__ADS_1
Bu Ningsihhhh..... jangan pernah menelpon Ella....
Atau Ella akan tahu semuanya. ๐๐๐