DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 11


__ADS_3

"Kita tukeran tempat duduk Han."


Ella berada di balik kemudi dengan Hana berada di samping Ella.


"Kita akan jalan-jalan. Agak sedikit ekstrim. Soalnya sudah lama gue nggak lakuin ini. Terakhir setelah acara lulusan SMA." Ella mulai melajukan mobilnya ke arah perbukitan.


"Ell, elo mao keman nih. Kita belum pernah ke sini loh. Ntar kesasar lagi." pandangan mata Hana memindai setiap jalan yang mereka lalui.


"Nggak akan nyasar. Gue pernah ke sini. Dulu. Pegangan yang kuat." Ella mulai memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Dulu." gumam Hana sambil melihat Ella.


"Ready."


"Aaaaas. Ell. Elo jangan gila. Gue masih perawan. Gue belom pernah *** ***." teriak Hana memejamkan mata dengan tangan memegang erat pegangan tangan di atasnya.


Ella mengendarai mobil dengan kecepatan penuh seperti seorang pembalap profesional. Hana sesekali membuka matanya dengan mulut komat kamit. Entah kata apa yang dia keluarkan dari dalam mulutnya.


"Gila." ucap anak buah Vano yang mengikuti mereka.


"Bagaimana ini, kita kehilangan jejak mereka." ucap yang lainnya merasa khawatir.


"Kita cari saja dulu. Siapa tahu ketemu."


"Ell, elo. Sumpah. Jantung gue." tangan Hana berada di depan dadanya. Merasakan debaran jantungnya semakin cepat.


"Ternyata gue masih hebat. Padahal sudah lama gue nggak lakuin ini. Terakhir habis lulusan SMA." Ella menyenderkan badannya di jok mobil.


"Apa. Ella elo, astaga." Hana keluar dari dalam mobil dengan uring-uringan sambil berjalan kesana kemari seperti setrika.


"Tunggu. Ini, ini, ini dimana?" Hana melihat sekelilingnya. Hanya ada hamparan pepohonan.


"Wooo." Hana memegang dadanya saat kakinya hendak melangkah ke depan.


Ternyata di depannya ada jurang yang cukup curang dan dalam. Bahkan Hana tidak bisa melihat ke dasarnya.


"Elllaaaaaa." teriak Hana menggema di sekitar.


"Apasih." Ella keluar dari mobil dengan tenang.


"Elo lihat. Kita dimana. Itu, itu di depan jurang. Ya ampun Ella." Hana heboh sendiri sambil sesekali menutup mulutnya dan memegang kepalanya.


Ella tersenyum melihat tingkah asistennya tersebut. Hana tampak lucu di mata Ella. Bahkan tingkah Hana bisa membuat Ella melupakan rasa sedihnya. Meskipun hanya sementara.


"Bagaimana ini. Kita sudah berputar-putar mencari mereka. Tapi tetap tidak ketemu." anak buah Vano tampak begitu panik karena tidak menemukan jejak dari Ella.


"Sial. Tuan Vano menghubungi." ucap temannya melihat ke layar ponselnya.


"Maaf Tuan, kami kehilangan jejak Nona Ella."


Dia melihat ke arah temannya dan menggelengkan kepala saat Vano memutuskan sambungan teleponnya.


"Ella." ucap Vano geram.


Vano masih berada di perusahaannya. Siang tadi dia ingin menemui Ella di restoran, tapi tidak memungkinkan. Karena pekerjaannya sedang menumpuk. Apalagi Reza juga sedang dia perintahkan untuk urusan bisnis ilegalnya. Dan lagi, Santi baru saja dia pecat.

__ADS_1


Ting.


Terdengar suara pesan masuk ke dalam ponsel milik Vano. Ternyata anak buahnya yang sempat mengikuti Ella mengirimkan video pada dirinya.


"Ella, ternyata kamu punya sisi liar juga baby."


Vano melihat Ella berpindah tempat duduk di depan kemudi mobil. Dengan kecepatan tinggi Ella memacu kendaraannya. Bahkan anak buahnya sampai kehilangan jejaknya.


Vano memutar kembali videonya hingga beberapa kali. Senyum di bibirnya tampak merekah melihat keahlian dari wanitanya.


"Hebat, kamu membuatku tidak bisa meninggalkanmu. My baby." batin Vano.


"Ell. Jika tidak keberatan elo bisa cerita ke gue." Hana melihat Ella menyenderkan badannya di mobil dengan tatapan lurus ke depan.


"Vano. Dia bermain dengan wanita lain di belakang gue." Ella menjawab dengan tatapan sendu.


"Maksud elo?"


"Dia punya hubungan sama Santi. Sekretarisnya."


Hana menatap Ella dengan tatapan tidak percaya dan juga penasaran.


"Gue nggak sengaja denger dan lihat. Siang tadi, sewaktu gue mau anter makanan buat Vano."


Air mata Ella sudah terkumpul di pelupuk mata. Hana mengelus pundak Ella dengan pelan.


"Tante Risma juga tahu. Beliau syok. Dan tadi dilarikan ke rumah sakit." Ella menghapus air mata di pipinya.


"Oke. Sekarang elo mao nglakuin apa. Gue temani."


Hana tidak ingin membahas masalah tersebut. Dia tidak tega melihat atasan sekaligus temannya tersebut bersedih. Ella menatap ke arah Hana dan tersenyum samar.


"Gue mau ke sana." tunjuk Ella pada bukit di seberang dia berdiri sekarang.


"Elo jangan gila Ell. Bagaimana kita ke sana. Bisa-bisa kita kehilangan nyawa sebelum sampai sana."


"Gue tinggal." Ella masuk ke dalam mobil, menghiraukan perkataan Hana.


"Ell, gue ikut." Hana akhirnya menyusul Ella masuk ke dalam mobil.


Ella menjalankan mobilnya menuju bukit.


"Ell, hati-hati." Hana cukup was-was. Karena jalan yang dilalui oleh mereka terus menanjak.


"Santai. Gue dulu sering kok main ke sini." ucap Ella santai.


"Itu dulu sayang." seru Hana dengan kesal.


"Akhirnya." Hana segera keluar dari mobil dan melihat sekitarnya.


"Indah Ell." Hana melihat dengan takjub.


"Pastinya. Tenang dan nyaman." Ella merentangkan kedua tangannya.


Mereka berdua tampak berbincang di bawah pohon besar dengan pemandangan hijau menyejukkan mata.

__ADS_1


Door...


"Astaga, suara apa itu Ell." Hana kaget, dan berdiri melihat sekeliling.


"Seperti suara tembakan." Ella juga berdiri dan memperhatikan sekitar mereka.


Keduanya memutar mata untuk melihat dari mana suara berasal.


Doorrr...


"Ell." Hana memegang erat lengan Ella karena merasa takut.


"Ell,, elo mao ke mana." tanya Hana saat Ella masuk ke dalam mobil dan mengambil tas.


"Kita pergi yuk Ell." rajuk Hana takut.


Ini bukan pertama kalinya Ella mendengar suara tembakan. Dulu, dia juga pernah mendengar suara tembakan. Bahkan melihat orang yang sedang menembak dan tertembak.


Saat itu, Tuan Haris mempunyai saingan bisnis. Dan mereka hendak menjatuhkan bisnis Tuan Haris. Tapi karena tidak mudah menjatuhkan bisnis Tuan Haris, mereka pun memutuskan untuk melenyapkan keluarga Tuan Haris.


Dengan bantuan Tuan Danto, Tuan Haris bisa mengatasi serangan dari saingan bisnisnya yang hendak melenyapkan keluarganya. Dari kejadian itulah Vano mengenal Ella, dan tertarik pada sosok Ella.


"Jika benar itu suara tembakan, kita tidak bisa pergi begitu saja. Kita harus memastikannya dulu."


"Makanya kita pergi El, jika benar suara tembakan. Dan ternyata orang jahat, bagaimana." Hana merasa gelisah dan takut.


"Han, jalan ini hanya searah. Tidak bercabang. Artinya nggak ada jalan lain menuju jalan besar..Gue takut jika mereka orang jahat, kita akan kena imbasnya. Apalagi naik mobil. Jika ban kita tertembak. Elo bisa ngebayanginkan, apa yang bakalan terjadi. Di sisi-sisi jalan hanya ada jurang." jelas Ella.


"Semoga saja itu suara tembakan pemburu." kata Ella.


"Kita harus bagaimana. Elo jangan tinggalin gue." Hana tetap menempel di badan Ella.


"Kita ke sana untuk melihatnya. Apa elo di sini saja. Gue akan ke sana sendiri. Elo masuk mobil saja."


"Nggak mau. Gue ikut elo kemanapun elo pergi."


Ella membawa Hana menuju tempat yang sedikit tinggi. Setelah sampai, Ella mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Hana hanya diam dan melihat ke arah Ella.


Dia percaya pada Ella. Sebagai anak dari pengusaha sekelas Tuan Haris, tidak mungkin Ella tidak di bekali kemampuan untuk membela diri. Apalagi persaingan di dunia bisnis sangat kejam.


"Kita disini untuk sementara Han." Ella melihat dengan teropong mini miliknya.


"Apa yang terjadi Ell." Hana merasa takut.


"Tidak akan terjadi apa-apa. Tenang saja." Ella mencoba menenangkan Hana.


"Kenapa harus di saat seperti ini." Ella melihat ke layar ponselnya. Ella ingin menghubungi papanya, tapi sinyal nya tidak ada sama sekali.


"Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka saling baku tembak." Ella kembali mengeluarkan teropong dan melihat ke arah suara tembakan tadi.


"Sebentar lagi gelap." gumam Ella melihat ke arah matahari, dan menengok ke tempat Hana duduk menahan rasa takut.


"Papa, apa yang Ella harus lakukan." gumam Ella memejamkan mata.


"Kita kembali ke mobil Han." Ella bergegas kembali ke mobil dengan Hana berjalan di belakangnya.

__ADS_1


Ella teringat jika papanya pernah menaruh pistol di dalam mobil. Tepatnya di bagasi mobil. Di dalam bagasi ada sebuah kotak kecil yang ditutupi perlengkapan Ella untuk pemotretan. Tidak ada yang tahu selain Ella dan Tuan Haris.


Pistol tersebut di berikan Tuan Haris saat mereka terlibat perseteruan dengan saingan bisnis Tuan Haris. Beliau takut jika Ella di serang oleh mereka. Oleh karena itu, Tuan Haris menyuruh Ella belajar dasar menembak.


__ADS_2