DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 09


__ADS_3

"Aku harus segera melakukan sesuatu. Menunggu tante Monic, sama saja menunggu bulan jatuh. Pasti lama. Bisa-bisa malah semua rahasiaku terbongkar." kesal Lyra.


Lyra menyandarkan tubuhnya di dashboard ranjang. "Apa yang harus aku lakukan." ucap Lyra dalam hati.


Lyra mengambil ponselnya. Entah dengan siapa dirinya sedang melakukan panggilan telepon. Terlihat pembicaraan yang serius antara Lyra dengan seseorang di ujung telepon.


Terlihat percakapan yang serius di antara keduanya. Tampak seseorang di seberang ponsel sedang membuat api di hati Lyra semakin menyala.


Ekspresi wajah Lyra sangat rumit, setelah mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang di balik ponselnya. "Apa ucapanya bisa di percaya?" gumamnya, dengan tangan meremas ponsel di tangannya.


"Tapi jika tidak begitu, akan semakin lama untuk aku menjadi Nyonya Muda di keluarga Subara." ucap Lyra.


Ada perasaan ragu di benak Lyra. Saat seseorang yang dihubunginya memberikan sebuah ide padanya.


"Tunggu, aku bisa menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan kotor tersebut. Aku akan membayarnya. Dan, tanganku akan bersih. Iya, benar." Lyra tersenyum licik.


Hana meletakkan kembali ponselnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tapi, lagi-lagi ponsel miliknya berbunyi.


Tanpa bangun dari tidurnya, tangan Hana meraih ponsel yang sudah dia letakkan di atas meja dekat tempat tidurnya.


"Pasti Denis lagi." gumam Hana menyalakan ponselnya.


Senyum yang sempat terukir sempurna seketika lenyap, saat melihat siapa yang sudah mengiriminya pesan tertulis. Kening Hana mengerut membaca pesan tersebut.


"Untuk apa beliau meminta bertemu." gumam Hana. Membaca pesan tertulis. Yang ternyata pengirimnya adalah papa dari Denis.


Tidak ingin membuat beliau kecewa, segera Hana membalas pesan tersebut. Menyetujui untuknya bertemu dengan beliau besok pagi. Di tempat yang sudah beliau beritahu pada Hana.


Hana meletakkan ponselnya. Merasa takut. Jika ternyata papanya Denis sama seperti mamanya Denis. Yang menentang hubungan keduanya.


"Pasti akan sangat sulit untuk kedepannya." gumam Hana, seandainya kedua orang tua Denis sama sekali tidak memberi restu pada hubungan mereka.


Seperti yang sudah di janjikan. Pagi ini Hana bertemu dengan Tuan Bara. Papanya Denis. Sebelum dia berangkat untuk bekerja di salon.


"Maaf, sudah membuat kamu menunggu." ucap Tuan Bara, duduk di kursi depan Hana.


Hana segera berdiri dan mencium punggung telapak tangan Tuan Bara. "Tidak Tuan, saya juga baru saja sampai." ucap Hana dengan sopan.

__ADS_1


"Maaf, saya hanya memesan minuman untuk saya sendiri. Karena tidak tahu apa minuman kesukaan Tuan." ucap Hana, karena memang Hana hanya memesan minuman hanya untuk dirinya sendiri sembari menunggu kedatangan papanya Denis.


"Kopi hitam saja." ucapnya dengan santai.


Hana memanggil pelayan cafe, memesan kopi untuk Tuan Bara. "Silahkan Tuan." ucap Hana pada Tuan Bara, setelah kopi pesanan beliau datang.


"Bagaimana hubunganmu dengan Denis?" tanya Tuan Bara langsung, mengangkat cangkir berisi kopi dan menyeruputnya pelan. Lalu meletakkan kembali ke atas meja.


Hana tersenyum simpul. "Bukankah anda juga tahu Tuan. Jika hubungan kami seperti berjalan di tempat." jelas Hana dengan ramah.


Karena Hana yakin, jika papanya Denis sudah mengetahui tentang Nyonya Monic yang sangat tidak menyukai kehadirannya di samping sang putra.


Tuan Bara menghela nafas. Menatap penuh ke arah Hana. "Berapa uang belanja yang kamu inginkan setiap bulannya, jika sudah menikah dengan putra saya?" tanya Tuan Bara.


Dan entah apa maksud Tuan Bara bertanya seperti itu. Tapi pertanyaan dari Tuan Bara membuat pikiran Hana seakan berhenti berpikir.


"Maksudnya apa?" tanya Hana dengan polos.


Tuan Bara tersenyum samar. "Saya hanya ingin bertanya. Karena semua kekayaan yang di miliki oleh Denis sekarang adalah harta saya. Masih atas nama saya. Apa kamu paham maksud saya." tanya Tuan Bara.


Hana merasa berdebar dan takut setiap menjawab atau menyahuti perkataan dari Tuan Bara. Mungkin karena Hana takut salah atau takut membuat Tuan Bara kecewa atas jawabannya.


Tuan Bara menggut-manggut mendengar jawaban Hana. Beliau melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Ya sudah, saya pergi dulu. Kamu juga harus bekerja bukan." ujar Tuan Bara.


"Iya Tuan." jawab Hana.


Tuan Bara berdiri, merapikan jas yang dia kenakan. "Panggil saya papa. Seperti Denis memanggil saya." pinta Tuan Bara.


"Iya Tuan." sahut Hana.


Hana kemudian seperti tersadar. Dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat memandang Tuan Bara. "Papa." ucap Hana lirih, seakan tidak percaya.


"Papa... Papa..." Hana menepuk kedua pipinya dengan keras.


"Awww... sakit." seru Hana tertahan. "Sumpah, sakit. Berarti bukan mimpi. Tuhan,,, terimakasih." Hana berjongkok. Menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Kini dia benar-benar merasa bahagia. Setidaknya, jika Nyonya Monic belum memberikan restu. Tapi tidak dengan Tuan Bara. Beliau dengan pasti menyuruh Hana memanggilnya Papa.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari. Seseorang mengabadikan momen pertemuan Tuan Bara dan Hana. "Pasti sebentar lagi akan ada yang meledak." ucapnya menyeringai.


Mengirimkan beberapa foto pertemuan keduanya pada dua perempuan yang sangat membenci Hana. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Monic dan juga Lyra.


"Aku tidak yakin dengan Nyonya Monic. Meski dia tidak menyukai Hana, tapi dia perempuan bermartabat. Dia pasti tidak akan pernah melukai fisik Hana. Pasti dia hanya akan menggunakan mulutnya. Tidak berguna." desisnya.


Karena beberapa kali dia mempengaruhi pikiran dari Nyonya Monic. Tapi Nyonya Monic seakan patuh pada pendiriannya. Dia tidak akan mencelakai Hana. Meskipun tidak merestui hubungan putranya dengan Hana.


Sementara yang dia tahu. Hana adalah perempuan hebat dan juga cerdas. Hal yang dilakukan oleh Nyonya Monic tidak akan bisa membuat pikirannya terganggu atau mengakibatkan dia stres.


"Dia asisten dari Ella. Dan aku tahu betul, siapa Ella. Dia tidak mungkin tidak membentuk kepribadian dari Hana." gumamnya.


Nyonya Monic hanya meneror Hana melalui pesan-pesan tertulis dan beberapa foto Denis dengan perempuan.


"Lyra. Semoga dia mau melakukan apa yang aku harapkan. Semoga. Lagi pula, saat ini dia sangat membutuhkan harta keluarga Subara." seringai licik muncul di wajahnya.


Karena dia tahu, jika kondisi perusahaan dari papanya Lyra sedang mengalami masalah besar. Dan mereka berharap Lyra segera menikah dengan Denis. Sehingga perusahaan mereka terselamatkan dari kebangkrutan.


Tuan Bara tersenyum, memegang kedua pundak Hana sebentar dan pergi meninggalkan Hana yang masih berdiri dengan kedua telapak tangan memegang tepat di depan dadanya.


Tuan Bara tersenyum di dalam mobil. "Dia memang pantas menjadi Nyonya muda dalam keluarga Subara." ucap Tuan Bara tersenyum, mengingat tingkah lucu dan polos dari Hana.


"Pasti dia tadi sangat ketakutan Tuan." ucap asisten Tuan Bara yang berada di balik kemudi.


"Iya, padahal tadi aku bertanya hanya sekedar basa-basi. Kenapa dia sangat tegang sekali." tutur Tuan Bara tersenyum.


"Dan sekarang, dia pasti sedang merasa bermimpi." imbuh Tuan Bara tertawa senang.


"Iya Tuan. Saya sudah menyelidiki semuanya. Dia memang berasal dari keluarga biasa. Tapi dia perempuan yang baik."


"Pantas saja Denis menyukainya. Lagi pula, tidak mungkin jika keluarga Tuan Haris sembarangan mengambil dan memberikan perlindungan pada satu keluarga secara penuh. Jika mereka bukan keluarga baik." ucap Tuan Bara.


"Dan sekarang, Arik. Adiknya Nona Hana bekerja di perusahaan mendiang Tuan Vano. Bersama dengan Tuan Reza. Dan yang saya ketahui, dia sangat terampil dan cekatan dalam berbagai hal." jelas sang asisten.


"Akan sangat bagus, jika dia mau bekerja dengan Denis." harap Tuan Bara.


"Tidak mungkin Tuan. Dia seperti kakaknya. Hana. Kesetiaan adalah harga mutlak." ucap sang asisten. Membuat Tuan Bara tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2