
Vano dan Ella berbaur dengan para tamu undangan. Vano dengan posesif melingkarkan tangannya pada pinggang ramping milik Ella. Seolah menunjukkan pada dunia jika sekarang, Mellanie adalah miliknya. Sepenuhnya.
"Selamat sayang. Elo cantik banget Ell." ucap temannya sesama model.
"Makasih sudah hadir." Ella memeluknya.
"Selamat Tuan Vano." ucapnya beralih pada Vano.
Namun Vano hanya mengangguk untuk menjawabnya.
Ella tersenyum canggung pada beberapa teman seprofesinya saat Vano terlihat cuek pada mereka. Dirinya merasa tidak enak hati. Padahal merela mengucapkan selamat pada pernikahannya dengan tersenyum.
"Van, jangan seperti itu." tegur Ella saat dirinya dan Vano hanya berdua, tidak ada tamu di samping mereka.
Ella mendengus melihat Vano malah menatap padanya. "Tersenyum sayang." Ella mengembangkan pipinya.
Vano menangkup kedua pipi Ella. Membuat pipi Ella kempes. "Mereka hanya berpura-pura baik di depanmu." ujar Vano. Karena beberapa dari mereka dengan terang-terangan merayu Vano, bahkan menawarkan diri untuk menggantikan Ella.
Ella memutar matanya jengah. "I don't care. Itu urusan mereka. Saat ini mereka tamu yang kita undang. Dan mereka nampak baik. Yaa,, meskipun hanya topeng. Setidaknya mereka tidak mengacau di acara kita." jelas Ella.
"Baiklah honey." ucap Vano pasrah, tapi entahlah nanti jika ada tamu yang mengucapkan selamat lagi. Apakah bibir Vano akan mengembang, atau tetap seperti sebelumnya.
Secara terus menerus Ella dan Vano di hampiri oleh para tamu, sekedar mengucapkan selamat pada kedua pengantin tersebut. Tapi keduanya seolah tidak ingin mengecewakan tamu undangan.
Meski terasa lelah, Ella tetap tersenyum pada tamu. Tapi jangan tanyakan bagaimana ekspresi seorang Vano. Tetap seperti biasanya. Datar, tanpa ekspresi.
"Van, kamu tidak senang dengan pesta pernikahan kita?" celetuk Ella membuat Vano mengerutkan dahi.
"Bukankah tadi sudah aku bilang, senyum..." Ella menghadap ke arah Vano dan memamerkan giginya.
"Dari tadi wajahmu jutek." celetuk Ella. Tapi Vano malah tersenyum genit pada Ella dan kembali ke mode awal. Datar, tanpa ekspresi. Membuat pengantin perempuan angkat tangan untuk membujuknya lagi.
Tapi meskipun begitu, banyak rekan bisnis dan pemilik perusahaan lain tetap menghampiri mereka dan mengucapkan selamat.
Mungkin karena pengaruh dari seorang Vano sangat besar dalam dunia bisnis. Jadi, meskipun sikap Vano terkesan arogan. Mereka tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting dalam dunia bisnis adalah mempunyai rekan kerja yang menguntungkan.
Dan mereka tidak mencari masalah dengan orang yang salah.
"Sayang, kamu capek?" tanya Nyonya Ane mendekat ke tempat Vano dan Ella.
"Jangan di paksakan lo, kalau capek istirahat." ucap Nyonya Ane merasa khawatir dengan keadaan Ella.
"Mama mu masih sangat sibuk. Tadi dia ingin menghampiri kalian, tapi nggak sempat. Lihat, sudah kayak makanan di kerubuti lalat." jelas Nyonya Ane pada Vano dengn tawa kecil.
__ADS_1
Kedua pengantin hanya tersenyum mendengar perkataan Nyonya Ane. "Lalu mama sendiri?" tanya Ella dengan mata memandang sang papa yang juga di kerubuti rekan kerjanya.
"Mama kan pintar." Nyonya Ane mengeringkan sebelah matanya. "Mama kembali ke samping papamu. Takut jika ada perempuan yang ganjen. Kalian kalau capek istirahat. Sudah tahukan kamarnya." ujar Nyonya Ane.
"Ternyata mama centil juga." ucap Vano, dijawab anggukan oleh Ella. "Menurun pada anaknya." imbuh Vano mendapat pelototan dari Ella.
"Asal centilnya hanya sama aku." ujar Vano.
"Sayang. Maaf, Egi tidak bisa pulang dan menghadiri pesta kamu." ucap Nyonya Tiwi.
"Iya tante, tidak apa-apa. Yang penting tante datang. Lagi pula kasihan Egi. Jauh kan tan." ucap Ella.
Beberapa hari sebelum acara, Ella menghubungi Egi dan memberitahu dia tentang pernikahannya. Dirinya juga mengundang Egi lewat ponselnya.
Tapi entahlah, kenapa Egi memilih tidak datang. Mungkin karena dirinya sibuk dengan pekerjaannya di sana. Atau,, hatinya belum siap melihat perempuan yang pernah singgah di hatinya akan menjadi milik orang lain.
Vano memutuskan untuk mengajak Ella untuk beristirahat terlebih dulu. Dirinya tidak tega melihat belahan jiwanya sudah terlihat lelah. Tapi tetap memaksakan diri.
Meskipun waktu semakin malam, tamu undangan sepertinya tidak berkurang. Dan malah bertambah. Membuat kedua pengantin kecapekan.
Akhirnya Ella menuruti perintah Vano untuk menuju kamar terlebih dulu. Tapi sebelumnya dia berbicara pada Hana untuk menyampaikannya pada kedua orang tuanya dan Vano.
Di jalan, Ella juga berpapasan dengan Viki yang tengah sibuk berbincang dengan temannya. Ella pun minta maaf karena tidak bisa menemani mereka.
Ella hanya tersenyum dan meninggalkan kerumunan manusia. "Ayo sayang." ajak Vano.
"Loh, kamu ikut juga?" tanya Ella bingung, mengira Vano akan tetap di sini dan dirinya ke kamar sendirian.
"Aku tidak tega membiarkan kamu sendirian. Takut di culik orang." Vano tersenyum mesum.
Ella menggeleng dan melanjutkan langkah kakinya. "Vannn...." serunya saat dengan tiba-tiba tubuhnya seperti terbang melayang ke udara.
Ella segera melingkarkan kedua tangannya di leher Vano. "Turunkan aku Van. Nanti kamu capek." ucap Ella.
"Capek. Nggak akan." ucapnya santai sambil berjalan menggendong Ella.
"Vano." panggil seseorang menghentikan langkahnya. Ella yang melihat siapa yang telah memanggil suaminya hanya mencebik.
"Sayang, Oma memanggil. Turunin aku gih, malu." ucapnya dengan nada sedikit keras. Vano pun mengikuti keinginan sang istri untuk menurunkannya.
Oma Yeti dan Lena memandang tajam ke arah Ella. Membuat yang di tatap menghembuskan nafas kasar. "Jika bukan Oma dari suami gue, sudah pasti gue cakar mukanya." batin Ella.
Aduh Ellll,,,, memang kamu kucing, main cakar-cakaran. 😁😁 Lagian kenapa dua lampir ini ada di sini. Bikin mood langsung down aja.
__ADS_1
"Oma ingin bicara sama kamu." tegas Oma Yeti. "Berdua." imbuhnya memandang ke arah Ella, seperti hendak mengusir Ella. Tapi Ella malah bergelayut manja pada lengan Vano.
Vano memijat keningnya. "Ada apa?" tanya Vano. "Jika memang tidak ada yang di sampaikan, kami permisi." imbuh Vano.
"Vano, kamu mulai berani dengan Oma!!" bentak Oma Yeti.
Vano membalikkan badan berjalan dengan tangan saling bertautan dengan Ella.
"Oma..!!!" teriak Lena dengan tangan memeluk badan Oma Yeti yang hampir pingsan.
Vano dan Ella membalikkan badan. Vano melepaskan tangan Ella dan segera berlari menuju ke arah Oma. Sementara Ella hanya tersenyum sinis.
"Astaga, menganggu saja." Ella melangkahkan kakinya menjauh dari mereka dan malah pergi ke kamar sendirian. Dirinya tidak mau ambil pusing dengan drama yang akan tersaji di depannya.
Vano dan Lena membawa Oma Yeti ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Vano segera menghubungi Reza dan menyuruhnya memberi kabar pada kedua orang tuanya.
"Bagaimana keadaan Oma?" tanya Nyonya Risma begitu sampai di depan ruangan Oma Yeti bersama Tuan Danto dan Reza.
"Masih di dalam Nyonya." jawab Lena sambil menangis.
Sementara acara di hotel tetap berjalan. Kedua orang tua Vano meninggalkan hotel tanpa di ketahui siapapun. Kecuali orang tua Ella. Karena bagaimanapun, mereka harus berpamitan pada besan mereka. Mereka tidak terlalu khawatir, karena masih ada Tuan Haris dan Nyonya Ane di sana sebagain tuan rumah.
"Mana istri kamu Van?" tanya Tuan Danto yang tidak melihat Ella di samping Vano.
Vano memejamkan mata. "Ckk,,, Vano lupa pa. Mungkin masih di hotel." ucap Vano merasa bersalah.
"Lagi pula mana mungkin Ella ikut. Akan sangat ribet, apalagi dengan gaun yang sedang di pakainya." ujar Nyonya Risma mendapat anggukan dari suami.
Lena berwajah masam mendengar Nyonya Risma masih membela Ella.
Vano mendaratkan pantatnya di kursi. Dengan pikiran tertuju pada sang istri yang di tinggalkan begitu saja. "Astaga." batin Vano melihat baterai ponselnya mati.
"Ini Tuan." Reza menyodorkan ponsel miliknya pada Vano, seakan tahu apa yang terjadi pada Tuannya.
Beberapa kali Vano menghubungi ponsel Ella lewat ponsel Reza. Tapi tidak di angkat. "Kenapa tidak di angkat." gumam Vano. "Apa dia mengira Reza yang menelponnya." batin Vano.
"Lebih baik kamu kembali ke hotel Van, kasihan Ella." ucap Nyonya Risma.
"Tapi tadi Oma berpesan supaya Tuan Vano menunggunya." ucap Lena menyela.
Keadaan menjadi hening. Apalagi Ella tetap tidak mengangkat panggilan telepon dari Reza. "Apa saya perlu menemui Nona Ella." tanya Reza.
"Biarkan saja. Mungkin Ella sudah tidur." ucap Vano yang mengira Ella sudah terlelap karena capek.
__ADS_1