DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 161


__ADS_3

Acara telah selesai, Ella dan Vano dalam perjalanan menuju kediaman mereka. Tampak suasana lenggang sepanjang jalan. Tidak ada kendaraan lain selain mereka. Sampai.....


Brakkk.... Mobil yang mereka tumpangi di tabrak sebuah mobil dari belakang. Vano dengan sigap segera menguasai mobil yang sempat oleng. Dan menancap gas, menjauh dari mobil tersebut.


Dan Ella, dirinya segera melepas seatbelt. Dan menolah ke belakang. Mata Vano melihat dari spion. Di mana ada sebuah mobil besar yang masih berusaha mengejar mobil mereka.


"Bagaimana sayang?" tanya Vano.


"Mereka terus mengejar. Apa ada senjata di sini." tanya Ella.


"Di bawah jok yang kamu duduki." ucap Vano.


Segera Ella menarik ke atas kursi yang sempat dia duduki. Dan ternyata di bawah kursi tidak hanya ada satu jenis senjata api. Ella tersenyum. Seperti mendapatkan mainan baru.


"Kalian mengganggu malam kami." sungut Ella, mengambil senapan laras panjang, yang menjadi pilihannya di antara yang lainnya.


"Hati-hati sayang." ucap Vano khawatir.


"Beres."


Suara decit ban kian mendekat. Mereka memacu mobil dengan kecepatan tinggi untuk mendekati Vano dan Ella.


Raungan mesin bersahutan. Seperti teriakan singa yang sedang mengejar mangsanya.


Ella menyobek gaunnya untuk mempermudah pergerakannya. "Van,, buka." pinta Ella.


Ella melepaskan peluru lewat jendela. Tapi dengan gesit mobil tersebut menghindar. "Van,, buka." pinta Ella lagi.


Ella memastikan jika mereka tidak membawa senjata. Karena mereka sama sekali tidak menyerang balik saat Ella menembaki mobil mereka.


"Kamu yakin?" Vano merasa khawatir.


"Sayang,,, kita bertukar tempat." saran Vano. Dirinya tidak ingin Ella sampai terkena peluru dari mereka.


"Tidak ada waktu Vano. Cepat buka. Lagipula mereka tidak membawa senjata. Tenang saja. Lebih baik kamu fokus menyetir." kekeh Ella.


Dengan terpaksa Vano membuka atap mobilnya. Segera Ella mengeluarkan kepalanya dari sana. Bersiap membidik mangsa.


Dorrr.....Ciiiiittttzzzzz....


Brakkkkk...... Bluuummmm....


Terlihat jelas Ella membidik tepat pada ban mobil. Ella memang penembak handal. Tidak sulit untuknya menembak ban mobil tersebut.


Membuat mobil oleng dan menabrak pembatas jalan. Vano segera menghentikan mobilnya melihat mobil di belakang menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


Segera Ella dan Vano keluar dari dalam mobil dengan masing-masing senjata api di tangannya. Tapi keduanya tetap waspada. Takutnya masih ada musuh di sekitar mereka.


Vano membuka paksa kaca mobil dengan menggunakan gagang senapannya. Terlihat dua lelaki di dalam mobil dengan darah di kepala. Sepertinya kepala mereka terbentur.


"Bagaimana?" tanya Ella saat Vano mengecek denyut nadi mereka.


"Sangat lemah. Tidak berguna."


Doorrr,,,, doorrr,,,, Vano menembak keduanya di bagian kepala. Membuat mereka dengan mudah kehilangan nyawa.


Ella mencoba mencari sesuatu di dalam mobil, tapi dirinya tidak menemukan apapun. "Sangat rapi dan bersih." ujar Ella tidak menemuka apa yang di carinya.


Vano dan Ella mengeluarkan kedua orang tersebut dari dalam mobil. Mencari dompet mereka. Memastikan identitasnya. Tapi sayangnya, di badan mereka juga tidak ada apa-apa kecuali pakaian yang melekat di tubuh mereka.


Tidak mendapatkan petunjuk apapun, Vano dan Ella membuang mereka ke dalam jurang yang berada di tepi jalan.


"Minggir Ell.." ucap Vano.


Dooooommmmmm...... Vano menembak tangki mobil. Membuat mobil terbakar.


Segera mereka pergi sebelum ada kendaraan yang melaju melewati jalan ini.


"Mereka siapa?" gumam Vano.


"Kita harus segera mencari tahu." Ella melihat ke layar ponselnya. Karena sebelum mobil terbakar, Ella memfoto nomor polisi dari kendaraan tersebut.


Segera Ella mengirim nopol kendaraan tersebut pada Reza dan Paman Haki. Bukankah lebih banyak yang mencari tahu akan semakin cepat.


"Astaga." Ella menepuk jidatnya pelan, saat mereka memasuki gerbang rumah mereka.


"Ada apa sayang?" tanya Vano.


"Sepertinya kita tidak bisa tidur di dalam kamar kita malam ini." ucap Ella seraya keluar dari dalam mobil.


"Ada apa? Kenapa dengan kamar kita?" tanya Vano penasaran. Vano memberikan kunci mobilnya pada sopir yang sudah berdiri di belakangnya.


"Nyonya." sapa beberapa pembantu di rumah Ella.


"Kalian sudah bersihkan kamar yang di sebelah kamar utamakan?" tanya Ella.


"Sudah Nyonya." jawabnya.


"Sayang, kamu belum jawab. Kenapa dengan kamar kita?" tanya Vano semakin penasaran.


Ella tersenyum. "Ada sesuatu di dalam kamar. Dan pasti kamu tidak akan mau menggunakannya, sebelum kamarnya di bersihkan."

__ADS_1


"Kamu merenovasi kamar kita?" tanya Vano lembut.


Ella menggelengkan kepala. "Lantas?" tanya Vano.


Tanpa menjawab rasa penasaran dari sang suami, Ella menarik tangan Vano untuk menaiki tangga. Menuju kamar mereka.


"Ada surprise di dalam." bisik Ella dan menarik tubuh Vano supaya minggir dari depan pintu kamar.


Ceklekk..... pintu kamar Ella terbuka lebar.


Deg,,,,, Vano memegang dadanya, terkejut ada seorang perempuan tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan rambut acak-acakan. Dan pastinya Vano mengira jika Lena adalah hantu.


Tanpa berkata apapun, Lena keluar dan menyenggol bahu Ella. Pasti Lena kesal setengah mati pada Ella.


"Lena." ucap Vano seakan tidak percaya jika Lena keluar dari dalam kamarnya. Dan Ella, hanya mengangkat kedua bahunya.


Ella melihat kamarnya yang seperti kapal pecah. Dia tersenyum, membayangkan betapa frustasinya Lena terkunci selama berjam-jam di dalam kamarnya. Tanpa ada makanan.


"Nyonya." ucap Bibik yang sudah berdiri di samping Vano dan Ella.


"Rapikan, tidak usah malam ini. Besok saja. Malam ini kami akan tidur di kamar sebelah." ucap Ella mendapat anggukan dari Bibik.


Meski Ella bisa menyuruh para pembantu merapikan kamarnya malam ini, tapi Ella tidak melakukannya. Mengingat waktu sudah menunjukkan larut malam. Dan saatnya mereka beristirahat. Apalagi seharian mereka sudah bekerja.


"Tapi tolong, bawakan perlengkapan mandi kami ke kamar sebelah. Untuk pakaiannya, biar saya ambil sendiri." titah Ella.


"Baik Nyonya." segera mereka melakukan apa yang di perintahkan oleh majikan mereka tanpa membuang waktu.


"Kenapa Lena bisa berada di dalam sayang? Apa yang dia lakukan?" tanya Vano. Dirinya masih penasaran dengan apa yang terjadi.


Apalagi melihat Lena berani masuk ke dalam kamarnya. Sungguh lancang. Sebenarnya Vano ingin sekali marah, tapi dia sekarang sadar jika sudah ada Ella yang akan mengurus semua masalah yang terjadi di dalam rumah.


"Asisten Oma Yeti penasaran dengan apa yang ada di dalam kamar kita. Makanya dia masuk." Ella duduk di depan meja riasnya.


"Karena aku baik hati, makanya aku biarkan dia berlama-lama di dalam kamar kita." Ella menghapus riasan di wajahnya.


"Bagaimana? Baik kan istrimu ini." Ella memandang Vano dan mengerlingkan matanya.


"Astaga, kamu ini." Vano mengacak pelan rambut sang istri dan berlalu ke kamar mandi, membersihkan badannya.


Di dalam kamar, Lena melampiaskan lagi amarahnya. Berteriak seperti orang kesurupan. Tapi sepertinya penghuni rumah memilih menutup telinga mereka.


Dengan emosi masih membara, Lena berjalan ke dapur. Mencari makanan. Betapa kesalnya dia, tidak mendapati makanan di dapur. "Sebenarnya mereka kerja tidak sih. Kenapa tidak ada makanan sama sekali." sungut Lena.


Ingin sekali Lena berteriak memanggil pembantu, tapi dirinya terlalu lapar. Menunggu mereka memasak untuk membuatkannya makan, pasti membutuhkan waktu lama.

__ADS_1


Memesan makanan, juga membutuhkan waktu. Sementara perutnya sudah sangat lapar. Alhasil di bukanya pintu kulkas. Ada roti dan buah-buahan di dalamnya. Juga ada beberapa camilan.


Dengan rakus Lena memakan semuanya. Perutnya sangat amat terasa lapar.


__ADS_2