
"Bagaimana Dok?" tanya Ella khawatir.
Ella memutuskan untuk memeriksakan dirinya. Lebih tepatnya kandungannya. Lantaran dirinya mengkonsumsi pil mencegah kehamilan beberapa tahun. Itupun karena Vano yang memintanya. Vano tidak ingin Ella hamil sebelum keduanya menikah.
Setelah Vano melamarnya, dan sudah siap sepenuh hati untuk menikah dengannya. Ella tidak lagi mengkonsumsi barang berbentuk pipih bulat tersebut.
Ella juga memberitahu Vano, jika dirinya berhenti untuk mengkonsumsi pil tersebut. Dan tentunya Vano setuju dengan apa yang di lakukan Ella.
Dokter tersenyum melihat wajah dari Ella. "Apakah Nyonya datang ke sini sendiri?" tanya sang dokter.
"Iya. Kebetulan saya sedang menjenguk teman. Dan sekalian saya mampir." jelas Ella tidak berbohong. Karena memang benar, Ella datang ke rumah sakit untuk menjenguk bawahannya. Dan juga paman Haki.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Nyonya. Keadaan rahim anda baik-baik saja."
"Tapi saya mengkonsumsi pil itu selama beberapa tahun." ucap Ella jujur. Dirinya tidak ingin berbohong sedikitpun dengan sang dokter.
Seandainya pun dokter tersebut mencibirnya sebagai jalangnya Vano saat mereka berpacaran. Ella tidak akan marah. Karena memang itulah kebenarannya.
"Tidak masalah Nyonya. Apalagi saya lihat anda mengkonsumsi sayur dan buah secara teratur. Semua itu bisa menyeimbangkan kandungan." jelas sang dokter. Membuat rasa cemas di hati Ella sirna seketika.
"Tapi, anda tidak mengkonsumsi obat lainkan Nyonya?" tanya dokter memastikan.
Karena sebagai seorang model, tentu saja dokter berpikiran jika Ella akan mengkonsumsi berbagai obat untuk menunjang penampilannya. Seperti obat pelangsing, pemutih, dan semacamnya.
"Obat lain?" gumam Ella masih bisa tertangkap indera pendengaran sang dokter.
"Maaf sebelumnya. Semua orang mengetahui jika anda adalah seorang model. Pasti membutuhkan sesuatu untuk tetap menjaga penampilan anda agar tetap terlihat sempurna." jelas sang dokter dengan bibir tersenyum sopan
Ella menggeleng dan tersenyum. "Tidak pernah." ucap Ella sama sekali tidak berbohong.
Karena memang Ella selama ini tidak pernah mengkonsumsi atau memasukkan cairan apapun ke dalam tubuhnya. Supaya bentuk tubuh dan kulitnya terlihat sempurna
Ella hanya rajin melakukan perawatan di salon, untuk kulit dan wajahnya. Meski membutuhkan biaya yang besar, tapi hal itu tidak akan berdampak negatif pada tubuhnya.
Sementara tubuhnya, Ella melakukan oleh raga kecil setiap hari di rumah. Selain itu, dia sangat menjaga segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya melalui mulutnya.
"Baguslah." ucap Dokter.
"Jika Nyonya ingin melakukan program, lebih baik mengajak Tuan Vano sekalian." saran dokter tersebut.
"Baik dok, saya akan berbicara dengan suami saya."
"Sekarang, saya hanya akan memberikan vitamin untuk anda Nyonya. Untuk menjaga rahim anda tetap subur. Dan satu lagi, tetap mengkonsumsi makanan sehat, dan rajin berolah raga." ucap Dokter.
"Tapi sepertinya, saya tidak perlu memberitahukan hal itu pada anda Nyonya." imbuh Dokter, membuat dahi Ella berkerut.
"Karena terlihat, anda sangat menjaga pola makan anda. Dan kesehatan anda." imbuh sang dokter dengan tersenyum.
"Bukankah kesehatan adalah rezeki paling utama." kata Ella, mendapat anggukan kecil dari sang dokter.
Selesai melakukan pemeriksaan, Ella segera pergi ke apotik. Membeli vitamin yang sudah di tuliskan di atas kertas resep oleh dokter kandungan.
"Apotik?" gumam Vano, menerima laporan dari bawahannya jika Ella pergi ke apotik.
"Untuk apa Ella pergi ke apotik. Siapa yang sakit." batin Vano. Ingin sekali Vano menghubungi Ella dan bertanya, tapi semua itu dia tahan.
Nanti malah ketahuan jika dirinya memang sengaja menyuruhnya memakai sopir untuk memantau pergerakannya. Padahal Ella bukan perempuan bodoh. Dan Ella sudah memperkirakan hal tersebut.
"Lebih baik, aku biarkan saja dulu. Siapa tahu nanti Ella bercerita sendiri." gumam Vano.
__ADS_1
Sebenarnya Ella ingin sekali pergi ke suatu tempat. Menemui seseorang untuk membahas suatu masalah.
Tapi semua tidak mungkin. Karena Ella membawa sopir bersamanya. Yang akan mengantarkan Ella kemanapun dia pergi.
Dan pastinya dia akan memberikan laporan pada Vano pada setiap gerakannya. Alhasil, Ella mengubah rencananya.
"Pak, kita ke rumah mama saya." pinta Ella.
"Baik Nyonya." ucapnya mengendarai mobil menuju ke rumah Nyonya Ane.
"Mama,,,,,," teriak Ella menggema di dalam rumah. Para pembantu yang melihatnya hanya tersenyum.
"Sayang..." Ella berhambur memeluk sang mama.
"Mana Vano." tanya Nyonya Ane seraya mengurai pelukannya pada sang putri tercinta.
"Ma, mana papa?" bukannya menjawab, Ella malah bertanya dengan raut wajah meledek.
"Kamu itu. Ya kerja lah."
"Sama." ujar Ella dengan wajah menggemaskan. Nyonya Ane mencium gemas putrinya yang baru saja menikah tersebut.
"Mama lagi ngapain?" tanya Ella berjalan beriringan dengan sang mama.
"Merangkai bunga." jawab sang mama dengan mata mengarah ke atas karpet, di mana di atasnya banyak bunga yang masih berserakan.
"Ma, ajarin Ella masak dong?" rajuk Ella saat bokongnya mengikuti sang mama duduk di atas karpet.
"Loh, katanya mau masuk kursus masak?" tanya Nyonya Ane tanpa memandang Ella. Tangannya sibuk menggunting tangkai bunga.
"Belum sempat. Ayo ma, ajarin Ella masak." rengek Ella memegang lengan sang mama. Persisi seperti anak kecil yang menginginkan es krim.
"Nggak tahu, terserah mama." Ella mengangkat kedua bahunya. Dirinya juga tidak tahu ingin memasak apa. Lantaran Vano termasuk orang yang tidak terlalu pemilih dalam makanan. Yang terpenting tidak pedas. Hanya itu.
"Bagaimana kalau yang mudah dulu." saran sang mama, tangannya meletakkan gunting ke atas karpet.
"Nasi goreng." ucap Nyonya Ane. Ella tampak berpikir. Dan akhirnya mengangguk, tanda setuju.
"Sekarang?" tanya Ella memastikan.
"Boleh. Ayo."
"Kalian bereskan ini dulu, nanti saya lanjutkan." ucap Nyonya Ane pada pembantunya.
"Baik Nyonya." ucapnya.
Dengan antusias Ella melangkahkan kaki ke dapur.
"Dipakai dulu celemeknya." Nyonya Ane memberikan celemek pada Ella.
"Harus ya ma?" tanya Ella. Karena dirinya memang tidak pernah sama sekali memasak.
"Harus dong sayang. Supaya baju kamu nggak kotor." jelas Nyonya Ane.
Dengan serius Ella melihat ke arah sang mama. Saat beliau memberitahu Ella mengenai apa saja bumbu yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng. Sementara Nyonya Ane tersenyum senang melihat putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf Tuan." ucap Reza sedikit menundukkan badan.
__ADS_1
Vano memandang tajam ke arah Reza. Lantaran sang asisten lupa memberikan undangan dari perusahaan lain.
"Kenapa bukan Imey yang memberikan. Apa pekerjaan sekertaris itu." ucap Vano dengan nada tidak suka.
"Sebenarnya kemarin Imey sudah menyampaikan pada saya. Karena kecerobohan saya, saya lupa memberitahu pada Tuan." ungkap Reza.
Amarah Vano menguap seketika. Dirinya tidak mungkin menyalahkan Reza. Karena kemarin memang Reza dia suruh untuk urusan lain.
"Maaf Tuan." ucap Reza lagi. Dan Vano hanya mengangguk pelan.
"Jika tidak ada yang lain, saya undur diri Tuan." ucap Reza pamit.
Vano mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi Ella. Tapi tidak di angkat. "Kemana perginya Ella." gumam
Vano menghubungi sopir Ella, menanyakan keberadaan sang istri. "Katakan pada Ella untuk mengangkat panggilan telepon dari saya." perintahnya. Dan segera mematikan panggilan teleponnya.
"Apa yang sedang di lakukan. Sehingga tidak sempat memegang ponsel." batin Vano menghubungi kembali Ella lewat video call.
Pembantu di rumah Nyonya Ane tergopoh-gopoh menghampiri Ella di dapur. Menyampaikan pesan dari sopir Ella.
"Angkat dulu Ell, siapa tahu penting." ucap Nyonya Ane.
"Ada apa sih." Ella berjalan menuju di mana dia meletakkan tasnya. Terlihat di layar jika Vano sedang ingin melakukan panggilan video pada dirinya.
"Sayang, ada apa?" tanya Ella setelah menggeser gambar hijau pada layarnya.
Bukannya menjawab, Vano malah tercengang melihat wajah sang istri. Tampak seksi dengan keringat di dahinya. Apalagi Ella menggelung asal rambutnya ke atas.
Memamerkan leher jenjangnya yang mulus. Dan juga ada keringat di leher sang istri. Dan beberapa anak rambut masih berada di wajah dan lehernya. Menempel pada kulit karena terkena keringat.
"Van...!! panggil Ella, karena Vano malah diam dan hanya memandangnya.
"Kamu sedang apa di rumah Mama?" tanya Vano lembut.
"Belajar memasak." jawab Ella dengan malu-malu.
Vano tersenyum samar. "Memasak. Memasak apa?"
"Nasi goreng." jawab Ella polos.
"Baiklah. Kalau begitu kamu lanjutkan lagi. Besok pagi aku ingin mencobanya." ucap Vano membuat Ella hanya mengangguk pelan.
"Van,, kenapa kamu menelponku?" tanya Ella.
"Hampir lupa." batin Vano.
"Nanti malam aku akan mengajak kamu ke acara ulang tahun perusahaan rekan kerjaku."
"Pukul berapa?"
"Tujuh malam aku jemput di rumah mama."
"Baiklah. Jika tidak ada lagi, aku tutup teleponnya. Mau ke dapur lagi. Mama masih ada di sana." ucap Ella meminta izin.
Ella kembali melanjutkan acaranya di dapur bersama sang mama. Sedangkan Vano memijat pelan pangkal hidungnya dan menyandarkan badannya ke kursi.
Dirinya tersenyum. Membayangkan wajah sang istri yang begitu cantik dan pastinya akan terlihat seksi dengan keringat di beberapa bagian wajah dan leher jenjangnya.
Entah apa yang sekarang di bayangkan oleh Vano. Mungkin saja Vano membayangkan jika dirinya dan Ella melakukan olah raga yang nikmat di dapur.
__ADS_1
Sungguh, memang sangat mesum suami dari Mellanie.