
Tiba-tiba dada Ella terasa sesak. Matanya buram karena air matanya sudah memenuhi kantong mata miliknya. Tangan Ella beberapa kali melepas stir untuk menghilangkan air matanya. Membuat penglihatan Ella terganggu. Juga konsentrasinya.
Ciiiiiitttttt........ Brakkkk........
Mobil Ella menghantam pembatas jalan yang berada di tepi jalan. Ella membanting stir ke arah lain. Tapi sayangnya, di sampingnya ada salah satu mobil yang sempat mengejarnya.
Membuat mobil Ella dan mobil yang membuntuti Ella bertabrakan dengan sangat keras. Hingga kedua mobil tersebut berguling beberapa kali.
Hingga akhirnya mobil Ella berhenti berguling karena menabrak pohon di pinggir jalan. Sementara mobil satunya yang mengikuti Ella, terjatuh ke dalam jurang.
Dan untuk mobil satunya yang mengikuti Ella, juga menabrak pembatas jalan. Karena harus menghindari kecelakaan di depannya. Hingga membuat kap mobil terbuka dan mengeluarkan asap dari dalam kap tersebut.
Ella tidak sadarkan diri di dalam mobil. Beruntung Ella memakai sabuk pengaman. Membuat tubuhnya tidak terbentur ke arah depan.
Terlihat ada beberapa goresan di wajah Ella. Dan juga ada beberapa pecahan kaca yang mengenai lengan Ella. Tembus hingga jaket Ella ikut terkoyak pecahan kaca mobil.
Jika dilihat, sepertinya Ella mengamankan wajahnya menggunakan kedua tangannya sebagai tameng untuk menutupi wajah dan kepala.
Entah bagian tubuh yang lain. Karena saat ini Ella menggunakan jaket lengan panjang dengan bawahan celana jeans panjang. Sehingga bagian tubuh yang lain tidak terlihat.
Tapi tetap saja, karena mobil yang dinaiki olehnya berguling beberapa kali dan berhenti karena membentur pohon, membuat Ella tak sadarkan diri.
"Ella....!!" teriak Vano masih di dalam mobil. Melihat dari jauh jika mobil Ella berhenti di samping pohon. Setelah beberapa kali berguling. Dengan beberapa bagian mobil ringsek. Dan kaca mobil yang pecah.
Vano bisa melihat, jika Ella mengalami kecelakaan yang parah. Nafas Vano seakan terhenti di tenggorokan melihat keadaan mobil Ella. Kewaspadaannya lenyap sudah.
Hanya ada rasa khawatir dan takut akan kondisi sang istri dan juga calon bayinya. Tanpa melihat keadaan sekitar, Vano keluar dari dalam mobil. Tanpa persiapan apapun.
Bahkan dia juga seakan tidak melihat jika ada sebuah mobil yang berada tak jauh dari mobil sang istri. Dimana mobil tersebut yang mengakibatkan sang istri kecelakaan.
Vano berlari menghampiri Ella. Tapi belum sampai mobil yang Ella naiki, ada suara tembakan, yang diarahkan kepada Vano.
Dor,,, dor,,, dor,,, Vano seketika tumbang. Beberapa timah panas menembus badan Vano. "Elll..." gumam Vano, dengan mata mulai buram.
Seorang yang berada di dalam mobil yang mengejar Ella, ternyata salah satu di antara mereka masih selamat. Dengan setengah kesadarannya, dia melihat Vano keluar dan lari ke arah mobil Ella.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia menembak Vano. Hanya dengan sisa kesadaran yang dia miliki. Berharap tembakan yang dia lesatkan mengenai sasaran. Tepat setelah menembak, dirinya juga tidak sadarkan diri.
Reza datang dengan beberapa bawahannya. "Tuan...!!" seru Reza. Tapi Reza tidak gegabah dirinya melihat keadaan sekitar. Tidak ingin kehilangan nyawa dengan sia-sia.
"Amankan tempat ini!!" perintah Reza pada bawahannya. Membuat semuanya berpencar. Mengamankan keadaan.
"Tuan...!!" seru Reza melihat keadaan Vano. Tangan Reza memeriksa denyut nadi Vano. "Masih hidup." gumamnya.
"Kita bawa ke rumah sakit." perintah Reza. Beberapa bawahan Vano segera memindahkan Vano ke dalam mobil.
Nafas Reza kembali tercekat. "Ellaaaa...!!!" segera Reza berlari ke arah mobil Ella.
"Elll...." Reza melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di badan Ella. Sembari menggoyangkan badan Ella.
"Tuan." ucap bawahannya. Tapi Reza acuh, bahkan tubuh Reza bergetar. "Biar saya yang membawa Nyonya." imbuh bawahannya.
"Tidak perlu." timpal Reza.
"Elll,,," ucap Reza lirih. Saat tangan ingin menggendong tubuh Ella, Reza merasa bagian tubuh Ella basah.
Reza kembali menarik tangannya di bawah lutut Ella. "Darah." gumam Reza, mencium bau anyir dari tangannya.
"Ella...!!!" seru Reza. Segera Reza mengeluarkan Ella dari dalam mobil.
"Buka!!" perintah Reza, pada bawahannya. Untuk membuka pintu mobil. Menaruh tubuh Ella di kursi depan. Dengan posisi duduk. Sementara tubuh Vano berada di kursi belakang.
"Kalian urus disini. Bersihkan sampai tak tersisa." ucap Reza.
"Dan untuk mereka, kalian pasti tahu apa yang harus kalian lakukan." imbuh Reza.
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Pegang tubuh Ella dari belakang." ucap Reza, mulai melajukan mobil. Membawa Vano dan Ella ke rumah sakit milik keluarga Vano.
Bersama dua orang di kursi belakang. Menjaga Ella dan Vano. Ada satu mobil lagi di belakang mereka, yang di kendarai anak buah Reza. Menemani Reza membawa Tuan mereka sampai rumah sakit dengan cepat, tanpa halangan.
Tak lama setelah kepergian Reza membawa Vano dan Ella ke rumah sakit. Hana datang ke lokasi kecelakaan.
"Astaga. Apa yang terjadi?" gumam Hana. Dadanya terasa sesak. Segera Hana keluar dari dalam mobil. Berlari ke mobil milik Ella.
"Elllaaaa!!" teriak Hana dengan pipi yang sudah basah karena air mata.
"Nona Hana." ucap salah satu bawahan Vano.
"Ella,, Ella,, Dimana Ella? Apa yang terjadi? Ella baik-baik sajakan?" tanya Hana beruntun, dengan tangan mencengkeram baju orang tersebut.
"Nyonya dan Tuan di bawa ke rumah sakit oleh Boss Reza." jelasnya.
"Tuan,, ma-maksud kamu. Van-Vano?" tanya Hana seperti tidak percaya.
"Iya, mungkin karena terlalu khawatir terhadap keadaan Nyonya. Kewaspadaan Tuan hilang seketika. Beberapa timah panas menembus tubuh Tuan Vano." jelasnya.
"Lalu Ella, pasti dia dalam keadaan baik-baik sajakan?" tanya Hana, berharap kondisi Ella jauh lebih baik dari Vano.
"Nyonya tidak sadarkan diri. Dan ada darah yang merembes ke celana yang di pakai Nyonya." ucapnya, menggeleng pelan dengan tatapan wajah sedih.
"Ooohhh,,,, apa yang terjadi." badan Hana luruh. Seakan kakinya terasa lemas, sehingga tidak bisa menopang badannya sendiri.
Hana menangis meraung-raung. Pikirannya benar-benar takut. "Ellaa,,, aku. Aku harus ke rumah sakit." Hana mencoba berdiri.
Namun badannya bergetar hebat, kakinya juga terasa lemas. Badannya seperti tak punya tenaga.
"Biar salah satu dari kami yang mengantar anda, Nona." ucapnya, memapah tubuh Hana. Masuk ke dalam mobil.
"Antarkan Nona Hana ke rumah sakit. Pastikan dia baik-baik saja sampai bertemu Boss Reza." pintanya pada rekan kerjanya.
"Baik."
Dengan baju berlumuran darah, rambut acak-acakan. Dan juga wajah tampak sayu. Rasanya dirinya ingin menangis. Tapi tak mungkin.
"Tuan, apa kita perlu memberitahu Tuan Haris dan Tuan Danto?" tanya bawahannya.
"Beritahu mereka." ucap Reza lirih. Dengan duduk di lantai, menyandarkan badannya ke tembok.
"Baik."
Reza mengusap kasar wajahnya. Dengan mata menatap ke arah pintu operasi. "Jaga tempat ini. Jangan sampai kita kecolongan." ucap Reza dengan raut wajah sedih.
Terlihat beberapa anak buah Reza mengeluarkan ponsel. Menghubungi rekan mereka. Memberitahu apa yang terjadi.
Sehingga mereka lebih bersiaga baik di markas, kediaman Vano, ataupun di rumah sakit. Jangan sampai ada musuh yang menyerang di saat seperti ini.
"Reza..." ucap Hana lirih, dengan seorang anak buah Reza yang mengantarnya, di belakang Hana.
Reza menggeleng, dengan kedua mata memerah. Tubuh Hana ikut luruh. Telapak tangannya membungkam mulutnya. Air mata tak berhenti mengalir dari kedua kelopak matanya.
Reza dan Hana diam dalam pikiran masing-masing. Dengan mata tetap menatap ke arah pintu ruang operasi. Berharap pintu segera terbuka.
Beberapa anak buah Reza yang berjaga, juga sama seperti mereka. Mereka memang berdiri tegap, dengan mata menyapu seluruh area sekitar. Memastikan semuanya aman. Tapi sesekali mata mereka juga melihat ke arah ruang operasi.
Berharap Tuan mereka beserta istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan ada beberapa anak buah Reza yang mengelap mata mereka. Terlihat mereka seperi sedang menangis.
"Tuan." gumam Reza lirih, segera berdiri saat manik matanya menata di mana ada kedua orang tua Vano. Tuan Danto dan Nyonya Risma datang dengan langkah panjang menuju ke tempat mereka.
Demikian juga dengan Hana, dia segera berdiri dengan mata sembab. Bahkan air matanya terus keluar dari kedua matanya seakan tidak pernah habis.
Bugh,,, bugh,,, beberapa pukulan mendarat ke wajah Reza. "Apa yang kalian lakukan. Ha..!!!! Menjaga orang yang memberi makan dan kehidupan layak untuk kalian saja tidak becus!!" maki Tuan Danto dengan kedua mata memerah, menahan amarah.
Apalagi melihat saat semuanya dalam keadaan baik-baik saja, tanpa lecet sedikitpun. Sementara anak dan menantunya berada di ruang operasi. Sedang berjuang melawan maut.
__ADS_1
Reza hanya diam dan menunduk. "Tante." ucap Hana lirih. Membuat Nyonya Risma membuka suara. "Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Nyonya Risma. Dan Hana hanya bisa menggeleng pelan kepalanya.
Karena tidak mungkin dirinya menceritakan semua awal permasalahannya di saat seperti ini. Pasti semuanya akan bertambah runyam dan rumit.
Hana membawa Nyonya Risma untuk duduk dan menunggu di depan ruang operasi. "Semoga semuanya baik-baik saja." gumam Nyonya Risma, menghapus air mata di bawah kelopak matanya.
"Bagaimana dengan mereka? Apa sudah kamu selidiki?" tanya Tuan Danto, mulai bersikap tenang.
"Sedang dalam penyelidikan Tuan." jawab Reza, masih tidak berani menatap ke arah Tuan Danto.
Dari arah lain, datang Tuan Haris bersama Paman Haki. "Masih di ruang operasi." ucap Tuan Danto, memegang pundak besannya.
"Ada yang bisa menjelaskan?" tanya Tuan Haris lebih tenang dari Tuan Danto, tapi tetap dengan raut wajah yang menakutkan.
Reza hanya terdiam. Karena dirinya sadar, jika dia tidak bisa menjelaskan semuanya. Karena ini menyangkut masalah pribadi Tuannya.
Tuan Haris mengalihkan pandangan matanya menuju Hana yang sedang duduk bersama dengan Nyonya Risma. "Pa, di mana mama?" tanya Hana lirih.
"Masih dijalan." jelas Tuan Haris. Karena memang hari ini, Nyonya Risma memiliki jadwal kegiatan di luar kota.
Tuan Haris memandang tajam ke arah Hana. Dirinya yakin jika Hana mengetahui sesuatu. Apalagi Hana meremas telapak tangannya sendiri. Membuat Tuan Haris dapat mengetahui dengan cepat, jika Hana menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tuan, saya ke depan sebentar. Menjemput Nyonya." ucap Paman Haki, dijawab anggukan kecil dari Tuan Haris.
Suasana menjadi hening. Semuanya terdiam. Hanya tatapan meta mereka yang berbicara. "Pa,,, Ella... Vano,,,, Bagaimana keadaan mereka?" tanya Nyonya Ane begitu sampai di dekat ruang operasi. Dangan Paman Haki berjalan di belakangnya.
"Tenang ma, tenang. Semua pasti akan baik-baik saja." Tuan Haris memeluk tubuh Nyonya Ane, mencoba menenangkan sang istri.
"Besan, mereka pasti akan baik-baik saja. Mereka anak yang kuat." ucap Nyonya Risma berdiri dari duduknya.
Sebenarnya bohong jika Nyonya Risma tidak merasakan hal yang sama dengan Nyonya Ane. Tapi beliau hanya bisa memendamnya. Berharap dokter keluar dari ruang operasi membawa kabar baik.
Nyonya Ane mengurai pelukan dari sang suami. Beralih memeluk Nyonya Risma. "Iya, Ella dan Vano. Mereka berdua anak yang kuat." ucap Nyonya Ane, mengusap air mata di pipinya.
"Kenapa bisa sampai ini terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nyonya Ane lirih.
Nyonya Risma membawa besannya tersebut duduk di kursi samping Hana. "Ma." ucap Hana lirih.
Nyonya Ane memeluk Hana. Membuat Hana menangis tersedu dalam pelukan Nyonya Ane. "Tenang, Ella pasti akan baik-baik saja." ucap Nyonya Ane.
Padahal sebelumnya, dirinyalah yang merasa ketakutan luar biasa. Tapi beliau masih bisa menenangkan Hana yang terlihat terpukul. "Maafkan Hana, maafkan Hana." batin Hana, semakin memeluk erat tubuh Nyonya Ane.
Dua jam sudah, mereka menunggu. Tapi pintu ruang operasi masih tertutup.
Tinggggg... Semuanya berdiri dan menatap ke arah pintu ruang operasi. Manakala terdengar bunyi bersamaan dengan perubahan warna lampu yang terpasang tepat di atas pintu ruang operasi. Menandakan operasi sudah berakhir.
Beberapa dokter keluar dari ruang operasi. Melepas masker yang menutupi wajah mereka. Dada mereka seakan terhimpit bongkahan batu yang besar.
Bagaimana tidak, dua sosok berkuasa tengah menatap mereka dengan tatapan membunuh. Tuan Haris dan Tuan Danto. Seolah mereka menginginkan kabar berita baik, yang mereka ingin dengar.
"Tuan." ucap salah satu Dokter.
"Katakan. Jangan bertele-tele." ujar Tuan Danto.
Semua dokter yang berdiri seakan berdiri di ujung menara. Kecemasan mereka menghadapi dua orang berkuasa, melebihi kecemasan mereka saat menjalani operasi pada pasien.
"Nyonya Ella selamat." ucap sang dokter. Membuat semuanya tersenyum dan bernafas lega.
"Tapi, maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang berada di dalam kandungannya." imbuhnya. Karena memang janin tersebut masih berusia sangat muda, enam minggu.
Perkataan sang dokter membuat raut wajah semuanya tampak sayu. Biarlah mereka kehilangan calon cucu mereka yang masih sebesar biji buah. Setidaknya, Ella masih selamat. Bisa membuat hati mereka seakan tenang. Untuk sementara waktu.
Dokter tersebut hendak melanjutkan perkataannya. Dia mengambil nafas terlebih dahulu. Seperti sedang mengumpulkan keberanian. "Saat ini, Nyonya Ella dalam keadaan koma." ucapnya.
"Tuan." ucap Paman Haki, saat tiba-tiba Tuan Haris mencengkeram erat baju sang dokter.
"Kamu bilang Ella selamat. Sekarang kamu bilang dia sedang koma. Jangan mempermainkan saya." ucap Tuan Haris, melepas cengkeraman tangannya dengan kasar.
__ADS_1
"Saya bisa membuat izin kerja kamu di cabut sekarang juga." ancam Tuan Haris.