
"Ella." panggil seseorang. Membuat Ella dan yang lain menengok ke arah sumber suara.
"Tante." sapa Ella dengan ramah.
Selin tersenyum senang melihat siapa yang datang. Marcell dan mamanya. Tapi seketika senyum Selin luntur. Saat Nyonya Dewi, mamanya Marcell begitu saja melewati dirinya. Bahkan, melihat ke arahnya saja tidak.
Beliau malah dengan antusias menghampiri Ella. Tampak raut wajahnya juga khawatir melihat keadaan Ella. "Ada apa?" tanya Nyonya Dewi, melihat baju Ella bagian belakang basah.
"*****." umpat Selin dalam hati melihat perlakuan Nyonya Dewi pada Ella.
Dan Marcell, jangan tanyakan. Dirinya masih berdiri tidak jauh dari Ella. Matanya terpaku menatap asesoris yang berada di dada Ella. Asesoris yang dia temukan. Dan diambil oleh seseorang di taman.
Marcell tersenyum samar. Entah apa arti senyumnya tersebut. "Cell." sapa Selin, mendekat ke arah Marcel. Membuat senyum Marcell seketika menguap.
Marcell hanya diam, tidak menjawab sapaan dari sahabatnya, Selin. Tapi sepertinya Selin acuh. Dia malah memegang lengan Marcell. Membuat Marcell melirik ke arah tangannya. Tapi dirinya tetap diam. Tidak bereaksi apapun. Ekspresinya juga datar.
"Ada sedikit kejadian tadi Tante. Ella nggak apa-apa kon Tan." ucap Ella dengan senyum.
"Nggak apa-apa bagaimana. Acara masih lama. Kamu bisa masuk angin nanti." cemas Tante Dewi.
"Oh iya, sebentar."
"Cell..." panggil Tante Dewi. Tangannya melambai, memanggil Marcell. Putranya.
Marcell mendekat ke arah sang mama, tentunya dengan Selin yang tetap memegang lengan Marcell. Tante Dewi tersenyum pada Selin.
"Selin, maaf. Tante belum menemui papa kamu." ucap Tante Dewi yang baru datang, dan melihat ke arah Ella yang sepertinya sedang kesulitan.
"Nggak apa-apa Tante." ucap Selin dengan sopan dan ramah.
"Setelah ini, Tante akan menemui papa kamu." ucap Nyonya Dewi memandang ke arah Selin.
Padahal hati Selin sangat dongkol. Bagaimana bisa mamanya Marcell lebih mementingkan Ella dari pada dirinya. Tapi Selin harus tetap menampakkan wajah baiknya.
"Cell, kamu ambilkan paper bag di dalam mobil, yang ada di kursi belakang." perintah Nyonya Dewi pada putranya.
"Ayo, cepat." seru Nyonya Dewi membuyarkan tatapan Marcell pada Ella.
Tanpa banyak bertanya dan berkata. Marcell membalikkan badan dan melakukan perintah sang mama. Membuat tangan Selin yang berada di lengan Marcell terlepas. Selin melihat ke arah Ella dengan tatapan tak suka.
"Sebentar ya Ell. Tante punya gaun di mobil. Kamu bisa pakai."
"Tapi Tante."
__ADS_1
"Tenang saja, gaunnya masih baru. Pas untuk ukuran badan kamu." ucap Nyonya Dewi melihat bentuk tubuh Ella.
"Nggak usah Tan." kekeh Ella. Dirinya merasa tidak enak dengan Tante Dewi. Pasti gaun tersebut Tante Dewi beli untuk seseorang.
Ella melirik ke arah Vano. Tapi nampaknya Vano hanya diam. Seolah enggan untuk ikut mengeluarkan suara. Membuat Ella frustasi saja.
Marcell datang membawa barang yang di maksud oleh mamanya. Dengan cepat, Tante Dewi mengambilnya dari tangan Marcell. Dan memberikannya pada Ella.
"Ini." Tante Dewi menyerahkan paper bag pada Ella.
"Sudah. Sana, kamu pakai." ucap Tante Dewi.
"Terimakasih Tante." ucap Ella sedikit membungkukkan badan.
Tante Dewi dan Marcell berlalu bersama Selin. Mereka sekarang menuju ke arah papanya Selin Tuan Boran.
"Aku ganti baju dulu." ucap Ella.
"Aku antar." ajak Vano.
"Tidak usah. Tunggu saja di sini." ucap Ella tersenyum.
Vano terus menatap punggung Ella yang semakin menjauh. "Tenang saja. Singa seperti Ella nggak bakal hilang." celetuk Viki mendapat tatapan tajam dari Vano. Tapi sepertinya Viki tidak terpengaruh sama sekali.
Yang lainnya hanya menggeleng melihat Vano dan Viki yang selalu berdebat. Padahal Viki adalah sahabat dari sang istri. Tapi Vano tidak bisa akur dengan Viki.
Marcell tersenyum samar. "Ma, aku ingin ke toilet sebentar." pamit Marcell saat sang mama sedang berbincang dengan Tuan Boran.
"Aku menunggu di sini Cell. Sama mama kamu." ucap Selin, tapi di acuhkan oleh Marcell.
Marcell menyandarkan badannya ke tembok. Bibirnya terus tersenyum. Membayangkan Ella memakai gaun yang baru saja di ambilkan oleh dirinya.
Karena Marcell tahu betul, seperti apa gaun tersebut. Karena Marcell sempat melihat bentuk gaun yang akan mamanya berikan pada Ella.
Bahkan Marcell dapat membayangkan. Bagaimana gaun tersebut akan melekat pada tubuh Ella. Dirinya ingin menjadi orang pertama yang melihatnya.
Saat ada orang yang hendak pergi ke toilet, Marcell berpura-pura sedang melakukan panggilan dengan telepon genggamnya.
Di dalam kamar mandi Ella menggigit bibir bawahnya. Ella melihat dirinya sendiri di depan cermin. Dirinya tidak yakin akan keluar dengan memakai gaun tersebut.
Gaun malam berwarna merah terang berbentuk kemben. Memamerkan dua pundak Ella. Warna gaun yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih seperti porselen.
Dengan panjang mencapai ujung kaki. Dengan belahan samping memperlihatkan pahanya yang mulus.
__ADS_1
Meski gaun tersebut mampu menyimpan dua bongkahan besar di dada Ella. Tapi tampak jelas bagaimana menantangnya dua gundukan tersebut.
Apalagi gaun tersebut menempel ketat di tubuh sang model. Membuat Ella tampak lebih seksi dari gaun yang ia kenakan sebelumnya.
Bukannya Ella tidak percaya diri dengan apa yang di pakainya. Tapi masalah terbesarnya adalah Vano. Dirinya takut jika Vano menyeretnya keluar. Sungguh memalukan.
Ella memejamkan matanya. Menggelung rambutnya ke atas. Menyesuaikan dengan gaun yang saat ini melekat di tubuhnya. Menyisakan beberapa anak rambut di samping wajahnya.
Membuka tasnya, memperbaiki riasan. Lebih tepatnya, sedikit mempertebal riasan di wajahnya. "Selesai." Ella memandang dirinya di depan cermin.
Memasukkan pakaian kotornya ke dalam paper bag. "Beruntung gue pakai high hell berwarna hitam. Setidaknya masih cocok dengan gaun merah ini." Ella melihat ke bawah.
Tangan Ella memegang handle pintu. Ingin membukanya. Tapi niatnya diurungkan karena mendengar suara di luar.
"Cell, kok lama sih. Di cari mama kamu." ujar Selin menyusul Marcell ke toilet.
"Ckk." Marcell berdecap. Memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Mengganggu." Marcell meninggalkan Selin yang masih berdiam di tempat.
"Cell." teriak Selin mengejar langkah kaki Marcell.
Bisa di bayangkan, betapa dongkolnya hati Marcell. Semua angannya buyar karena Selin. Kasihan sekali kamu Marcell.
Ella tersenyum mendengar suara Selin. "Lagian ngapain Selin sampai nyusul Marcell ke sini." batin Ella. Seandainya Ella tahu, apa yang di lakukan Marcell.
Ella melangkah keluar dengan tangan kiri memegang paper bag berisi pakaian kotor miliknya. Beberapa orang yang sadar akan kehadiran Ella, menatapnya.
Apalagi di setiap langkahnya, Ella memamerkan paha mulus miliknya, meski hanya bagian samping. Marcell yang tanpa sengaja melihat Ella, hanya bisa menatap Ella dengan menggenggam erat gelas di tangannya.
"Sempurna." gumam Marcell meneguk air si dalam gelas yang di pengangnya.
Beberapa rekan kerja Vano yang berada di meja bersama dengan Vano menatap Ella yang masih berjalan jauh menuju ke arah mereka.
Vano yang membelakangi arah kedatangan Ella masih belum menyadari jika istrinya menjadi pusat perhatian.
Bahkan kaum adam melihat Ella dengan tatapan mendamba. Seolah mereka ingin membawa Ella pulang ke rumah. Memasukkan ke salam kamar. Menjadi penghangat ranjang mereka.
Ella tersenyum setiap melewati orang yang memandangnya. "Sumpah, seksi bangsat." gumam seorang lelaki.
Vano melihat ke depan. Semua orang yang berada di depannya seperti memandang dirinya. Tapi Vano sadar, jika bukan dirinya yang mereka tatap. Melainkan sesuatu di belakangnya. Kecuali Viki yang sibuk menatap layar ponselnya.
Awalnya Vano tampak acuh, hingga dirinya merasa tidak di anggap oleh mereka saat perkataannya tidak ada yang menjawab atau menanggapi. Vano memutuskan untuk melihat kemana arah mata mereka memandang.
__ADS_1
Seorang perempuan seksi dengan pakaian berwarna merah sedang berbincang dengan beberapa perempuan. Dengan senyum di bibir. Memperlihatkan pundaknya yang mulus dan leher jenjang yang menggoda.
Mata Vano memicing. "Ella." gumam Vano.