
Dengan memakai jaket dan helm di kepalanya, Ella mengendarai motor sport kesayangannya. Tujuannya tak lain adalah kediaman paman Haki.
"Ini Nyonya kunci motornya." ucap pak sopir memberikan kunci motor pada Ella.
"Nyonya yakin, mau menaiki motor. Apa tidak sebaiknya saya antar." tawar pak sopir, yang juga merupakan anak buah dari Vano.
"Tidak perlu pak." Ella segera melesatkan motornya meninggalkan rumah.
Brakkk.... Motor Ella di tabrak seorang pengendara mobil dari belakang. Tepat saat lampu lalu lintas berwarna merah. Dan Ella baru saja berhenti.
"****..." umpat Ella, melihat dari kaca spion motornya. Ada mobil mewah berwarna hitam menabrak belakang motornya.
"He... Kalau tidak bisa naik motor. Nggak usah naik." tiba-tiba seorang gadis remaja turun dari mobil dan menghampiri Ella. Dan yang lebih aneh dia malah memaki-maki Ella.
Membuat Ella mengernyitkan dahi. "Gue yang di tabrak, kenapa dia yang marah-marah." Ella memindai penampilan gadis tersebut.
Dari penampilannya, Ella simpulkan dia anak orang berada. Apalagi mobil yang di kendarainya.
"Nona, anda yang salah. Kenapa malah marah-marah." seru pengendara lain. Sementara Ella masih diam, duduk di atas motornya. Menyaksikan gadis tersebut mengomel tak karuan.
"Bacot loe. Nggak usah ikut campur." bentaknya pada pengendara yang mengingatkannya.
"Dasar anak jaman sekarang. Tidak tahu sopan santun." timpal pengendara lain.
"Elo nggak lihat. Itu lampu warnanya merah. Ya berhentilah bego." timpal pengendara lain.
Gadis tersebut menggenggam tangannya erat. Melihat ke arah mobilnya bagian depan yang sedikit lecet. "Lihat, mobil gue lecet." makinya pada Ella dengan mata menyalang.
Dan Ella masih diam. Menghela nafas, segera Ella turun dari motornya dan melihat kerusakan pada mobil gadis tersebut dan juga motor miliknya. Terlihat jelas jika motornya lebih parah kerusakannya dari pada mobil yang di tumpangi gadis tersebut.
Ella mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Menaruh di atas mobil gadis tersebut. Dan kembali menaiki motornya. Karena lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau.
"Gila...penasaran gue. Siapa di balik helm tersebut." oceh pengendara lain.
"Wihhh,,,, sultan beneran coy."
"Mantap abis."
"******. Padahal motornya lebih parah."
Oceh beberapa pengendara yang melihat kejadian tersebut. Dan Ella, dia lebih memilih meninggalkan mereka dan tentunya gadis sombong tersebut.
__ADS_1
Ada hal yang lebih penting untuk Ella, dari pada meladeni omelan dari gadis tersebut. Lagi pula Ella tidak ingin jadi tontonan pengendara lainnya.
Apalagi jika sampai Ella membuka helm, semua pengandara akan tahu siapa dirinya. Pasti dengan segera mereka mengeluarkan ponsel, merekam, dan menyebarkan. Aisshhh,,,
Jadilah berita tentang Ella yang menaiki motor sport, dan tertabrak pengendara akan mejadi berita hangat. Malah akan menjadi berita utama.
"Sialan, dia meremehkan ku." ucap gadis tersebut tidak terima, meremas uang yang ditinggalkan Ella di atas mobilnya. Dengan sombong dan penuh amarah, dia buang uang tersebut ke jalanan.
Tak ayal, beberapa pengendara memilih berhenti, dan mengambil uang tersebut. Mubadzir. Beruntung othor nggak ada di sana. Jika othor di sana. Aduuhhhh.... pasti othor ikut ambil lah.
Dengan menancap gas pada mobilnya. Dia mencoba menyusul motor Ella. "Elo apa-apaan sih." ucap seseorang di samping kemudi.
Ternyata gadis tersebut tidak sendiri. Di dalam mobil ada seorang pria remaja. "Elo jangan gila. Berhenti nggak!" teriak Marcell menyuruh temannya tersebut menghentikan laju mobilnya.
"Gue nggak terima, enak aja. Dia kira gue miskin. Gue pengemis." ucapnya dengan tetap mengendarai mobil seperti seorang pembalap.
"Elo yang salah tadi!!" teriak Marcell berpegangan erat pada sisi kursi. Sebenarnya Marcell juga tahu jika temannya yang salah.
Tapi karena temannya tersebut sangat keras kepala, Marcell enggan untuk turun dari mobil. Membiarkan temannya tersebut melampiaskan emosinya.
Seandainya Marcell tahu siapa di balik helm tersebut. Yakin, pasti dengan cepat Marcell akan turun dari mobil.
Ciiiitttt......
"Brengsek. Maunya apa itu bocah." gumam Ella.
"Woooyy,,, elo. Parah Sel." seru Marcell saat Selin, sahabatnya tiba-tiba memotong laju motor di depannya dan berhenti mendadak.
Niat hati ingin cepat sampai di kediaman paman Haki, Ella malah di hadapkan dengan bocah labil macam Selin.
"Hoey,, elo." Selin turun dari mobilnya dan menghampiri Ella. "Maksud elo apa, naruh uang di mobil gue." Selin menarik jaket yang di pakai Ella.
"Sell,,, elo apa-apaan sih. Bar-bar banget." Marcell mencoba melepaskan tangan Selin dari jaket Ella.
"Marcell." batin Ella masih memakai helm untuk menutupi kepalanya.
"Sell,, tadi itu elo yang salah. Kenapa elo malah kayak gini. Kayak preman tahu nggak." tegur Marcell tegas.
"Preman. Gue kayak preman." Selin memandang tajam ke arah Marcell. Lalu mengalihkan pandangan ke arah Ella. Sementara Ella masih diam dan duduk di atas motornya.
"Gue nggak terima gue di rendahin."seru Selin.
__ADS_1
Ella menyibak sedikit lengan jaketnya. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tanpa sengaja Marcell melihat lengan Ella.
"Tangannya. Kayak punya perempuan." batin Marcell.
"Terlalu lama." batin Ella.
"Aaa..." teriak Selin saat Ella memelintir tangan Selin. Sementara tangannya yang satu membuka helm yang menutupi wajah cantiknya.
"Ella." gumam Marcell.
"Ella. Model terkenal itukan." batin Selin menahan sakit karena tangannya masih di pelintir Ella.
"Elo mau apa?" tanya Ella dingin. Melepaskan tangan Selin. Ella menatap Marcell dan Selin bergantian.
Selin segera mengelus lengannya yang sakit. "Jawab. Jangan diam saja. Mao elo apa?" ucap Ella menatap tajam ke arah Selin.
"Cih, ternyata elo nggak kayak di berita-berita. Lemah lembut. Ternyata cuma kedok doang." ejek Selin.
"Gue akan bongkar sifat asli elo." ancam Selin.
"Jaga pacar kamu. Kelakuan kayak gini. Gue jamin tante Dewi nggak akan pernah merestui." Ella tersenyum miring ke arah Selin.
"Satu lagi. Elo tahu siapa keluarga gue. Jadi, pastikan pacar kamu diam. Dan duduk manis. Gadis sombong." cibir Ella memakai helm dan segera meninggalkan mereka berdua.
"Membuang-buang waktu." batin Ella.
"Cell, Marcell. Kok dia tahu nama mama kamu. Terus dia manggil tante. Apa, dia...." Selin memandang ke arah Marcell.
Tanpa berkata apapun, Marcell masuk ke dalam mobil. Bibirnya tersenyum samar melihat Ella. Tapi tanpa di sadari oleh Selin.
Seketika Marcell teringat helm milik Ella yang dia ambil di jalan malam itu.
"Cell... Marcell." ucap Selin dengan pelan.
"Jalan Selin, sebaiknya kamu jaga mulutmu." ucap Marcell memandang tajam ke arah Selin. Membuat gadis tersebut memilih untuk bungkam.
Selin mengemudi, dengan ekor mata sesekali melirik ke arah Marcell. Di otaknya masih banyak tanda tanya yang berputar-putar mengitari kepalanya. Tapi entahlah dengan Marcell. Apa yang sedang dia pikirkan. Hanya dia yang tahu.
"Tante Dewi. Kenapa dia bisa kenal sama mamanya Marcell." sambil menyetir, gadis yang diam-diam menyukai Marcell tersebut seakan berpikir. Mengotak-atik kepingan puzzel di kepalanya.
"Mampus. Papanya Marcell kan saudaranya Nyonya Risma. Mamanya Vano Reyandli. Berarti model sok tadi,,, saudaranya Marcel. Istri dari Vano." seketika wajah Selin memucat.
__ADS_1
Alih-alih ingin mendekati keluarga Marcell. Dirinya malah mencari masalah dengan Ella. Salah satu keluarga Marcell. "Tunggu. Ngapain gue cemas. Yang terpenting mamanya Marcell. Iya, benar. Lagi pula, mamanya Marcell sangat welcome ama gue. Masa bodo dengan Ella." batinnya tersenyum acuh.