
"Van..." tegur Ella saat Vano tersenyum dan memandangnya dengan tatapan aneh. Apalagi tangan Vano mengelus pelan paha Ella yang tertutup oleh kain.
"Kamu tahu ngga?" tanya Vano.
"Nggak." segera Ella menjawab dengan singkat.
"Aku nggak punya pekerjaan." jari Vano bermain di pipi mulus milik Ella.
"Itu apa." Ella memandang ke arah meja kerja Vano dengan mengernyitkan dahi.
"Sudah selesai." ucap Vano, tapi Ella menatap tidak percaya.
"Dan lagi..." Vano mendekatkan bibirnya di telinga Ella. "Acaranya masih lama." bisik Vano sekaligus menggigit pelan telinga sang model.
"Ini di kantor Van. Jangan aneh-aneh deh." ucap Ella.
"Memang di kantor. Dulukan kita juga pernah main kuda-kudaan di sini." ucap Vano membuat Ella mengalihkan pandangannya.
"Elll,,, mau ya." bujuk Vano, memeluk erat tubuh sang model dari samping. Mencoba membujuk sang istri.
"Junior sudah on nih." ucap Vano sembari mencium harum wangi rambut sang istri.
"Makanya, punya dedek itu harus di atur. Masa saat kayak gini on." celetuk Ella karena Ella juga tahu jika junior suaminya sudah menegang sempurna.
"Mana bisa. Salahkan saja kamu."
"Loh, kok ke aku. Kamu lah." sungut Ella.
"Seandainya tadi aku nggak ke sini, terus kamu gimana? Sama siapa?" ucap Ella dengan mata tajam terarah ke sang suami.
"Maksudnya?" tanya Vano yang tiba-tiba menjadi bodo.
"Aisss... katanya junior kamu on." kesal Ella.
"Ooo,,, On nya juga baru saja. Kamu tahu nggak?"
"Nggak." jawab Ella ketus.
"Sekarang junior tu ngerti, kalau bukan sarangnya dia nggak bakalan mau. Dia nggak bakalan on." jelas Vano menaruh kepalanya di pundak Ella.
__ADS_1
"Sumpah sayangku. Sekarang aku benar-benar taubat, sudah berubah." ucap Vano saat Ella memandangnya dengan pandangan penuh tanya.
"Vann..." tegur Ella saat bibir Vano tiba-tiba mencium sekilas di bibir milik Ella.
"Kita ke dalam yuk. Dah nggak kuat nih." Vano mengajak Ella ke sebuah ruangan yang berada di dalam ruangan kerjanya ini. Persis seperti sebuah kamar, yang di lengkapi dengan semua isinya.
Ella tersenyum. Seketika Vano mengecup wajah Ella bertubi-tubi. "Vano." Ella cemberut dan mendorong tubuh suaminya. Membuat Vano tertawa renyah.
"Vannn... kamu tuh." dengan sekali gerakan Vano mengangkat Ella untuk berada di dalam gendongannya. Membawanya ke dalam ruangan pribadinya.
Tidak membutuhkan waktu banyak, pakaian keduanya sudah berserakan di lantai. Dengan keduanya berada di atas ranjang saling memadu cinta.
"Van, jangan membuat tanda sembarangan. Atau aku tidak akan ikut denganmu pergi ke acara itu." ancam Ella saat Vano mulai mendaratkan bibirnya ke leher Ella.
"Baiklah Tuan Putri." ucap Vano dengan suara serak karena sudah terbakar gairah.
Seperti biasa, tangan Vano dengan lihainya berselancar ke semua tempat yang menjadi favoritnya. Ke titik sensitif milik sang istri. Membuat Ella menggeliat, merasakan nikmat.
Suara desaahan yang keluar dari mulut keduanya memenuhi ruangan. Keringat membasahi badan keduanya.
Hingga akhirnya mereka melakukan penyatuan. Setelah mereka sama-sama mencapai puncak rasa nikmat, Vano turun dari tubuh sang istri. Di kecupnya bibir seksi milik Ella.
"Kamu dulu, nanti baru aku." pungkas Ella.
"Baiklah." Vano kembali mencium wajah cantik istrinya. Mengambil selimut dan meletakkannya di atas badan Ella.
Tanpa benang sehelaipun, Vano masukbke kamar mandi. Membersihkan diri. Dan Ella malah memejamkan mata, entah mengapa setelah melakukan kikuk-kikuk Ella merasa ngantuk.
Di luar, Imey beberapa kali mengetuk pintu. Karena todak ada jawaban dari Bossnya, Imey memberanikan diri untuk masuk. Karena dirinya membawa berkas penting yang harus di tanda tangani oleh Vano.
"Tuan, Nyonya. Permisi." ucap Imey masih di ambang pintu.
"Kemana perginya mereka." gumam Imey memberanikan diri melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Melihat tidak ada bossnya di dalam, Imey berniat kembali ke tempat kerjanya. "Nanti saja kalau begitu." Imey melihat ke arah tangannya yang membawa beberapa berkas.
Baru membalikkan badan, indera pendengarannya menangkap suara yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika.
Imey menoleh ke sebuah pintu. Di mana pintu tersebut merupakan pintu ruangan atau kamar pribadi milik bossnya. Segera dia memandang ke arah kursi empuk di sudut ruangan. Dimana tas Ella dan paper bag yang di bawa Ella tadi tergeletak rapi di sana.
__ADS_1
Imey menahan nafasnya sebentar. Lalu mengeluarkannya dengan panjang. Memejamkan mata karena telinganya sudah merah memanas.
"Bisa-bisanya mereka bermain kuda-kudaan di sini." kesal Imey. Seketika bayangan Vano tanpa memakai sehelai benangpun terlintas di benaknya.
Meski dirinya belum pernah melihat tubuh Vano saat tidak memakai pakaian, tapi Imey bisa membayangkan betapa seksi dan machonya tubuh milik Vano.
Otot bisep yang menggoda dan perut kotak-kotak tanpa lemak. Membuat kaum hawa ingin meraba dan menyentuhnya. Apalagi wajah tampan Vano yang membuat hati para perempuan berteriak menjerit.
"****....Kenapa gue jadi kepingin." tukas Imey segera meninggalkan ruangan Vano. Dengan menahan rasa yang tak biasa, Imey kembali duduk di kursi kerjanya. Dipijatnya kedua pelipis miliknya. Mungkin saja bisa sedikit menghilangkan stres dan pikirannya yang kacau.
Apalagi Imey merasakan sesuatu yang aneh di bagian intinya. Seperti ingin di manjakan. "Sial...." gumam Imey merasa sesak.
"Jika tidak ada sahutan dari dalam, jangan pernah masuk ke dalam ruangan Tuan Vano." dengan tiba-tiba Reza sudah berdiri di depan meja Imey.
"Lihat, kamu sendirian yang sekarang menjadi pusing." ejek Reza dengan tersenyum, seakan mengerti apa yang terjadi di dalam.
Imey memandang kesal terhadap Reza. "Maaf, aku tidak bisa menolong. Kasihan jika juniorku memasuki sarang dengan lubang yang besar." ucap Reza lirih membuat kedua mata Imey membulat seketika.
Dirinya tidak menyangka jika asisten bossnya yang terkenal dengan sifat dingin, hampir sama dengan atasannya tersebut mampu mengucapkan kalimat seperti itu.
Seakan mengatakan jika Imey sudah tidak tidak perawan lagi. Segera Imey berdiri. Mengepalkan tangannya erat. "Jika tidak ada kepentingan, silahkan bapak tinggalkan meja saya." ucap Imey dengan sopan dan tersenyum menahan kesal.
"Kamu bisa datang ke ruangan ku jika menginginkannya." goda Reza seraya membalikkan badan dan meninggalkan Imey.
"Asisten sialan. Kalau elo bukan tangan kanan Tuan, sudah gue bejek-bejek sampai, iiiiihhhh." Imey *******-***** sendiri jari jemarinya.
Sebenarnya Reza juga bukan lelaki yang gemar bermain perempuan. Bahkan dapat di pastikan jika juniornya sampai sekarang masih belum pernah masuk ke dalam sarang yang hangat dan lembab.
Entah kenapa Reza merasa senang menggoda Imey. Sekertaris dari Tuannya. Padahal, awalnya Reza sangat tidak menyukainya. Karena Imey sering menggoda Vano.
Di rumah Ella, Lena tertidur di kasur empuk milik Ella dan Vano. Setelah marah-marah tidak jelas, dirinya merasa capek dan memutuskan untuk berbaring. Siapa sangka, dia malah terlelap dan terbawa mimpi.
Lena terbangun saat perutnya merasa perih karena lapar. Lena menggeliatkan badannya. Melihat ke arah jendela kamar. Dan ternyata hari sudah mulai gelap.
Segera Lena berlari ke pintu. Berharap pintu sudah tidak di kunci lagi. "Kalian benar-benar." geram Lena ternyata pintunya masih terkunci seperti sebelumnya.
Sebenarnya Lena ingin keluar lewat jendela. Namun mustahil, dirinya takut akan ketinggian. Beberapa kali dia berteriak dari jendela untuk meminta tolong.
Tapi satpam maupun tukang kebun, bahkan sopir seakan tidak mendengar dan melihat ke arah Lena. Membuat Lena menjadi frustasi.
__ADS_1
Untuk menahan rasa laparnya mau tidak mau Lena akhirnya meminum air yang berasal dari kran. "Ruangan segede ini, masa tidak ada air minum setetespun." desis Lena memukul air yang mengalir dari kran dengan kesalnya.