
Saat ini Ella dan Vano dalam perjalanan menuju sebuah rumah di pinggiran kota. Ella sibuk memeriksa kembali senjata yang akan di pakainya. Tanpa dia sadari, sedari tadi Vano memandangi dirinya.
"Kenapa sekarang aku tidak rela melihat kamu setangguh ini sayang." batin Vano.
Padahal dari dulu Vano menginginkan Ella menjadi pendampingnya bukan hanya karena Ella cantik dan seksi. Tapi karena Vano tahu, jika papa Ella adalah salah satu penguasa di dunia bawah tanah. Dan pastinya, sifat sang papa menurun pada anaknya.
Tapi entah kenapa, setelah menikah dengan Ella. Vano merasa tidak rela jika melihat Ella seperti sekarang. Sebenarnya apa yang Vano takutkan. Entahlah, siapa yang tahu.
Mungkin Vano takut jika Ella terluka. Atau juga, Vano merasa akan kalah saing sama istrinya. Dan masih banyak lagi kemungkinan yang ada di hati Vano. Entahlah, siapa yang tahu dalamnya hati manusia.
"Ada apa sayang?" tanya Ella lembut pada sang suami.
Vano memeluk Ella dari samping. "Ell, kamu tahu." Vano berhenti. Menjeda perkataannya.
"Aku sangat menyayangi kamu. Jangan pernah meninggalkan aku sayang." ucap Vano. Ella melepaskan lengan Vano. Melihat ke arah suaminya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Ella.
"I love you, my honey." Vano kembali memeluk erat tubuh Ella.
Saat Ella hendak membuka suara, anak buah Vano yang berada di balik kemudi mengatakan jika mereka sudah sampai lokasi.
Segera Ella dan Vano keluar dari mobil, mempersiapkan diri mereka. Keempat bawahan Ella yang memakai pakaian tertutup mendekat ke arah Ella. "Tembak bius mereka. Sisanya, anak buah suamiku yang akan mengurusnya." perintah Ella.
Salah satu dari mereka memberikan senjata laras panjang pada Ella. Tapi, belum sempat tangan Ella mengambilnya, Vano menyerobotnya terlebih dahulu. "Aku yang akan menyelesaikannya." ucap Vano.
Ella hanya diam, membiarkan Vano. Tidak mungkin Ella melarang Vano. Apalagi di sekitar mereka banyak bawahan mereka. Ella tidak ingin membuat Vano merasa di rendahkan.
"Tunggu saja di sini. Aku yang akan ke sana terlebih dulu." ujar Vano.
"Tapi Van,,,,." rengek Ella.
"Sayang, tolong mengerti. Aku suami kamu. Aku takut kamu kenapa-napa." ucap Vano, berharap Ella menuruti perkataannya.
"Baiklah." ucap Ella pasrah. Vano tersenyum sembari mengecup dahi sang istri.
__ADS_1
Beberapa bawahan mereka ada yang memalingkan wajah, menundukkan kepala, bahkan ada yang melihat dengan senyum-senyum sendiri melihat keuwuan keduanya. Bikin kaum jomblo iri.
"Hati-hati." ucap Ella lirih. Vano mengangguk pelan dan tersenyum. Segera Vano dan keempat bawahan Ella berjalan menuju kediaman musuh.
Ella duduk di mobil bagian depan. "Bukankah jika kita berdua maju akan lebih ringan dan cepat selesai. Kenapa Vano aneh sekali sih. Dulu saja bilang jika dia suka perempuan tangguh." batin Ella mendengus sebal.
"Aiisshhhh." desis Ella merasa jengah. Kakinya sudah terasa gatal untuk melangkah, berjalan mengikuti Vano dan keempat bawahannya.
"Sebaiknya gue nyusul saja ke sana." batin Ella.
"Kalian berdua, ikut saya. Yang lain tetap di sini." ucap Ella.
Ella dan dia orang anak buahnya mengikuti Vano. Mereka melewati pintu gerbang yang sedikit terbuka. Sebelumnya, Ella mendongakkan kepala, melihat letak CCTV.
Terlihat tanda kecil di bagian kamera CCTV sudah tidak menyala. Karena sebelumnya, Vano sudah memberitahu Reza untuk mengacaukan CCTV di rumah tersebut. Tampak halaman rumah target sudah sepi. Ada beberapa orang yang tergeletak di rerumputan.
Ella mengecek keadaan mereka. Ternyata mereka hanya di tembak obat bius. Ella mengeluarkan senjata. "Tetap waspada." ucap Ella lirih pada kedua orang di belakangnya.
Ternyata Vano belum masuk ke dalam rumah. Dirinya masih berada di halaman. Baru saja melumpuhkan para penjaga yang begitu banyak.
"Ella..." geram Vano, melihat sang istri nekat masuk bersama dua orang di belakangnya.
Saat Vano hendak melangkah menghampiri Ella. Bawahan Ella mencekal lengannya. Memberi isyarat jika ada seseorang di teras rumah. Dan pasti akan melihat Vano, jika dirinya menghampiri Ella.
Bawahan Ella yang berdiri di samping Vano, mengarahkan tembakan leser berwarna merah tepat di wajah Ella. Berharap Ella mengetahui keberadaannya.
"Ehh,,," kata Ella saat ada cahaya sedikit menyilaukan matanya. Ella sadar jika cahaya tersebut tanda dari bawahannya. Ella melihat ke arah Vano dan seseorang di samping Vano.
Sementara, ketiga rekannya juga melakukan hal yang sama. Mengarahkan senapan leser berwarna merah ke arah Ella. Segera Ella menemukan keberadaan mereka.
Ella melihat posisi mereka sudah berpencar. Waktunya melumpuhkan beberapa orang yang berjaga di teras. "Kalian berdua, jangan ada yang menembak. Paham." pinta Ella.
"Baik." ucapnya, dengan tangan menurunkan pistol yang berada di genggaman tangannya.
Demikian dengan Ella, dia juga memasukkan pistolnya kembali. Mengambil dua pisau lipat yang berada di balik jaketnya.
__ADS_1
"Kalian berdua tetap disini. Jika aku sudah masuk, kalian tetap berjaga di sini. Tembak musuh yang akan mendekat." pinta Ella.
"Baik."
Segera Ella berjalan mengendap di antara tumbuhan dan bunga berukuran besar yang berada di halaman rumah tersebut.
Vano segera mengikuti langkah kaki dari sang istri. "Kenapa Ella pergi sendirian." batin Vano, lantaran kedua anak buahnya terap berdiri di tempat.
Dengan cekatan, Ella melempat kedua pisau lipatnya ke arah dua penjaga. Keduanya tumbang, membuat rekannya segera waspada dan menoleh mencari tamu yang tak di undang tersebut.
Tidak lama, mereka juga ikut tergeletak. Mendapatkan tembakan dari bawahan Ella yang berdiri di sisi lain. Sementara, Vano segera berlari menghampiri Ella.
"Kenapa kami ikut ke sini. Bukankah sudah ku bilang untuk menunggu." ucap Vano, memandang tajam ke arah Ella.
"Kita singkirkan mereka dulu." Ella mengalihkan pembicaraan. Melihat seorang bawahannya menyingkirkan sendiri musuh yang tergeletak di lantai. Segera Vano dan Ella membantunya. Tak lupa Ella mengambil pisau lipatnya kembali dari tubuh musuh. Dan menyimpannya kembali.
"Selesai." Ella memandang ke arah anak buahnya yang sempat di tinggal. Memanggilnya dengan isyarat gerak tangan.
"Panggil rekan-rekanmu. Amankan area ini. Segera." ucap Ella. Segera dia berlari keluar pekarangan rumah tersebut. Karena halamannya lumayan luas.
Ella dan Vano berpencar. Vano melewati pintu depan bersama seorang bawahan Ella. Sementara Ella, akan melewati pintu samping. Dan tentunya bersama seorang bawahannya juga.
Belum sempat Ella masuk, sudah terdengar beberapa kali bunyi tembakan. "Mereka sangat menghargai tamu. Penyambutan yang sangat baik." ucap Ella, mengeluarkan senjata dari balik jaketnya.
Di halaman, anak buah Vano sudah mengamankan lawan uang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Mengikat mereka dengan tali. Dan menempatkan mereka di belakang pos penjagaan.
Beberapa orang menjaga mereka, supaya tidak akan kabur saat sudah sadar. Beberapa menjadi di halaman rumah. Sisanya masuk mengikuti langkah boss mereka.
"Vano." mata Ella membesar melihat Vano tertembak di bagian pundak. Sementara bawahannya yang bersama Vano juga tertembak di bagian kaki.
Terlihat mereka sudah siap menyambut kedatangan Vano dan anak buahnya.
"Kalian mungkin bisa melumpuhkan mereka yang diluar." ucap seseorang lelaki, duduk di kursi dengan angkuhnya.
"Tapi jangan harap bisa keluar setelah kalian masuk." ancamnya dengan tertawa lepas.
__ADS_1
Dengan keadaan seperti itu, Vano masih bisa tenang. Tertembak di pundak, tidak menjadi masalah yang serius untuk Vano.
Ella berbisik pada seseorang di sampingnya. Dia segera mengangguk dan bergegas pergi.