DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 140


__ADS_3

"Loh,,, ini ponsel siapa?" tanya Nyonya Risma pada dirinya sendiri melihat ada ponsel yang tergeletak di atas meja ruang rawat Oma Yeti.


"My Honey." gumam Nyonya Risma membaca tulisan di layar ponsel tersebut yang sedang menghubungi pemilik ponsel.


"Apa mungkin milik Vano." gumam Nyonya Risma masih memandangi layar ponsel yang tengah menyala.


Nyonya Risma segera menggeser warna hijau yang berada di layar ponsel tersebut.


@@@@@@@


Halo,,,


^^^Loh,, mama..^^^


^^^(Ella mendengar suara mertuanya)^^^


Iya sayang, ini mama.


^^^Vanonya di mana ma?^^^


Mama juga nggak tahu.


Vano keluar, baru saja.


Ponselnya ketinggalan.


^^^Baiklah ma.^^^


^^^Jika Vano kembali,^^^


^^^katakan pada Vano jika Ella menghubungi ya ma.^^^


Iya sayang,,,


Kamu hati-hati ya,,


^^^Iya ma,^^^


^^^Ella tutup telponnya.^^^


@@@@@@@@


"Sebaiknya gue pulang ke hotel sendiri saja. Menunggu Vano, bisa-bisa pantatku panas karena terlalu lama duduk." Ella memutuskan untuk pergi meninggalkan salon tanpa menunggu kedatangan Vano.


Ella berdiri di pinggir jalan, menengok ke kanan dan kiri. Mencoba mencari kendaraan yang bisa mengantarkan ke tempat tujuannya.


Sebuah mobil sport berwarna silver berhenti tepat di depan Ella. Secara perlahan, kaca mobil di naikkan.


"Ditya." batin Ella saat melihat seorang membuka pintu mobil dan tersenyum ke arahnya.


"Nyonya Vano." sapa Ditya sekedar berbasa-basi.


Ditya yang sedang dalam perjalanan ingin bertemu dengan Egi, tak sengaja melihat Ella tengah berdiri di tepi jalan. Sendirian.


Ditya menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat Ella berdiri. Memastikan jika Ella benar-benar seorang diri. Tanpa Vano ataupun orang lain di sampingnya.


Setelah Ditya memastikan Ella seorang diri, dirinya bergegas menginjak kembali gas mobilnya dan memacu kendaraannya pelan ke arah Ella.


"Tuan Ditya." ucap Ella.


"Sendirian?" tanya Ditya menyenderkan badannya di mobil miliknya.


"Lagi nunggu jemputan." ucap Ella sembari menoleh ke kanan dan kiri.

__ADS_1


"****,,, kenapa istri orang cantik banget. Mana pakai seksi banget lagi." Ditya memindai penampilan baru Ella.


Penampilan rambut baru yang membuat Ella lebih menarik dan terlihat semakin cantik. Beruntung Ditya masih menggunakan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


Jika saja Ella melihat bagaimana mata Ditya melihatnya di balik kacamata hitamnya, pasti Ella akan memaki Ditya.


"Khemm,,, Bagaimana kalau saya antar." tawar Ditya.


"Mampus elo Ell,, Mana sih Vano. Jika suami gue sampai tahu gue bareng Ditya, wihhh... berabe urusan. Bisa terjadi perang beneran." batin Ella mengingat sifat cemburu yang di miliki Vano.


"Bagaimana? Panas banget low. Kasihan kulitnya." canda Ditya tersenyum. "Apalagi habis nyalon." imbuhnya membuat Ella hanya bisa nyengir kuda.


Senyum Ditya menambah wajah tampannya semakin bertambah, membuat kaum hawa terpesona. Tapi tidak untuk Ella. Tahukan,,, hati Ella dari dulu hanya untuk satu nama. Seorang casanova yang sudah insaf. Vano.


Ella merasa serba salah. Menerima ajakan Ditya, dapat di pastikan jika Vano akan murka. Tidak menerima ajakannya, alasan apa yang harus di berikan. Tidak mungkin dirinya menolak mentah-mentah tawaran Ditya untuk mengantarkannya.


Biar bagaimanapun, Ditya lelaki yang terlihat sopan dan baik. Ya iyalah,,, baru bertemu dua kali. Dan Ella tidak ada alasan untuk menolak niat baiknya.


"Vano,,, elo kemana sih. Awas saja elo nggak cepat datang." batin Ella resah.


Dari arah lain, Ella melihat mobil Vano. "Akhirnya." batin Ella.


"Sepertinya tidak perlu. Itu mobil Vano." ujar Ella dengan pandangan mata mengarah ke mobil yang baru saja berhenti di belakang mobil Ditya. Membuat Ditya juga memandang ke arah yang sama.


Vano hanya membuka kaca mobilnya dan menyembulkan kepala serta memencet klakson. Melihat ke arah Ditya dengan senyum miring. Dan Ditya sedikit mengangguk dan membalas senyum Vano. Meski hanya sekedar senyum palsu.


"Saya duluan. Mari." Ella segera menuju mobil suaminya dan masuk kedalam.


Dilepasnya kacamata di wajah tampannya. "Kenapa harus datang. Ckk,,,, suami rese. Mengganggu saja." umpat Ditya.


Ditya kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang akan dia tuju sebelum bertemu dengan Ella. Menemui sahabatnya. Egi.


"Kenapa dia ada di sana?" tanya Vano datar dengan tangan memegang kemudi.


"Nggak tahu." ketus Ella membuat Vano melirik ke arahnya.


"Sudah lama?"


"Belum."


Ciittttzzzz...


"Apa-apaan sih Van!!" seru Ella saat Vano dengan tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.


Bukannya menjawab, Vano malah menatap Ella dengan pandangan tajam. Seolah-olah Ella yang bersalah di sini.


"Ada apa?" tatap Ella sengit tak mau kalah dengan Vano.


"Kamu yang mengundangnya." Ella menggelengkan kepala.


"Ni orang otaknya terbentur apa sih. Gue,, ngundang Ditya. Pake apa. Nomor ponsel saja nggak punya." batin Ella.


"Ya nggak lah."


"Terus kenapa dia ada di sana."


"Mana aku tahu. Pertanyaan kamu aneh deh."


"Jawab Ell..." Vano mencekal lengan Ella hingga Ella meringis kesakitan.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Vano. Mungkin rasa kesal terhadap Lena masih ada dalam dirinya, sehingga dia dengan mudah terbakar rasa marah.


Ella memelintir tangannya sendiri untuk melepaskan cengkeraman tangan Vano. Dan mengibaskan tangan Vano. "Sakit brengsek." seru Ella saat tangannya terlepas dari tangan Vano.

__ADS_1


"Sorry sayang." kata Vano melihat tangan Ella memerah karena ulahnya.


"Nggak usah pegang." Ella menepis tangan Vano yang hendak menyentuhnya.


"Sumpah sayang, aku nggak sengaja. Aku,,, aku terbawa emosi. Maaf." ucap Vano menyesal tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Sial. Ingat." jari Ella menunjuk ke arah wajah Vano. "Aku bisa melakukan hal yang kejam terhadap kamu. Aku bukan Ella yang dulu." Ella keluar dari mobil. Menutup pintu mobil dengan keras. Hingga Vano terlonjak kaget.


"Astaga. Elll.....Sayang." Vano keluar dari mobil dan mengejar Ella.


Ella menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh. "Sebaiknya kamu lihat ponsel kamu. Hampir satu jam saya menunggu kamu Tuan Vano." ucapnya dengan nada tinggi.


Ella langsung menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya. Meninggalkan Vano yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Segera Vano masuk ke dalam mobil. "Ponsel." Vano mencari ponsel miliknya. "Ahhh,,, pasti ketinggalan di rumah sakit. Semua gara-gara Lena." Vano memukul stir berulang kali.


Segera Vano menjalankan mobilnya. Berniat untuk mengikuti Ella. Tapi sayangnya dia kehilangan jejak. "Sial. Kemana Ella pergi." mata Vano bergerak mencari taksi yang ditumpangi Ella.


Vano akhirnya kembali ke rumah sakit. Mengambil ponselnya yang tertinggal di sana. Karena tidak mungkin bagi Vano mencari Ella tanpa adanya ponsel di tangannya.


Di perjalanan, Vano selalu mengumpat. Mengeluarkan kata-kata kasar untuk melampiaskan amarahnya. "Ditya,,, Lena,,, Kalian,,,, benar-benar membuat mood gue hancur."


*******


"Sorry,,, telat." ucap Ditya begitu tiba di tempat yang sudah di janjikan, di mana dirinya bertemu dengan Egi.


"Ada apa?" tanya Egi. Karena tidak biasanya Ditya datang terlambat saat mereka sudah berjanji akan bertemu.


Ditya seorang yang sangat memegang janji. Di selalu datang lebih awal dari waktu yang di janjikan.


"Ada apa, kenapa?" Ditya malah bertanya balik pada Egi.


"Kenapa elo telat?"


"Biasa, gue dijalan ketemu istri orang. Ehhh,,, suaminya datang."


"Elo bener-bener gila." Egi melempar bantal kursi di sampingnya ke arah Ditya.


"Nggak bisa. Gue kepikiran dia. Apalagi saat gue tidur. Aisshhhh..." Ditya memeluk bantal kursi yang di lemparkan oleh Egi.


"Apalagi teringat saat dia naik kuda. Beuhhhh,,, aduhaaiii,, alamakkkk, seksoihhh." ucapnya menyenderkan tubuh di kursi sambil tersenyum mengingat Ella menaiki kuda.


"Terserah elo. Resiko elo tanggung sendiri."


"Resiko di tanggung pembeli brow." ucap Ditya tertawa. Dan Egi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.


"Ella." gumam Egi teringat dirinya juga pernah menyukai seorang perempuan yang sudah mempunyai kekasih. Dan sekarang dia sudah bersuami.


"Apa?" tanya Ditya karena merasa Egi menyebut nama seseorang.


"Nggak ada."


*****


Tebak,,, bagaimana jika Egi tahu bahwa yang di taksir Ditya adalah perempuan yang juga pernah dia sukai.


Atau mungkin, sekarang Egi juga masih menyukainya.


Tapi Egi berusaha menekan rasa tersebut karena dirinya mengetahui jika Ella hanya menganggapnya sebagai teman.


Tapi,,, seandainya Ella juga mempunyai rasa yang sama seperti Egi. Bagaimana ceritannya ya..🙄🙄


And,,, Kebayang nggak sih, gimana reaksi Egi. Pas tahu jika sahabatnya menyukai Ella. 🤭🤭

__ADS_1


Penasaran nggak,,, penasaran nggak,,,


iiiihhhhh,,,,, jadi kepoo.....😅😅


__ADS_2