
TERIMA TAWARAN PEMOTRETAN DARI PERUSAHAAN TUAN MALIK.
"Ini benar Ella kan yang kirim pesan. Apa dia akan benar-benar menerima pekerjaan itu." Hana masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia baca pada layar ponselnya.
Beberapa hari yang lalu, Ella mendapat tawaran dari perusahaan Tuan Malik untuk pemotretan gaun pengantin. Tetapi dia harus melakukan pemotretan dengan lawan jenis sebagai pasangannya.
Namanya juga gaun pengantin. Pasti berpasangan. Jika sendiri,,, 🤔🤔 Takut dikira pengantin pria nya kabur di bawa author. 😅😅
Ella belum menerima tawaran tersebut. Tentu saja ia memikirkan larangan dari Vano. Tapi sekarang. Bye bye Vano.
Ella akan memulai rencananya untuk membuat Vano berada di dalam genggamannya.
Semangat Ellaaaaa. 💪💪
Pagi hari pukul 06.00
Vano masih berada di bawah selimut bersama dengan Vera setelah pergumulan mereka semalam.
Tringg,, tringg,, tringg,, suara ponsel mengganggu kenyamanan tidur dari Vera.
Tangan Vera merayap ke atas meja di sampingnya, mengambil ponsel yang terus berdering.
"Halo." tanpa membuka mata, Vera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Bangunkan Tuan Vano. Ada pertemuan penting dengan klien dari Itali." ucap seseorang di seberang telepon.
Mata Vera langsung terbuka mendengar suara dari ujung ponselnya. "Sial. Ini ponsel milik Vano. Kenapa gue bisa ceroboh."
Vera ingin melihat, siapa yang baru saja menelpon ke ponsel Vano. Tapi, karena tidak bisa membuka ponsel Vano, Vera hanya bisa menebaknya.
"Siapa yang telepon tadi, apa mungkin Reza." gumam Vera.
"Bodo. Bukankah lebih baik. Itu artinya dia tahu jika Vano sedang bersama dengan gue." Vera tersenyum memandang wajah Vano yang masih terlelap di sampingnya.
Vera mengelus rahang milik Vano. "Honey, bangun. Sudah pagi." Vera terus memainkan jarinya di pipi Vano.
Merasa terganggu, Vano memegang tangan Vera yang sedang bermain di wajahnya.
"Sayang, aku masih ngantuk." Vano mencium telapak tangan Vera dengan mata masih terpejam.
Mendengar panggilan sayang dari Vano, senyum sumringah terukir di bibir Vera.
Tapi sedetik kemudian senyum itu langsung pudar dari bibir Vera saat Vano kembali membuka mulutnya. "Sayang, Ella. Love you" gumamnya.
"****." umpat Vera lirih.
Vera menghirup udara pelan dan mengeluarkannya. Dia berusaha menekan emosinya karena mendengar Vano menyebut nama Ella. Padahal semalam dia lah yang memanjakan Vano di atas ranjang. Bukan Ella, kekasihnya.
"Honey, kamu nggak kerja. Ini sudah pagi." Vano seketika membuka mata dan melihat ke arah Vera.
Vano sepertinya masih kembali mengingat kenapa dia bisa bersama dengan Vera.
Vano memindahkan tangan Vera di perutnya. Dia lantas bangun dan segera mengambil ponsel di meja dekat ranjang.
"Sial." ucap Vano melihat ke arah ponsel.
__ADS_1
"Kirimkan nomor rekeningmu." Vano bangun dan memakai kembali pakaian yang tercecer di lantai.
"Oke." Vera masih berada di atas ranjang dengan posisi miring dengan siku menjadi tumpuan kepalanya, dan mata memandang ke arah Vano yang sibuk memakai pakaiannya.
"Owww,,,, semakin banyak saja koleksi ku." Vera melihat ke layar ponselnya setelah Vano meninggalkannya.
Seperti malam sebelumnya. Saat Vano terlelap tidur, Vera memfoto dirinya dan Vano di atas ranjang.
"Akan aku singkirkan Ella secara perlahan." Vera bangun dari atas ranjang dan memakai pakaiannya kembali.
Sekarang dirinya harus segera bersiap, karena hari ini dia akan melakukan pemotretan untuk produk yang di keluarkan perusahaan Vano dan juga Egi.
"Persiapkan semua. Gue kesitu sebentar lagi." Vera menelpon asistennya yang sudah berada di apartemen miliknya.
Selesai membersihkan badan, Vano bergegas pergi ke perusahaan.
"Tuan. Tadi Reza berpesan, jika klien dari Itali sudah datang. Dan saat ini mereka menunggu di ruang pertemuaan bersama dengan Reza." ujar Lena dengan berdiri saat Vano berjalan di depan mejanya.
"Baiklah. Kamu ikut saya."
Bukannya bergegas mengikuti Vano, Lena malah tetap terdiam di belakang mejanya. Di kembali mencerna perkataan yang terlontar dari mulut Vano.
"Gue. Ikut dia. Ngapain. Kan sudah ada Reza di sana." batin Lena.
"Lena, lebih baik kau angkat kaki dari perusahaanku." teriak Vano dengan nada marah tanpa menghentikan langkah kakinya.
Lena menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. "Astaga." segera Lena mengambil buku catatan dan perlengkapannya.
Segera kakinya berlari untuk mengejar langkah Vano. Nafasnya tersengal ketika langkahnya sudah berada tepat di belakang Vano. Lena mencoba menetralkan kembali nafasnya seperti semula. Dan berjalan menyesuaikan langkah Vano.
"Tidak masalah." ujar klien tersebut.
Di ruang pertemuan, kedua perusahaan membicarakan kerja sama yang akan mereka lakukan ke depannya. Hingga terjadi kesepakatan diantara keduanya.
"Senang bekerja sama dengan anda Tuan Vano."
"Sama-sama."
"Jika ada waktu, datanglah ke perusahaan ku. Jangan lupa membawa ke kasih anda saat mengunjungi negara kami. Sekalian jalan-jalan. Pasti istriku akan sangat senang bisa bertemu dengan kekasih anda."
"Pasti." mereka saling berjabat tangan dan melempar senyum.
Reza memandang datar ke arah Vano. Entah apa yang sekarang ada di dalam pikirannya.
"Maaf Tuan, tadi asisten Tuan Egi menghubungi saya. Beliau memberikan alamat pemotretan untuk produk bersama kita dengan perusahaan Tuan Egi." ujar Lena.
"Tidak ada jadwal pertemuan dengan klien setelah ini Tuan." kata Reza.
"Kita ke sana." Vano melangkahkan kakinya meninggalkan ruang pertemuan. Diikuti Reza dan Lena di belakangnya.
"Maaf, apa saya juga ikut?" Vano menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan dari Lena.
"Reza, kau urus sekertaris ini. Setelah itu kau lakukan pekerjaanmu." kata Vano geram dan melanjutkan langkah kakinya.
Sebelumnya, Vano sudah mengirim pesan pada Reza. Vano ingin Reza mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan Ella kemarin. Karena Vano masih penasaran dengan bau anyir pada tangan Ella.
__ADS_1
Lena menghentikan langkahnya. "Memang ada yang salah dengan pertanyaanku." gumam Lena.
"Ikut denganku." ucap Reza berjalan lebih dulu di depan Lena.
"Kemana." batin Lena mengekor di belakang Reza.
Reza berhenti tepat di depan ruang arsip, dan masuk ke dalam.
"Untuk apa dia membawaku ku sini." batin Lena mengikuti Reza masuk ke dalam ruang arsip.
"Rapikan seluruh arsip yang ada di sini. Jangan sampai aku mengulangi perkataan ku." Reza keluar dari balik pintu yang ia lewati tadi.
Reza berhenti tepat di depan pintu dengan kondisi pintu masih terbuka. "Kerjakan dengan baik. Atau tinggalkan perusahaan ini."
Blamm...
Reza dengan keras menutup pintu ruangan tersebut. Lena meletakkan telapak tangannya di depan dada karena kaget dengan suara pintu yang di tutup dengan kasar oleh Reza.
"Jantung gue. Untung sehat."
"Rapikan. Semua. Apa-apaan. Gue bekerja sebagai sekertaris. Bukan OG. Iiisshhh.....gue nggak terima." dengus Lena sembari memandang seluruh arsip di ruangan.
"Dia pikir dia siapa. Bisa nyuruh gue seenaknya." Lena merasa geram dengan perintah yang di berikan oleh Reza.
Bukannya menyelesaikan pekerjaan yang di berikan oleh Reza, Lena malah kembali ke tempat kerjanya.
"Lihat saja nanti." Lena mengambil tasnya dan pergi dari perusahaan Vano. Entah apa yang akan di lakukan oleh Lena.
Vano dan Reza sudah terlalu sabar atas kinerja Lena. Lena yang notabennya hanya tamatan SMA tidak tepat jika duduk di kursi sekertaris di perusahaan Vano.
Apalagi perusahaan Vano termasuk perusahaan besar berskala internasional. Jika bukan karena Oma Yeti, Vano pasti akan menolak mentah-mentah menjadikan Lena sebagai sekertarisnya.
Setiap pekerjaan yang di berikan oleh Vano pada Lena selalu tidak menghasilkan hasil yang memuaskan.
Alhasil, Reza lah yang memperbaiki setiap kesalahan yang di torehkan Lena di setiap lembar berkas yang sudah di terima oleh Vano.
Bukan hanya sekali atau dua kali Lena melakukan kesalahan. Tapi di setiap lembar berkas yang dia ketik. Reza yang selalu memperingatkannya, selalu di abaikan oleh Lena. Menjadikan pekerjaan Reza semakin banyak.
*****
Vano,,, teruskan saja bermain dengan Vera.
Rasakan saja jika ada hantaman batu besar mengarah pada dirimu. Pastinya bukan dari author...
Sebenarnya ingin sekali author menghantam batu pada Vano. Tapi tidak mungkin 😏😏
Dan Lena,,,
Apa yang ingin kamu lakukan.
Aduh,,,, jangan banyak tingkah deh Len.
Author sudah pusing dengan tingkah Vano.
Jangan menambahi beban pikiran author.
__ADS_1
😔😔