
"Lepaskan....!!!!"
Seorang perempuan meronta dan berteriak. Dengan segala umpatan dia keluarkan dari dalam mulutnya. Dan semua itu dia tujukan pada Ella.
"Kasihan sekali perempuan itu."
"Kasihan. Elo mau menggantikan posisinya."
"Bukan kasihan seperti itu. Kasihan karena dia tidak bisa membedakan. Mana yang baik untuknya, atau tidak."
"Iya benar, lihat. Dari tadi dia terus menyebutkan semua nama binatang dari dalam mulutnya. Dan itu untuk Non Ella."
"Kenapa Non Ella tidak memberitahu yang sebenarnya saja."
"Bukankah Non Ella sudah memberitahu, kenapa dia melakukan hal tersebut pada kakaknya."
"Iya sih, tapi sepertinya dia sangat sayang pada kakak tirinya itu."
"Sepertinya pikirannya sudah dihasut oleh seseorang."
Bawahan Ella tidak pernah melepaskan mata mereka untuk menjaga Dian. Mereka selalu bergantian untuk menjaganya.
Dian punya berbagai alasan untuk melarikan diri. Tapi sayangnya, semua itu tidak mempan untuk bawahan Ella. Mereka sudah sangat paham dengan para tawanan.
Badan Dian terikat menjadi satu dengan kursi. Mereka tidak ingin kecolongan. Bisa saja, Dian melakukan bunuh diri.
"Bagaimana?" tanya paman Haki yang baru saja sampai.
Mereka langsung berdiri saat melihat kedatangan Paman Haki. "Masih sama, hanya umpatan yang keluar dari dalam mulutnya." jelasnya.
"Kalian jaga saja. Pasti dia akan membuka mulutnya." Paman Haki tersenyum saat mengingat ide dari Nona Mudanya.
"Pasti Paman. Mana mungkin dia tega melihat anak panti mati satu-persatu. Meskipun itu hanya sebuah kebohongan yang di ciptakan Non Ella."
"Jangan keras-keras. Nanti dia dengar." tegur temannya.
"Maaf. Kelepasan."
"Ya sudah. Jika ada perkembangan, kalian segera menghubungi" ucap Paman Haki dengan langkah meninggalkan tempat tersebut.
Setelah markas mereka di hancurkan musuh, sekarang mereka mendiami markas rahasia yang berada di dalam hutan. Dan markas tersebut belum banyak di ketahui oleh para musuh.
Tapi entahlah sekarang. Karena mereka akan sering datang pergi dari tempat tersebut. Dan pastinya musuh akan segera mengetahui tempat baru mereka.
*****
"Sayang, kamu serius?" tanya Nyonya Tiwi pada sang putra.
__ADS_1
Secara mendadak, Egi memutuskan untuk mengambil alih perusahaan yang berada di luar negeri. Sementara, perusahaan yang berada di sini dia serahkan pada asistennya. Meskipun begitu, dia akan tetap memantau dari luar negeri.
"Perusahaan di sana membutuhkan Egi ma." ucapnya.
"Biasanya kamu ke sana hanya beberapa hari. Lalu pulang. Kenapa ini lama sayang?" Nyonya Tiwi berkata sambil mengusap air matanya.
Egi meraih tubuh sang mama. Membawanya ke dalam pelukannya. "Ma, Egi berjanji akan sering menjenguk mama disini."
Nyonya Tiwi melepaskan pelukan dari putranya. "Apa ada yang kamu sembunyikan dari mama?"
"Tidak ada ma, perusahaan di sana memang sedang mengalami masalah. Dan sangat memerlukan kehadiran Egi, makanya Egi sendiri yang harus turun tangan."
Memang benar adanya jika perusahaan milik almarhum papa Egi di luar negeri memang sedang bermasalah. Tapi semua itu dapat Egi tangani dalam beberapa hari saja.
Ella, itulah alasan Egi ingin meninggalkan negara ini. Hanya ini yang bisa Egi lakukan untuk melupakan sosok Ella. Meskipun pada kenyataannya, cara tersebut belum tentu dapat membuatnya melupakan sang model.
Berada di satu negara bersama dengan perempuan yang di cintanya, apalagi berita bagaimana kisah cinta Ella dan Vano berhembus dengan sangat kencang di semua media sosial akhir-akhir ini, karena sikap lembut dan perhatiaan yang ditunjukkan oleh Vano di depan umum.
Membuat dirinya semakin sesak. Mungkin Egi bisa berkata """baiklah, sekarang kita bersahabat""" Tapi perasaan memang tidak dapat di bohongi.
Setiap melihat berita mengenai Ella berseliweran di media sosial, membuat Egi seakan teringat kembali saat cintanya bertepuk sebelah tangan.
Dendam, tidak. Kecewa, mungkin. Sakit hati, pasti.
Egi sangat sadar jika cinta tidak bisa dipaksakan. Makanya dia sama sekali tidak menaruh dendam pada Ella. Dia hanya merasa kecewa saat cintanya tidak bersambut.
Karena meskipun saat itu hubungan Ella dan Vano sedang bermasalah, Egi melihat dengan jelas bahwa Ella masih sangat mencintai lelaki flamboyan tersebut.
"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Nyonya Tiwi.
"Besok ma."
"Kenapa sangat mendadak."
"Sebenarnya tidak mendadak ma, semuanya sudah Egi persiapkan. Hanya saja, Egi lupa untuk memberitahu mama. Maaf." ucap Egi dengan sedih.
"Kamu sering hubungi mama ya. Kapanpun mama menghubungi kamu, kamu harus menjawabnya. Janji."
"Iya ma, janji."
Nyonya Tiwi merasa berat melepaskan Egi. Meskipun dirinya dan sang anak jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Setidaknya mereka masih dalam satu negara, satu kota.
Paling tidak mereka akan bertemu dua hari sekali. Karena Egi biasanya tinggal di apartemen miliknya.
Tapi sekarang, sang anak memutuskan tinggal di luar negeri. Pasti dirinya akan sangat kesepian.
*****
__ADS_1
"Tidak becus!!! Bagiamana mungkin, membuat satu perempuan celaka saja kalian tidak bisa!!!"
Amarah seorang lelaki sedang meluap saat bawahannya tidak bisa mencelakai Ella beserta yang lainnya.
"Padahal dia perempuan. Dan sendiri di dalam markas. Kenapa kalian tidak bisa menghabisinya!!!"
Semuanya diam sembari menunduk. Mereka takut jika menjadi sasaran atas kemarahan dari Tuannya.
"Maaf bos. Tiba-tiba Tuan Haris dan yang lain datang membantu. Padahal sedikit lagi anak buah saya hampir,,," ucap salah satu bawahannya.
"Aku tidak menerima alasan apapun." ucapnya memotong perkataan dari bawahannya.
Dooorrrr..... seketika bawahan yang baru saja membuka suara langsung meregang nyawa karena timah panas menembus badannya.
"Keluar!!!!" teriaknya pada semua orang yang berada di dalam ruangan.
"Danto. Haris. Kalian harus menerima pembalasan ku. Merasakan bagaimana kehilangan orang yang kalian sayang." ucapnya dengan melempar pisau ke tembok. Di mana di sana ada foto keluarga Tuan Haris dan Tuan Danto.
Sebenarnya, sejak awal dirinya menargetkan istri Tuan Danto dan Tuan Haris. Tapi ternyata tidak semudah perkiraannya. Karena beliau berdua selalu di temani oleh bodyguard. Dan tidak hanya itu. Suami keduanya juga menyuruh beberapa bawahannya untuk mengawasi mereka secara sembunyi-sembunyi.
Sementara Ella dan Vano. Papa mereka juga memberi keamanan pada mereka sama seperti pada istri mereka. Tapi karena kepekaan keduanya, bawahan yang di perintahkan untuk mengawasi keduanya selalu ketahuan.
Alhasil, Ella dan Vano selalu melakukan protes. Apalagi mereka berdua juga sanggup untuk menjaga dirinya sendiri. Membuat Tuan Danto dan Tuan Haris menyuruh bawahannya untuk tidak lagi mengikuti anaknya.
Itulah kenapa musuh selalu menargetkan Ella dan Vano. Dirinya berpikir bahwa akan mudah mencelakai keduanya. Apalagi mencelakai Ella.
Saat mengetahui bahwa dia tidak bisa menyentuh Vano, seketika sasarannya beralih pada Ella. Ternyata,,,, perempuan yang di anggapnya mudah di tangani tidak mudah untuk di sentuh.
"Ella,,, tidak salah jika dia putri dari Haris. Tapi lihat saja, pasti akan ada kesempatan untuk membuatnya celaka."
"Ella, anak dari Haris. Calon mantu dari Danto. Dengan mencelakai Ella, aku pikir akan menjadi syok terapi untuk mereka. Aku harus bersabar. Menunggu waktu yang tepat."
*****
"Sayang." Vano masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan.
Vano meletakkan nampan di atas meja. "Pasti sedang mandi." Vano melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.
Tapi tangannya terhenti saat memegang handle dari pintu kamar mandi.
*****
Egi,,,, kenapa mesti jauh-jauh ke luar negeri sih.
Sini saja, sama othorrrr....
Othor nggak keberatan menerima kehadiran kamu dalam hidup othorrr.....🤗🤗
__ADS_1