DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 203


__ADS_3

"Maaf, mama baru kesini. Semalam mama pulang larut malam. Mau mampir, tapi takut ganggu kamu." ucap Nyonya Ane menyesal.


"Tidak apa-apa ma, Ella mengerti." ucap Ella mengurai pelukan dari sang mama.


"Papa nggak kerja?" tanya Ella, lantaran ini sudah masuk jam kerja.


"Agak siang. Mau melihat calon cucu papa." ucap Tuan Haris dengan senang.


"Belum bisa pa, kan masih di dalam." ucap Ella cemberut.


"Mertua kamu belum kesini?" tanya Nyonya Ane.


"Kami hanya bertukar berkabar lewat ponsel ma. Mama Risma juga sedang sibuk di butik. Apalagi mama meninggalkan butik lebih dari satu bulan." jelas Ella.


"Iya juga sih. Pasti sekarang sedang sibuk banget. Eh,,, terus Oma kamu bagaimana? Mama sama papa belum sempat jenguk." tanya sang mama.


"Lebih baik. Sekarang masih di rumah Mama Risma." tutur Ella.


"Vano baik kan sama kamu?" tanya Mama Ane dengan raut khawatir. Sementara Tuan Haris hanya diam, menyimak dua orang yang di sayangnya sedang berbincang.


"Banget. Dia siaga benget. Mama tenang saja." ucap Ella dengan wajah cemberut.


"Ada apa?"


"Vano tidak memperbolehkan Ella kursus memasak. Vano tidak memperbolehkan Ella bekerja." cicit Ella.


Nyonya Ane mengelus lembut lengan putrinya. "Vano benar sayang, apalagi kehamilan kamu masih muda. Meskipun dokter bilang janin kamu serta kamunya baik-baik saja, tapi kamu harus tetap berhati-hati. Jangan melakukan kegiatan yang malah kan membuat kamu lelah. Dan berimbas pada calon cucu mama." ucap Nyonya Ane.


"Tapi Ella bosan ma." keluh Ella.


"Kamukan bisa menggambar. Kenapa tidak melakukan itu saja." ucap Tuan Haris, membuat kedua wanita ini langsung memandang ke arahnya.


"Untuk mengusir bosan." imbuh Tuan Haris.


"Papaaaa!!!" seru Ella memeluk Tuan Haris. "Papa masih ingat. Bahkan Ella sudah lupa." ucap Ella terkekeh pelan di pelukan sang papa.


"Bagiamana?" tanya Tuan Haris tentang idenya.


"Tanyakan dulu pada Vano. Jangan sampai kalian bertengkar masalah sepele." ujar Nyonya Ane mengingatkan putrinya.


"Sip.." ucap Ella.


"Ma,, mama ada acara?" tanya Ella, melepas pelukan papanya.


"Ada." jawab Nyonya Ane singkat. Terlihat wajah kecewa dari Ella. Tapi Ella tetap tersenyum.


"Acara menemani kamu, sampai Vano pulang kerja." ucap Nyonya Ane, seketika mata Ella berbinar.


"Makasih ma."


"Ya sudah, nanti papa kesini dulu setelah pulang kerja. Sekarang papa pamit dulu." ucap Tuan Haris.


"Sekalian makan malam disini." tawa Ella.


"Iya." ucap Nyonya Ane dan Tuan Haris bersama.


"Nanti mama masakin makanan buat Ella ya." pinta Ella. Nyonya Ane hanya diam, beliau mengangkat kedua jempol tangannya. Dan tersenyum lebar.


"Oh iya sayang, di depan siapa? Dia memakai kemeja, tidak terlihat seperti pekerja di rumah kamu?" tanya Tuan Haris penasaran.


"Rio. Bawahan Vano." ucap Ella. Tuan Haris mengangguk, beliau mengerti akan kemana arah perkataan putrinya.


Sehari penuh, Ella di temani Nyonya Ane. Dirinya merasa senang, karena ada teman. Sebenarnya, di rumah Ella juga banyak pembantu. Namun mereka selalu menjaga jarak dengan Ella.


Dan Ella tidak bisa menyalahkan mereka. Mungkin mereka takut jika terkesan seperti mencari perhatian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gue harus mencari pekerjaan baru." gumam Hana. Karena dia tidak ingin menjadi beban keluarga Ella.


"Setidaknya masih dengan backgrund gue." Hana mulai menghubungi beberapa temannya. Sesama make-up artis.


Jikapun bukan make-up artis, setidaknya dirinya dapat bekerja di salon. Karena keahlian Hana menggerakkan jarinya di wajah seseorang.


Membuat orang tersebut tampak berbeda dengan tampilan sebelumnya. "Nggak mungkin gue terima tawaran papanya Ella." gumam Hana.

__ADS_1


Hana teringat jika Tuan Haris pernah menawarinya pekerjaan kantoran. Tapi Hana menolaknya. Hana sadar diri, dirinya hanya lulusan SMA.


Dan yang lebih penting, Hana sama sekali tidak mengerti masalah kantor dan semua yang bersangkutan dengan hal tersebut.


Dirinya takut akan mendapat cibiran. Atau perkataan yang menganggap dirinya numpang hidup ataupun parasit.


Belum lagi jika dia benar-benar bekerja kantoran. Pasti dia akan menjadi badut, yang setiap hari akan mendengar tawa dari karyawan lain yang menghinanya.


Sedang menghubungi beberapa kenalannya, tangan Hana terhenti saat melihat kontak dengan nama DENIS CINTAKU. Memang terlihat dan terdengar lebay.


Sudah dua minggu, Denis dan Hana tidak bertemu. Padahal mereka masih dalam satu kota. Hanya sesekali mereka berkirim kabar melalui pesan tertulis.


"Apa kamu begitu sibuk?" tanya Hana pada dirinya sendiri, ditujukan pada Denis.


Teringat beberapa hari yang lalu, Hana menghubungi Denis. Dirinya mengatakan jika ingin bertemu. Tapi sayangnya, Denis tidak bisa. Dia sedang sibuk.


Apalagi Denis juga bilang pada Hana, jika dirinya sedang mengajari saudaranya untuk bekerja di perusahaannya.


"Apa tidak ada orang lain, sehingga kamu yang harus mengajarinya." batin Hana. Dirinya juga tahu, siapa yang di maksud Denis.


Saudara jauh dari keluarga Denis. Seorang perempuan cantik, yang beberapa waktu lalu, mama Denis mengirimkan fotonya pada Hana.


"Come on Hana. Seandainya Denis sudah tidak peduli, untuk apa elo peduli. Jangan terus memikirkan Denis." ucap Hana lirih, karena Denis akhir-akhir ini sulit di temui.


"Perut elo nggak akan kenyang. Dompet elo nggak akan ada isinya. Mobil elo butuh bensin. Yang harus elo pikirkan, pekerjaan. Elo harus cari pekerjaan. Secepatnya." batin Hana menyemangati dirinya sendiri.


"Jika saja bisa bertemu Ella, pasti beban pikiranku sedikit berkurang." gumam Hana.


Karena sudah di pastikan. Jika bertemu dengan Ella, Hana akan mengeluarkan segala unek-unek di dalam hatinya.


Tapi sekarang Hana tidak bisa seenaknya bertemu dan bercerita tentang kehidupannya pada Ella. Karena Ella sedang hamil. Hana tidak ingin membuat Ella juga ikut kepikiran. Dan akan berimbas pada kehamilannya.


Dan alasan yang selanjutnya. Tentu saja Vano. Hana masih tidak ingin berdekatan dengan Vano. Meskipun kejadiannya lumayan sedikit lama, tapi Hana masih merasakan nyeri di hati saat bertemu dengan Vano.


Tinggg.... Ponsel milik Hana berbunyi. Ada pesan tertulis dari temannya.


ADA LOWONGAN PEKERJAAN DI SALON TEMPAT GUE KERJA. ELO KESINI SAJA.


Hana tersenyum membaca pesan tersebut. Tidak mau menunggu lama, Hana segera menyerobot tasnya dan bergegas pergi ke salon tersebut. Karena Hana sudah tahu di salon mana temannya bekerja.


Hana menepikan mobilnya. Melihat dengan teliti, memastikannya. Apakah benar yang dilihatnya adalah Denis, atau bukan.


Dan benar, dia memang Denis. Kekasihnya. Hana mengambil ponsel, dan menelpon Denis. Ingin bertanya langsung padanya.


Hana tersenyum saat Denis mengangkat panggilan telepon darinya.


"Halo, ada apa sayang?" tanya Denis seperti biasa, lembut dan penuh perhatian.


"Kamu dimana?" tanya Hana di seberang telepon. Mencoba memastikan, apa Denis akan berkata jujur, atau malah berbohong.


"Di restoran Melati." jawab Denis dengan jujur.


"Sedang makan, menemani saudaraku. Saat kami mau pulang, dia bilang dia lapar. Aku mengajaknya mampir kesini." jelas Denis.


"Baiklah. Ya sudah. Selamat menikmati makananmu." ucap Hana mematikan sambungan telepon dengan Denis.


Denis jujur, Denis tidak berbohong. Sempat terbesit di pikiran Hana, jika Denis berbohong, Hana akan turun dari dalam mobil. Dan menemui Denis.


Tapi ternyata Denis berkata jujur. Dia tidak berbohong. Tapi entah mengapa, hati Hana merasakan sakit. Ada rasa tidak rela melihat Denis makan berdua dengan perempuan lain. Meskipun dia saudaranya Denis.


Hana memandang ke arah Denis yang masih berada di area parkir. Ingin rasanya turun. Menghampiri kekasihnya tersebut. Memeluknya, meluapkan rasa rindu.


Tapi entah kenapa, Hana tidak berani melakukannya. Entahlah, apa yang ada dipikiran Hana. Kenapa dia tidak melakukan apa yang di inginkan hatinya. "Denis, aku rindu." ucapnya dengan wajah sedih.


"Lebih baik gue menenangkan diri dulu." ucap Hana memutuskan pergi, melajukan mobilnya ke taman terdekat.


Dia mengurungkan niatnya pergi ke salon. Dirinya tidak ingin semuanya kacau hanya karena moodnya sedang memburuk.


Denis masih berada di pelataran parkir saat menerima panggilan telepon dari Hana. "Sepertinya itu mobil Hana." batin Denis setelah Hana mematikan sambungan teleponnya.


"Ayo Den, aku lapar." rengek perempuan tersebut merasa di abaikan oleh Denis. Ditariknya lengan Denis untuk masuk ke dalam restoran.


"Den.." panggil Lyra. Perempuan yang sekarang sedang makan bersama dengan Denis di restoran.


"A--ap--apa?" tanya Denis.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih. Sedari tadi aku panggil-panggil kamu terus low. Berkali-kali. Kamu malah diam. Kamu memikirkan apa sih." rajuk Lyra.


"Maaf, tadi sepertinya aku melihat mobil Hana." ucap Denis.


"Hana." geram Lyra dalam hati. Dirinya sudah di beritahu oleh mamanya Denis. Tentang hubungan antara Denis dengan Hana. Kekasih Denis.


Tapi sayangnya, keluarga Denis tidak menyetujui hubungan keduanya. Dengan alasan yang masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Si kaya dan si miskin.


"Memang mobil Hana hanya ada satu di dunia ini." celetuk Lyra dengan nada tidak suka.


"Mungkin perasan kamu saja." imbuh Lyra. "Jadi makan nggak sih." sebal Lyra.


Lyra melihat ke arah Denis yang sepertinya masih memikirkan kekasihnya. Membuat Lyra menahan emosinya.


"Den, jika memang benar Hana, kenapa dia tidak menghampiri kamu. Pasti cuma perasaan kamu saja." Lyra memegang telapak tangan Denis yang berada di atas meja.


Lyra menarik kembali tangannya. Dilihatnya Denis masih diam. Sepertinya masih memikirkan Hana. "Maaf, semua karena aku. Karen aku belajar bisnis sama kamu. Membuat kamu tidak punya waktu menemui Hana." sesal Lyra terlihat sedih.


Dari tadi ada seorang pelayang yang sidah berdiri di samping meja mereka. Menunggu keduanya memesan makanan.


"Kamu pesan dulu, aku mau ke toilet sebentar." ucap Denis meninggalkan Lyla.


Lily pesan beberapa makanan dan minuman. "Sebentar Nona, makanan akan segera datang." ucap pelayan tersebut dengan sopan. Tapi Lily yang masih kesal pada Denis terlihat mengabaikan perkataan pelayan tersebut.


"Hana. Astaga, padahal dia nggak secantik itu. Miskin. Apa yang dilihat Denis pada diri Hana. Masa aku harus bersaing dengan perempuan seperti dia." ucap Lyra lirih.


"Aku nggak bakal kalah sama perempuan seperti Hana. Apa kata orang. Lyra si cantik dan kaya. Kalah dengan Hana. Perempuan yang bahkan pantas menjadi pelayanku." geram Lyra meremas telapak tangannya sendiri.


Di toilet, Denis mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi Hana. Ponsel Hana berdering, namun tidak ada jawaban dari sang empunya.


"Kamu kemana sih sayang." gumam Denis yang sudah mencoba berkali-kali menghubungi Hana. Tapi tetap saja, hasilnya nihil.


"Apa mungkin dugaanku benar. Tadi Hana. ****...!!" Denis menggenggam ponselnya dengan erat.


Sementara di taman, Hana mengambil ponselnya yang terus berdering. Dan mengganti ponselnya ke mode hening. Berapa kalipun Denis menelpon, dirinya tidak akan mendengar. Hana hanya ingin ketenangan.


Hana menengadahkan kepalanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya, supaya air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata tidak jatuh membasahi pipi.


"Semua salahmu. Kenapa kamu membuka hati pada lelaki seperti Denis. Jika pasti sudah tahu apa yang akan terjadi." gumam Hana.


"Jangan berharap jadi angsa Han. Karena selamanya itik akan tetap menjadi itik." cicitnya, berbicara pada dirinya sendiri.


"Jika Ella, akan tetap bertahan selama bertahun-tahun. Menunggu kepastian dari Vano. Dia memang perempuan tahan banting." ucapnya, membandingkan dirinya dan Ella.


"Tapi aku, aku tidak bisa. Apalagi sekarang, Denis sudah mulai berubah. Come on Hana,,,, Denis tidak pernah berubah. Hanya saja jarak antara kalian yang tidak bisa di hilangkan." ucap Hana mencoba berpikir rasional.


"Membuat semuanya terlihat sulit. Dan memang sudah sulit. Kenapa aku dulu dengan mudah menyukai Denis. Harusnya dulu aku berpikir matang. Dunia kami sangat berbeda." ujar Hana menyesali keputusannya terdahulu.


Hana merasa pikirannya sedikit lebih tenang. Membuat dia memutuskan untuk kembali melajukan mobilnya ke tempat tujuan awal. Salon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa!!!!" Ditya merasa nafasnya tercekat.


"Kamu yakin?" tanya Ditya pada Doris.


"Yakin Tuan. Kami mendapat informasi dari asisten Nyonya Ella. Kami mendesaknya untuk bertemu dengan Nyonya Ella. Tapi dia tetap kekeh bahwa Nyonya Ella tidak bisa bekerja sama dengan kita. Bahkan dengan perusahaan lain." jelas Doris.


"Setelah terus kami cecar pertanyaan, akhirnya dia mengaku. Jika Nyonya Ella sedang berbadan dua. Beliau sedang hamil." imbuh Doris.


"Rahasiakan dari publik." ucap Ditya. Doris menatap ke arah Tuannya dengan tatapan tidak percaya. Untuk apa Ditya melakukan semua ini.


Tapi sebagai asistennya, Doris hanya melakukan apapun yang di perintahkan Ditya. Tanpa banyak berkata dan bertanya. "Baik." ucap Doris, meninggalkan ruangan Ditya.


"Berakhir sudah." ucap Ditya tersenyum miris.


Dirinya sudah sejauh ini mengejar Ella. Akhirnya harus mundur. Awalnya Ditya akan terus mengejar Ella. Meskipun dia sudah mempunyai suami. Tapi, sekarang Ella hamil. Anak dari suaminya.


"Aku memang sangat menginginkannya. Tapi aku takut. Tidak bisa menerima anak yang dikandung Ella. Dia bukan darah dagingku. Aku tidak sebaik itu." gumam Ditya egois.


Ditya hanya menginginkan Ella. Tanpa anak di dalamnya. Karena yang Ditya inginkan, Ella mengandung anaknya. Bukan lelaki lain.


Menghabisi anak di dalam kandungan Ella. Tidak mungkin. Ditya lebih baik membunuh seribu orang dewasa. Daripada melenyapkan janin yang masih berada di dalam rahim ibunya.


"Kenapa kamu harus hamil Ell.." ucap Ditya merasa kesal. Padahal dirinya yakin akan mendapatkan Ella.

__ADS_1


"Sialllll..!!!" teriak Ditya.


__ADS_2