DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 11


__ADS_3

"Denis...!!!" panggil Hana, karena Denis hanya diam dan memandang ke arahnya. Lalu tiba-tiba memeluknya.


"Kamu tahu, tanpa restu kedua orang tuaku. Aku akan tetap menikahi kamu." ucap Denis tanpa ragu. Setelah mendengar dari Hana, jika sang papa menemui Hana. Dan menyuruh Hana untuk memanggilnya dengan panggilan yang sama dengan dirinya. Papa.


Denis mengurai pelukannya. Memegang kedua pundak Hana. "Tidak ada alasan untuk tidak menyukai kamu. Sebentar lagi, aku yakin. Mama juga akan merestui kamu. Perempuan seperti kamu, mau cari di mana." puji Denis, mengerlingkan sebelah matanya.


"Gombal." cibir Hana. Denis mencium wajah Hana bertubi-tubi. "Geliii....iihhh." Hana mendorong wajah Denis.


"Kamu sibuk?" tanya Hana. Seolah dirinya lupa jika sekarang kekasihnya adalah pemimpin sebuah perusahaan besar.


Meskipun Hana tahu, jika perusahaan tersebut adalah milik papa Denis. Tapi tetap saja, Denis harus bertanggung jawab atas apa yang di bebankan di pundaknya.


Karena rasa senangnya, Hana tidak berpikir ke sana. Yang ada dalam benaknya hanyalah menyampaikan secara langsung apa yang baru saja dia alami.


Denis menggeleng pelan. "Kamu nggak kerja?" Denis membawa beberapa helai rambut Hana yang berada di wajah Hana, untuk di taruh di belakang telinga Hana.


"Kerja. Setelah dari sini." jelas Hana.


"Nakal." goda Denis, menyentil hidung kecil dan mancung milik Hana.


Suara ketukan terdengar dari luar, membuat keduanya menghentikan obrolan mereka. "Masuk." ucap Denis meninggikan nada suaranya.


"Maaf Tuan." Miko sedikit membungkukkan badan. Sebenarnya Denis sudah memberitahu Miko supaya tidak mengganggunya. Tapi karena ada hal penting, mau tak mau Miko tidak mematuhi perintah dari atasannya tersebut.


Hana merasa jika Miko akan berbicara penting dengan Denis. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Lagi pula, aku harus bekerja." ucap Hana.


Denis memandang ke arah sang kekasih dengan tatapan tidak rela. "Nanti, malam kita bertemu lagi." Hana mengerlingkan sebelah matanya dan mencium singkat pipi Denis.


Denis memegang pergelangan tangan Hana. Menghentikan langkah Hana. Membuat Hana melotot. Menyuruh Denis melepaskan cekalan tangannya.


Denis menatap tajam ke arah Miko. Segera Miko membalikan badan dan menghela nafas. "Nasib." ucapnya dalam hati.


Denis berdiri. Dan langsung ******* bibir tipis berwarna merah milik Hana. Membuat Hana spot jantung. Bagaimana tidak, di belakang mereka ada Miko. Dan Denis melakukannya.

__ADS_1


"Miko tidak akan melihat." ucap Denis lirih, melanjutkan kegiatannya. Hana memejamkan mata dan pasrah. Karena percuma dia melawan.


Semakin dia melawan, semakin Denis akan mengeluarkan suara yang absurd. Dan Hana malah akan semakin malu pada Miko.


"Sial..." geram Miko yang melihat adegan keduanya dari pantulan ornamen kaca yang menempel di dinding di depannya.


Tidak ingin melihat lebih lama, Miko segera menundukkan wajahnya. Apalagi semakin dia melihat lebih lama, nafsu Miko pasti juga akan muncul.


Pasti Denis sengaja melakukannya. Karena dia kesal dengan Miko yang mengabaikan perintahnya untuk tidak mengganggunya selama Hana berada dalam ruangannya.


Denis menyudahi ciuman mereka. Mengusap pinggir bibir Hana, karena lipstik milik Hana yang belepotan. "Gara-gara kamu." ucap Hana tanpa bersuara, hanya membuka mulutnya.


"Tapi kamu suka kan." goda Denis. Segera Hana membungkam mulut Denis. Karena Denis berbicara dengan keras. Sehingga telinga Miko mampu mendengarnya.


"Aku pergi dulu." ucap Hana. Denis mengecup kening Hana. "Hati-hati, maaf tidak bisa mengantar." ucap Denis. Hana memperlihatkan kunci mobilnya. Menandakan jika dirinya saat ini tidak memerlukan sopir. Hana tersenyum, meninggalkan ruangan Denis.


Hana sekilas menatap ke arah Miko yang membalikkan badan dan memejamkan mata, Hana tersenyum melihat sikap Miko."Jangan galak-galak." ucap Hana di ambang pintu.


Karena Miko sudah mengganggu waktunya bersama dengan Hana. "Maaf Tuan. Perusahaan dari papa Nona Lyra ternyata sudah berada di ambang kebangkrutan." ucap Miko.


Denis menatap tajam ke arah Miko. "Aku sudah tahu." ucap Denis ketus.


Miko bernafas dengan pelan. "Sabar Miko. Memang salahmu. Orang sedang berpacaran kamu ganggu." keluhnya dalam hati.


Miko menyerahkan beberapa lembar kertas pada Denis. Dengan wajah masih terlihat kesal, Denis membaca kertas tersebut.


Wajah kesalnya berubah menjadi datar, tanpa ekspresi. Tangan Denis meremas kertas tersebut. "Apa papa sudah tahu?" tanya Denis.


"Sepertinya belum Tuan." jawab Miko.


"Sepertinya. Aku butuh jawaban pasti." gerutu Denis.


"Belum Tuan." jawab Miko.

__ADS_1


"Lyra. Kamu benar-benar ingin bermain-main dengan ku." ucap Denis menyeringai licik.


"Ambil alih dan pindahkan atas namaku, kepemilikan perusahaan papanya Lyra." perintah Denis.


"Baik Tuan." segera Miko melakukan perintah dari atasannya.


"Bermainlah dengan rapi dan cerdik. Jangan sampai mereka tahu, jika aku yang membelinya." ucap Denis mengingatkan.


Meskipun perusahaan tersebut sudah di ambang kebangkrutan. Dengan sokongan dana dari perusahaannya. Denis dapat memastikan, jika perusahan tersenut akan kembali berjaya dan berdiri tegak.


Seperti biasa, Miki akan melakukannya sesuai keinginan atasannya tersebut. "Jangan khawatir Tuan. Semua akan berjalan dengan baik dan rapi." ucap Miko.


"Lyra." kekeh Denis pelan. "Mari kita lihat. Apa yang akan kamu lakukan. Jika mengetahui kepemilikan perusahaan papamu sudah berpindah nama. Dan pastinya atas namaku." gumam Denis.


Denis sebenarnya tidak masalah jika harus membantu perusahaan papanya Lyra. Terlebih perusahaan itu adalah perusahaan besar sebelum di ambang kebangkrutan saat ini.


Denis sudah menyelidiki secara keseluruhan perusahaan tersebut. Ada tikus-tikus kecil yang mengigit beberapa komponen penting di dalam perusahaan.


Itulah sebabnya, perusahaan tersebut menjadi seperti sekarang ini. Mereka bekerja dengan sangat rapi dan baik. Papanya Lyra bahkan tidak bis menemukannya.


Tapi jangan remehkan kemampuan Denis beserta Miko. Hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari sehari, keduanya sudah memperoleh data secara keseluruhan.


Dengan sedikit dana dan juga sedikit pembenahan dalan sistem pengelolaan, pasti sudah bisa membuat perusahaan itu bangkit lagi.


Tapi tingkah dan kelakuan dari Lyra membuat Denis jengah. Mau tidak mau, Denis harus memberikan syok terapi untuk Lyra.


Ponsel Denis menyala setelah Miko meninggalkan ruangannya. Sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponsel miliknya.


"Om Hendra kecelakaan." gumam Denis dengan sorot mata tidak percaya. Jika papa dari Viki mengalami kecelakaan.


Di pesan tersebut juga tertulis di mana Tuan Hendra di rawat. Segera Denis menyambar kunci mobilnya. Bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan kabar tersebut.


Lantaran beberapa kali Denis menghubungi Viki maupun asisten Viki. Namun tidak di angkat. "Jika benar, pasti mereka sedang dalam keadaan sibuk." gumam Denis yang saat ini sudah di dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2