
Ella menghela nafas dalam-dalam. Menyingkirkan tangan dan juga kepala Vano dari tubuhnya.
"Sudah?" tanya Ella tanpa menatap ke arah Vano.
Vano menatap penuh ketidak percayaan. Kenyataan yang dia dapat tidak sesuai dengan pikiran dan rencananya. Dia berharap Ella akan tersentuh mendengar ucapan sayang yang keluar dari dalam mulutnya.
Bahkan Vano yang biasanya bersikap acuh dan arogan, mampu menghilangkan sifat buruknya tersebut meski sesaat. Tapi, ekspresi Ella bahkan hanya datar, tidak terbaca. "Sayang, i love you." ucap Vano lagi.
Berharap ucapan yang kedua kalinya akan membuat hati Ella tersentuh dan terenyuh. "Iya, aku dengar. Lantas apa yang kamu harapkan." tanya Ella.
"Apa aku harus berdiri dan berjingkrak sambil bertepuk tangan. Atau aku harus menangis. Tertawa. Apa, beritahu aku Tuan Vano."
"Apa aku harus berterimakasih. Akhirnya, setelah sekian lama, perasaan cinta itu tumbuh di dalam hati anda. Ataukah, aku harus bertanya. Permainan apa lagi Tuan Vano. Yang sedang,, anda mainkan." Ella menatap tajam ke arah Vano sambil berdiri.
"Kita menjalin hubungan sudah bertahun-tahun. Bahkan aku sudah menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam diriku. Dan kamu tahu itu."
Vano berdiri dan memegang kedua pundak Ella. "Baiklah, mari kita menikah." ucap Vano dengan tenang dan pasti.
Keduanya saling menatap beberapa detik, hingga Ella memutuskan untuk mengalihkan pandangan matanya.
Tidak bisa dipungkiri. Kalimat inilah yang selalu Ella ingin dengar keluar dari mulut Vano. Jantung Ella berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ingin sekali Ella memeluk Vano dan berteriak bahagia. "Tahan Ella, tahan. Sekarang elo yang memegang kartu. Jangan elo buang secara sia-sia kartu elo." batin Ella.
Ella melepaskan kedua tangan Vano di pundaknya. Dia membalikkan badan. Senyum di bibirnya terpatri sempurna. Tapi segera dia mengendalikan emosinya. Jangan sampai Vano mengetahui jika saat ini dia sedang tersenyum bahagia.
"Menikah. Iya, itu memang keinginan terbesarku. Memiliki keluarga kecil dengan beberapa anak manis dan pintar di dalamnya. Juga, seorang suami sekaligus ayah yang melindungi dan menyayangi kami."
Vano memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Kedua tangannya mengepal sempurna di dalam saku dengan senyum mengembang di bibir. "Berhasil." batinnya.
Dikeluarkan tangannya di dalam saku, lalu mendekat ke arah Ella. "Aku akan mengabulkan keinginanmu itu sayang." Vano memeluk Ella dari belakang. Mencium tengkuk Ella beberapa kali.
Kulit Ella di buat meremang karena tindakan Vano. "Tidak semudah itu Van." batin Ella menguatkan dirinya supaya tidak mudah masuk ke dalam rayuan Vano.
"Tidak untuk sekarang." Ella menyisihkan tangan Vano yang melingkar di perutnya.
Ella mengambil tas dan kantong kresek yang berisi belanjaannya.
"Apa maksud kamu." Vano menghentikan pergerakan Ella dengan memegang tas Ella.
__ADS_1
Ella menarik tasnya sehingga terlepas dari tangan Vano. Ella tersenyum miring melihat ekspresi Vano. "Kenapa, sangat sulit bukan berpura-pura sabar." ucap Ella.
Vano menautkan kedua alisnya mendengar perkataan Ella. "Tidak perlu merendahkan harga diri anda. Tidak perlu berpura-pura. Kita sudah bersama selama bertahun-tahun. Mungkin selama beberapa tahun bersama, anda sama sekali tidak mengenal siapa perempuan di samping anda. Tapi tidak dengan saya. Saya cukup mengenal. Bahkan paham betul, siapa Vano Reyandli." ucap Ella panjang lebar.
"Untuk sekarang. Tidak terlintas sedikitpun di benak saya untuk menikah. Apalagi dengan anda. Mungkin dulu, iya. Tapi sekarang, semua berubah." Ella melangkahkan kakinya menjauh dari Vano.
Vano memejamkan mata, rahangnya sudah mengeras sempurna. Kesabaran yang dia perlihatkan sedari tadi bagai hilang terbawa angin. Dengan sekali angkat, Ella sudah berada di atas pundak Vano.
"Aaa.... Van. Turun. Apa yang kamu lakukan." teriak Ella terkejut dengan tindakan Vano.
Isi tas hingga barang belanjaan Ella terjatuh di ruang tamu apartemen Vano.
Sampai di dalam kamar, Vano melemparkan tubuh Ella di atas ranjang besar miliknya. Ella memandang Vano dengan tatapan tidak percaya. "Sumpah. Gila."
Vano mengunci pintu kamar dan membuang kuncinya lewat jendela kamar. Sontak, membuat Ella berteriak saat melihatnya. "Vano. Kamu." jari Ella menunjuk ke arah Vano dan jendela secara bergantian. Ella menggelengkan kepala.
"Apa yang kamu lakukan." Ella berteriak melihat Vano melepaskan pakaian hingga celananya. Menyisakan ****** ***** yang masih menempel di badannya.
"Membuat anak." ujar Vano enteng dan tersenyum ke arah Ella.
"No." Ella menyilangkan kedua tangannya di depan dada miliknya.
Ella segera berlari menuju ke pintu dan berusaha mendobrak pintu. "Gunakan tenaga mu untuk berteriak di atas ranjang honey." tangan kanan Vano sudah berada di perut Ella.
Menaklukkan Ella, ternyata tidak semudah sebelumnya. Iya,,, karena kini Vano memaksa. Berbeda dengan sebelumnya. Ella akan datang dan melepaskan pakaiannya sendiri.
Apalagi Ella juga menguasai bela diri, membuat Vano sedikit kewalahan. Seperti sekarang ini. Di atas ranjang.
"Ell, lepaskan." seru Vano saat Ella mengunci dirinya dengan tubuh Ella berada di atas tubuh Vano yang sedang tengkurap. Kedua tangan Vano berada di belakang. Sementara kakinya tidak bisa di gerakkan karena kaki Ella berada di kaki Vano. Membuat kaki Vano sedikit menekuk.
"Tidak akan." seru Ella dengan nafas yang mulai ngos-ngosan karena perlawanan terhadap Vano sejak tadi.
Sebenarnya, bukan hal sulit bagi Vano untuk mengalahkan Ella. Dia sengaja ingin melihat, sampai di mana keahlian bela diri yang di miliki kekasihnya tersebut.
"Baiklah, sudah cukup bermainnya sayang. Jangan buang-buang tenaga."
"Aaa..." teriak Ella saat Vano dengan mudah membalikkan badan.
Entah bagaiman caranya, sekarang Ella terlentang di bawah Vano. "Kamu memang hebat. Tapi kamu bukanlah lawanku." ucap Vano lirih tepat di samping wajah Ella.
__ADS_1
"Ell..." geram Vano saat Ella mulai menggerakkan tubuhnya untuk berontak.
Srettt... weeeekkkk..... terdengar suara kain sobek.
"Vano." teriak Ella yang melihat Vano dengan mudah melepas pakaiannya dengan cara menyobeknya. Tidak hanya sampai di situ. Pakaian Ella yang telah di sobeknya, dia gunakan untuk mengikat kedua tangan Ella.
"Aaa..." seru Ella saat tangan Vano juga melepas paksa bra yang terpasang di kedua bukit kembarnya.
"Aman." ucap Vano setelah mengikat kedua kaki Ella menggunakan bra milik Ella.
Ella tercengang dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Vano. "Sumpah. Elo gila Van." cetus Ella.
"Sejak kapan bibir ini menyebut kata elo. Hemm.." Vano memainkan jarinya di bibir Ella dengan lembut.
Dan... Plupppp....
Vano menyatukan bibirnya dan Ella. Mengulumnya dengan lembut. "Buka sayang." bisik Vano, menyuruh Ella membuka bibirnya.
Ella malah memalingkan wajahnya ke samping. Vano tersenyum melihatnya. "Sebentar lagi, bibir ini akan bergetar. Dan suara indah akan keluar dari dalamnya." ucap Vano sembari memainkan bibirnya di sekitar dagu dan leher Ella.
"Tidak akan. Tidak tahu malu. Psikopat." oceh Ella.
Vano tersenyum mendengar ocehan Ella. Dia kembali melakukan aktifitasnya. Sementara Ella, berusaha menahan supaya mulutnya tidak mengeluarkan suara yang menjijikkan.
Jari jemari Vano kembali membelai lembut wajah Ella. "Aku sangat menyukainya." Vano kembali menyatukan bibirnya dan Ella. Berusaha membuat celah untuk masukkan lidahnya ke dalam mulut Ella.
Dada Vano tepat berada di atas bukit kembar milik Ella. Dengan sengaja, Vano menggerakkan dadanya yang langsung bersentuhan dengan salah satu bukit kembar milik Ella.
Tangannya yang kiri masih setia membelai dengan lembut wajah cantik Ella. Sementara yang kiri mulai bergerilya. Mencari titik sensitif milik perempuan yang sekarang sedang berada di bawah kungkungannya.
*****
Sumpah,,, author deg degan nich...😱😱
Ella tahan nggak ya...
Kalau author sichhh, pasti sudah bersuara.
Maksudnya suara. "jangan Vano". begitu.🤪
__ADS_1
Pasti teman-teman berpikir aneh.
iyakaN.... Ngaku Dehhhh....🤓🤓