
"Ooooo..." Ella menutupkan telapak tangan di depan mulutnya melihat fashion ketiga lelaki di apartemen Denis.
"Ell,,," ucap Egi lirih.
"Sayang." ujar Vano.
"Gue tampan kan." kata Viki.
"Apa-apaan sih kalian."
"Ini gara-gara elo." timpal Denis.
"Gue." Ella menunjuk ke dirinya sendiri.
"Mereka langsung nyerang gue karena foto kita sudah tersebar. Lihat." seru Denis menunjuk pada pipinya yang lebam karena ulah Vano dan Egi.
"Tapi gue nggak rugi dateng ke sini." celetuk Viki menatap ke arah tubuh Vano yang menggoda.
Ella dan Denis langsung menatap ke arah Viki. Menelisik arah pandangan mata Viki pada Vano. Dengan cekatan Ella mendekat ke tempat duduk Vano dan menaikkan resleting jaket Vano.
"Aissshhh. Merusak kesenangan orang." sungut Viki
Vano tersenyum melihat tindakan Ella. "Makasih sayang." ucap Vano di samping telinga Ella.
"Gue takut elo di makan kunti. Nggak lebih. Jangan ge-er." Ella menggeser duduknya, sedikit menjauh dari Vano. Egi memandang dengan tatapan tak suka.
"Apa yang terjadi Ell?" tanya Egi menatap kedua mata Ella dengan khawatir.
"Ckkk." Vano berdecak dan tersenyum sinis melihat perhatian yang di berikan Egi pada mantan kekasihnya.
Ralat. Mungkin, Vano masih menganggap Ella sebagai kekasihnya.
"Hanya seekor anak tikus yang lupa di mana sarangnya berada." jawab Ella datar tanpa memandang pada Egi.
"Butuh bantuan?" tanya Vano.
"Tidak. Bukankah hanya seekor anak tikus. Tidak perlu di khawatirkan." tambah Ella.
Vano menggeser duduknya. Mendekat pada sang model, meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Ella. Membawanya untuk menghadap pada dirinya. Dengan lembut, Vano mengecup pelan dan singkat bibir Ella.
Tidak di pungkiri, hati Ella berdesir. Selama ini, Vano tidak pernah selembut dan perhatian seperti ini pada dirinya.
"Wanita ku memang bisa di andalkan. Dalam keadaan apapun." Vano membelai rambut panjang Ella.
Segera Ella tersadar. "Tunggu, bukankah gue udah putusin dia. Kenapa gue adem ayem, di sentuh kayak gini." batin Ella.
Segera Ella menepis tangan Vano. Berpura-pura merapikan baju. Dan memasang wajah garangnya. "Apa perlu saya ingatkan. Kita tidak punya hubungan, yang seperti anda katakan." ucap Ella dengan jari menunjuk pada dirinya sendiri dan Vano bergantian.
Bukannya marah, Vano malah terkekeh. "Ternyata kamu yang seperti ini lebih menggoda dari pada kemarin. Ella yang penurut." Vano menarik pelan hidung Ella.
Mencium singkat pipi Ella dan beranjak pergi meninggalkan apartemen Denis tanpa berpamitan pada yang punya atau siapapun yang ada di dalam.
__ADS_1
"Astaga. Tidak tahu malu!" seru Ella masih bisa di dengar Vano.
"Sumpah Ell, pacar elo kayak jelangkung. Datang nggak di undang. Perginya nylonong. Gila." ucap Denis.
"Kalau gue pikir-pikir kalian memang serasi. Jadi ingat kegilaan yang dulu pernah elo lakuin waktu SMA." timpal Viki.
"Kita. Bukan gue doang." ujar Ella mencari pembenaran.
"Dan satu lagi. Mantan. Bukan pacar." sungut Ella.
"Maaf sayang, aku kembali. Ada yang lupa. Aku pamit, aku pulang dulu. Muaccchhh." ucap Vano dengan memonyongkan bibir. Tiba-tiba Vano kembali lagi dan menghampiri mereka. Kemudian pergi lagi.
"Sumpah. Pacar elo Ell." ucap Denis heran dengan kelakuan Vano.
"So cweeeeett." timpal Viki dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada dan di goyang-goyangkan.
"So sweet. Belum tahu saja, bagaiman iblis nya Vano." gumam Ella.
Ella tersenyum samar. Baru seperti itu saja, Ella sudah di buat tersenyum dengan kelakuan dari Vano.
Tapi sayangnya, semua tingkah Ella tak luput dari penglihatan mata Egi. Bahkan Egi juga melihat saat Ella tersenyum samar. Meski kedua temannya tidak menyadari hal tersebut.
Egi menghembuskan nafas pelan. "Ell, yakin tidak perlu bantuan." tanya Egi.
"Tidak usah khawatir. It's oke." jawab Ella.
"Ini masalah sepele buat Ella. Nggak perlu khawatir Tuan." imbuh Viki sembari mengerlingkan sebelah matanya. Membuat rambut lembut di seluruh tubuh Egi berdiri.
"Dua kucing." Viki berkata dengan melihat sekitar.
Ella memandang ke arah Viki dan memainkan alisnya naik turun. "Gila. Elo pikir gue dan Denis binatang apa." seru Viki saat tahu maksud perkataan Ella.
Sontak perkataan Viki membuat yang lain tertawa.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulan dulu." pamit Egi.
Saat Egi menggeser duduknya untuk mendekat pada Ella. Entah kenapa gestur tubuh Ella seperti malah menjauh darinya. Dan Egi sadar hal tersebut.
"Aku pulang." Egi tersenyum hambar dan meninggalkan apartemen Denis.
"Kelihatannya tu anak suka sama elo." ujar Denis, mengira bahwa Egi sudah pergi meninggalkan apartemennya.
"Gue juga merasa seperti itu." ucap Ella.
"Jangan PHP in anak orang. Dia lelaki baik." ucap Denis seperti tidak terima.
"Bukan seperti itu juga sih. Gue nggak pernah ngasih dia harapan. Selama gue belum yakin sama hati gue. Elo tahu sendiri, berapa lama gue berhubungan sama Vano. Setelah gue yakin apa yang gue rasakan, baru gue bisa putuskan." jelas Ella.
"Katanya elo sudah putus sama Vano." ucap Viki.
"Tahu ah. Mending nggak usah bahas Vano maupun Egi. Pusing. Sumpah." ucap Ella frustasi.
__ADS_1
Egi yang masih di balik tembok mendengar semua perkataan mereka. Dengan senyum penuh kekecewaan, Egi meninggalkan apartemen Denis.
Ternyata rasa kecewa di hati Egi tidak hanya saat mendengar percakapan Ella dan teman-temannya. Karena saat ini, dia melihat Vano yang sepertinya menunggu kedatangannya di lorong apartemen.
"Apa perlu saya perlihatkan lebih jauh. Jika tidak ingin sakit hati terlalu dalam. Mundur. Menjauh. Itu lebih baik. Ingat, kita mempunyai tempat masing-masing. Saya,,, dan kamu." Vano membalikkan badan dan meninggalkan Egi yang masih diam.
"Tenang Egi. Tenang." gumam Egi menenangkan perasaan dan emosinya yang memanas.
Saat di parkiran, mobil Vano melaju dengan lirih. Hendak meninggalkan area parkir. Tapi secara mendadak Egi berdiri tepat di depannya. Membuat Vano menghentikan mobil dengan cepat.
Vano menyembulkan kepala di jendela mobil. Menatap geram pada Egi.
"Tidak perlu keluar Tuan." Egi berdiri di depan pintu mobil Vano.
"Saya sudah merasakan harum dan lembutnya wajah dari mantan kekasih anda. Dan saya pastikan hal itu akan terulang kembali." ucap Egi dengan menekankan kata mantan kekasih anda.
Egi tersenyum mengejek dan meninggalkan Vano. Tapi tidak sampai beberapa detik, tubuh Egi di pegang dari belakang. Membuat Egi berbalik dan.
Buuuugghhh....
Satu bogem mentah mendarat di wajah tampan Egi. Pukulan keras dari Vano membuat tubuh Egi terhuyung ke belakang. Meski tidak sampai jatuh, tapi ada setitik warna merah di sudut bibir milik Egi.
Egi menjilati sudut bibirnya. Tersenyum remeh pada Vano. Dan berjalan ke arah Vano.
Bughhh....
Kali ini, Egilah yang memukul wajah tampan dari pengusaha terkenal tersebut.
Tak pelak, keduanya saling baku hantam seperti anak kecil yang sedang memperebutkan permen. Hingga seorang satpam menghentikannya.
"Berhenti. Atau polisi yang akan datang." ancam satpam sembari memisah keduanya.
Keduanya menghentikan perkelahian yang membuat wajah mereka menjadi lucu. Karena ada beberapa lebam di wajah tampan mereka. Dan itu sangat terlihat jelas. Karena keduanya mempunyai kulit wajah yang putih dengan buku tipis di rahang mereka.
Keduanya sama-sama membenahi tampilan mereka. Sejenak beradu pandang. Dan kembali ke dalam mobil masing-masing. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Astaga. Sebenarnya kenapa mereka. Pagi-pagi sudah berantem. Rebutan sarapan mungkin." ucap satpam pada dirinya sendiri.
Di dalam mobil, Vano mencoba menahan emosi. Di hentikannya mobil di pinggir jalan. Vano memejamkan mata dan mengatur kembali nafasnya.
"Iiisshh." Vano melihat wajahnya dari kaca spion di dalam mobil.
"Aaaawww.." serunya saat di sentuhnya pipi yang terlihat lebam.
Dirinya teringat perkataan sang mama. "Sabar. Sampai kapan." teriaknya dengan tangan memukul stir mobil.
Bagaimana Vano bisa bersabar. Jika dulu, mungkin dirinya akan tenang. Karena Ella masih berada dalam sangkar emas yang di buatkan untuk sang model.
Tapi sekarang, pintu sangkar telah terbuka lebar. Membuat penghuninya terbang bebas.
Apalagi, saat ini ada lelaki lain yang dengan terang-terangan ingin menjadi rivalnya dalam merebut hati sang model.
__ADS_1