
Ella membuka kedua matanya. Senyumnya mengembang saat melihat wajah sang suami tampannya masih memejamkan mata tepat di depannya.
"Ehh,, tunggu." batin Ella. Mengurungkan niatnya untuk memeluk Vano kembali. Meletakkan kepalanya di dada bidang milik Vano.
Dengan pelan, Ella turun dari tempat tidurnya. Dirinya benar-benar tidak ingin membuat Vano terusik. Segera Ella ke kamar mandi. Menyikat giginya dan membasuh wajah.
Setelahnya, Ella segera turun ke bawah. Tepatnya menuju dapur. "Nyonya." sapa salah satu pembantu yang pertama kali menyadari kehadiran Ella.
"Ada apa Nyonya?" tanya Bibik. Apalagi Ella belum pernah ke dapur sepagi ini.
"Apa Nyonya menyuruh kami membersihkan kamar?" tanyanya lagi.
"Nanti saja kalian bersihkan. Suamiku masih tidur." jelas Ella, saat mereka ingin membersihkan piring dan sisa makanan semalam.
"Baiklah."
"Kalian minggir." ucap Ella dengan menggelung asal rambutnya ke atas.
Pembantu di dapur semuanya menyisih. Ella mengambil celemek dan memakainya. Mereka hanya saling pandang melihat majikannya yang seorang model akan memasak.
"Kalian tahu." Ella berkacak pinggang melihat ke arah kompor.
"Tidak Nyonya." ucap mereka serempak.
"Saya akan membuat nasi goreng. Jadi, jangan kalian ganggu." ucap Ella dengan serius.
"Serius...??" tanya mereka serempak.
"Iya. Serius." Ella mulai menyiapkan bumbu-bumbunya. Mulai mengulek semua bumbu menjadi satu.
Sesekali dia beristirahat, dan mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa pegal.
"Nyonya, biar kami bantu." tawar seorang pembantu.
"Tidak." ucapnya dengan mengangkat tangan ke atas.
Pagi ini, Ella bertekad akan membuatkan sarapan untuk suaminya. Dengan masakan pertamanya. NASI GORENG CINTA.
"Huhhh.... lebih mudah berjalan di catwalk dari pada di dapur." keluh Ella.
Tapi Ella tetap pada pendiriannya. Membuatkan sarapan untuk Vano. Beberapa pembantu yang berdiri di samping Ella menjauh, mereka akan melakukan pekerjaan lain.
Tinggal Bibik yang berada di belakang Ella. Jika saja Nyonya nya menginginkan bantuan.
"Akhirnya." ucap Ella dengan senang.
Setelah berada di dapur selama setengah jam lebih, dan membuat dapur berantakan. Ella menyelesaikan masakannya.
"Lumayan. Tapi masih enak masakan mama." gumam Ella terdengar bibik, membuatnya tersenyum mendengar perkataan majikannya.
"Nyonya, saya rasa Nyonya sudah berusaha dengan baik. Saya yakin, Tuan akan menyukainya." puji Bibik.
"Benarkah?" tanya Ella seakan tidak percaya dengan apa yang di katakan bibik.
"Benar Nyonya." jawab bibik dengan tulus.
Dari balik tembok, ada seseorang dengan senyum terukir di bibirnya. Melihat Ella tampak antusias membuat sarapan untuknya.
Awalnya Vano terbangun, melihat istrinya tidak ada. Dia mencari di kamar mandi. Entah kenapa, Vano takut jika Ella pergi kembali tanpa meminta izin darinya.
Dengan tergesa, Vano menuruni anak tangga. Berniat mencari Ella. Tapi siapa sangka, dirinya malah di buat terkejut dengan penampilan sang istri di dapur.
Sangat seksi. Beruntung dia tidak mengizinkan pekerja lelaki untuk memasuki rumahnya.
Ingin sekali Vano memeluk dan mencium sang istri. Bila perlu, Vano menginginkan penyatuan antara mereka. Sekarang. Di dapur.
Tapi melihat banyaknya pembantu, membuat Vano mengurungkan niatnya. Beberapa pembantu menyadari Tuannya, hanya diam. Karena Vano mengisyaratkan pada mereka untuk tutup mulut.
Mendengar Ella akan kembali ke kamar, Vano segera kembali ke dalam kamar. Sebelum Ella mengetahui jika dirinya berada dia sini. Dan mengetahui apa yang sedang di lakukannya.
"Bik, tolong taruh di piring ya. Saya mau membangunkan Vano dulu." pinta Ella.
"Dan,,, emmm. Maaf, dapurnya berantakan." ucapnya tersenyum canggung. Membuat dapur seperti rumah yang tidak berpenghuni.
"Jangan khawatir Nyonya." ucap Bibik.
"Terimakasih." ucap Ella. Sebagian pembantu bergegas ke dapur dan membersihkan dapur akibat kekacauan yang di timbulkan oleh majikannya.
"Sudah cantik, kaya, baik. Sekarang malah mau belajar masak." puji seorang pembantu saat membersihkan dapur.
"Paket komplit." imbuh yang lain.
Tidak tahu saja mereka. Majikan yang mereka puji baik, bisa menjadi iblis. Bahkan bisa berubah menjadi malaikat pencabut nyawa.
Segera Ella meninggalkan dapur dan kembali ke kamar. Membangunkan Vano yang berpura-pura tidur di balik selimutnya.
__ADS_1
"Kami tahu sayang, ternyata lebih mudah memegang pistol dari pada memegang alat dapur." gumam Ella yang sudah duduk di tepi ranjang besar, dimana Vano masih memejamkan mata.
"Tapi aku akan tetap berusaha. Untuk menjadi istri yang baik." imbuh Ella, dengan menatap ke arah sang suami.
Vano yang berpura-pura tidur mendengarkan semua perkataan sang istri. Ingin rasanya bangun dan memeluk Ella. Mengucapkan terimakasih. Tapi tidak mungkin. Apalagi sekarang dia sedang berpura-pura masih terlelap dalam tidurnya.
Ella mencium sendiri badannya. "Bau dapur." gumamnya. Pandangannya beralih ke arah jam dinding yang tertempel di dinding.
"Lebih baik gue mandi sebentar saja. Masih sempat." ucap Ella lirih.
Meninggalkan Vano, berjalan dengan santai menuju kamar mandi. Kedua mata Vano terbuka mendengar suara pintu terbuka. Yang berarti sang istri sudah berada di dalam kamar mandi.
Vano tersenyum, hatinya menghangat. "Kamu tahu saja, kalau Ella sekarang sedang mandi." ucap Vano lirih, dengan pandangan mata mengarah ke juniornya yang sudah on sejak tadi.
Segera Vano menyibakkan selimut dan menyusul Ella ke dalam kamar mandi. Dengan pelan Vano membuka pintu kamar mandi. Di tanggalkannya pakaian yang melekat di tubuhnya.
Terlihat Ella berada di bawah guyuran air shower. Merasa ada yang datang, Ella spontan membalikkan badan. "Vano." gumamnya melihat sang suami berdiri tanpa menggunakan pakaian. Dan junior miliknya sudah dalam keadaan on. Siap bertempur.
Vano tersenyum, dan langsung menghampiri sang istri di bawah guyuran air shower. "Olah raga pagi." bisik Vano dengan tangan sudah berada di pantat sintal sang model.
"Aahh,,, Van." ucap Ella saat tangan Vano meremas pantatnya yang sintal dan padat. Menggesekkan juniornya tepat di depan gowa milik Ella.
Tangan Ella terulur memegang rahang milik sang suami. Fisik Vano memang sangat sempurna. Setiap garis wajahnya mempunyai keindahan yang sulit di sangkal. Terutama mata, hidung, dan bibirnya.
Membuat kaum hawa berlomba ingin mendapatkannya. Bahkan mereka rela jika hanya menjadi penghangat ranjang seorang Vano.
Ella tidak bisa memungkiri, wajah inilah yang sejak dulu membuatnya rela melakukan apapun. Bahkan menahan sakit hati. Dan sekarang semuanya seperti terbayar lunas. Menjadikan Vano miliknya sepenuhnya, seutuhnya.
"Love you my wife." ucap Vano dengan suara seraknya yang sudah di kuasai gairah.
Vano menempelkan bibirnya dan bibir sang istri. Tangannya memegang tengkuk dan pantat sintal milik Ella. Sembari meremas.
Keduanya memadu kasih dibawah guyuran air shower. Puas bermain di bibir seksi sang istri, Vano beranjak memainkan lidahnya di dada Ella.
Dengan sempurna, Ella membusungkan dadanya. Membuat Vano lebih mudah untuk melakukan apa yang di inginkannya. Tangan Ella mengelus lembut rambut suaminya, dengan sesekali menjambaknya. Saat mulut Vano bermain sedikit kasar.
Lidah Vano beralih ke perut rata milik sang istri. Badan Ella seperti tersetrum aliran listrik. Apalagi jari Vano sudah mulai mengelus di mana junior Vano akan bersarang sempurna.
Membuat Ella memundurkan badannya. Dan bersandar di tembok. Badan Ella bergerak seksi. Geli dan rasa nikmat menjadi satu.
Kini lidah Vano sudah berada tepat di depan gowa milik Ella. Memainkan lidahnya di luar. Membuat Ella memejamkan mata. Merasakan sensasi yang luar biasa.
Dengan jari Vano sudah keluar masuk di tempat yang seharusnya. Di tambah lidah Vano yang memainkan daging kecil di gowa milik Ella.
Menjadikan Ella semakin membuka lebar kakinya. Membuat jalan selebar mungkin untuk sang suami memanjakan miliknya.
Vano membalikkan tubuh Ella. Menenggelamkan juniornya ke dalam gowa milik sang istri dari belakang. Dengan kedua tangan berada di dada Ella.
Keduanya meracau dan mengeluarkan kata yang membuat mereka menjadi lebih bersemangat. Setelah pelepasan pertama, Vano membawa Ella ke dalam bak mandi.
Vano membawa masuk tubuh sang istri ke dalam bak mandi yang sudah terisi penuh dengan air dan sabun. Hingga air sabun meluap karena gerakan yang mereka timbulkan.
Vano terus memacu tubuhnya. Hingga untuk kedua kalinya mereka merasakan penyatuan di dalam bak mandi.
Ella merasa badannya melemas. Segera Vano megambil tubuh sang istri dan memeluknya. Takut jika kepala Ella sampai masuk ke dalam air.
"Lagi?" tanya Vano dengan membenamkan wajah di ceruk leher Ella. Menghirup rakus aroma tubuh Ella.
Ella menggeleng pelan. Pagi ini dirinya akan menemui Hana. "Nanti kamu akan terlambat." ucap Ella menatap wajah sang suami.
"Aku pemiliknya." ucap Vano sombong. Dengan gerakan cepat, Vano menyambar kembali bibir Ella yang sudah sedikit membengkak akibat ulahnya.
Ella mendorong pelan tubuh Vano. "Aku ada janji dengan Hana." ucap Ella.
"Kita akan membicarakan perusahaan yang menawariku pekerjaan." Ella memainkan jarinya di dada bidang milik suami, seperti sedang menggambar sesuatu.
"Jangan terlalu lelah." Vano memeluk mesra tubuh Ella.
"Ell,,," geram Vano saat kaki Ella menyenggol junior Vano.
Ella mengurai pelukannya. "Uupss,, maaf tidak sengaja Tuan." ucap Ella membungkam mulutnya sendiri. Padahal jelas-jelas Ella sengaja melakukannya.
"Nakal." ucap Vano seraya meremas bukit kembar milik Ella.
"Vanoo....!!!" teriak Ella karena tangan jahil sang suami.
Vano tertawa dan berdiri. Membilas badannya di bawah guyuran air shower yang masih menyala. Ella tersenyum melihat tingkah suaminya.
"Nyonya, anda ingin melanjutkannya." goda Vano dengan mengerlingkan matanya ke arah Ella.
Dengan santai Vano melilitkan handuk di pinggangnya. "Astaga." Ella segera bangun dan membilas badannya. Teringat jika dirinya belum menyiapkan pakaian untuk Vano.
Segera Ella meraih handuk kimono dan memakainya. "Sayang,,," panggil Ella.
Vano tidak ada di kamar. "Ampun." Ella menepuk dahinya pelan. Dirinya baru ingat jika sekarang dia dan Vano berada di kamar sebelahnya.
__ADS_1
Segera Ella pergi ke kamarnya. Beruntung letak kamarnya dan kamar yang digunakan bersebelahan.
"Sayang...!" teriak Ella begitu membuka pintu kamarnya.
"Pasti Vano ada di ruang ganti." gumam Ella segera melangkahkan kakinya ke ruang ganti.
"Maaf." cicit Ella yang berdiri di ambang pintu ruang ganti.
"Aku bantu." Ella segera membantu suaminya mengancingkan pakaiannya.
"Maaf ya." ucap Ella mengulang kembali kata-katanya.
"Untuk apa? Memang istri cantikku melakukan kesalahan. Sampai harus minta maaf." tutur Vano, menatap Ella dengan penuh cinta.
"Kamu harus mengambil sendiri bajunya." jelas Ella.
"Tidak masalah. Aku masih dua tangan dan kaki yang lengkap."
Ella memakaikan dasi di leher suaminya. Juga memakaikan jas di badan Vano. "Selesai." ucap Ella.
"Apa?" tanya Ella, tiba-tiba Vano merengkuh pinggang ramping milik Ella.
"I love you." ucap Vano dengan menyatukan kening mereka.
"Kami ganti pakaian. Aku menunggu di luar." ucap Vano mencium singkat pipi Ella.
Sementara Ella berganti pakaian. Vano memeriksa beberapa berkas yang di kirimkan Reza melalui emailnya.
"Sudah?" tanya Ella melihat Vano memasukkan laptop dan beberapa berkas ke dalam tasnya.
Di ruang makan, Ella melihat dengan jantung berdebar. Ella tidak memberitahu Vano jika dirinya yang memasak nasi goreng. Ella ingin melihat reaksi sang suami.
Dan Vano, meski dia tahu Ella yang memasaknya. Tapi dia juga berpura-pura tidak tahu.
Satu suap, dua suap, tiga suap. Vano terus memakan nasi goreng dengan lahap. Ella hanya memegang sendok tanpa menyuapkan nasi ke mulutnya. Matanya masih fokus memandang ke arah suaminya.
"Ada apa?" tanya Vano melihat Ella tidak memakan makanannya, melainkan malah memandangi dirinya yang sedang makan.
"Tidak. Emmm,,, bagaimana rasanya. Kamu suka?" tanya Ella.
"Apanya?" tanya Vano, berlagak tidak tahu. Padahal Vano mengerti kemana arah pertanyaan sang istri.
"Nasi gorengnya." ucap Ella, memegang sendok dengan erat. Menunggu jawaban Vano. Hingga dirinya di buat khawatir.
"Enak, aku suka." ucap Vano. Spontan Ella berdiri dan memeluk tubuh Vano.
"Kamu tahu?" tanya Ella di jawab gelengan kepala oleh Vano.
"Nasi gorengnya aku yang buat. Itu masakan pertama aku." ucap Ella tersenyum malu. Seperti anak gadis.
"Vann." seru Ella.
Vano menarik lengannya, hingga dirinya berada di pangkuan Vano. Bibik dan beberapa pembantu yang berada di sekitar mereka bergegas pergi.
"Kamu tahu?" tanya Vano, dan Ella menatap Vano dengan tatapan penuh cinta.
"Ini nasi goreng pertama, yang paling enak aku makan." ucap Vano, membuat Ella menyatukan alisnya.
"Karena kamu yang membuatnya. Dengan bumbu cinta." bisik Vano.
"Terimakasih." ucap Vano, Ella langsung mengangguk dengan wajah bersemu. Vano mengecup wajah Ella berkali-kali.
"Besok aku mulai masuk kursus memasak." ucap Ella.
"Benarkah?" tanya Vano, padahal Vano sudah mengetahuinya dari laporan yang di berikan Reza.
"Asal kamu senang. Tapi ingat, jangan terlalu memaksa."
"Hari ini, aku mau menemui Hana. Setelahnya, aku mau bertemu dengan Tante Rahma. Mamanya Viki." jelas Ella.
Karena setelah Vano pulang kerja, mereka kan pergi ke rumah Tuan Danto. Menjenguk Oma Yeti yang semalam baru sampai. Dan sekarang tinggal di rumah Tuan Danto, untuk sementara waktu.
"Tante Rahma?" tanya Viki.
"Iya, semalam beliau memberitahu lewat pesan. Jika ingin bertemu denganku." ucap Ella.
"Nanti kami akan di temani Rio." ujar Vano, sontak membuat mata Ella melotot.
"Tidak ada bantahan." ucap Vano, yang berarti Ella harus menuruti perkataan sang suami.
"Lanjutkan sarapannya." Ella beranjak dari pangkuan Vano. Dirinya juga memakan nasi goreng buatannya.
"Tidak terlalu buruk." ucap Ella.
Karena memang, rasa nasi gorengnya tidak terlalu enak. Tapi masih bisa untuk di makan. Apalagi ini pertama kalinya Ella memasak.
__ADS_1
Dan rasa itu sudah sangat baik untuk Ella sebagai pemula.