DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 165


__ADS_3

Beberapa mobil datang. Dan pastinya mereka bawahan Ella. "Mereka pikir ini film, datang di detik-detik terakhir." sinis Ella memandang mobil yang melingkar di tengah. Membentuk sebuah barikade, atau benteng.


Dengan semua bawahan Paman Haki berada di dalam. "Bodoh." gumam Ella melihat ke arah mereka. "Mereka pikir bisa melesatkan tembakan lewat sana. Ditaruh di mana otak mereka." geram Ella.


Ella mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Kamu tahukan apa yang harus kalian lakukan." ucap Ella di ujung ponsel.


Ella menutup panggilan teleponnya dan menyiapkan diri. Ponselnya kembali bergetar, karena Ella telah menon-aktifkan nadanya. Membuat Ella yang ingin melesatkan tembakan, kehilangan konsentrasi.


"Vano." gumam Ella saat di layar ponsel miliknya tertera tulisan MY LOVE.


"Van, jangan mendekat. Aku baik-baik saja. Jika ingin membantu, gunakan jalur lain. Aku baik-baik saja." tanpa menunggu Vano berbicara, Ella langsung mengeluarkan kalimat dari dalam mulutnya dan menutup panggilan telepon dari suaminya secara sepihak.


Di dalam mobil, Vano benar-benar di buat khawatir. Apalagi Vano benar-benar tidak mengetahui keadaan istrinya. "Hentikan mobil." seru Vano.


Seketika Reza menghentikan mobil. Mengikuti Tuannya yang keluar dari dalam mobil. "Siapa mereka?" ucap Vano melihat tidak jauh dari tempatnya, ada beberapa lelaki yang turun dari motor sport tanpa ada nomor polisi di kendaraan mereka.


Vano dan Reza masih memantau, mereka harus memastikan. Mereka kawan atau lawan. Tampak kelima lelaki tersebut seperti berdiskusi.


Mereka melihat ke arah Vano dan Reza. Sedikit menganggukkan kepala dan berpencar. "Kelihatannya mereka orangnya Nyonya Ella." ucap Reza lirih.


"Mereka penembak rahasia milik Tuan Haris. Hanya Ella dan Tuan Haris yang bisa menghubungi dan memerintahkan mereka." batin Vano melihat jaket yang mereka kenakan. Karena Vano pernah melihat Ella memakai jaket tersebut. Sekali. Hanya sekali.


Tampak mereka tidak memperlihatkan wajah mereka, kecuali hanya mata mereka yang bagaikan mata elang yang sedang mencari mangsa.


Segera Vano dan Reza mendekat ke tempat Ella dengan pistol di tangan mereka.


Sementara Ella, tengah bersiap untuk bertempur. "Huufffttt,,," Ella mengambil nafas dalam-dalam. Menyiapkan pistol di kedua tangannya.


Doorr,, doorr,, terdengar suara tembakan sahut menyahut. Ella tersenyum. "Mereka sudah datang." gumam Ella tersenyum menyeramkan.


Dengan kedua tangan memegang pistol. Keluar dari persembunyian. Seketika beberapa bawahan paman Haki yang berada di tengah-tengah mobil meloncat keluar. Tapi tetap ada yang berada di dalam. Seperti enggan untuk bertarung bersama Ella.


"Nona." seru mereka. Dengan sigap, mereka berada di sekeliling Ella. Mata Ella seperti tembus pandang, menembaki setiap pohon yang sekiranya terdapat musuh yang sedang bersembunyi di balik pohon tersebut.


Beberapa menit suara tembakan berhenti. "Cari mereka di balik pohon. Bawa kehadapanku. Hidup atau mati. Sekarang." perintah Ella. Dirinya yakin jika mereka sudah dilumpuhkan semua. Entah oleh Vano, Reza, atau penembak jitu milik Ella.


Segera mereka melakukan perintah dari Ella. Dan ternyata benar. Mereka semua sudah tidak bernyawa. Bawahan Ella saling pandang. Karena para musuh tertembak tepat di kepala bagian belakang.

__ADS_1


Bagaimana bisa. Tapi mereka hanya diam. Bertanya pada Ella, sama saja menyerahkan nyawa. "Ell, sayang." seru Vano dari arah lain.


Berlari dengan pistol masih berada di tangan, menghampiri sang istri dan langsung memeluknya. Nampak jelas terukir raut khawatir pada wajah Vano.


Dengan kedatangan Vano beserta Reza, beberapa bawahan Ella menduga jika mereka berdualah yang menembak musuh-musuh tersebut. Apalagi di tangan Vano dan Reza masing memegang pistol.


Ella mengurai pelukan dari suaminya. "Sayang." Vano melihat di wajah Ella ada goresan dengan sedikit darah.


"Aw... isshh." desis Ella saat jari Vano hendak mengusap pipi Ella.


"Astaga sayang." Vano melihat celana dan jaket Ella yang sobek kecil-kecil karena Ella menggelinding di atas aspal dengan keras.


Beruntung kedua siku Ella melindungi kepalanya, sehingga Ella tidak terluka di bagian kepala. Melainkan di kedua siku tangannya.


"Bawa semua ke markas." perintah Ella.


"Baik Nona."


"Semua. Termasuk kalian." ucap Ella. Seketika beberapa bawahan Ella saling pandang.


"Maaf Nona, saya tidak bisa kembali ke markas. Paman Haki...." ucap salah satu bawahan Ella. Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, peluru Ella bersarang di kaki kananya.


"Aaaa....." teriaknya dengan tubuh seketika rubuh ke aspal. Tapi dia tidak akan mati hanya karena satu peluru bersarang di kakinya.


Semua bawahan Ella terdiam. Apalagi melihat anak dari bossnya yang selama ini terkenal baik dengan mereka seketika menembak salah satu rekan mereka.


Pasti ada sesuatu. Itulah yang ada di benak mereka. Bahkan Vano dan Reza juga terkejut dengan sikap Ella.


"Kalian buka mulut sekali lagi. Aku pastikan, saat ini terakhir kali kalian membuka mata." ancam Ella tidak main-main.


Segera mereka membawa jasad musuh yang sudah tidak bernyawa ke dalam mobil. Dan melajukan mobil menuju markas. Sementara Ella, Vano, dan Reza berada di dalam satu mobil. Dengan bawahan Ella duduk di kursi kemudi.


"Apa tidak sebaiknya kita obati luka kamu dulu sayang." bujuk Vano dengan lembut. Vano tahu jika Ella sedang menghadapi masalah yang serius. Oleh karena itu, dirinya berbicara dengan hati-hati. Karena sudah pasti perasaan Ella akan sangat sensitif.


"Nanti saja Van. Ada hal penting yang harus aku selesaikan." ucap Ella. Seakan sakitnya bisa diobati nanti. Tapi rasa penasarannya, harus di selesaikan sekarang.


"Kemana paman Haki? Kenapa tidak datang?" tanya Ella.

__ADS_1


"Setelah Nona meninggalkan rumah, paman Haki juga keluar. Saya sempat mendengar jika paman ingin pergi ke luar kota." ucapnya dengan tangan memegang stir.


"Ke luar kota?" gumam Ella.


"Benar Nona, saya sempat mendengar paman menyebut nama Va,,, Vane,,,Vanesa. Iya, benar. Vanesa." jelasnya.


"Kenapa ponsel paman Haki ada di rumah?" tanya Ella kembali, karena saat dirinya menghubungi paman Haki, bukan paman Haki yang menjawab panggilan teleponnya. Melainkan orang lain. Yang mengaku anak buah paman Haki.


"Ponsel. Ponsel paman Haki. Ponsel paman Haki hilang kemarin Nona. Kalau tidak salah setelah Nona menghubungi paman Haki yang terakhir." ucapnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Ella. Dirinya semakin yakin jika ada serigala di dalam markasnya. Dam Ella harus segera menemukannya.


"Saya kurang tahu Nona. Tapi paman Haki berteriak-teriak dan marah. Menyuruh kami mencari ponselnya. Padahal seingat beliau, ponselnya di taruh di atas meja." jelasnya.


Sementara Vano dan Reza hanya diam dan menyimak Ella yamg bertanya pada bawahannya. Apalagi Ella bertanya sudah seperti seorang wartawan.


"Siapa yang menyuruh kalian untuk datang ke tempat ini?" tanya Ella.


"Saya tidak tahu Nona. Tiba-tiba teman-teman sudah bersiap, dan saya hanya mengikuti mereka."


"Tentang mobil yang dilingkarkan seperti tameng. Siapa yang menyuruh?"


"Saya tidak tahu, karena saya saat datang kesini tidak berada di belakang kemudi." jawabnya.


"Za, kamu lihat CCTV di rumah paman Haki. Sekarang." pinta Ella tak terbantahkan.


"Baik." jawab Reza. Mobil perlahan menepi dan berhenti. Setelah Reza keluar dari mobil, mereka kembali melajukan mobilnya ke markas.


"Kamu yakin. Kamu baik-baik saja?" tanya Vano membelai rambut Ella.


"Iya." Ella menyenderkan kepala ke pundak Vano.


"Lebih baik kamu istirahat. Biar aku yang mengambil alih dan menyelidikinya." saran Vano.


"Tidak bisa Van. Mereka bawahanku. Dan akulah yang akan menghukum dan menertibkan mereka." ujar Ella.


"Dan jika sampai ku temukan mereka berkhianat, aku sendiri yang akan menghabisi mereka." ucap Ella tegas.

__ADS_1


"Aku tidak sudi berlama-lama memberikan makan dan tempat tinggal pada mereka." desis Ella.


Bawahan Ella yang berada di belakang kemudi merinding mendengar pernyataan Ella. Tapi dirinya tidak menyangka jika sampai ada penghianat. Lantaran selama ini mereka selalu kompak. Apalagi kebutuhan mereka dan keluarga mereka terpenuhi.


__ADS_2