DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 12


__ADS_3

"Hana." panggil Nyonya Monic. Membuat langkah kaki Hana tertahan. Hana menoleh ke samping. Dimana sumber suara yang memanggilnya berada dari sana.


Melihat siapa yang memanggilnya, Hana segera menetralkan rada cemas bercampur gugup di dadanya.


Di rasa tenang, Hana berjalan ke arah Nyonya Monic. "Tenang Hana. Tenang. Satu restu sudah kamu kantongi." ucap Hana dalam hati. Teringat Tuan Bara menyuruh Hana untuk memanggilnya dengan sebutan papa. Sama halnya seperi Denis.


"Sekarang tinggal mama Denis. Nyonya Monic. Dapatkan hatinya. Dapatkan restu dari beliau." ucap Hana dalam hati, meneguhkan pendiriannya.


Terlebih dirinya dan Denis sudah saling berjanji akan saling menunggu dan saling menguatkan. Demi kata cinta di antara keduanya.


Sama halnya dengan Hana, Nyonya Monic juga melangkahkan kakinya untuk menghampiri Hana. Lantaran posisi Nyonya Monic berada di seberang jalan. Berbeda dengan Hana.


Jika Hana menampilkan senyum ramahnya, berbeda dengan Nyonya Monic. Tampak raut datar terpasang di wajah beliau. Namun Hana tidak terlalu memikirkannya.


Lantaran dia tahu, jika sampai detik ini mama dari Denis belum memberi restu akan hubungannya dengan sang putra. "Nyonya." sapa Hana dengan senyum ramah. Dengan sopan mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan beliau. Belum sempat Nyonya Monic menerima ukuran tangan Hana maupun berkata, Hana berteriak terlebih dahulu.


"Awas.....!!!" tangan Hana mendorong tubuh Nyonya Monic ke belakang. Membuat kaki Nyonya Monic melangkah beberapa langkah ke belakang dengan tubuh Nyonya Monic jatuh ke aspal. Karena ketidak seimbangan beliau.


Sementara tubuh Hana sendiri terpental beberapa meter karena tertabrak mobil yang berkecepatan tinggi. Tubuh Hana melayang bagai daun yang terkena angin.


Nafas Nyonya Monic seakan tercekat. Matanya tak berkedip, dengan posisi masih terduduk di atas aspal. Melihat dan menyaksikan semua kejadian di depan matanya.


Dan saat ini, Hana tergeletak beberapa meter dari tempatnya terjatuh. Dengan darah di sekitar tubuh Hana. Membuat mulut Nyonya Monic bungkam.


Beberapa orang di sekitar langsung berlari mengerumuni Hana. Begitu juga karyawan salon tempat Hana bekerja. Lantaran saat ini salon terbilang sepi, dan mereka mendengar suara teriakan dari beberapa orang.


"Hana...!!!!!" teriak Nora, begitu melihat temannya sudah tergeletak di atas aspal dengan mata terpejam. Nora berjongkok di samping tubuh Hana.


Nora menekan dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Hana. "Mobil,,, bawa mobil ke sini!! Kita harus segera membawa Hana ke rumah sakit." teriak Nora dengan wajah panik, saat di rasakan denyut nadi pada pergelangan tangan Hana masih berdetak.


Sementara beberapa orang membantu Nyonya Monic yang masih tampak syok ke dalam mobil. "Gue antar Hana dulu." ucap Nora.


"Oke. Kamu temani Nora, biar nanti aku yang memberitahu pada mbak Virna." ucap karyawan salon pada temannya.


Segera dia memegang lengan dan menuntun Nyonya Monic, dan membawanya masuk ke dalam mobil bersama dengan Hana dan Nora.


Di dalam mobil, tampak Nyonya Monic masih diam, memandang lurus ke depan. Beliau duduk di kursi depan bersebelahan dengan Nora yang sedang mengemudi.


Terlihat dengan jelas wajah syok dari Nyonya Monic. Bahkan wajahnya nampak pucat. Pandangan matanya kosong, juga dengan irama nafasnya yang masih tersengal.


Di kursi belakang. Hana di tidurkan di atas paha temannya, dan dijadikan bantal untuk kepala Hana. "Hana, bangun. Aku mohon." ucapnya, menepuk pelan pipi Hana.


"Cepetan Nora." lanjutnya dengan suara gemetar. Tentu saja. Siapa yang tidak takut. Melihat temannya dalam keadaan kritis. Hidung, mulut, bahkan telinga Hana mengeluarkan darah.

__ADS_1


Di lapnya menggunakan tisu yang ada di dalam mobil darah Hana yang keluar dari beberapa anggota tubuhnya. "Please, bertahan Han. Aku mohon." ucapnya dengan air mata menetes di pipi.


Begitu sampai di rumah sakit. Nora segera keluar dan berteriak meminta tolong. Dengan cepat, petugas medis menolong Hana.


Terlebih mereka membawa Nyonya Monic. Dan mereka tahu siapa beliau. Istri dari Tuan Bara. Pemilik siaran televisi terbesar di negara ini.


Juga beliaulah pemilik rumah sakit tersebut. "Selamat datang Nyonya." ucap mereka, menyambut kedatangan Nyonya Monic.


Seakan tersadar, Nyonya Monic mengeluarkan suaranya. "Selamatkan dia." perintahnya.


"Hubungi Denis dan suami saya. Sekarang." lanjut Nyonya Monic.


Sampai di rumah sakit, Nora dan temannya pamit pada Nyonya Monic. Mereka tidak mungkin meninggalkan salon terlalu lama.


Keduanya percaya, jika Nyonya Monic pasti akan menjaga Hana dengan baik. Apalagi beliau adalah mama dari Denis. Kekasih Hana. "Terimakasih, sudah mengantar kami." ucap Nyonya Monic.


Nora tersenyum. "Sama-sama Nyonya. Lagi pula Hana adalah teman kami. Dia perempuan baik. Dia juga suka menolong kami. Mana mungkin kami membiarkan dia tergeletak di jalan dalam keadaan seperti tadi." ucap Nora.


Dirinya memang sengaja tidak menghubungi ambulance. Karena menurutnya, akan memakan waktu. Jadi lebih baik, dirinya saja yang mengantarkan Hana ke rumah sakit.


"Semoga Hana baik-baik saja." ucap Nora pada Nyonya Monic, sebelum meninggalkan rumah sakit bersama temannya.


Sepeninggal kedua teman Hana, Nyonya Monic duduk di depan ruang operasi. Pikirannya masih terbayang, bagaimana Hana di tabrak mobil.


Nyonya Monic menyandarkan badannya di kursi. Kedua matanya terpejam. Membayangkan yang terjadi padanya, jika saja Hana tidak mendorongnya ke belakang dengan tepat waktu.


Tuan Bara datang lebih dulu dari pada Denis. Dikarenakan jarak keberadaannya dengan rumah sakit terbilang dekat.


Beberapa bawahan Tuan Bara segera berjaga dan mengamankan ruang operasi. Tuan Bara memeluk tubuh sang istri. Tangan beliau menepuk pelan bahu sang istri.


Pundak Nyonya Monic terlihat bergerak naik turun. Tuan Bara sangat tahu apa yang sedang di rasakan oleh sang istri. Seorang bawahan Tuan Bara datang membawa air mineral kemasan botol.


Tuan Bara membawa sang istri untuk duduk kembali. "Minum dulu." ucapnya menyerahkan botol air minum yang sebelumnya sudah dia buka tutupnya.


"Hana,,," ucap Nyonya Monic terhenti. Seakan suaranya tercekat di tenggorokan.


Tuan Bara menghapus air mata di pipi sang istri. "Semua akan baik-baik saja. Dia perempuan yang kuat." ucap Tuan Bara.


Sementara di tengah perjalanan untuk melihat dan memastikan kondisi papa dari Viki, Denis mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa sang kekasih.


Segera Miko yang duduk di belakang kemudi melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat kekasih atasannya di rawat.


Di dalam mobil, Denis duduk dengan tidak tenang. Hati dan pikirannya tertuju pada sang kekasih. Wajahnya memerah menahan rasa takut yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


Begitu mobil berhenti, Denis langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit. Tepatnya di ruang operasi. "Hana....!!!" teriak Denis, melihat sang mama dan papanya duduk di depan ruang operasi.


"Apa yang terjadi!! Katakan!!" teriaknya menatap tajam ke arah Nyonya Monic.


Denis mendapat kabar jika Hana mengalami kecelakaan tepat saat Hana bersama Nyonya Monic. Membuat Denis menyimpulkan sendiri semuanya. Karena Denis tahu jika sang mama tidak menyukai Hana.


Tuan Bara berdiri dan memegang kedua pundak putranya. "Tenang, ini di rumah sakit. Jangan sampai dokter yang menangani Hana terganggu karena suara kamu." ingat Tuan Bara.


Namun tatapan Denis tetap mengarah kepada sang mama. Bagai ank panah yang siap melesat mengenai sasaran. "Jika sampai terjadi sesuatu pada Hana. Selamanya aku tidak akan menganggap kamu sebagai mama kandungku." ucap Denis lirih, namun penuh ancaman.


"Denis,,," geram Tuan Bara tertahan. "Ini bukan saatnya untuk meributkan hal yang tidak perlu." lanjut Tuan Bara.


Nyonya Monic menatap ke arah sang putra dengan tatapan sedih dan hati terluka. Air matanya terus menetes di pipi. Mulutnya ingin sekali menjelaskan semuanya yang terjadi. Namun suaranya seakan terhenti di tenggorokan. Hanya suara tangis yang mampu ia keluarkan.


"Miko, jemput ibu. Katakan dengan hati-hati." perintah Denis. "Setelah itu, selidiki semuanya dengan baik." lanjut Denis.


"Bawa bawahan saya juga, mungkin kamu membutuhkannya." ucap Tuan Bara.


"Baik." kata Miko.


Denis berdiri menyandarkan badannya ke tiang, arah matanya memandang pintu ruang operasi. Tampak matanya memerah menahan air mata yang jatuh.


Tapi seberapa kuat Denis menahannya, tetap saja dia tidak mampu. Hana, satu-satunya perempuan yang ada dalam hatinya. Satu-satunya perempuan yang dangat dia inginkan untuk berdiri di sampingnya. Sebagai istrinya.


Tubuh Denis merosot ke bawah. Menenggelamkan wajahnya di antara paha. Dengan pundak bergetar. Air mata yang dia tahan, akhirnya luruh juga.


Nyonya Monic menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang milik sang suami. Beliau tidak kuat melihat bagaimana rapuhnya sang putra saat ini.


Ini pertama kali dirinya melihat sang putra benar-benar terpuruk. Ini pertama kalinya melihat sang putra menangis seperti itu. "Sadarlah Hana. Selamatkan dia Tuhan. Aku berjanji, akan merestui hubungan mereka." ucap Nyonya Monic dalam hati.


Tangan Tuan Bara mengelus bahu sang istri. Dengan mata memandang ke arah sang putra yang juga sedang menangis dengan posisi tertunduk. "Hana, lihatlah. Bagaimana Denis sangat mencintai kamu. Kamu harus bertahan. Kamu harus selamat." ucap Tuan Bara dalam hati.


Tar...... "Astaghfirulloh..." Bu Ningsih memegang dadanya, saat tangannya tidak sengaja menyenggol gelas kosong di dekatnya.


"Tuhan, ada apa ini." Bu Ningsih duduk dengan detak jantung berdetak tidak biasa. Mungkin karena ikatan batin antara ibu dan anak.


Sehingga Bu Ningsih seakan merasakan firasat buruk terjadi pada anak-anaknya. "Tuhan, lindungilah di manapun kedua anak hamba berada." ucapnya dengan kedua mata terpejam.


"Hana, Arik. Do'a ibu selalu menyertai kalian. Di manapun kalian berada, semoga Tuhan selalu membantu dan menjaga kalian." lanjut bu Ningsih.


"Astaghfirulloh...." lagi-lagi tangan Bu Ningsih tergores pecahan kaca dari gelas yang pecah, saat beliau hendak membersihkan dengan memungutnya.


Bu Ningsih duduk, menenangkan perasaannya yang tiba-tiba merasa khawatir dan cemas akan sesuatu. Yang beliau sendiri juga tidak tahu penyebabnya. "Ada apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Bahkan, air mata beliau juga ikut menetes tanpa beliau inginkan. "Kenapa?" ucapnya menghapus air mata yang meluncur begitu saja di pipinya.


Ada rasa sesak di dada bu Ningsih. Dengan perlahan, Bu Ningsih mengatur nafasnya. "Lebih baik aku menenangkan hati dan diri dulu."


__ADS_2