DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 17


__ADS_3

"..." Egi terbengong saat melihat Ella keluar dari ruang ganti.


"Ini tante bajunya. Ella taruh sini ya." Ella menaruh gaun tersebut di kursi dekat pintu ruang ganti.


"Tadi tu muka dingin benget. Giliran lihat yang bening, langsung berubah." batin Hana melihat Egi memandang Ella dengan intens.


"Nak Ella, sini. Tante mau kenalin kamu sama anak tante."


"Ella. Bukannya nama kekasih Vano juga Ella. Apa dia orangnya." batin Egi masih memandang ke arah Ella.


"Heh, malah ngelamun." Nyonya Tiwi menyenggol badan Egi.


"Maaf. Egi." Egi menyodorkan tangannya pada Ella dengan tersenyum.


"Ella." Ella menyambut uluran tangan Egi.


Egi seperti enggan melepaskan tautan tangannya pada Ella. Tapi Ella segera menarik tangannya.


"Tunggu. Sepertinya saya pernah lihat kamu." Egi mencoba mengingat-ingat sesuatu.


"Pastilah sayang. Nak Ella kan model. Pasti kamu pernah lihat. Apalagi dia putri dari Tuan Haris Subagyo." Ella tersenyum mendengar penuturan dari Nyonya Tiwi.


"Katanya kamu mau cari model kan. Pakai nak Ella saja." ujar Nyonya Tiwi antusias.


Hana hanya diam menyimak obrolan mereka sambil melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Belum tahu ma. Lagi pula itu proyek bersama perusahaan lain. Harus di bicarakan dulu."


"Maaf Tante, Tuan Egi. Kami permisi dulu. Kami sudah ada janji setelah ini." pamit Ella dengan sopan.


"Sebenarnya Tante masih ingin ngobrol banyak sama kamu. Mungkin lain waktu bisa ya." ucap Nyonya Tiwi berharap.


"Ma." tegur Egi.


"Padahal gue juga ingin lihat wajah kamu lebih lama sih. Perempuan yang jalan malam-malam tanpa alas kaki." batin Egi yang sudah mengingat pertama kali dia bertemu dengan Ella.


"Kami permisi dulu tante." pamit Ella.


"Elo sudah tahu di mana tante Risma di rawat?" tanya Ella yang duduk di sebelah Hana yang sedang mengemudi.


"Tahu Ell. Di mana-mana juga beritanya * ISTRI TUAN DANTO REYANDLI DI RAWAT DI RUMAH SAKIT MILIK NYONYA YETI PRAMINA*"


"Sorry, gue nggak suka baca berita."


"Ekhem. Ell. Jika nanti ada Vano di sana, bagaimana?" tanya Hana sambil melirik ke arah Ella.


Ella tidak langsung menjawab pertanyaan Hana. Ella memandang lurus ke depan. Seperti tengah memikirkan sesuatu dalam benaknya.


"Gak tahu. Kita lihat nanti saja."


"Kita mampir dulu ke toko buah Han." ucap Ella.


Di dalam ruangan Nyonya Risma, tengah berkumpul Tuan Danto, Oma Yeti, Vano, dan Lena. Seperti pesan Omanya, Vano langsung datang ke rumah sakit bersama Lena setelah jam pulang.


"Bagaimana Len, apa kamu kesulitan di perusahaan Vano?"


"Tidak Oma."


"Kamu memang pandai Len. Tidak hanya paras mu saja yang cantik. Tapi otak mu juga hebat." puji Oma pada Lena.

__ADS_1


"Apa Ella belum datang ke sini?"


"Ella masih ada kerjaan Oma. Nanti dia bilang akan ke sini." ucap Vano berbohong.


Tuan Danto dan Nyonya Risma menatap Vano dengan tatapan tidak percaya.


"Pintar sekali kamu berbohong." batin Nyonya Risma.


"Kelihatannya kekasihmu itu tidak terlalu peduli dengan keluargamu Van. Buktinya dia lebih mementingkan pekerjaan dari pada calon mertuanya."


"Ella selalu menghubungi ku ma, dia selalu menanyakan keadaanku." ucap Nyonya Risma berbohong.


"Aku menyukai Ella bukan karena dia putri seorang Haris Subagyo. Tapi karena dia yang sopan dan baik. Meski orang tuanya kaya, dia tidak pernah bersikap sombong. Dan tidak pernah mengandalkan kekayaan dan kekuasaan orang tuanya." Tuan Danto berkata dengan sorot mata menuju Vano.


"Khemm. Van, kamu harus selalu membantu Lena jika di perusahaan. Dia baru belajar." Oma Yeti mengalihkan pembicaraan.


Jika Tuan Danto sudah berbicara, biasanya Oma Yeti akan pergi dengan mengomel atau mengalihkan pembicaraan.


Tuan Danto salah satu menantunya yang sangat jarang berbicara dengannya. Jika sudah berbicara, Tuan Danto lebih langsung pada intinya. Dan Oma Yeti pasti akan diam atau menuruti perkataan dari Tuan Danto meskipun dengan berat hati.


"Di perusahaan Vano, semua karyawan harus mempunyai kinerja yang mumpuni. Jika tidak, dia tidak akan bisa bertahan." Vano berkata sembari duduk di sofa bersama yang lain.


Oma Yeti hanya diam mendengar perkataan dari Vano.


"Permisi. Tante Risma." dengan pelan, Ella membuka pintu ruang inap Nyonya Risma. Dengan Hana berjalan di belakangnya.


"Sayang." Nyonya Risma langsung bangun dari tidurnya dan duduk.


"Bagaimana keadaan Tante." Ella meletakkan buah yang di bawanya di meja sebelah Nyonya Risma.


"Baik. Hari ini tante sudah boleh pulang."


"Kamu ke sini. Jenguk Tante. Padahal Vano sudah membuat kamu menangis." batin Nyonya Risma dengan mata berkaca-kaca.


"Oma."


"Hai."


Ella dan Hana bersalaman dengan semuanya. Termasuk Vano. Vano hanya diam dan memandang ke arah Ella. Dia tidak menyangka, Ella akan datang untuk menjenguk mamanya.


Senyum merekah di bibir Tuan Danto dan Nyonya Risma melihat kedatangan Ella. Hana duduk di samping Lena.


"Hai." Lena tersenyum saat Hana menyapa dirinya.


"Sayang sini." Nyonya Risma menepuk pinggir ranjang tempatnya tidur.


"Nggak apa-apa nih Tante." Ella dengan hati-hati duduk di tepi ranjang tersebut.


"Nggak apa-apa. Tante kangen sama kamu." Nyonya Risma memeluk erat tubuh Ella.


"Issshhh." Ella meringis saat pundaknya tertekan kepala Nyonya Risma.


"Kenapa sayang."


"Pundak Ella sedikit sakit Tan." ucap Ella mengusap pundaknya.


"Pundak elo berdarah Ell." Hana segera berdiri dan mendekat ke arah Ella.


Semua orang berdiri dan melihat ke arah Ella.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" Vano maju dan mendorong pelan tubuh Hana yang berada di dekat Ella.


"Nggak apa-apa." Ella berkata tanpa melihat ke arah Vano. Bahkan tangan Vano di singkirkan dari tangannya.


"Ini. Kamu habis kenapa sih sayang. Lihat." Nyonya Risma melihat ada beberapa goresan pendek di lengan Ella.


"Ella jatuh Tan. Nggak apa-apa kok. Bentar lagi sembuh." Ella mengelus lengan Nyonya Risma.


"Sebentar lagi dokter akan ke sini." ujar Tuan Danto yang ternyata sudah memberi pesan pada seorang dokter untuk memeriksa luka Ella.


"Untuk apa pa?"


"Lihat calon menantu kita. Apa iya, model kok kulitnya seperti itu." canda Tuan Danto.


"Kan bisa di samarkan Om. Sekarang sudah ada make up yang hebat low Om." Ella mengangkat jari jempolnya.


Selama berada di ruangan Nyonya Risma, Ella sama sekali tidak pernah melihat ke arah Vano. Dan Vano pun menyadari hal tersebut.


"Permisi, maaf mengganggu." seorang Dokter masuk ke ruang rawat Nyonya Risma.


"Dok, pundak mantu saya sakit. Tolong di lihat ya dok?" pinta Nyonya Risma dengan khawatir.


"Tidak perlu Dok, hanya luka kecil." Ella menolak dengan halus.


Tapi Ella tidak tega dengan tatapan Nyonya Risma yang khawatir akan dirinya.


"Baiklah." Ella melepas kemejanya dan menyisakan tengtop yang melekat pada tubuhnya.


Terdapat beberapa luka gores di tubuhnya. Mungkin Ella mendapatkan luka tersebut saat terjatuh melawan para baji**an di hutan.


Vano menatap luka-luka di tubuh Ella. Begitupun dengan yang lainnya.


"Katanya model, kenapa badannya banyak luka." batin Lena melihat beberapa luka goresan di badan putih milik Ella.


"Maaf ya Non." Dokter sedikit menggeser tengtop di pundak Ella.


"Mungkin agak sedikit sakit." Dokter menekan sedikit luka di pundak Ella untuk membersihkan darah yang merembes keluar.


"Cuma lecet biasa. Kenapa harus memanggil Dokter." celetuk Oma Yeti tidak suka dengan perhatian anak dan menantunya pada Ella. Tapi tidak ada yang menanggapi perkataannya.


Wajah Ella tampak tenang. Tidak sedikitpun nampak rasa sakit saat Dokter mengobati lukanya.


Vano dan Tuan Danto saling pandang. Dokter pun sempat memandang ke arah Tuan Danto meski hanya sekilas.


"Pasti mereka tahu ini bekas luka tembak. Meski hanya keserempet." batin Ella.


"Kenapa tidak langsung di bawa ke rumah sakit atau dokter?" tanya Dokter sembari menutup kembali luka di pundak Ella.


"Tidak sempat." jawab Ella dengan raut wajah datar.


"Kenapa mereka tidak bilang jika Ella hampir terkena tembakan. Reza, kenapa dia juga diam saja." batin Vano mengepalkan tangannya.


"Ella. Seandainya dia laki-laki, pasti akan menjadi saingan Vano dalam segala hal." batin Tuan Danto.


"Bagaimana Dok?" tanya Nyonya Risma dengan khawatir.


"Luka.."


"Tante, Ella nggak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh. Ella sudah punya obatnya kok Tan. Emm,, Tan. Jangan bilang ke mama dan papa ya, soal luka Ella." ucap Ella memotong perkataan Dokter.

__ADS_1


"Ya ampun sayang. Mereka belum tahu."


"Ella tidak ingin mama dan papa cemas." Ella menggelengkan kepalanya.


__ADS_2