DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 98


__ADS_3

"Ell,,, sayang..." panggil Vano dengan lembut saat Ella menyandarkan badannya di jok mobil dengan mata terpejam.


"Antar aku ke apartemen Viki."


"Tapi Ell,,,"


"Aku akan berada di apartemen kamu selama beberapa hari ke depan. Jika siang harus bekerja, malam aku akan menginap. Begitupun sebaliknya." jelas Ella seperti tahu apa yang ada di dalam benak Vano.


"Serius sayang." ucap Vano dengan mata berbinar bahagia.


"He-em." jawab Ella dengan mata masih terpejam.


Cup.... Vano mengecup singkat pipi Ella. Sontak membuat sang model langsung membuka mata.


"Vano.... Kamu!!! Awas kalau sampai kamu ulangi lagi." teriak Ella dengan mata melotot horor ke arah Vano. Sementara tersangka, hanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


Bagaimana Ella tidak marah pada Vano. Karena Vano masih dalam keadaan di balik kemudi stir saat mencium pipi Ella. Yang artinya, Vano masih menyetir mobil. Dannn,,,, mobilnya masih dalam keadaan berjalan.


Astaga,, senang sih senang Van. Tapi jangan bertindak nyleneh. Bagaimana jika brakkkk,,,,,, terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Bisa-bisa bukannya rasa enak yang di dapat. Tapi malah rasa sakit.


Ada-ada saja Vano.


"Sampai sayang. Jangan marah dong." rayu Vano.


Dengan bibir cemberut dan manyun, Ella melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di depan badannya. Karena sekarang mereka sudah berada di parkiran apartemen Viki.


"Iiiiiiih." geram Ella karena sepertinya sabuk pengaman di tubuhnya seakan tidak mau di lepas. Atau karena Ella masih dalam keadaan dongkol karena kelakuan dari Vano yang dapat membahayakan nyawa keduanya. Membuat dirinya emosi.


Tangan Vano terulur membantu sang model melepas sanuk pengamannya. "Sabar dong sayang, jangan marah-marah." Vano membelai pipi Ella dan membawanya untuk menghadap ke arah dirinya.


"Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi. Aku senang banget Ell. Itu artinya kamu memaafkan aku. Dan aku janji, sebentar lagi kita akan menikah."


Vano merasa gemas dengan sikap Ella yang menurutnya lucu. Bibir Ella yang manyun. Membuat Vano ingin sekali melahap dan **********.


Apalagi Vano sudah lama tidak merasakan benda kenyal seksi milik Ella yang berwarna merah muda alami tersebut.


Pluppp... Kali ini Vano benar-benar tidak bisa menahan rasa untuk menyatukan bibir mereka.


Tangan kekarnya meraih tengkuk Ella. Mendorongnya supaya lebih dekat dari jangkauannya. Tak segan-segan lagi, Vano ******* bibir seksi sang model. Mengecap setiap sisi bibir dan menelusuri setiap rongga di dalam mulut Ella menggunakan lidahnya. Hingga mereka bertukar saliva beberapa saat.


Ella juga sepertinya menikmati kegiatan mereka di dalam mobil. Seperti biasanya, dia mengimbangi setiap belitan lidah Vano di dalam rongga mulutnya. Hingga mereka bermain lidah di dalam rongga mulut Ella.


Dengan penuh nafsu, bibir Vano beralih ke leher jenjang Ella.


"Astaga,,, Van." Ella seperti tersadar dengan kegiatan mereka.


Segera tangan Ella mendorong badan Vano ke belakang. "Ini di mobil." ucap Ella.


Vano dengan nafas tersengal karena nafsu memandang ke arah Ella penuh hasrat. "Lantas kenapa. Sepi." Vano menengok ke kanan dan kiri.

__ADS_1


"Ell,, please." Vano menahan tangan Ella saat sang model ingin membuka pintu mobil hendak keluar dari dalam mobil.


Ella sebenarnya juga terpancing dan menikmati permainan Vano. Tidak bisa di pungkiri. Ella yang sebelumnya pernah melakukan hubungan intim dengan Vano juga merasa berhasrat saat Vano memulainya tadi. Apalagi sudah lama Ella tidak mendapatkan sentuhan yang memabukkan seperti tadi dari Vano.


Ella melotot ke arah Vano. "Jangan gila. Ini di mobil. Parkiran." tegas Ella.


"Elll..." rajuk Vano masih memegang lengan Ella.


"Nanti. Di apartemen. Janji." ucap Ella menyakinkan Vano.


Bukannya menyerah. Vano malah menunjukkan sesuatu yang membuat Ella melongo seketika.


"Lihat sayang...." seru lirih Vano dengan membuka resleting celananya.


Tampak terlihat jelas, pusaka milik Vano sudah on fire. Siap untuk bertempur. Dan memasuki sarangnya.


Ella menggelengkan kepala. Benar-benar Vano tidak tahu tempat. "Nanti sayang. Di apartemen ya. Aku janji." bujuk Ella.


Vano melepaskan tangannya. Membuang muka. Perasaannya kini campur aduk. Perasaan kesal karena mendapat tolakan dari Ella. Perasaan kesal karena harus menahan konat yang sudah di ujung ubun-ubun.


Ella menghela nafas melihat Vano merajuk seperti anak kecil yang tidak di belikan permen. "Kita lakukan di dalam. Jam segini biasanya Viki belum pulang." ucap Ella.


Raut wajah Vano berubah seketika mendengar perkataan Ella. "Di apartemen Viki?" tanya Vano menyakinkan dirinya sendiri.


Melihat Ella mengangguk, Vano segera keluar dari dalam mobil dan mengajak Ella berjalan. Dirinya tidak peduli di mana Ella akan mengajaknya melakukan ***-***.


Tanpa menjawab, Ella masuk ke dalam apartemen Viki. Dan Vano, segera mengekor Ella dari belakang.


"Kamu yakin. Di sini?" tanya Vano memeluk Ella dari belakang.


Ella membalikkan badan. "Bukan. Di sana." Ella menunjukkan sebuah kamar dengan jarinya.


Tidak masalah di mana mereka akan melakukannya. Karena saat ini, Vano sudah sangat ingin mencicipi tubuh mulus milik sang model yang sudah lama tak ia jamah.


"Vannn...." teriak Ella kaget saat tiba-tiba Vano mengangkat tubuhnya ala bridal style.


Vano membuka pintu menggunakan kakinya. Meletakkan tubuh Ella di atas ranjang dengan pelan.


"Van,,, pintunya." Ella memandang ke arah pintu kamar.


"Ckkk." decak Vano karena Ella benar-benar mengganggunya.


Ingin sekali Vano bertanya pada Ella. Bagaimana Ella busa tahu pasword pintu apartemen Viki. Dan bagaimana dengan bebas Ella masuk ke dalam kamar Viki.


Tapi semuanya Vano urungkan. Apalagi dirinya sudah tahu jika Viki lelaki yang belok. Lelaki yang menyukai sesama jenisnya. Jadi Vano berpikir, percuma dirinya cemburu dengan Viki.


……beberapa hari yang lalau……


"Bagaimana?"

__ADS_1


Reza mengeluarkan sebuah amplop coklat panjang. Raut wajah Reza juga tidak seperti biasanya.


"Ini Tuan." ucapnya menyerahkan amplop pada Vano.


Dengan cepat, Vano mengambilnya. Sungguh, dirinya sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam amplop tersebut. Apakah pemikirannya selama ini benar, atau hanya sebuah tebakan yang salah.


Vano menyeringai setelah mengeluarkan dan membuka satu kertas. "Ternyata, dugaanku benar." gumamnya.


Mata Vano memicing saat di dalam amplop masih ada satu kertas lagi. Vano melihat ke arah Reza, dengan tangan di masukkan ke dalam amplop untuk mengambil satu kertas yang tersisa di dalam.


"Woooowwww. Benar-benar sebuah kejutan." Vano tersenyum menakutkan saat membaca kertas yang kedua.


Dua berita besar Vano terima sekaligus. "Good job." Vano memandang Reza, mengisyaratkan jika dirinya puas dan juga berterimakasih atas kinerja asistennya tersebut.


"Ternyata apa yang ada di benak Tuan semuanya terbukti. Terbukti kebenarannya." ucap Reza.


"Apa yang harus kita lakukan setelah ini Tuan?" tanya Reza.


Vano menggoyang-goyangkan kursi dan mengetuk-ngetukkan jarinya di pegangan kursi.


"Tentang Viki. Jika aku tidak berhasil mendapatkan maaf dari Ella, akan aku gunakan Viki. Pasti Ella akan menurut jika dia tahu bahwa aku mengetahui masalah sahabatnya tersebut. Penyuka sesama." ucap Vano.


Sejak awal Vano menyuruh Reza menyelidiki sahabat Ella karena Vano merasa aneh dengan tatapan salah satu dari sahabatnya tersebut. Viki.


Apalagi, saat pemotretan ada sesuatu yang membuat Vano semakin menaruh rasa curiga.


"Hiiiiii,,,,,," Vano bergidik saat teringat tentang Viki.


"Astaga, kenapa Ella mempunyai teman seperti itu. Tapi bukankah lebih baik. Denis dengan Hana. Viki dengan Jo." ucap Vano.


"Tapi tidak masalah, jika Ella tidak memaafkanku. Aku akan menyebarkan berita tentang sahabatnya yang mempunyai kelainan. Pasti mau tidak mau, Ella akan menuruti semua kemauanku. Termasuk menikah denganku." ucap Vano.


Vano benar-benar tidak mau kehilangan Ella. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan sang pujaan hati.


"Dan untuk Jo. Aku akan bicarakan dengan Ella. Aku yakin, Ella juga mengetahui tentang dia."


"Baik Tuan."


Ternyata Jo adalah anak dari musuh dari Tuan Haris dan Tuan Danto. Dia datang untuk membalas dendam.


Tapi kenapa dirinya bisa berhubungan dengan Viki. Suatu kebetulan. Apa memang sudah di rencanakan. Jika semua di rencanakan. Apakah mungkin Jo hanya berpura-pura sakit seperti Viki. Sakit. Sakit dalam arti penyuka sesama jenis.


"Tuan, apa Tuan yakin. Jika Non Ella juga sudah mengetahuinya." tanya Reza.


Vano meletakkan kertas yang di pegangnya di atas meja. "Jika sekarang belum. Pasti sebentar lagi. Dia perempuan hebat." ucap Vano tersenyum membayangkan betapa cerdiknya sang kekasih.


"Kamu awasi saja Jo. Suruh seseorang mengawasinya." pinta Vano.


"Baik Tuan."

__ADS_1


__ADS_2