
Vano mendorong troli belanja. Sementara Ella memilih barang yang akan di masukkan ke dalam troli. "Sudah?" tanya Vano saat Ella memandang ke arah troli belanja yang sudah penuh.
"Okey. Sudah." ucap Ella tersenyum.
Vano mendorong troli menuju kasir, dengan Ella berjalan di samping Vano. "Kenapa?" tanya Vano tanpa melihat ke arah Ella.
"Kamu semakin tampan." celetuk Ella.
"Bumil sekarang pintar ngegombal." ujar Vano. Ella hanya terkekeh mendengar perkataan sang suami. Karena ini pertama kalinya Ella belanja di temani oleh Vano.
Vano hanya pasrah saat Ella memilih sampo, sabun, pasta gigi, dan parfum dengan wangi buah-buahan. Dapat di bayangkan, bagaimana Vano akan berjalan dengan wangi buah melekat di badannya. Seperti anak kecil saja. Tapi Vano harus menerima, karena dia merasa kasihan jika Ella harus mual dan muntah.
Sampai di rumah, Vano mengumpulkan semua orang yang bekerja di rumahnya di ruang tengah. Mulai dari pembantu hingga tukang kebun.
"Sekarang Nyonya kalian sedang hamil muda. Usia kehamilannya masih lima minggu." jelas Vano.
"Selamat Tuan, selamat Nyonya." ucap merela serempak.
"Terimakasih." kata Ella tulus dengan senyum di bibir.
"Layani Nyonya kalian lebih baik. Jangan sampai ada orang asing yang masuk ke rumah tanpa sepengetahuan saya." ucap Vano, memandang ke arah satpam.
"Baik Tuan."
"Kalian boleh pergi." ujar Vano.
Vano dan Ella beranjak ke kamar mereka. "Ingat, jangan keluar rumah." ucap Vano dengan lembut. Lantaran Vano meninggalkan Ella bersama pembantu di rumah.
"Kapan Mama Ane kemari?" tanya Vano mengancingkan kemejanya. Karena saat Ella ingin membantu, dia tidak mengizinkan sang istri untuk membantunya. Vano malah menyuruh Ella duduk santai.
"Nanti malam. Bareng papa sekalian. Lagipula sekarang mama sedang di luar kota. Mengikuti kegiatan amal." jelas Ella.
"Jangan kemana-mana. Bilang Hana jika kamu tidak akan mengambil pemotretan sampai melahirkan." tegas Vano.
"Lama sekali." ucap Ella cemberut.
"Karena aku tidak ingin kamu terlalu capek." ucap Vano.
"Hati-hati." ucap Ella, saat Vano mengecup kening Ella.
"Aku akan mengirim Rio untuk berjaga." jelas Vano.
"Sayang..." tolak Ella.
"Tidak ada penolakan." ucap Vano memotong perkataan Ella.
"Siapa yang mau menolak." cicit Ella. "Kenapa tidak Reza saja." keluh Ella. Dia lebih senang jika Reza yang menjaga dirinya. Mungkin karena Ella sudah terbiasa dengan Reza.
"Sama saja. Reza akan pergi bersamaku." ucap Vano datar.
Sepeninggal Vano, Ella hanya memainkan ponselnya. Berkirim pesan pada Hana jika dirinya tidak akan menerima pekerjaan hingga beberapa bulan ke depan.
Dan untuk janji yang sudah di jadwalkan siang ini, Ella menyuruh Hana membatalkannya. Ella tidak memberitahu pada Hana jika dirinya sedang hamil.
Supaya Hana bertambah penasaran, apa alasan di balik Ella tidak akan menerima pekerjaan selama beberapa bulan ke depan.
Belum ada lima detik Ella mengirimkan pesan pada Hana, ponsel milik Ella sudah berdering. Ella tersenyum puas melihat siapa yang menelpon dirinya.
Hana calling,,,,
Ella membiarkan ponselnya berdering. Belum ada niatan untuk mengangkat telepon dari Hana. Dan yang lebih parah, Ella malah tertawa.
Jahat sekali kamu El,, menjahili Hana. Pasti sekarang Hana sedang khawatir. Ella memandang ponselnya yang menyala, hingga ponsel Ella berhenti berdering.
"Dia menyerah." gumam Ella tertawa pelan. Ella mengelus perutnya dengan pelan.
"Bik, buatkan saya rujak buah, tapi jangan pedas. Buatkan dengan buah seadanya yang tersedia di kulkas saja. Jika selesai, antarkan ke kamar ku. Dan juga segelas jus buah." ucap Ella melalui telepon di dalam kamarnya, yang terhubung ke dapur.
Ponsel Ella kembali berdering. Ella kembali tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. Lagi-lagi Hana menelponnya kembali.
Akhirnya Ella menggeser tombol hijau di layar ponselnya, untuk menerima panggilan telepon dari Hana.
"Hayyyy." ucap Ella dengan nada terdengar lucu.
"Ell, kamu baik-baik sajakan?" tanya Hana di seberang telepon.
"Sangat baik."
"Lantas, kenapa kamu menolak untuk bertemu mereka. Padahal janjiannya tinggal satu jam lagi." terdengar suara kesal dari Hana.
__ADS_1
"Eeeeelll!!!" seru Hana, karena tidak terdengar suara Ella di ujung ponselnya.
Tanpa mematikan sambungan telepon dengan Hana, Ella malah mengirimi Hana pesan bergambar. Apa lagi kalau bukan tespeck dengan garis dua, yang sempat Ella kirim pada mertua dan mamanya.
"Elll, ini milik siapa?" tanya Hana ketika membuka pesan bergambar dari sahabatnya tersebut.
Lagi-lagi Ella tidak menjawab. Malah mengirimkan pesan bergambar lagi pada Hana. Dia mengirimi hasil USG pada Hana. Di mana, di bagian atas sendiri tertera nama Nyonya Ella.
"Elo hamil? Ini beneran milik elo? Elo jangan bercanda Ell? Ell,,, jawab!! jangan diam saja." cecar Hana di ujung telepon setelah melihat foto hasil USG milik Ella.
Ella hanya tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dari Hana. "Iya, bawel. Gue hamil. Usia janin masih lima minggu aunty." jelas Ella.
"Elllaaaa,,, elo hamil." terdengar dari suaranya jika Hana sedang menangis.
"Ehh,,, elo nangis? Elo nggak seneng gue hamil? Jahat banget sih elo!!" ucap Ella. Padahal Ella tahu jika Hana pasti sedang menangis karena bahagia.
"Senanglah,,, selamat ya bestie. Akhirnya elo jadi mahmud. Seneng deh gue." ucap Hana.
"Elo beneran senangkan. Atau elo lagi mikirin pekerjaan elo." tebak Ella dengan jahatnya.
"Elll,,, jahat banget sih. Nggak lah. Urusan pekerjaan gue bisa cari. Gampang mah soal pekerjaan. Siapa yang nggak mau memakai jari-jemari ajaib milik gue. Banyak kalee..!!" ucap Hana dengan sombong.
"Buktinya karena gue elo terkenal." canda Hana tertawa.
"Idiiihhh... mana ada aunty." sahut Ella tidak terima.
"Jangan aunty dong. Kakak." ujar Hana. Karena dirinya merasa tua dipanggil tante.
"Ya nggak bisalah. Emang elo kan udah berumur." ucap Ella tertawa puas.
"Jahat banget sih." ucap Hana berpura-pura merajuk.
Saat Ella dan Hana sedang asyik berbincang, Bibik datang membawa pesanan Ella. "Udah dulu ya, gue mau makan. Lapar." pamit Ella pada Hana.
"Iya, makan yang banyak. Sekarang nggak perlu diet. Elo butuh sesuatu yang lebih. Nggak usah takut gemuk." ucap Hana sok menasehati Ella.
Padahal dulu, dirinyalah yang selalu memantau makanan Ella. Supaya badan Ella tetap bagus dan tentu saja sehat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana?" tanya Vano pada Reza.
"Ternyata ini yang membuat mertua gue mengikuti semua kemauan Jo." gumam Vano masih terdengar oleh Reza.
"Padahal jika Tuan Haris mau mencari bukti itu, pasti beliau dengan mudah bisa melakukannya." ucap Reza.
"Iya, itu juga yang terlintas di pikiranku. Kenapa papa Haris tidak melakukan itu." ucap Vano. Merasa ada sesuatu yang sedang Tuan Haris sembunyikan dari semua orang.
"Selain ini, apa ada lagi yang kamu temukan?" tanya Vano.
"Anak buah saya menemukan berkas. Tapi sayangnya berkas tersebut terlalu lama. Sehingga tidak bisa di baca. Dan sekarang berkas tersebut di tangan seseorang yang bisa memperbaikinya. Tanpa menghilangkan atau menambah satu kata di dalamnya." jelas Reza.
"Dari mana mereka mendapatkan semua ini?" tanya Vano lirih pada dirinya sendiri. Sembari berpikir.
"Apa yang harus saya lakukan pada Jo, Tuan?"
"Bagaimana keadaan mama Jo?" bukannya menjawab pertanyaaan Reza, Vano malah bertanya pada Reza.
"Beliau baik-baik saja."
"Lalu semua berkas ini?" tanya Vano.
"Kelihatannya beliau tidak tahu soal semua ini. Dari hasil penyelidikan, Jo membohongi mamanya." ungkap Reza.
"Kita simpan dulu Jo. Sampai sesuatu yang mengganjal di pikiranku ada jawabannya." pinta Vano.
"Baik Tuan."
Vano mengajak Reza pergi ke perusahaan Tuan Haris. Dia ingin mengatakan semuanya. Bagaimanapun juga, Vano adalah menantunya. Apalagi Ella mengambil Jo tanpa meminta izin pada Tuan Haris.
"Ada apa Van?" tanya Tuan Haris begitu menantunya duduk di kursi empuk yang berada di dalam ruangannya.
"Ini Tuan." Reza menyerahkan map berisi beberapa berkas dan juga sebuah benda kecil yang menyimpan beberapa video.
Tuan Haris membuka dan membaca lembaran-lembaran kertas tersebut. Beliau malah tersenyum, seperti sudah memprediksikan apa yang terjadi.
"Dimana Jo?" tanya Tuan Haris memasukkan kembali kertas-kertas tersebut ke dalam map.
"Dia ada di tempat yang seharusnya." jawab Vano.
__ADS_1
"Sudah aku duga, kalian yang melakukannya." ucap Tuan Haris dengan tatapan mata menyelidik.
"Bukan kita. Hanya Ella." tegas Vano.
"Aku hanya mengambil alih dari Ella. Dan dia memberikannya. Meski dengan separuh hati." ucap Vano dengan yakin jika sang istri tidak rela seratus persen menyerahkan Jo pada Vano.
"Siapa yang membantu Ella. Jika bawahannya atau Haki, pasti mereka sudah melapor padaku. Tapi kelihatannya mereka tidak tahu. Dan Haki, dia masih ada di rumah sakit saat kejadian." batin Tuan Haris dengan pandangan menerawang ke depan, yang dikuasai rasa penasaran.
"Jika papa bertanya secara langsung, aku juga tidak akan memberitahu." batin Vano. Seolah dirinya mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh mertuanya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tuan Haris pada menantunya.
"Jangan pernah merasa kasihan pada hewan yang lebih dulu menggigit. Karena mereka akan selalu menggigit di setiap kesempatan." ucap Vano.
Tuan Haris menghembuskan nafas kasar. Dia dapat menangkap makna dari perkataan yang baru saja di keluarkan dari mulut Vano.
"Baiklah, itu menjadi urusanmu. Asal jangan usik mamanya." pinta Tuan Haris.
Tuan Haris terkekeh melihat menantunya menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Seolah Tuan Haris menyembunyikan sesuatu yang sangat rahasia.
"Jika bukan karena istriku, aku tidak akan mempunyai hati sebaik itu." ucap Tuan Haris.
"Mama Ane." kata Vano, lebih pada sebuah pertanyaan.
Tuan Haris mengangguk. "Iya. Dan tidak perlu di ceritakan. Akan terlalu panjang dan lama." ucap Tuan Haris.
"Siapa yang membantu Ella?" tanya Tuan Haris.
"Lebih baik papa bertanya sendiri pada Ella. Aku tidak mempunyai hak untuk menjawab." jawab Vano.
"Bagaimana cucu papa?" tanya Tuan Haris.
"Papa datang saja ke rumah kami." jawab Vano membuat Tuan Haris jengkel. Bagaimana bisa Vano malah menjawab seperti itu.
"Saya permisi pa. Mau pulang, kangen istri." celetuk Vano berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan Tuan Haris.
"Danto, anakmu persisi seperti kamu. Menyebalkan." ucap Tuan Haris melihat tubuh Vano menghilang di balik pintu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dugaanku benar. Ella tidak sesederhana yang aku pikirkan." ucap Ditya setelah asistennya mendapatkan informasi mengenai Ella.
Jika Ella megambil alih bisnis bawah tanah Tuan Haris. Bahkan Ella juga mengembangkan bisnisnya, tanpa sepengetahuan papanya. Tapi semua berjalan dengan lancar sesuai keinginan Ella.
Ella menguasai ilmu bela diri. Bahkan dia mahir dalam memainkan senjata api. Dan satu lagi, Ella sangat gemar melakukan balapan liar. Entah menggunakan mobil ataupun motor.
"Maaf Tuan, ada yang ingin saya katakan." ucap Doris, saat Ditya menggerakkan tangannya. Mengisyaratkan pada Doris untuk meninggalkannya.
"Empat orang yang biasanya melakukan pekerjaan dengan bayaran tinggi, dan selalu berpenampilan misterius ternyata bawahan Nyonya Ella." ungkap Doris.
Ditya memegang pangkal hidungnya dan menarik-nariknya. Lantaran dirinya juga pernah menggunakan jasa mereka untuk suatu pekerjaan dengan resiko tinggi.
Bahkan Ditya pernah menyuruh mereka untuk bekerja dengan dirinya. Tentunya dengan bayaran yang tidak main-main. Tetapi mereka menolak.
"Tapi kenapa mereka masih bekerja dengan orang luar?" tanya Ditya.
"Jika tebakan saya benar. Mereka menggunakannya untuk mengasah kemampuan, sekaligus mencari informasi." tebak Doris.
"Ellaaa..." geram Ditya tapi dengan senyum misterius.
"Beruntung kita tidak mempunyai masalah dengan Nyonya Ella." imbuh Doris.
"Kenapa mereka mau menjadi bawahan Ella. Tidak mungkin karena uang." ucap Ditya lirih.
"Saya rasa..." belum selesai Doris menyelesaikan perkataannya, seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuk." ucap Ditya sedikit meninggikan nada suaranya.
Doris sedikit menggeser tempatnya berdiri. Memberi ruang dan tempat pada karyawan yang baru saja masuk.
"Ma--maaf Tuan." ucapnya terbata. Dapat dilihat jika ada masalah. Lihat saja, keringat sebesar jagung mengalir di dahinya. Padahal AC di dalam ruangan sedang menyala.
"Pihak Nyonya Ella membatalkan pertemuan." ucapnya dengan takut. Sontak mata Doris langsung tertuju pada atasannya tersebut.
"Cari tahu." perintah Ditya, tangannya sudah meremas kertas yang berada di atas meja kerjanya.
"Jangan sampai, kertas tersebut berisi sesuatu yang penting." batin Doris. Karena jika memang kertas tersebut berisi sesuatu yang penting, bisa dipastikan Doris yang akan kerepotan.
"Baik. Permisi." ucap Doris.
__ADS_1
"Apa Ella tahu, jika perusahaan ini milikku." tebak Ditya lantaran Ella membatalkan acara pertemuan ini.