
Ella kembali membuka matanya lebar-lebar. "Tidak mungkin. Kenapa sampai ke bawa mimpi sih." ucapnya lirih sambil menepuk pelan kedua pipinya.
Ella berbaring memandang langit-langit kamar dan menghela nafas panjang. Seakan sedang memikirkan sesuatu.
Vano naik ke atas ranjang dan berbaring miring menghadap ke arah Ella. Menggunakan tangannya sebagai penyangga kepala.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang." Vano membelai lembut pipi Ella.
Degg....
Seketika Ella menoleh ke samping mendengar suara seksi dari lelaki yang mengisi hatinya beberapa tahun, bahkan mungkin saat ini. "Ini nyata." ucapnya lirih.
Vano memeluk tubuh Ella dan meletakkan kepalanya di samping kepala Ella. "Memang kekasihmu hantu." bisik Vano.
Ella bangun, memandang tajam ke arah Vano. Tak lupa di naikkan selimutnya sampai menutupi dada. Karena kebiasaan Ella jika tidur hanya memakai pakaian dalam saja. "Bagaimana dia bisa masuk ke sini?" batinnya masih menatap ke arah Vano.
"Mama yang menyuruh ku membangunkan dirimu sayang."
Dahi Ella mengernyit mendengar perkataan Vano. Padahal dia tidak bertanya apapun pada Vano. "Mama, kapan Nyonya Haris melahirkan anak perempuan." batin Ella tersenyum miring.
"Karena aku akan menjadi suamimu. Menantu keluarga Subagyo. Akan aku biasakan memanggilnya dengan sebutan mama, mulai dari sekarang." ucap Vano membuat Ella mendengus sebal.
Vano berkata seolah bisa mendengar suara hati Ella. "Astaga, apa dia cenayang. Bisa mendengar kata hatiku." batin Ella.
Lagi-lagi Vano seperti bisa mendengar perkataan Ella.
"Kita itu satu sayang. Makanya aku bisa mengerti apa yang ada dalam pikiran kamu." Vano menunjuk ke arah dada Ella.
Segera di tepisnya tangan Vano. Takut jika menyentuh dada miliknya. Membuat Vano terkekeh. "Aku sudah berkali-kali menyentuhnya Ell. Bahkan merasakannya." ucap Vano tersenyum menggoda.
Membuat Ella semakin jengkel. "Ini masih pagi. Kenapa membuat pagi ku rusak." batin Ella.
"Ini masih terlalu pagi untuk bertamu." sinis Ella.
"Sebaiknya kamu cepat mandi Ell."
"Apa kamu tidak ada pekerjaan?" tanya Ella.
"Pasti sebentar lagi papa sama mama menunggu kita untuk turun dan bergabung bersama mereka."
"Sebaiknya kamu keluar dari kamar ku." lagi-lagi Ella berkata dengan nada sinis.
"Apa kamu tidak merindukanku sayang?"
"Sama sekali tidak." tegas Ella masih mendekap selimut di dadanya.
Vano tersenyum memandang Ella. "Kamu seperti anak kecil yang sedang merajuk sayang." gemas Vano mencubit hidung Ella.
Ella menggosok hidungnya dengan kasar. Membuat hidungnya berwarna merah.
__ADS_1
"Lihat, hidungmu seperti tomat. Jangan terlalu keras menggosoknya." ucap Vano terkekeh.
Membuat Ella terpukau dengan senyum di wajah Vano yang menambah ketampanannya. "Kenapa baru sekarang kamu menunjukkan tawa itu." batin Ella segera membuang muka.
"Aku akan mengantarmu berangkat ke tempat pemotretan sayang."
"Ada Hana."
"Aku sudah memberitahu Hana, untuk langsung menuju lokasi pemotretan." kata Vano sukses membuat Ella merasa kesal.
"Tidak perlu. Saya masih sangat sehat untuk menyetir sendiri." ucap.Ella sinis.
"Sebaiknya kamu segera membersihkan badan. Lihat, jam berapa sekarang."
Ella mendongakkan kepala. Melihat ke arah dinding. "Ternyata sudah siang." gumamnya.
Otak liciknya mulai berpikir. "Gue kerjain saja." batin Ella.
Ella mulai membuka selimutnya. Membuat tubuh mulus dan seksi yang hanya berbalut dalaman tampak begitu nyata. Apalagi Ella memakai warna gelap yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Membuatnya semakin menggoda.
Vano melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Rasanya sangat sulit hanya untuk sekedar menelan ludahnya sendiri.
Vano junior langsung beraksi melihat sesuatu yang menggoda tepat di depan matanya. Rasa sesak di dalamnya membuat Vano menjadi tidak tenang dan tidak nyaman.
Vano menyisir rambut dengan jari jemarinya ke belakang dengan kasar. Mencoba menahan hasrat karena godaan Ella.
Ella dengan sengaja masih duduk di tepi ranjang dengan pose menggoda. Mengikat rambutnya menjadi satu, dan di cepol ke atas. Menampakkan leher jenjang yang putih dan mulus. Membuat Vano menjilat sendiri bibirnya.
"Sabar Van, sabar." sudah lama junior Vano tidak di manjakan. Membuat hasratnya semakin besar.
Ella berdiri, berjalan santai di depan kaca. Sedikit menundukkan badan dan meneliti wajahnya di depan cermin. "Kena kamu." batin Ella melihat Vano lewat pantulan cermin.
Vano mulai memejamkan mata. Mengatur nafas dan mencoba menetralkan nafsunya. "Ello harus ingat Van, apa tujuan elo. Jangan sampai semuanya rusak cuma karena junior elo. Meskipun itu juga sangat penting." batin Vano.
"Apa kamu akan tetap berada di sini?" Ella duduk di atas meja riasnya. Tangannya sedikit menarik, memainkan ****** ********. Tidak lupa Ella membusungkan dadanya. Dengan tangan sebelahnya memainkan tali bra miliknya di pundak.
Lelaki manapun pasti tidak akan sanggup melihat pemandangan seperti itu di depan matanya. Apalagi di tambah dengan kulit yang mulus tanpa cela sedikitpun.
Tapi kali ini Vano benar-benar menahan hasratnya. Kali ini dia bertekad memenangkan hati Ella kembali.
"Sampai mana perjuanganmu sayang." batin Ella.
Vano berdiri dan mendekat ke arah Ella. "Apa kamu sengaja menggodaku. Hemmm,,,," ucapnya berdiri di depan Ella.
"Jika kamu menginginkan ku, katakan saja sayang. Aku pasti akan memuaskan mu. Seperti sebelumnya." Vano mengerlingkan sebelah matanya pada Ella.
Ella memutar matanya dengan malas. "Maaf, saya tidak tertarik. Sama sekali." sinis Ella.
Tangan Vano bergerak di leher jenjang milik Ella. "Baiklah, jika begitu. Bersihkan badan mu." Vano kembali menarik tangannya. Takut jika sampai dia tidak bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
"Atau ingin bantuan. Dengan senang hati calon suamimu ini akan membantu membersihkan badanmu."
"Terimakasih." Ella melirik ke arah jam yang terpasang di dinding. Dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga. Ternyata kucing kecil yang dulu jinak, bisa seliar ini." gumam Vano setelah melihat Ella hilang di balik pintu kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Ella keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya. "Kelihatannya waktu anda sangat senggang." cibir Ella melihat Vano duduk di kursi empuk dalam kamarnya memainkan gawai.
Vano mengalihkan pandangan dari layar gawai pada Ella. "Aku pemiliknya sayang. Mereka bekerja, dan aku menggajinya." ucapnya sombong.
"Jika kamu mau, kita bisa jalan-jalan berdua. Kemanapun kamu ingin. Bagaimana?" tawar Vano mencoba mendekati Ella.
"Maaf, aku sibuk." kata Ella sembari memegang pakaian ganti dan masuk ke ruang ganti untuk memakai pakaian.
"Kapan kamu senggang. Kita bisa atur jadwal." tanya Vano.
Ella memoleskan make-up di wajahnya. "Meski aku senggang, pasti anda tidak akan bisa. Bukannya kita dari dulu tidak bisa menyamakan waktu untuk berlibur." sindir Ella.
Vano tersentil dengan perkataan Ella. Teringat Ella pernah merengek padanya untuk pergi berdua. Menghabiskan waktu berdua.
Memang mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Tapi hanya untuk urusan ranjang dan pertemuan keluarga atau bisnis. Tidak lebih.
Padahal Ella menginginkan mereka untuk jalan berdua, makan berdua meskipun tidak dengan nuansa romantis. Menonton film di apartemen atau di bioskop.
Tapi Ella tidak pernah melakukannya dengan Vano. Hana yang akan selalu menemani jika dirinya ingin melakukan hal tersebut.
Ella menginginkan rasanya berpacaran atau berkencan dengan pasangan. Tapi tidak pernah di dapatkan.
"Aku janji, akan aku luangkan waktu. Kapanpun." Vano mendekap Ella dari belakang.
"Maaf, sepertinya tidak bisa. Aku akan sangat sibuk." Ella melepas tangan Vano yang melingkar di lehernya dan berdiri dari duduknya.
"Sebaiknya kita segera turun. Cacing di perutku sudah mulai berjalan-jalan." Ella mengambil tas dan keluar dari dalam kamar. Menghiraukan Vano yang masih terdiam.
"Sepertinya akan sedikit membutuhkan waktu." gumam Vano segera mengikuti langkah Ella.
Tidak sesederhana yang Vano pikir. Karena Ella sudah terlanjur kecewa dan sakit hati. Tapi siapa yang tahu, karena sampai saat ini, di hati Ella masih mencintai Vano. Meski cinta itu tersisa sedikit di pojok ruang hati Ella.
*****
Halo semua,,, apa kabar. Semoga semuanya sehat selalu. 😘😘
Jika teman-teman ada yang bingung dengan alur cerita novel DM, gk usah dipikirin ya. Ntar pusing low. 🤭🤭
Soalnya novel ini menceritakan kehidupan seorang perempuan bernama MELLANIE. Dan,,, kehidupan Ella selalu sulit di tebak.
Soalnya, author nggak pakai kerangka cerita. Hanya menuangkan apa yang ada di pikiran author saja. Dan semuanya secara spontan.
Dapat ide, langsung ketik. Begitulah author 🤭😁
__ADS_1
Jadi,,,,, nikmat membaca saja. Tapi author juga minta sesuatu. DUKUNGANNYA. makasihhh.... 😘😘😘😘