DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 157


__ADS_3

"Kenapa nggak bisa di buka." Lena memegang handle pintu kamar Ella. Bermaksud membukanya.


Digedor-gedornya pintu dari dalam. Berharap ada yang lewat. Lena tahu jika kamar Ella dilengkapi peredam suara. Sekeras apapun dia berteriak akan percuma. Hanya akan menghabiskan tenaga.


"Kenapa jadi terkunci. Perasaan tadi nggak dikunci." Lena merogoh saku celana. Berharap dirinya mengantongi ponsel.


"Kok nggak ada." Lena terus merogoh kedua kantong celananya yang kosong. Tidak ada apapun di dalamnya. Termasuk ponsel.


Lena bergegas pergi ke ruangan tempatnya mencoba berbagai pakaian dan barang milik Ella. Berharap ponselnya jatuh atau tertinggal di sana. Dengan mata memindai seluruh ruangan, Lena mencari ponselnya. Tapi tetap saja tidak hasilnya.


"Bik, sepertinya Lena sudah menyadari jika dirinya terkunci di dalam." ucap seorang pembantu pada bibik. Karena dirinya sedang membersihkan lantai depan kamar Ella, dan dia mendengar pintu kamar Ella di gedor-gedor.


"Benarkah, bagaimana jika dia menghubungi seseorang?" tanya yang lain merasa cemas.


"Tenang saja, lihat di sana." tunjuk pembantu lain mengarahkan pandangannya pada sebuah meja. Dimana di atas meja tergeletak sebuah ponsel.


Dan mereka yakin jika ponsel tersebut milik Lena. Sebab, sebelum masuk ke kamar Ella, Lena terlebih dulu menghabiskan waktu di tempat itu.


"Ternyata dia juga ceroboh."


"Tenang saja, seperti yang di katakan Nyonya. Biarkan saja. Nyonya sendiri yang akan membuka pintunya. Lebih baik sekarang kita menyelesaikan pekerjaan kita." ujar Bibik.


"Lagian dia tidak akan mati hanya karena dikurung sehari. Tadikan dia juga sempat makan. Kita saja sehari berpuasa juga kuat. Lagi pula, kalian tenang saja. Masih ada air kran." timpal yang lain. Seketika mereka tertawa mendengarnya, dan mereka kembali menyelesaikan pekerjaan masing-masing.


Sementara di dalam kamar, Lena marah-marah. Berteriak dengan keras, tidak lupa di juga mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar.


Meskipun dirinya tahu jika mustahil teriakannya akan di dengar dari luar. Tapi mungkin saja dia meluapkan segala amarahnya. Karena dirinya tidak tahu akan berapa lama berada di dalam kamar.


Di tempat lain, Ella dan Hana sedang menikmati makan siang mereka. Dan juga membahas jadwal pemotretan untuk Ella.


"Serius, kamu serius?" tanya Hana setelah mendengar jika Ella akan mengikuti kursus memasak.


"Iya, makanya kamu atur jadwalku. Jangan lupa, sabtu dan minggu aku tidak ingin bekerja. Karena Vano pasti juga tidak bekerja."


"Baiklah, apa lagi?" tanya Hana.


"Jangan mengambil pekerjaan terlalu pagi. Dan juga malam."


"Baik Nyonya." ucap Hana dengan senyum.


"Jika begitu, tiga hari dalam satu minggu kamu akan mengambil pekerjaan. Setelahnya dua hari kamu pakai untuk mengikuti kursus memasak. Dan terakhir, dua hari bebas." jelas Hana.


"Betul."


"Mau kursus di mana?" tanya Hana.


"Belum tahu. Bantu cari."


"Siap, laksanakan."


Sementara di kantor, Vano sampai lupa jika sudah waktunya makan siang. Beruntung Ella menghubunginya, dan mengirimkan makanan lewat jasa online.


"Maaf Tuan, ini ada kiriman makanan untuk anda." ucap Imey. Sekertaris seksi di perusahaan Vano.


Vano mengangkat kepala. Pandangannya bertatapan dengan Imey. "Ya ampun, sumpah ganteng banget." batin Imey melihat Vano tersenyum padanya.

__ADS_1


Karena selama dirinya bekerja beberapa bulan di sini, dia tidak pernah sekalipun melihat senyum menawan dari atasannya tersebut.


"Sini." ucap Vano.


Imey melangkahkan kaki mendekat ke arah Vano. Jantungnya berdebar tak karuan. Vano, seseorang yang selama ini menjadi incaran banyak perempuan menyuruhnya mendekat.


Dan lagi, Vano memanggilnya dengan tersenyum. Membuat Imey seperti terbayangkan ke atas langit.


"Kamu boleh pergi. Jangan sampai ada yang masuk ke ruangan. Kecuali Reza." ucap Vano kembali ke mode dinginnya.


Tetttttttt...


Imey yang sempat merasa percaya diri karena di panggil mendekat oleh Vano seketika membeku di tempat. "Mak-mak-maksud Tuan?" tanya Imey merasa bingung.


"Kamu ke sini untuk mengantar makanan dari istriku bukan?" tanya Vano di jawab anggukan oleh Imey.


"Sekarang makanannya sudah ada di meja. Sekarang kamu pergi. Keluar." usir Vano menatap tajam ke arah Imey.


Glekkk.... Ternyata Imey salah mengartikan senyum dan panggilan dari atasannya. "Ba-baik Tuan." segera Imey meninggalkan ruangan Vano.


"Gue kira senyum sama gue. Sialan." Imey mendaratkan pantatnya di kursi tempatnya duduk untuk melakukan pekerjaan seperti biasanya.


"Ternyata dia senyum karena senang mendapat kiriman makanan dari istrinya." gumamnya merasa kesal.


Ternyata Vano tersenyum karena makanan yang di berikan oleh Ella sudah datang. Meski makanan tersebut bukan Ella yang memasak, tapi Vano tetap merasa senang.


Vano mengambil secarik kertas yang di kirim bersama makanan tersebut. Senyumnya terukir sempurna membaca tulisan tersebut.


SELAMAT MAKAN SUAMIKU. MAAF, ISTRIMU BELUM BISA MEMASAK. 😘😘😘


Segera Vano membalas pesan yang dikirim oleh Ella.


TERIMAKASIH ISTRIKU SAYANG. MAKIN SAYANG ABANG SAMA KAMU. 😘😘


Segera Vano mengirimkannya pada sang istri. Dan segera pula Vano membuka makanan yang di kirim oleh Ella untuknya. Dengan lahap Vano memakan makanan tersebut. Bahkan senyum di bibirnya terus mengembang


*


*


*


"Apa yang kamu lakukan. Hey, bangun." seru Viki saat dirinya melihat ada seorang gadis yang duduk di samping mobilnya dan tidur bersandar di mobil miliknya.


Perempuan tersebut mengucek-ucek matanya. Setelahnya dipandangnya Viki yang berdiri di depannya. Segera dia menyingkir dari tempat duduknya.


"Maaf." cicitnya, karena menghalangi Viki yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Bukankah dia perempuan danau itu." batin Viki teringat jik perempuan di depannya sama dengan perempuan yang menakut-nakutinya di danau.


"Bapak..." serunya dengan mata berbinar. Dirinya ternyata juga mengingat Viki.


"Bapak-bapak. Minggir, saya mau lewat." ucap Viki dingin.


"Maaf pak, tadi saya ngantuk banget. Makanya ketiduran di sini." ucapnya sembari tersenyum.

__ADS_1


"Kalau ngantuk tidur di kamar. Jangan di tempat seperti ini." omel Viki.


"Iya pak, maaf. Makasih perhatiannya." ucapnya tersenyum.


"Gue, perhatian sama elo." Viki menunjuk tepat di wajah perempuan tersebut. "Cih, yang benar saja. Gue nggak mau elo mengganggu orang lain." imbuh Viki.


"Paham!!!" seru Viki jingga perempuan tersebut terlonjak kaget. Dan segera menundukkan kepala.


"Vikkk,,,," panggil Ella. Ternyata Ella dan Hana makan siang di restoran, tepat di sebelah cafe tempat Viki bertemu dengan rekan kerjanya.


"Elll,,, dari mana?" tanya Viki setelah Ella dan Hana berada di dekatnya.


"Dari restoran, shoping." jawab Ella nyleneh.


"Dasar." Viki memukul pelan lengan Ella. Mata Ella melihat perempuan di samping Viki sedang menunduk.


"Gue nggak ngapa-ngapain dia. Dia tadi tidur deket mobil gue. Ngalangin pintu mobil. Makanya gue bangunin." jelas Viki pada sahabatnya tersebut.


Viki melirik ke arah perempuan tersebut yang masih berdiri di dekatnya. "Elo ngapain masih di sini. Pergi sana." usir Viki dengan nada ketus.


Ella memukul kasar lengan Viki, membuat si empunya meringis dan mengelus lengannya. Seraya cemberut. "Jangan galak-galak."


Ella mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya. "Ini untuk kamu." ucap Ella dengan tangan memberikan uang tersebut.


"Iya, ambil. Untuk kamu." ucap Ella. Karena perempuan tersebut hanya diam sambil memandang ke arah Ella. Dengan tatapan tidak percaya.


"Terlalu banyak Nona." ucapnya sopan.


"Sudah ambil. Jangan pernah menolak rezeki. Nggak baik." rayu Ella.


"Terimakasih." ucapnya tersenyum dan mengambil uang tersebut dari tangan Ella.


"Sok-sok nolak. Di ambil juga." sindir Viki mendapat pelototan dari Ella.


"Matanya, sangat indah." batin Ella saat pandangan mereka bertatapan. Karena mata perempuan tersebut berwarna kebiru-biruan.


Dan Ella yakin, jika orang tuanya pasti seorang yang berkuasa, atau lebih tepatnya seorang bangsawan. Tapi kenapa dia berpakaian seperti ini. Dan menjadi pemulung.


Segera dia menundukkan kepala, merasa Ella melihatnya dengan tatapan berbeda. Apalagi sekarang Ella memindai seluruh tubuhnya.


Kulit yang bersih. Hidung mancung dengan bulu mata lentik, dan juga bibir tipis berwarna merah asli. Semua tidak akan terlihat, karena tertutup dengan penampilannya sebagai seorang pemulung.


Entah kenapa dirinya tidak nyaman dengan pandangan Ella. Segera perempuan tersebut pergi tanpa mengucap sepatah katapun.


"Lihat, dasar perempuan tidak tahu berterimakasih." omel Viki melihat dia berlari pergi.


"Ada apa Ell?" tanya Hana karena Ella terus menatap perempuan tadi.


"Dia bukan perempuan sembarangan." batin Ella.


Ella mengalihkan pandangannya ke arah Viki. "Kamu kenal sama dia?" tanya Ella membuat Viki kesal.


"Astaga. Gue nggak kenal Ell, tadi kan sudah gue jelaskan." ujar Viki kesal.


Insting Ella selalu tepat. Dan mungkin saja perempuan tersebut memang bukan perempuan yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2